Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Dilema


__ADS_3

Louis menatap layar ponsel miliknya yang saat ini masih berdering tanda sebuah panggilan masuk. Hatinya masih berkecamuk tentang apa yang akan dia katakan kepada Tuan Alex mengenai putrinya yang sebenarnya sudah dia temukan yang tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri.


Arista yang merasa heran kini menatap wajah suaminya yang masih belum juga mengangkat telpon membuatnya seketika menepuk pundak sang suami lembut penuh tanda tanya.


"Kenapa gak di angkat, Mas?" Tanya Arista mengerutkan kening.


"Oh iya, anu dia ini--" Louis tidak meneruskan ucapannya.


"Apa mungkin, dia itu adalah orang yang kamu ceritakan tadi?"


Louis menganggukkan kepalanya menatap wajah sang istri dengan tatapan bingung.


"Angkat saja, bilang sama beliau kalau anak yang mereka cari sudah mati," ketus Arista meringkuk di atas kasur memeluk David yang juga ikut berbaring di sampingnya.


Louis masih terdiam, sementara ponsel miliknya masih aja berdering kencang.


"Eu ... Sayang. Mas angkat telpon dulu di luar ya."


Arista menganggukkan kepalanya seraya memejamkan mata.


Louis pun turun dari atas ranjang lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


📞 "Halo, Tuan Alex. Maaf tadi saya sedang di kamar mandi," ucap Louis benar-benar mengangkat telpon di luar kamar.


📞 "Oh begitu? Saya kira anda sengaja tidak mengangkat telpon dari saya."


📞 "Tidak mungkin, Tuan Alex."


📞 "Gimana, apa Poto yang saya kirimkan sudah diterima?"

__ADS_1


📞 "Iya-iya, sudah Tuan. Saya baru saja melihatnya.''


📞 "Apa anda kenal sama mereka, atau mungkin anda pernah melihat mereka di suatu tempat?"


Louis terdiam sejenak mencoba untuk berfikir. Hatinya masih dilanda dilema tentang apa yang harus dia katakan kepada rekan bisnisnya itu.


📞 "Halo, Tuan Louis. Apa anda masih di sana?"


Louis menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan sebelum dia mulai menjawab.


📞 "Maaf, Tuan. Anda nanya apa tadi?"


📞 "Apa anda mengenali mereka berdua, gadis kecil yang ada di dalam Poto tersebut? Atau mungkin, anda pernah melihat mereka berdua di suatu tempat?" Tuan Alex mengulangi pertanyaannya.


📞 "Tidak, Tuan. Saya sama sekali tidak mengenali mereka, sepertinya ini adalah Poto lama dan pastinya mereka berdua sudah besar sekarang, akan sedikit memakan waktu untuk bisa menemukan mereka. Saya harap anda sedikit bersabar, saya janji akan segera memberikan kabar baik kepada anda dan istri anda.''


📞 "Baiklah, saya akan menunggu kabar baik dari anda. Segera hubungin saya setelah anda mendapatkan kabar tentang mereka, Tuan Louis."


📞 "Terima kasih, saya benar-benar berterima kasih, Tuan Louis."


📞 "Sama-sama, Tuan Alex.''


Louis pun segera menutup telpon dengan perasaan gusar, hatinya benar-benar dilanda dilema tentang apa yang harus dia lakukan. Dia pun mengusap wajahnya kasar lalu duduk di kursi, menyandarkan punggung serta kepalanya dengan mata yang menatap langit-langit ruang santai dimana dia berada sekarang


Apa yang harus dia lakukan? Walau bagaimanapun, istrinya itu harus bertemu dengan orang tua kandungannya. Dia tau betul bahwa saat ini hati Arista pasti sedang merasakan rasa sakit, dan dia tidak ingin terlalu memaksakan kehendaknya mengingat bahwa sang istri sedang mengandung buah hatinya sekarang.


Akan tetapi, Louis bertekad akan mencoba membujuk istrinya itu pelan dan memberi pengertian, agar dia mau bertemu dengan ibu kandungnya di negara sebrang sana.


"Dad?" Tiba-tiba terdengar suara David membuyarkan lamunan Louis.

__ADS_1


"Sayang? Dimana Mommy Arista? Apa dia sudah tidur?"


David menganggukkan kepalanya, lalu duduk tepat di samping ayahnya.


"Boleh aku bertanya sesuatu sama Daddy?"


"Tanya apa, sayang. Bilang saja?" Jawab Louis bangkit lalu duduk tepat di samping sang putra.


"Apa yang tadi nelpon itu, ayah Mommy Arista dan Mommy Clara? Kakekku?" Tanya David membuat Louis tersadar kalau dia tadi berbicara di depan putranya dan pastinya sang putra pun mendengar semua yang dia bicarakan bersama Arista.


"Hmm ... Maaf kamu harus mendengar semua ini." Jawab Louis merasa menyesal.


"Gak apa-apa, Dad. Aku juga udah besar, apa Daddy lupa kalau sebentar lagi aku masuk Sekolah Menengah Atas?"


"Hahaha ... Iya juga. Daddy gak nyangka kamu cepat juga besarnya. Daddy berasa baru kemarin gendong kamu waktu masih bayi," jawab Louis memeluk tubuh putranya.


"Umur aku udah 12 tahun, Dad. Jangan lupa itu."


"Iya-iya, sayang. Daddy gak akan lupain itu. Eu ... David, boleh Daddy minta tolong sama kamu?" Tanya Louis mengurai pelukan.


"Minta tolong apa? Katakan saja, aku pasti akan membantu semampu yang aku bisa," jawab David tersenyum menatap wajah sang ayah.


"Bantu Daddy buat meyakinkan Mommy Arista. Tapi, Daddy minta kamu bicara secara baik-baik dan jangan sampai menyinggung perasaan dia. Daddy yakin kamu anak yang cerdas." Pinta Louis tidak tau harus minta tolong sama siapa lagi sekarang.


"Baik, Dad. Aku akan bicara sama Mommy, pelan-pelan karena Mommy juga lagi mengandung sekarang. Aku pastikan Mommy akan mau bertemu dengan Kakek dan Nenek di Singapura." Jawab David penuh keyakinan.


"Terima kasih, sayang."


Cup ....

__ADS_1


Louis mengecup pucuk kepala putra kesayangannya lembut dan penuh kasih sayang.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2