
Louis menggoyangkan tubuh istrinya yang saat ini tertidur di atas kursi, Arista sepertinya bermimpi buruk karena dia sampai menangis sesenggukan bahkan berteriak histeris memanggil nama ibu serta Clara sang kakak membuat Louis merasa khawatir.
"Sayang, Arista ... Bangun ..." Lembut Louis mencoba membangunkan istrinya.
"Tidak, ibu. Jangan tinggalin aku di sini, hiks hiks hiks ..." Jawab Arista masih larut di dalam mimpinya.
"ARISTA ...!" Louis terpaksa menaikkan suaranya hingga istrinya itu benar-benar membuka mata dan terkejut seketika.
"Mas? Kamu udah pulang?" Tanya Arista tatapan sayu'nya menatap penuh kesedihan lengkap dengan buliran air mata menatap wajah suaminya.
"Kamu kenapa, sayang. Kamu mimpi buruk?"
"Tidak, Mas. Aku mimpi indah."
"Lho, kenapa kamu sampai menangis kayak gini? Kamu baik-baik saja 'kan, sayang."
"Aku bermimpi ketemu sama ibu wajah beliau sudah tua, Mas. Ibu pergi sama Mbak Clara, itu adalah mimpi terindah yang pernah aku dapatkan karena akhirnya aku bisa tahu seperti apa wajah ibuku, Mas." Lembut Arista dan langsung mendapatkan peluang hangat dari suaminya.
"Kamu pasti bahagia banget, sayang. Karena akhirnya bisa bertemu sama beliau meskipun hanya di dalam mimpi?''
"Sangat, Mas. Aku sangat bahagia, sekarang aku iklhas melepas beliau, begitupun dengan Mbak Clara, karena ibu bilang mereka telah bersama di sana.'' Lirih Arista lembut dan juga terlihat tenang.
"O iya, ko Mas udah pulang? Ibu gimana? Maksud aku, jenazah ibu gimana? Kenapa Mas tinggalin dia di sana, Mas?" Tanya Arista lagi mulai mengurai pelukan.
"Kamu tenang dulu, sayang. Semua proses di sana sudah selesai, dan jenazah ibu kamu tinggal menunggu terbang saja. Mas harus persiapkan tempat peristirahatan terakhir di sini, katanya kamu mau dia ditempatkan di samping makam Clara?"
"Iya juga ya, aku mana bisa ngurus yang kayak gituan. Tapi, ko Mas tega si selama di sana gak pernah nelpon aku sekalipun? Apa Mas gak kangen sama aku? Apa Mas tau aku sampai makan mie rebus setengah matang dengan telornya yang juga setengah matang, sama persis seperti yang suka Mas makan, hanya untuk mengobati rasa rindu aku sama kamu." Rengek Arista dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa merasa kesal.
"Hahahaha ... Mas di sana sibuk, sayang. Malahan Mas gak ada waktu buat istirahat sama sekali biar urusan di sana bisa cepat selesai dan bisa cepat pulang ketemu kamu."
"Bohong."
"Lho, ko bohong?''
"Sehari itu 24 jam, Mas. Masa selama 24 jam itu Mas gak ada waktu buat nelpon aku? Atau setidaknya kirim pesan gitu, Mas kejam.'' Rengek'nya lagi merajuk layaknya anak kecil.
__ADS_1
"Ya udah iya, Mas minta maaf deh. Mas gak sempat megang ponsel sedikitpun."
"Gendong aku ke kamar, aku ingin tidurnya di tangan kamu."
"Hahahaha ... Kangen sama si Piton nggak?"
"Nggak, piton puasa dulu satu Minggu."
"Lho, kenapa?"
"Habisnya Mas gak nelpon aku sekalipun waktu di sana. Apa Mas tau kalau aku hampir gila menahan rasa rinduku sama si piton?''
"Astaga, Arista ... Hahahaha ...."
Tanpa basa-basi lagi, Louis segera menggendong tubuh sang istri yang semenjak mengandung menjadi lebih manja dari biasanya, bahkan rengekan yang terdengar oleh telinga Louis persis seperti rengekan anak kecil yang merajuk minta untuk diperhatikan.
"Hmmm ... Istri Mas ini makin hari makin manja aja deh." Ledek Louis di sela-sela langkah kakinya yang saat ini sedang menapaki satu-persatu anak tangga.
"Entahlah, bawaan bayi mungkin."
"Bisa jadi. Tapi, gak apa-apa. Mas suka ko, kamu lucu kalau rengek-rengek kayak gitu, berasa pengen Mas telan bulat-bulat tubuh kamu ini."
"Hahahaha ... Main sama si piton dulu ya sebentar."
"Dih ...?"
"Sebentar aja, cuma buat ngobatin rasa lelah Mas aja. Mas capek banget ini, mau ya ... Ya ... Ya ... Ya ...?" Kali ini Louis yang merengek manja layaknya anak kecil yang minta ini di Nina bobo 'kan.
"Tapi bentar aja."
"Iya, sayang. Tapi, yakin kamu gak kangen sama si piton?"
"Nggak."
"Bohong."
__ADS_1
"Dih, nanya kalo maksa."
"I miss you, Arista. Mmuach ...''
"I miss you too, piton."
"Nah 'kan?"
"Nggak, maksudnya i Miss you too, Mas Louis'nya Arista ... Keceplosan tadi.''
"Hahahaha ... Dasar ..."
Blug ....
Pintu kamar pun di tutup dan di kunci seketika tidak ingin aktivitas mereka dalam saling memanjakan di ganggu oleh sang putra.
♥️♥️
Dua hari kemudian.
Akhirnya jenazah sang ibu sampai juga di ibu kota. Meskipun Arista tidak dapat melihat jasad sang ibu karena telah di berada di dalam peti mati dan pastinya hanya berupa tulang belulang saja, akan tetapi dengan dimakamkan di samping makam Clara sang kakak sudah membuat hati seorang Arista benar-benar merasa bahagia.
Saat ini, peti mati mulai dimasukkan ke liang lahat, diiringi lantunan doa yang dipanjatkan oleh ustadz yang memang khusus di undang agar proses pemakaman bisa berlangsung dengan lancar dan tentu saja agar mendiang ibunda Arista bisa beristirahat dengan tenang.
Tidak ada raut kesedihan yang terlihat dari wajah seorang Arista, tidak ada juga air mata yang tumpah mengiringi masuknya peti ke dalam tanah. Yang ada, kini hati Arista merasa tenang dan juga bahagia karena sang ibu telah berada di samping dengan sang Kaka meskipun hanya berkumpul di alam baka.
"Selamat jalan, Bu. Semoga engkau bisa beristirahat dengan tenang sekarang, sampaikan salam ku kepada Mbak Clara di alam sana." Gumam Arista saat tangannya ikut menaburkan tanah merah ke dalam liang lahat.
Louis hanya bisa mengusap punggung istrinya lembut dan penuh kasih sayang begitu mengagumi ketegaran dan keikhlasan yang ditunjukkan oleh istrinya itu.
'Selamat jalan ibu mertua, maaf karena kami terlambat memindahkan engkau ke sini. Ibu pasti telah menunggu kami selama ini, semoga ibu tenang di sisinya. Jangan khawatirkan putri ibu, karena saya akan menjaga dia dengan segenap hati saya.' (batin Louis.)
Liang lahat pun sudah sepenuhnya di tutup oleh tanah merah, kelopak bunga pun mulai ditaburkan di atas gunungan tanah diiringi doa tulus dari semua yang ada di sana.
"Selamat jalan, Bu. Rista sayang ibu." Gumam Arista terlihat tegar.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari dari kejauhan nampak sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka di sana. Mata orang tersebut nampak tersenyum kecil terlihat lega setelah pemakaman itu selesai diadakan.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️