Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Kembali Lagi


__ADS_3

"Tuan serius mau balik lagi ke sana? Apa Tuan tidak sakit hati dengan sikap Arogan-nya menantu Tuan itu?" Tanya sang asisten merasa kalau sikap pria bernama Louis Gabriel itu sangat keterlaluan.


"Tidak apa-apa, wajar jika dia bersikap seperti itu sama saya. Saya memang salah, karena sikap egois saya, putri saya menderita bahkan Clara bunuh diri. Memang saya tidak melakukannya secara langsung tapi, jika saja saya kembali dan membawa atau setidaknya tidak menelantarkan mereka berdua kala itu, mungkin Clara masih ada di sini sekarang.'' Ucap Tuan Adrian penuh penyesalan.


"Tapi, Tuan--"


"Saya akan terima apapun keputusan putri saya. Jadi, antarkan saya ke sana sekarang juga." Sela Tuan Adrian mulai melangkah meninggalkan area pemakaman.


Mau tidak mau, akhirnya Assiten pribadi yang merangkap menjadi supir itu pun mengikuti keinginan Tuannya meskipun hatinya diliputi rasa khawatir.


♥️♥️


Sementara itu di tempat yang berbeda tapi di waktu yang bersamaan. Arista dan suaminya nampak sedang menyantap makanan yang di buatkan oleh bibi.


Louis nampak menyeruput mangkuk yang berisi sisa mie rebus dengan begitu nikmatnya layaknya orang yang sedang kelaparan membuat Arista seketika terkekeh lucu.


"Biasa aja dong Mas makannya. Mas itu kayak yang sudah 7 hari 7 malam tidak makan lho, hihihi ...'' Celetuk Arista menggelengkan kepalanya.


"Mas lapar banget, sayang. Mas belum sempat makan siang tadi." Jawab Louis beralaskan.


"Hmm ... Mas, laki-laki tadi itu sepertinya seorang ayah yang baik ya, andai saja Bapak aku seperti dia."


"Uhuk ..." Louis seketika terbatuk dan menepuk dadanya pelan merasa terkejut.


"Pelan-pelan dong, Mas. Gak ada yang bakalan minta ko, astaga Mas ini." Ucap Arista mengusap punggung suaminya lembut.


"Eu ... Kamu bilang apa tadi. Mas gak dengar."


"Laki-laki yang tadi itu lho. Kelihatannya dia baik ya, andai saja Bapak aku seperti dia."


"Hmm ... Jangan terlalu cepat berspekulasi, kamu baru mengenal dia sehari udah bilang seperti itu. Kita tidak tau 'kan aslinya dia seperti apa?"


"Emangnya Mas tau dia itu aslinya gimana? Emangnya Mas udah kenal lama sama dia?"


"Ya ... Nggak juga si, tapi--"


"Permisi, Tuan. Di luar ada tamu," ucap Bibi membuat Louis seketika menghentikan ucapannya.

__ADS_1


"Tamu? Siapa bi?"


"Sepertinya orang yang tadi ke sini, Tuan."


"Hah?" Louis seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut.


"Wah, panjang umur dong. Kita baru saja membicarakan dia lho." Ucap Arista bangkit dan hendak berjalan.


"Kamu mau kemana, sayang?"


"Ke depan 'lah, 'kan ada tamu."


"Tidak usah, sayang. Biar Mas aja yang temui dia. Palingan dia mau membicarakan urusan pekerjaan, kamu masuk kamar dan istirahat aja ya." Cegah Louis, perasaannya mulai tidak enak.


"Tapi Mas--"


"Sudah, Mas mohon kali ini kamu yang mengalah meskipun selama ini kamu gak pernah ingin kalah, oke?"


"Hmm ...'' Arista hanya mendengus kesal lalu kembali duduk di kursi makan.


"Baik, Tuan."


Bibi pun kembali berjalan menuju ruang tamu.


"Sayang, Mas minta kamu jangan menunjukkan wajah kamu di depan dia. Selama ini Mas selalu mengikuti apapun yang kamu mau, Mas mohon sekarang kamu yang menuruti keinginan Mas ini. Gak ada bantahan, tidak ada perdebatan, mengerti?" Tegas Louis penuh penekanan tidak seperti biasanya membuat Arista merasa heran.


"Mas kenapa si? Sikap Mas ini mencurigakan banget."


"Stt ... Tidak ada perdebatan." Jawab Louis mulai berjalan ke ruang tamu.


'Ada apa lagi si? Kenapa pria itu balik lagi ke sini. Menyebalkan ...' (batin Louis.)


Dia pun berjalan dengan wajah datar dan perasaan kesal menghampiri laki-laki bernama Adrian.


"Ada apa lagi anda balik ke sini, Tuan Adrian yang terhormat?" Tanya Louis datar.


"Maaf jika kedatangan saya mengejutkan anda."

__ADS_1


"Tentu saja. Saya sudah mengingatkan anda berkali-kali, kalau mau membicarakan urusan pekerjaan, temui saya di kantor, saya tidak suka membicarakan urusan kantor di rumah."


"Saya datang ke sini untuk bertemu dengan putri saya."


"Apa?" Louis membulatkan bola matanya terkejut sekaligus merasa tidak percaya dengan apa yang baru saya dikatakan oleh Adrian.


"Dimana dia? Dimana Arista putri saya?'' Tanya Tuan Adrian berjalan semakin memasuki rumah dan langsung di tahan oleh Louis dengan perasaan kesal.


"Berhenti, Tuan Adrian. Jangan sampai saya melaporkan anda ke kantor polisi atas tuduhan tindakan yang tidak menyenangkan ya." Tegas Louis sedikit menahan emosinya begitupun dengan suaranya.


"Saya hanya ingin bertemu dengan putri saya, Louis. Apa salah kalau seorang ayah ingin bertemu dengan putrinya?" Jawab Adrian yang juga penuh penekanan.


"Tidak, saya tidak akan pernah mengijinkan anda bertemu dengan istri saya, Tuan Adrian. Lebih baik anda pulang sebelum saya panggil satpam dan menyeret anda keluar."


"Cukup, Louis. Saya tau Anda marah kepada saya, tapi bukankah sudah cukup anda bersikap kasar dan Arogan juga tidak sopan sama saya? Saya ini mertua kamu juga lho?'' tegas Adrian tidak terlihat lembek seperti biasanya.


Louis memutar bola matanya kesal, dia pun mengangkat kepalanya menatap langit-langit ruangan tamu mencoba menekan emosinya yang sebenarnya ingin sekali dia ledakkan.


"Saya mohon, Tuan Adrian. Saya mohon pergi dari sini. Waktunya tidak tepat, istri saya sedang mengandung. Dia akan syok berat jika tau bahwa anda adalah ayah kandungnya, saya tidak ingin bayi saya kenapa-napa karena sikap egois anda ini." Lirih Louis mencoba sedikit melunakkan sikapnya.


Tuan Adrian pun seketika terdiam menundukkan kepalanya.


'Benar juga, Arista sedang mengandung. Tidak baik untuk kesehatannya jika dia tiba-tiba saja tahu bahwa aku ini adalah ayahnya. Lalu, sampai kapan aku harus menunggu?' (batin Tuan Adrian.)


"Sebaikanya anda pulang, saya mohon dengan sangat-sangat kepada anda."


Tuan Adrian masih terdiam seolah sedang larut dalam lamunannya.


Keheningan pun seketika tercipta. Adrian menyelami lubuk hatinya yang paling dalam dan memikirkan apa yang akan terjadi jika dia bersikukuh untuk menemui putrinya. Apakah sang putri sudah siap bertemu dengan dirinya? Apa kandungannya akan baik-baik saja nantinya?


Akh ... Tuan Adrian benar-benar dilanda dilema sekarang. Dia pun memejamkan mata seraya menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan sebelum dia mulai mengambil keputusan.


"Baiklah, saya akan pergi sekarang. Saya akan memberi waktu selama beberapa bulan lagi sampai Arista melahirkan. Tapi, jika saat itu tiba, saya minta kepada anda jangan pernah menghalangi saya lagi untuk mengatakan kepada putri saya tentang siapa yang sebenarnya."


"Apa? Kalian berdua bicara apa tadi? Siapa anda sebenarnya?" Tiba-tiba terdengar suara Arista yang saat ini sedang berjalan menghampiri mereka berdua.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2