
Keesokan harinya.
Louis nampak tengah duduk di kursi mobil dengan Jodi sang Assisten yang mengendarai mobilnya. Wajahnya terlihat begitu ceria bahkan tidak berhenti tersenyum terlihat begitu bahagia membuat Jodi yang melirik dari kaca spion mobil ikut mesem-mesem sendiri seolah ikut terkena aura kebahagiaan yang dipancarkan dari wajah Tuannya itu.
"Jodi, apakah kamu udah boking Restoran seperti yang saya pinta? Saya ingin Restoran itu di kosongkan malam ini. Saya akan memberikan kejutan buat calon Nyonya besar kamu." Tanya Louis dengan tersenyum ceria.
"Rebes, Tuan. Eh ... Beres maksud saya. Pokoknya saya sudah pesankan tempat paling bagus dan romantis buat Tuan sama calon Nyonya besar," jawab Jodi yang tersenyum senang melihat Tuannya terlihat bahagia.
"Bagus ... Malam ini kamu stan by jam 7 malam ya."
"Siap, Tuan.''
♥️♥️
Malam hari.
Arista nampak sedang memilih pakaian yang cocok yang akan dia kenakan. Sudah lebih dari satu jam dia berdiri di depan lemari pakaian dan hanya menatap satu-persatu pakaian yang saat ini memenuhi lemarinya.
Semua pakaian di dalam sana hanya berupa gaun pendek dan s*ksi benar-benar bukan pakaian yang sesuai dengan kepribadiannya.
Ceklek ....
Tiba-tiba saja pintu kamarnya di buka tanpa diketuk terlebih dahulu membuat Arista terkejut lalu menoleh ke arah pintu.
"Astaga, sayang. Mas udah nungguin dari tadi? Kamu masih belum siap juga?" Tanya Louis berjalan menghampiri dengan wajah kesal.
Wajah Louis terlihat begitu tampan dengan balutan jas berwarna hitam dengan rambut yang di tata begitu rapi dan aura kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya meskipun raut kecewa sedikit terlihat karena sudah terlalu lama menunggu calon istrinya itu.
"Mas, kamu tampan banget malam ini." Ucap Arista tersenyum menatap wajah calon istrinya yang terlihat tampan sempurna.
"Sekarang bukan waktu yang tepat buat muji-muji Mas kayak gitu. Kamu kenapa belum siap juga? Mas udah nungguin kamu dari tadi lho."
"Aku bingung milih baju."
"Hah?"
"Coba Mas yang pilihin satu dress buat aku. Semuanya bagus, aku jadi bingung mau pakai yang mana." Rengek Arista masih menatap lekat wajah Louis Gabriel calon suaminya.
__ADS_1
"Astaga ... Kamu dari tadi cuma liatin semua pakaian ini?"
Arista menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
"Oke, Mas bakalan pilihin kamu satu dress tapi, kamu gak boleh menolak pakaian yang Mas pilihkan."
Arista menganggukkan kepalanya tersenyum senang.
Louis pun menatap satu persatu pakaian yang ada di dalam lemari, lalu tatapannya terhenti pada sebuah dress berwarna merah dengan motif polos namun terlihat s*ksi dan elegan. Dia pun meraih dress tersebut dan memberikannya kepada Arista.
"Nah, ini bagus. Coba pakai, Mas tunggu di luar ya, pokoknya Mas tunggu 15 menit lagi Kamu harus sudah siap. Oke?"
Arista menganggukkan kepalanya.
Setelah menunggu selama 15 menit, akhirnya, Arista pun keluar dari dalam kamarnya dengan memakai dress yang tadi dia pilihkan, wajah Arista terlihat sangat cantik dengan hanya dipoles make-up tipis serta lipstik merah terang yang mewarnai bibirnya.
Dress pendek tanpa lengan, dengan belahan dada yang sedikit terbuka terlihat begitu s*ksi dan menggoda membuat Louis seketika menatap wajah calon istrinya dari ujung kaki hingga ujung rambut seolah tanpa berkedip sedikitpun.
"Arista ... Kamu cantik banget." Ucap Louis dengan mata yang membulat sempurna dan mulut yang sedikit dibuka benar-benar terpesona dengan kecantikan calon istrinya.
"Mas, apa ini tidak terlalu terbuka?" Tanya Arista berjalan mendekat dengan perasaan tidak nyaman.
"Ya udah kalau begitu. Kita berangkat sekarang." Jawab Arista mengulurkan tangannya dan segera di sambut dengan uluran tangan Louis lengkap dengan senyuman penuh kebahagiaan.
♥️♥️
Sesampainya di Restoran.
"Mas, ini serius di sini cuman ada kita berdua?" Tanya Arisa dengan mata yang menatap sekeliling Restoran yang terlihat kosong tidak ada siapapun.
"Mas memang sengaja menyewa restoran ini hanya untuk kita berdua agar tidak ada yang bisa mengganggu kita." Jawab Louis menarik kursi dan mempersilahkan Arsita duduk lalu, dirinya pun duduk tepat di depan Arista.
"Waah ... Aku kira Mas main-main waktu bilang, kita cuma berdua di sini."
"Mana mungkin Mas main-main, sayang.''
Tidak lama kemudian, satu orang pelayan datang menghampiri dan membawa hidangan spesial yang memang sudah di pesan sebelumnya.
__ADS_1
"Waaah ... Makanannya juga langsung datang." Ucap Arista dengan mata berbinar dan bibir yang tersenyum lebar menatap stik daging, makanan yang memang sudah lama ingin dia cicipi.
"Ini semua sengaja Mas pesankan spesial buat kamu, sayang."
"Makasih, Mas. Makasih banget."
Louis menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Dia pun meraih piring Arista dan memotong stik tersebut agar calon istrinya itu tinggal memakannya saja.
"Nah, kamu tinggal makan aja," ucap Louis meletakan kembali piring tersebut tepat di depan Arista.
Tanpa di persilahkan lagi, Arista pun segera memakan setiap potongan daging dengan begitu lahapnya, membuat Louis tersenyum menatap ekspresi wajah Arista yang terlihat begitu senang.
"Gimana, enak?"
"Enak banget, Mas? Enaaaaak banget. Tapi, apa gak ada nasi? Daging kayak gini enaknya dimakan sama nasi hangat," jawab Arista dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Hahaha ... Kamu kira di sini warteg, masa stik pakai nasi? Astaga, sayang.''
"Hehehe ... Aku kira bisa pakai nasi." Jawab Arista dengan begitu polosnya.
"Siapa bilang nggak bisa? apapun buat kamu yang nggak bisa pun bisa menjadi bisa," jawab Louis lalu melambaikan tangan dan meminta pelayan membawakan satu piring nasi hangat untuk calon istrinya itu.
Tidak lama kemudian, pelayan pun datang dengan membawa satu piring nasi hangat dengan tersenyum lucu menatap pasangan yang terlihat begitu menggemaskan.
"Waaah ... Beneran bisa. Makasih, sayang." Ucap Arista dan segera melahap stik lengkap dengan nasi hangat yang baru saja disajikan oleh pelayan Restoran.
Arista bahkan makan dengan menggunakan tangan layaknya sedang berada di warung makan. Louis hanya bisa tersenyum menatap wajah calon istrinya, hati seorang Louis terlihat begitu bahagia, bahkan sangat bahagia. Ternyata memang Arista 'lah sumber kebahagiaan bagi laki-laki bernama Louis Gabriel tersebut.
"Euuu ..." Arista mengeluarkan suara sendawa yang terdengar begitu nyaring membuat Louis seketika tertawa yang juga terdengar nyaring.
"Hahaha ... Rista ... Rista ..." Gumam Louis menatap lekat wajah calon istrinya.
"Hehehe ... Maaf, Mas. Makanannya enak banget ini," lirih Arista mengusap ujung bibirnya yang terasa basah.
Tidak tinggal diam, Louis pun mengambil selembar tisu lalu mengusap ujung bibir calon istrinya. Lagi-lagi Louis menatap lekat wajah Arista, senyumannya pun tidak berhenti mengembang dari kedua sisi bibirnya. Tatapan matanya memancarkan aura kebahagiaan yang memancar begitu menyilaukan bagi siapapun yang menyadari arti dari tatapan mata seorang Louis Gabriel.
Hal yang sama pun dirasakan oleh Arista, dia begitu bahagia karena akhirnya bisa merasakan nikmatnya memakan makanan yang selama ini hanya bisa dia lihat di dalam televisi.
__ADS_1
Arista pun tersenyum menatap wajah calon suaminya itu dengan tatapan penuh rasa cinta sampai akhirnya Arista di buat terkejut saat Mas Louis kesayangannya itu tiba-tiba saja berjongkok tepat di depan dirinya lalu mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku jas hitam yang dikenakannya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️