Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Calon Suami Posesif


__ADS_3

"APAAAAA ...?" Louis berteriak kaget saat mendengar Jodi mengatakan bahwa, David sang putra mendadak hilang.


"I-iya, Tuan. Tadi saya tinggal sebentar ke kamar mandi dia udah gak ada," jawab Jodi terbata-bata dan tubuh yang gemetar.


"Masa di dalam rumah bisa hilang? Ngaco kamu?"


"Bukan di ru-mah, Tuan. Ta-pi di si-ni."


"HAAAAAH ...?''


"Maafkan saya, Tuan. Den David merengek minta di antar ke sini, makannya saya bawa ke sini."


"Bodoh, emangnya kamu gak bisa larang dia? Pokoknya kamu cari putra saya sekarang juga, gaji kamu saya potong 35% dan bonus kamu pun saya batalkan," teriak Louis kesal dengan nada suara tinggi.


"MAAAAS ..." Arista pun menaikan suaranya membuat Louis seketika menghela napas panjang mencoba mengendalikan emosi di dalam dirinya.


"Sekarang bukan waktunya ngurusin gajinya Jodi. Stop marah-marah dan cepat cari putra kita sekarang juga, eh ... Maksud aku putra Mas yang sebentar lagi bakalan jadi putra aku juga. Malah ngurusin gaji segala lagi," ketus Arista merasa tidak suka dengan reaksi calon suaminya yang langsung saja melampiaskan kekesalan dan menyalahkan Jodi padahal dia sendiri belum tau kejadian sebenarnya seperti apa.


"Tapi, sayang. Kalau Mas pergi, kamu sama siapa di sini?" Tanya Louis sedikit menurunkan nada suaranya.


"Aku udah besar, Mas. David lebih membutuhkan kamu, pokoknya Mas stop marah-marah dan cepetan cari dia. Kalau David sampai di culik gimana?"


"Kamu beneran gak apa-apa Mas tinggal sendirian?"


"Iya, Mas. Aku gak apa-apa, lagian kata Dokter juga aku udah bisa pulang."


"Tapi kalau Mas udah nemuin David kamu harus mau di suntik ya?"


"Iya, gimana nanti aja."


"Jangan gimana nanti dong. Kalau kamu gak mau di suntik Mas bakalan potong gaji Jodi 70%," tegas Louis penuh penekanan membuat Jodi seketika terkejut.


"Lho, Tuan. Salah saya apa? Kenapa gaji saya di pangkas habis?" Lirih Jodi energinya serasa hilang karena bertubi-tubi mendapatkan ancaman.


"Salah kamu--"


"Stop Mas Louis ... Stoooooop ...! Jodi, kamu gak usah khawatir, saya pastikan gaji kamu gak akan ada yang dipotong sedikitpun, oke?"


"Terima kasih calon Nyonya besar, makasih banget ..." Jodi akhirnya tersenyum lega.

__ADS_1


"Sekarang cepat cari David sampai ketemu."


"Baik calon Nyonya besar, saya akan cari dia sekarang juga.'' Jawab Jodi seketika langsung lari keluar dari dalam ruangan.


"Sama kamu aja nurut, sama Mas ngebantah terus," gerutu Louis kesal.


"Mas kenapa masih di sini?"


"Iya-iya, Mas cari David sekarang juga," jawab Louis hendak berjalan keluar dari dalam ruangan namun, tiba-tiba aja dia menghentikan langkah kakinya lalu berbalik kembali menatap wajah Arista.


"Pokoknya, Mas gak mau tau. Kalau Mas udah nemuin David kamu harus disuntik Vitamin," tegas Louis lalu kembali berbalik dan meneruskan langkah kakinya.


"Astaga ..." Jawab Arista menepuk keningnya sendiri.


Tanpa mereka sadari, Dokter dan kedua perawat yang berada di sana pun sedari tadi terus saja memperhatikan pertengkaran kecil sepasang kekasih yang terlihat begitu menggemaskan.


Mereka tidak berhenti tersenyum iri, betapa sepasang kekasih yang sepertinya terpaut usia yang sangat jauh itu terlihat romantis meskipun perdebatan mereka sempat memanas.


"Masnya perhatian banget ya sama Mbak," tanya perawat tersebut tidak tahan untuk tidak berkomentar.


"Hehehe ... Begitulah, Sus. Dia emang calon suami yang posesif," jawab Arista tersenyum kecil.


"Iya, Sus. Beberapa hari lagi kami menikah.''


"Saya doakan pernikahan kalian lancar ya, dan Mbaknya bisa cepat sehat lagi seperti sedia kala." Ucap Suster itu lagi.


"Terima kasih, Sus."


"Kami permisi ya, Mbak.''


"Baik, Dokter, Suster," jawab Arista tersenyum ramah.


♥️♥️


Louis mencari keberadaan putranya di dalam Rumah sakit dengan perasaan khawatir. Jodi pun nampak melakukan hal yang sama dan mencari di setiap sudut Rumah sakit dengan perasaan was-was karena merasa takut gajinya akan benar-benar di pangkas habis jika David sampai tidak ditemukan. Dia bahkan bertanya kepada beberapa perawatan dan pengunjung dengan menyebutkan ciri-ciri David.


"Ya ampun, David. Dimana kamu, Nak?" Gumam Louis seraya menatap sekeliling.


Matanya nampak menyisir halaman rumah sakit sesaat setelah dia sampai di sana. Louis berdiri di teras Rumah umah sakit, mencari di antara pekatnya malam sosok sang putra yang tiba-tiba menghilang akibat ulah Jodi, pikirnya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja matanya menangkap sosok mirip mantan istrinya bersama seorang anak laki-laki yang juga mirip dengan putranya. Meskipun tidak begitu yakin dengan apa yang dia lihat, Louis pun menghampiri mereka, berjalan pelan dan menatap punggung keduanya yang saat ini duduk di bangku yang terbuat dari kayu.


Semakin dekat, semakin dekat, Louis pun semakin menyipitkan matanya agar bisa lebih jelas melihat dua orang tersebut. Sampai akhirnya, dia pun berada tepat di belakang orang tersebut dan sedetik kemudian ....


"David ...?" Teriaknya segera memeluk putranya setelah benar-benar yakin bahwa yang dilihatnya itu benar-benar David yang saat ini duduk bersama Clara, mantan istrinya.


"Daddy?" Sapa David terkejut karena sang ayah tiba-tiba sudah berada di sana.


"Mas Louis?" Lirih Clara pelan.


"Kamu kenapa ke sini segala? Bukannya tungguin Daddy di rumah?" Tanya Louis menahan rasa kesal sebenarnya.


"Maaf, Dad. Aku pengen nemenin Daddy di sini, kasian 'kan kalau Daddy nungguin Tante sendirian aja." Rengek David enggan suara manja dan menundukkan kepalanya.


"Astaga putra Daddy, makasih ya udah khawatir sama Daddy dan Tante Arista."


"Mas ...!" Sapa Clara karena sedari tadi Louis seolah tidak menyadari kehadirannya atau, Louis memang tidak peduli dengan kehadiran dirinya di sana.


Dari arah kejauhan, Jodi pun nampak berlari menghampiri dengan perasaan lega dan tersenyum seketika menatap David.


'Syukurlah Den David ketemu, gaji aku aman sekarang,' (batin Jodi)


"David, kamu masuk duluan sama Om Jodi ya. Kasian Tante khawatir banget sama kamu," pinta Louis mengabaikan panggilan mantan istrinya.


"Baik, Dad. Mom, aku masuk dulu ya.''


Clara menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


Sepeninggal David, kini tinggallah Louis yang masih berdiri tepat di depan Clara menatap kepergian putranya bersama Jodi. Setelah mereka benar-benar masuk ke dalam Rumah sakit, barulah dia menoleh dan menatap wajah Clara ibu dari putra semata wayangnya itu.


"Lagi ngapain kamu di sini? Apa kamu sengaja mengikuti kami?" Tanya Louis penuh penekanan.


"Tidak, Mas. Aku memang kebetulan lagi ada di sini dan gak sengaja bertemu dengan David," jawab Clara menatap wajah suaminya yang seperti tidak menua sedikit pun meskipun telah tiga tahun berlalu.


"Apa kamu sakit? Eu ... Jangan salah paham, aku nanya kayak gini karena kamu ibu dari anakku dan juga kakak dari calon istriku," tegas Louis tidak ingin sampai Clara salah paham.


"Aku mengidap Gangguan Bipolar, Mas." Jawab Clara menundukkan kepalanya membuat Louis seketika merasa terkejut.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2