
"Eak ... Eak ... Eak ...."
Terdengar suara tangis bayi saling bersautan di dalam sana dan seketika tangis Louis pun pecah seraya memeluk tubuh Bibi yang saat ini duduk di sampingnya.
Tangis bahagia, tangis lega dan tangis haru terdengar begitu nyaring membuat bibi pun balas memeluk Tuannya itu dengan perasaan bahagia.
"Akhirnya bi, akhirnya bayiku bisa lahir dengan selamat. Saya senang sekali Bi, hiks hiks hiks ..." Ucap Louis di dalam pelukan Assisten Rumah Tanggungannya yang telah dia anggap seperti ibu sendiri.
"Iya, Tuan. Selamat ya, anda telah memiliki bayi lagi. Saya ikut bahagia." Jawab Bibi dengan mata yang berkaca-kaca merasa haru dan juga bahagia.
"Istri saya ... Istri saya selamat 'kan? Bapak juga, bagaimana keadaan beliau? Dia 'kan sudah sepuh, apa akan baik-baik saja setelah mendonorkan darahnya kepada Arista?" Tanya Louis seketika mengurai pelukan dan kembali dilanda rasa khawatir.
"Jangan khawatir, Tuan. Mereka pasti baik-baik saja."
Ceklek ....
Pintu ruangan pun di buka, Dokter keluar dari dalam ruangan tersebut dan segera disambut dengan setengah berlari menghampiri oleh Louis Gabriel.
"Dokter, bagaimana keadaan istri dan ayah mertua saya?"
"Selamat, Tuan. Bayi kembar anda sudah lahir dengan selamat, semuanya berjenis kelamin perempuan." Jawab sang Dokter seraya menurunkan masker yang menutup mulut serta hidungnya.
"Syukurlah, saya senang sekali, Dokter. Tapi, bagiamana istri dan juga ayah mertua saya? Mereka baik-baik saja 'kan?''
Sang Dokter pun menarik napas panjang sebelum dia mulai menjelaskan.
"Nyonya Arista baik-baik saja, meskipun begitu keadaanya masih sangat lemas dan butuh istirahat banyak. Mungkin beliau harus di rawat selama satu Minggu di sini. Sedangkan ayah mertua Anda--" Dokter tersebut terdiam sejenak.
"Bagaimana keadaan beliau, Dok? Kenapa anda diam?''
"Karena beliau sudah sepuh, kondisinya mengkhawatirkan sekarang. Sebenarnya, di dalam saya sudah melarang beliau untuk mendonorkan darahnya. Akan tetapi, karena beliau memaksa, kami pun terpaksa mengambil separuh darah di dalam tubuh beliau.''
"Lalu, bagaimana keadaan dia sekarang? Dokter jangan berbelit-belit begini dong." Louis seketika merasa kesal.
"Beliau selamat, tapi keadaan beliau drop sekarang. Mertua Anda harus di rawat di sini sampai kondisinya benar-benar pulih kembali." Jelas Dokter tersebut akhirnya.
__ADS_1
"Syukurlah, yang penting beliau masih hidup, Dokter. Eu ... Apa saya boleh melihat keadaan mereka berdua."
"Tentu saja, Nyonya Arista pasti sedang menunggu kedatangan anda di dalam." Jawab sang Dokter mengijinkan.
Seketika Louis pun segera berlari masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dengan langkah kaki gontai, dan senyuman juga bola mata memerah Louis pun mendekati tubuh istrinya yang saat ini masih terkulai lemas di atas ranjang pasca operasi Caesar.
Matanya nampak masih setengah terpejam merasakan tubuhnya yang masih terasa lemas.
"Sayang ..." Lirih Louis mengusap lembut rambut sang istri.
Arista pun menoleh dan mencoba membuka mata secara sempurna, menarik pelupuknya secara paksa meski kedua matanya terasa berat saat ini.
"Mas ...'' Rengek Arista dengan suara manja seperti biasanya.
"Iya, sayang. Mas di sini, terima kasih karena kamu telah melahirkan bayi kembar kita dengan selamat dan tanpa kurang satu apapun," lirih Louis mengecup mesra kening istrinya.
"Dimana bayi kita, Mas. Aku ingin melihat mereka."
Louis menggendong salah satu bayi kemudian mengadzani bayinya tersebut dengan sedikit berbisik di telinganya. Tangis haru pun seketika pecah, Arsita yang menyaksikan hal itu tidak kuasa lagi menahan rasa bahagia.
Mendengar sang suami melafazkan adzan dan Iqamah di telinga keduanya bayinya itu benar-benar membuat hati seorang Arista merasa terhenyak, karena ini kali pertamanya dia mendengar sang suami melakukan hal itu.
Lirih dan merdu, dia tidak menyangkan kalau Louis Gabriel bisa dengan lantangnya mengumandangkan adzan tanpa ada cela sedikitpun.
Setelah selesai melakukan tugas pertamanya sebagai seorang ayah, Louis pun mengecup kening, serta kedua sisi bayi cantiknya itu secara bergantian.
"Kamu benar-benar cantik, Nak. Persis seperti ibumu," lirih Louis menatap lekat wajah sang bayi.
Seketika bayi itu pun menggeliat dan tersenyum manis meskipun kedua matanya masih terpejam sempurna.
"Mas, aku benar-benar bahagia sekarang." Ucap Arista menatap bayi lainnya yang saat ini berada tepat di sampingnya.
"Mas juga bahagia, sayang. Sangat-sangat bahagia." Jawab Louis tersenyum senang.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa keadaan Arista pulih pasca operasi Caesar, dia pun dipindahkan ke ruangan rawat inap namun, tidak dengan bayi kembarnya.
Kedua bayi cantik itu harus di tempatkan di ruangan yang berbeda dan harus di inkubator selama beberapa hari dan tentu saja hal itu membuat Arista merasa sedih sekali.
Saat ini, Arista nampak sudah berada di ruangan VVIP, ruangan luas layaknya kamar hotel dengan pasilitas yang sangat lengkap.
"Mas, Bapak dimana? Apa beliau belum tau kalau aku melahirkan?" Tanya Arista merasa belum melihat sosok sang ayah sama sekali.
"Eu ... Anu ... Beliau ada di sini juga, sayang." Jawab Louis merasa ragu untuk menceritakan seperti apa kondisi sang ayah mertua.
"Lho? Ko tidak di suruh masuk? Bapak pasti senang melihat aku melahirkan dengan selamat dan memberikannya dua cucu sekaligus." Arista mengerutkan kening.
"Beliau di rawat di Rumah sakit ini juga, sayang."
"Hah? Maksudnya Mas, beliau sakit gitu? Eu ... Bapak tidak apa-apa 'kan? Bapak baik-baik saja 'kan?"
Benar saja, raut wajah Arista benar-benar diliputi rasa khawatir setelah mendengar keadaan ayahnya.
"Beliau baik-baik saja, sayang. Kamu tidak usah khawatir, bapak cuma merasa lemas setelah darahnya beliau donor'kan kepada kamu."
Arsita seketika tercengang, dia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, lengkap bola mata yang membulat sempurna merasa terkejut.
"Mas ... Bapak mendonorkan darahnya untuk aku? Mas bercanda 'kan? Mana mungkin orang sesepuh dia mendonorkan darahnya? Apa boleh seperti itu? Kalau bapak sampai kenapa-napa bagaimana?"
"Kamu tenang dulu, sayang. Mas sudah bicara dengan Dokter dan beliau baik-baik saja sekarang."
"Mas ini gimana si? Kenapa membiarkan bapak melakukan hal itu? Kalau sampai bapak--" Arista tidak meneruskan ucapannya.
"Hey ... Hey ... Sayang ... Arista-nya Mas, istrinya Mas yang paling cantik, baik hati dan tidak sombong. Bapak baik-baik saja, sayang. Beliau hanya butuh istirahat. Lagipula, Mas tidak ada pilihan lain lagi, kalau beliau tidak mendonorkan darahnya maka nyawa kamu dan bayi kita yang terancam." Jawab Louis lembut menatap wajah istrinya dengan tatapan sayu.
"Jadi, bapak yang menyelamatkan nyawaku dan bayi kita?"
Louis menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
"Dimana dia sekarang, Mas? Antar'kan aku ke ruangan beliau, aku ingin bertemu sekaligus mengucapkan terima kasih sama bapak." Rengek Arista seketika berlinang air mata.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️