Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Pemuas Hasrat Tuan Kesepian


__ADS_3

Arista menatap dengan mata yang berbinar serta mulut yang sedikit di buka berbagai makanan yang kini tersaji di atas meja makan. Di atas meja itu lauk pauk sudah tertata rapi lengkap dan hampir memenuhi meja membuat Arista seketika sedikit mengeluarkan ujung lidahnya merasa tergiur.


Louis yang menyaksikan hal itu, menatap wajah Arista dengan tersenyum lucu. Apakah gadis itu tidak pernah melihat makanan sebanyak ini? Apakah gadis itu juga tidak pernah memakan makanan seperti ini?


"Saya boleh memakan ini semua, Tuan?'' tanya Arista tersenyum dengan memandangi satu-persatu lauk di atas meja.


"Tentu saja tapi, ada satu syarat." Jawab Louis masih tersenyum menatap wajah Arista yang terlihat begitu menggemaskan.


"Syarat? Masa makan aja ada syaratnya? Tuan ini gimana sih?"


"Kamu lagi membantah saya?"


"Nggak, Tuan. Saya lagi bertanya,'' jawab Arista sedikit cengengesan.


"Astaga Arista, pokoknya selesai makan kamu saya hukum ya.''


"Salah saya apa, Tuan?"


"Masih nanya salah kamu apa?"


Arista tidak menjawab ucapan Louis. Dengan polosnya dia duduk di meja makan lalu mengisi piring kosong dengan nasi lengkap dengan lauk pauknya, sampai piring berukuran besar itu terisi penuh dengan makanan mengabaikan tatapan mata Louis yang saat ini menatap tajam wajahnya seraya mengerutkan kening dengan bibir yang tersenyum tipis.


"Selamat makan," Arista dengan suara cempreng lalu segera memakan makanan tersebut.


Louis hanya bisa tersenyum lucu. Gadis bernama Arsita itu benar-benar keras kepala dan juga bebal. Meskipun berkali-kali dia menyebutkan kesalahan yang dibuat oleh gadis itu bahkan mengancam akan menghukumnya, tetap saja Arsita tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Gadis itu bahkan makan dengan begitu lahapnya sampai nasi putih berserakan disekitar piring milik gadis tersebut.


"Pelan-pelan, Arista. Apa kamu baru pertama kali memakan makanan kayak gini."


Arista menganggukkan kepalanya.


"Serius?"


Arista kembali menganggukkan kepala dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan membuat Louis kembali tersenyum.

__ADS_1


Louis merasakan ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Jantungnya kini terasa berdetak kencang dengan hatinya yang tidak karuan. Ada rasa aneh yang kini terselip di dalam hati seorang Louis dan membuat dirinya merasa bingung.


"Tuan gak makan?" Tanya Arista masih dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Saya gak lapar, melihat kamu makan kayak gini udah bikin perut saya kenyang," jawab Louis menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi makan.


"Hmm ... Padahal makanan ini enak banget lho."


"Makan yang banyak, sebelum kamu dapat hukuman dari saya," celetuk Louis membuat Arista seketika tersedak dan memuntahkan makanan di dalam mulutnya.


"Uhuk ..." Arista terbatuk seraya memuntahkan makanan.


"Ya Tuhan. Jorok banget si kamu Arista?"


"Tadi anda bilang apa, Tuan?"


"Yang mana?"


"Yang tadi."


"Nggak, saya gak mau dihukum? Emangnya saya apaan si suruh buka baju didepan laki-laki? Lagian, saya 'kan sudah pernah bilang sama Tuan, meskipun saya miskin tapi, saya bukan wanita murahan. Tuan benar-benar telah merendahkan harkat dan martabat saya sebagai seorang wanita. Saya benci sama Tuan," Arista menaikan suaranya, berbicara dengan nada suara yang penuh dengan penekanan setelah itu dia pun menyudahi makan'nya tidak peduli meski perutnya masih terasa lapar.


"Apa maksud kamu, Arista? Kapan saya suruh buka baju kamu di depan saya?" Tanya Louis yang juga menaikan suaranya.


Arista tidak menjawab pertanyaan Tuannya, dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar dengan perasaan kesal dan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.


Sebenarnya, apa yang harus dia kerjakan di rumah itu? Pelayan? Apakah selama ini dia salah paham? Yang dimaksud pelayan oleh Tuan Louis itu adalah pelayan ranjang yang selalu di lakukan oleh seorang pel*cur? Batin Arista seketika kembali mengingat perkataan Loius saat pertama kali mereka bertemu beberapa hari yang lalu.


Ceklek ....


Arista pun membuka pintu kamarnya, dengan perasaan kesal dia pun masuk ke dalam kamar dan membanting tubuhnya di atas ranjang. Mata Arista nampak menatap langit-langit kamar, melayangkan tatapan kosong dengan otak yang berfikir keras.


"Sebenarnya aku ini pelayan apa? Apa Tuan Louis udah benar-benar membeli tubuhku? Itu sebabnya dia meminta aku buat buka baju di depan dia?" Gumam Arista pikirannya merasa kacau.

__ADS_1


"Kalau memang begitu, aku harus melarikan dari sini. Aku gak mau jadi budak sek* Tuan Louis." Gumamnya lagi dengan wajah yang terlihat gusar.


♥️♥️


Sementara itu, Louis yang saat ini masih duduk di kursi ruang makan. Nampak tersenyum lucu melihat tingkah Arista, sebenarnya dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan gadis itu? Buka baju? Kapan dirinya meminta gadis itu untuk membuka baju? Louis pun termenung sejenak seolah sedang berfikir. Setelah itu, dia pun tertawa terbahak-bahak mengingat ucapan yang tadi dia katakan di dalam yang meminta Arista untuk membuka baju yang dipakainya jika memang dia tidak suka dengan pakaian tersebut.


"Hahaha ... Jadi karena itu? Astaga Arista, ternyata kamu bukan hanya polos tapi juga bodoh. Aku gak tau kalau ada gadis sebodoh kamu di dunia ini," gumam Louis berbicara sendiri.


Seketika, dia pun menghentikan suara tawanya. Tangannya kini memegangi dada bidang sebelah kiri dan kembali merasakan ada yang aneh di dalam sana. Jantungnya kini berdetak begitu kencang, bahkan hatinya terasa berbunga-bunga layaknya taman bunga mawar yang sedang bermekaran.


"Ada apa dengan aku? Kenapa jantungku berdetak kencang kayak gini? Hahaha ... Gak, gak mungkin aku kayak gini gara-gara Arista? Gadis kayak dia bisa bikin jantung aku berdebar kayak gini? Hahaha ... Aku pasti sudah gila," gumamnya lagi lalu bangkit berjalan keluar dari ruang makan.


Bibi yang juga berada di ruangan yang sama pun nampak bersyukur karena Tuan Louis akhirnya bisa menemukan tambatan hatinya setelah tiga tahun menduda dan tinggal sendiri. Sebagai orang yang telah bekerja di sana selama lebih dari 10 tahun, tentu saja Bibi sudah menganggap Louis seperti anaknya sendiri meskipun tidak dengan Tuannya sendiri yang tidak mungkin menganggap dirinya sebagai ibunya.


Bibi nampak masuk ke ruang makan lalu hendak membereskan meja yang masih banyak menyisakan makanan.


"Ya ampun, apa mereka berdua gak tau kalau masak itu pake tenaga? Makanan sebanyak ini mau di kemanain?'' gumam Bibi membereskan sisa makanan di atas meja.


♥️♥️


Tok ... Tok ... Tok ....


Ceklek ....


Bibi membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Arista.


"Non Arista, Tuan memanggil Nona ke kamarnya,'' ucap Bibi seraya berjalan mendekati Arista yang saat ini sedang berbaring di atas ranjang.


"Hah? Maksud bibi apa?'' Arista bangkit lalu duduk di atas ranjang dengan wajah pucat pasi dan tubuh yang gemetar.


"Tuan memanggil Nona ke kamarnya,'' Bibi mengulang ucapannya membuat Arista terkejut.


'Ya Tuhan, lindungilah hamba mu ini. Saya gak mau jadi Pemuas hasrat Tuan Kesepian,' (batin Arista )

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2