
Louis seketika tersenyum senang sekaligus lega setelah mendengar rengekan istrinya yang menandakan bahwa istrinya itu sudah baik-baik saja sekarang.
"Maaaas ...!" Rengek'nya lagi.
"Iya, sayang."
"Aku gak mau di rawat, aku baik-baik saja ko. Beneran ... Mas tau sendiri aku takut di suntik. Mendingan aku di suntik sama piton'nya Mas deh," celetuk Arista, matanya yang membengkak terlihat sayu menatap wajah Louis sang suami.
"Sssttt ... Jaga ucapan kamu, sayang. Ada bapak di sini," bisik Louis melirik ke arah Tuan Adrian yang saat ini nampak tersenyum senang menyaksikan putri serta menantunya yang terlibat begitu menggemaskan.
"O iya ada bapak, hehehe ..." Jawab Arista sedikit cengengesan.
"Tidak apa-apa, gak usah sungkan sama bapak. Bapak justru senang melihat kalian seperti ini," jawab Tuan Adrian senyumnya terukir dari kedua sisi bibirnya kini.
"Pak, bapak pulang aja. Kasian bapak pasti capek, lagian aku juga sebentar lagi pulang ko"
"Kata siapa sebentar lagi kamu pulang? Kata Dokter itu, kamu harus di rawat beberapa hari di sini, Arista sayang."
"Tapi, aku gak mau, Mas Louis sayang. Aku mau pulang."
Louis pun hanya bisa menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan. Apa dia harus mengalah lagi? Jiwa seorang Louis meronta-ronta tidak ingin mengalah begitu saja kali ini, mengingat bahwa ini menyangkut keselamatan Arista sang istri juga bayi yang saat ini dikandungnya.
"Sayang, sebaiknya kamu di rawat saja dulu. Dokter menyarankan seperti itu lho, demi kesehatan kamu dan juga bayi kamu, cucu bapak." Lembut Tuan Adrian.
"Ya udah iya, aku mau dirawat. Tapi, jangan lama-lama." Jawab Arista secara tiba-tiba membuat Louis akhirnya bisa bernapas lega.
'Akhirnya dia mau di rawat juga. Sama Mas aja kamu gak pernah mau kalah, tapi sama bapak kamu langsung setuju tanpa perlu di bujuk. Hadeuh ...' (batin Louis.)
"Tapi, Pak. Sebaikanya bapak pulang aja, bapak pasti capek.'' Pinta Arista menatap sayu wajah sang ayah.
"Tidak, sayang. Bapak akan di sini menemani kamu. Bapak tidak capek sama sekali ko."
"Bapak yakin?"
Tuan Adrian menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Mas ... Tapi Mas harus bilang sama Dokter kalau aku gak mau di suntik."
"Iya, sayang. Nanti Mas bilang sama Dokternya." Jawab Louis yang juga tersenyum kecil.
Arista menatap wajah suami dan ayah kandungnya secara bergantian, hatinya benar-benar begitu bahagia sekarang. Dua laki-laki ini adalah dua orang yang paling berharga di dalam hidupnya kini.
'Jangan lupakan David, dia pun laki-laki yang paling berharga dalam hidup aku,' (batin Arista.)
***
Malam berganti dan hari pun berlalu, hubungan Arista dengan sang ayah semakin membaik setiap harinya. Tuan Adrian bahkan sudah tidak sungkan lagi untuk berkunjung ke rumah menantunya hanya untuk bertemu dengan sang putri.
Tiga bulan berlalu, usia kandungan Arista pun sudah berada di trimester ke tiga dimana sudah siap untuk melahirkan buah hatinya. Arista semakin merasakan tubuhnya semakin berat melakukan aktivitas setiap harinya, belum lagi sakit di punggung, pinggang juga kedua kakinya yang terasa begitu menyiksa.
Tengah malam, Arista tiba-tiba saja terbangun dari tidur lelapnya. Perutnya terasa sakit juga bagian pinggangnya membuat Arista seketika berteriak kencang membangunkan suaminya.
"Maaaaaas ... BANGUN, MAS," teriak Arista menggoyangkan tubuh suaminya mencoba untuk membangunkan.
Louis yang sedang larut dalam mimpinya pun seketika terbangun, dia mengusap kedua matanya lalu menoleh menatap Arista dengan perasaan heran.
"Perut aku, Mas. Arghhhhh ... Sakit sekali ini." Teriak Arista mengusap perutnya dengan bola mata yang memerah menahan rasa sakit yang tiada terkira.
Louis yang semula menahan rasa kantuk pun tiba-tiba saja membuka mata secara sempurna.
"Hah? Beneran?" Tanya Louis membulatkan bola matanya merasa terkejut.
"Iya, Mas. Sepertinya aku akan melahirkannya, Haaaa .... Huuuuu .... Argh .... Sakit sekali, Mas."
"Kita ke Rumah Sakit sekarang ya, Mas mau bangunkan bibi dulu biar dia ikut kita ke Rumah sakit.''
Arista menganggukkan kepalanya seraya meringis kesakitan.
Luis pun segera berlari keluar dari dalam kamar untuk membangunkan BI Surti, tidak lama kemudian dia pun kembali bersama bibi dan segera menggendong istrinya untuk dibawa ke Rumah Sakit.
Di Rumah sakit.
__ADS_1
Louis menunggu di luar ruangan bersalin dengan perasaan khawatir, bersama bibi yang ikut menemani karena hanya bibi yang bisa dia mintai tolong. Sementara David, dia akan meminta Jodi untuk menemaninya di rumah.
Wajah Louis terlihat pucat pasi, keringat dingin pun kini membasahi hampir seluruh tubuhnya. Dia benar-benar merasa khawatir meskipun ini bukan kali pertamanya menunggu kelahiran buah hati.
Ceklek ....
Sang Dokter tiba-tiba saja keluar dari dalam ruangan membuat Louis semakin diliputi rasa cemas.
"Dokter, bagaimana istri saya? Kenapa saya sama sekali belum mendengar suara tangisan bayi?'' tanya Louis dengan tubuh yang gemetar.
"Sepertinya kami akan melakukan tindakan operasi Caesar, Tuan. Kedua bayi di dalam perut Nyonya Arista terbelit tali ari-ari membuat keduanya keduanya kesulitan mencari jalan keluar,'' jelas sang Dokter.
"Segera lakukan, Dok. Lakukan apapun yang diperlukan asalkan bayi saya selamat.''
"Tapi, Tuan. Ada sedikit masalah lagi."
"Hah, masalah apa lagi, Dokter?"
"Kami memerlukan transfusi darah, golongan darahnya O. Kebetulan stok di Rumah Sakit sedang kosong sekarang."
"Astaga ... Golongan darah saya A lagi. Lalu saya harus bagaimana, Dokter? Saya tidak mau kalau istri dan bayi saya sampai kenapa-napa."
"Tuan hubungi keluarganya, siapa tau salah satu dari keluarga Nyonya Arista ada yang memiliki golongan darah yang sama.''
Louis seketika merasa lemas. Keluarga? Keluarga yang dimiliki oleh Arista sekarang hanyalah Tuan Adrian. Tapi, beliau sudah tua, apa orang setua ayah mertuanya itu masih diperbolehkan untuk mendonorkan darahnya? Akan tetapi, tidak ada pilihan lain selain beliau.
"Baik, Dokter. Saya akan segera membawa keluarga istri saya ke sini agar bisa mendonorkan darahnya untuk istri saya. Tapi, sebelum saya kembali, tolong ... Tolong selamatkan istri dan juga bayi saya, saya mohon, Dokter." Minta Louis memohon penuh harap.
"Kami akan berusaha semampu kami untuk menyelamatkan ibu serta bayinya. Sebaikanya, Tuan Louis segera membawakan darah dengan golongan O itu."
"Baik, Dokter."
Louis pun segera berlari keluar dari dalam Rumah Sakit untuk mendatangi kediaman mertuanya tidak peduli meskipun dalam keadaan tengah malam.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1