Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Posesif


__ADS_3

Louis seketika menghentikan gerakan kepalanya yang hendak mendaratkan ciu*an di bibir istrinya sebagai pembuka olah raga ranjang yang baru saja akan dia mulai.


Eak ... Eak ... Eak ....


Suara tangis si kembar yang tiba-tiba terdengar padahal kedua bayi kembarnya itu baru saja dibaringkan di dalam box bayi.


"Astaga kembar, kalian tega sekali sama Daddy, hiks ..." Gerutu Louis mengusap wajahnya kasar.


"Aku kata juga apa, Mas. Si kembar pasti bangun lagi. Mereka memang seperti ini kalau lagi demam.'' Jawab Arista berdiri lalu berjalan menuju box bayi.


Arista pun menatap satu-persatu bayi kembar kesayangannya dengan tatapan mata sayu terlihat kelelahan. Sedangkan pandangan mata Louis bukan tertuju kepada Bulan dan Bintang yang saat ini sedang menangis secara bersamaan. Akan tetapi, dia menatap lekat wajah istrinya kini dan betapa dia merasa iba melihat wajah lelah Arista sang istri tercinta.


'Kasian kamu, sayang. Kamu pasti kelelahan sekali setelah seharian menggendong si kembar, dan sekarang harus menggendong mereka lagi. Mas masih bisa tahan karena Mas laki-laki. Tapi kamu, Mas gak nyangka kalau kamu langsung menghampiri mereka saat mereka menangis.' (Batin Louis.)


"Cup ... Cup ... Cup ... Sayang. Gendong Mommy lagi? Apa mau Mimi cucu?'' lembut Arista menggendong baby Bulan dan juga Baby Bintang secara bersamaan.


"Eak ... Eak ... Eak ... Mimi ... Mimi ..." Racau Bintang di sela-sela tangisnya.


"Mau Mimi ya.'' jawab Arista seketika duduk bersama Baby Bulan dan Bintang di dalam gendongannya kini.


"Kamu benar-benar istri yang luar biasa, sayang." Gumam Louis menatap lekat wajah istrinya yang terlihat begitu kelelahan.


"Hah? Kamu bilang apa tadi?"


"Tidak, Mas gak bilang apa-apa. Sini biar Mas yang gendong Bulan, Mas bakalan minta bibi buatkan susu formula buat dia. Kasian kamu kalau harus memberi Asi si kembar secara bersamaan." Jawab Louis perlahan mendekat lalu menggendong baby Bulan.


"Mas, apa Mas gak lelah?"


"Nggak, sayang. Mas gak lelah sama sekali," jawab Louis tersenyum ceria.


"Makasih, sayang. Kamu udah jadi ayah dan suami yang baik untuk si kembar dan aku."


"Lho, ko kamu tiba-tiba bilang seperti itu? Sudah kewajiban Mas menjadi suami yang baik dan ayah yang baik buat anak-anak Mas dan kamu juga."

__ADS_1


"Aku benar-benar beruntung punya suami seperti kamu. I love you Mas Louis ... I love you so much ..." Lirih Arista menatap sayu wajah suaminya


"I love you Arista-nya Mas Louis, I love sekebon kurma buat kamu."


"Dih, sekebon kurma segimana? Emangnya Mas tau kebon kurma itu luasnya seperti apa?"


"Hahahaha ... Tak terhingga, sayang. Rasa sayang, rasa cinta Mas sama kamu tidak terukur. Pokoknya, perasaan Mas sama istri Mas yang cantik ini seluas angkasa dan sedalam lautan muach ...'' Jawab Louis seketika langsung meng*cup mesra bibir Arista sang istri.


Seperti itulah hari-hari yang dijalani oleh sepasang suami-istri itu. Saling menghujani pasangan masing-masing dengan limpahan dan ucapan cinta yang selalu menjadi semangat setiap harinya.


Di tengah rasa lelah keduanya dalam mengurus bayi kembar tanpa seorang baby sister, keduanya tidak pernah mengeluh dan saling membantu meskipun Louis sendiri selalu disibukan dengan urusan kantor dan lainnya.


15 tahun kemudian.


"Mommy, Mommy lihat baju bulan yang warna merah tidak? Semalam sudah Bulan siapkan di sini lho. Mau dipake sekarang." Teriak Bulan dari dalam kamarnya.


"Punya Bintang juga, Mom. Sekarang ada acara pentas seni di sekolah, jadi murid-murid bebas pakai baju apa saja." Ucap Bintang di kamar yang sama.


"Sayang, dasi Mas yang warna hitam bawa ke sini. Mas buru-buru mau ada meeting penting sekarang." Louis sang suami pun ikut berteriak memanggil istrinya.


"Mom ...! Mommy marah?"


"Iya, Mommy marah sama kami?" Rengek si kembar berdiri secara berdampingan.


"Mommy, gak marah sama kalian. Tapi, kalian itu sudah besar lho. Masa apa-apa harus Mommy yang siapin? Ingat umur kalian sudah 15 tahun sekarang, sudah Sekolah Menengah Atas, kalian harus mulai belajar mandiri.''


"Kami minta maaf, Mom."


"Sayang, Mas juga minta maaf. Kamu pasti lelah?"


"Sangat, Mas. Mana bibi 'kan udah gak kerja lagi di sini, dan kita juga belum dapat asisten rumah tangga yang cocok buat buat gantiin dia. Jadi aku tuh sibuk urusin pekerjaan rumah juga.'' Jelas Arista, wajahnya terlihat kelelahan.


"Ada apa si? Pagi-pagi udah ribut aja? Bulan, Bintang, apa kalian nyusahin Mommy lagi? Kasian Mommy tau," tanya David keluar dari dalam kamarnya. Usianya yang sudah menginjak 20 tahun membuat putra sulung Louis pun terlihat begitu tampan.

__ADS_1


"Kami minta maaf, kami janji mulai besok bakalan belajar mandiri." Jawab Bulan, rambutnya yang panjang nampak di ikat di pucuk kepalanya.


"Mom, lebih baik Mommy istirahat saja. Nanti David cariin pengganti bibi ya. David bakalan datangin yayasan yang menyediakan Pembantu Rumah tangga."


"Tapi, kamu 'kan harus ke kantor sama Daddy kamu, sayang."


"Gak apa-apa, nanti jam istirahat David ke sananya." Ucap David lembut dan penuh kasih sayang.


"Mom, kami benar-benar minta maaf ya." Si kembar memeluk tubuh Arista secara bersamaan, hal yang sama pun dilakukan oleh Louis sang suami.


"Mas juga minta maaf, sayang." Lirih Louis memeluk istri serta si kembar secara bersamaan.


"Iya, Mommy juga minta maaf sudah marah-marah sama kalian." Arista balas memeluk suami dan juga Putri kembarnya.


"Bulan, Bintang. Cepat siap-siap, kakak bakalan antar kalian sekolah."


"Kak David, kita bisa berangkat sendiri. Lagian aku juga sudah pandai nyetir ko." Rengek Bulan mengurai pelukan sang ibu dan menatap wajah kakak laki-lakinya dengan tatapan kesal.


"Eit ... Tidak bisa. Kalian itu perempuan, kalau kakak tidak antar jemput kalian, nanti kamu digodain sama cowok-cowok di sekolah kamu. Kakak gak suka ya.'' Tegas David penuh penekanan.


"Daaaad ...! Bilangin sama kak David jangan terlalu posesif sama kami. Kami sudah besar lho. Lagian kapan si kakak nikah? Buruan nikah, biar gak sibuk ngurusin kami terus," rengek Bintang dengan nada suara manja.


"Daddy justru senang dengan sikap posesif Kaka kamu ini, dia benar-benar menjaga adik kembarnya yang cantik ini agar tidak di godain sama cowok nakal di luaran sana."


"Ikh .... Daddy sama kakak sama saja. Sama-sama posesif." Rengek si kembar lagi secara bersamaan lalu berjalan menuju kamarnya dengan langkah kaki yang sedikit di hentakan.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Selamat pagi Reader, jangan lupa mampir di karya terbaik di jamin seru dan tidak membosankan. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sana juga ya.


Blurb.


Qari tidak menyangka pertemuanya dengan pria misterius di atas gedung, membawa dia ke masalah yang runyam. Deon yang sejak lama menyimpan dendam dengan keluarganya, memanfaatkan gadis itu untuk membalas dendam atas kematian kakak dan juga papahnya. Laki-laki itu dengan sengaja mencampurkan obat perangsang ke minuman Qari. Sehingga Qari yang tengah pergi dari rumahnya, menghabiskan malam penuh dosa dengan laki-laki yang baru dikenalnya.

__ADS_1


Alzam pria yang selama ini dicintai oleh Qari, akhirnya menikahi wanita itu untuk menyelamatkan nama baik keluarga Qari. Masalah bertubi-tubi kembali datang, setelah Deon tahu bahwa Qari hamil atas perbuatanya. Terlebih setelah Dion sadar bahwa ia sudah terjerat cinta dengan anak dari musuhnya. Bagaimanakah perjuangan Qari mengahdapi hidupnya yang semakin rumit? Siapa laki-laki yang akan menjadi pendamping sungguhnya?



__ADS_2