
Tok ... Tok ... Tok ....
"Mom, Dad, kalian lagi ngapain? Ko berisik banget.''
Louis dan Arista seketika terkejut saat pintu di ketuk dan mendengar suara David di luar sana. Mereka yang baru saja melakukan pelepasan sempurna karena tidak bisa menahan ha*rat di dalam jiwa keduanya yang sudah mereka redam semalaman pun menutup mulut masing-masing masih dalam posisi raga yang saling menyatu.
Mata keduanya pun nampak saling menatap satu sama lain kini, dengan tatapan tajam dan menahan rasa malu karena suara desa*an keduanya sampai terdengar oleh telinga sang putra.
"Mas sih berisik banget, jadi kedengeran sampai keluar 'kan?" Bisik Arista mulai mengurai jarak dan melepaskan lingkaran tangannya di leher sang suami.
"Kamu juga sama, sayang. Bukannya tadi kamu yang paling kenceng mend*sahnya?'' jawab Louis tidak mau kalah.
"Nggak, perasaan suara aku biasa aja deh. Mas tadi yang teriak kenceng."
Tok ... Tok ... Tok ....
"Mom, Dad." Terdengar lagi suara David membuat mereka menghentikan perdebatan yang sebenarnya tidak ada gunanya.
"Cepetan pakai baju kamu, kita keluar sekarang.''
"Iya ... Tapi, kita mau ngomong apa nanti sama David?"
"Ya, bilang aja kalau tadi kamu habis muntah-muntah. Atau, bilang aja perut kamu mules terus terpaksa kamu berteriak-teriak karena kesulitan buang air besar,'' jawab Louis mulai mengenakan pakaiannya.
"Dih, ko aku? 'kan Mas yang berteriak paling kencang tadi."
"Astaga, Arista Aditama istrinya Mas Louis. Gak mau kalah banget si kamu, gak penting siapa yang berteriak paling kencang. Yang penting sekarang kita keluar aja dulu daripada nanti David keburu masuk ke sini," Louis mencubit kecil kedua sisi pipi istrinya merasa gemas.
"Ya penting 'lah. Orang kenyataannya memang kayak gitu ko."
"Ya udah iya, Mas yang teriaknya paling kencang karena Mas lupa diri dan terlalu m*nikmati permainan kamu yang luar biasa. Puas ...?'' Jawab Louis akhirnya mengalah karena dirinya memang tidak akan pernah menang dalam hal berdebat dengan istrinya itu.
Ceklek ....
Louis pun mulai membuka pintu kamar mandi lalu keluar dari dalamnya dengan wajah memerah dan cengengesan menahan rasa malu sebenarnya.
"Eh ... David sayang. Kamu udah bangun?" Tanya Louis langsung menutup kembali pintu kamar mandi.
"Aku baru aja bangun, Dad. Mommy mana? Tadi aku denger suara dia di dalam."
__ADS_1
"O ya? Masa sih? Akh ... Itu cuma perasaan kamu aja kali, hehehe ..."
"Masa sih? Hmm ... Kayaknya aku gak salah denger deh. Tapi, ya udahlah. Aku lapar, aku mau sarapan." Jawab David tidak ingin terlalu banyak bertanya.
"Hmm ... Kamu mau sarapan sama apa? Biar Daddy yang buatkan."
"Aku mau roti bakar isi selai kacang."
"Boleh, kita turun yu. Daddy bakalan buating roti bakar isi selai kacang spesial buat kamu."
David menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.
Setelah Louis dan David keluar dari dalam kamar, Arista pun akhirnya keluar dari dalam kamar mandi karena tidak ingin bertemu dengan David. Dirinya terlalu malu untuk menunjukan wajahnya di depan sang putra karena dia memang mengakui bahwa sebenarnya dialah yang berteriak paling kencang karena tidak kuasa menahan rasa ni*mat yang diberikan oleh suaminya tersebut.
♥️♥️
Satu Minggu kemudian.
Satu Minggu berlalu. Perlahan keadaan Arista pun sudah berangsur normal, tubuhnya pun sudah tidak terlalu lemas. Hanya saja, rasa mual masih menghampiri di pagi hari dan dia tidak terlalu memikirkan hal itu karena rasa mual'nya masih dalam tahap wajar bagi seorang ibu yang sedang hamil muda.
Louis sebagai seorang suami pun nampak selalu memanjakan istrinya dan selalu mengikuti apapun keinginan Arista. Terutama dia selalu memuaskan keinginan Arista sang istri apabila dia ingin dipuaskan di atas ranjang.
Entah mengapa, semenjak hamil Arista semakin menjadi-jadi dalam hal minta dipuaskan. Dia bahkan sudah tidak malu lagi untuk lebih mendominasi permainan sementara suaminya hanya tinggal menerima nikm*tnya saja.
Ya seperti itulah Arista saat ini. Rumah tangga mereka pun semakin harmonis dan semakin saling menyayangi satu sama lain.
Hari ini, karena Arista merasa merasa jenuh seharian berada di rumah, dia pun berniat untuk mengunjungi suaminya di kantor. Dengan di jemput oleh Jodi yang selalu siapa sedia mengantarkan dirinya kemanapun dia pergi, Arista baru saja sampai di kantor dan ini pertama kalinya dia datang ke sana dari semenjak mereka menikah.
Ceklek ....
Jodi membukakan pintu mobil untuk Nyonya besarnya.
"Silahkan turun, Nyonya. Saya akan mengantarkan anda ke ruangan Tuan bos," pinta Jodi ramah lengkap dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibirnya.
"Terima kasih, Jodi." Jawab Arista mulai turun dari dalam mobil.
Jodi pun menuntun Nyonya besarnya berjalan memasuki kantor dan langsung membawanya ke ruangan Tuannya yang berada di lantai paling tinggi.
Sesampainya di depan ruangan sang suami.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok ....
Ceklek ....
Jodi membukakan pintu ruangan untuk Nyonya besarnya.
"Sayang? Kamu di sini?" Ucap Louis tersenyum senang, duduk di kursi kebesarannya dengan setumpuk berkas pekerjaan yang sedang dia periksa dan tanda tangani.
"Aku bosan seharian di rumah terus, makannya aku minta Jodi buat jemput aku ke sini," jawab Arista berjalan mendekat.
"Nah, gitu dong. Jangan diam di rumah terus, kalau kamu bosan bisa datang berkunjung ke sini atau jalan-jalan ke mall buat cari udara segar,'' ucap Louis berdiri dan langsung memeluk tubuh istrinya mesra.
"Hmm ... Kalau jalan ke mall sendiri kayaknya nggak deh, emangnya aku apaan jalan kaki sendirian kayak orang yang gak ada kerjaan aja."
"Ya udah, nanti Mas temani kamu jalan-jalan di mall. Mau?"
"Mau-mau, lagian Mas sibuk kerja terus. Aku 'kan pengen di perhatiin juga."
"Hahahaha ... Yang penting 'kan Mas selalu ada setiap malam saat kamu lagi kangen sama si piton?"
"Dih, dasar."
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu ruangan pun tiba-tiba di ketuk dan Inggrid sekertaris Louis masuk ke dalam ruangan membuat Louis seketika langsung mengurai pelukan.
"Ada apa, Inggrid?" Tanya Louis menatap wajah sekertaris-nya itu.
"Maaf mengganggu, Bos. Di Lobi ada tamu yang sedang menunggu bos."
"Tamu? Seingat saya, saya tidak ada janji dengan siapapun?"
"Beliau memang tidak membuat janji terlebih dahulu, bos. Beliau sengaja terbang ke sini bersama istrinya spesial untuk bertemu dengan bos.''
"Istrinya? Siapa?"
"Tuan Alex dari Singapura, Bos. Beliau menunggu bos di lobi bersama istrinya,'' ucap Inggrid membuat Louis seketika merasa terkejut karena Arista pun sedang bersamanya sekarang.
Apakah ini takdir yang akan mempertemukan Arista dengan Tuan dan Nyonya Alex. Apakah Arista akan bersedia untuk menemui orang yang di duga sebagai orang tua kandungnya itu?
__ADS_1
Di tunggu bab selanjutnya ya, Reader.♥️♥️
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️