Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Beristirahat


__ADS_3

"Ada apa, Mas? Mbak Clara kenapa?" Tanya Arista mengurai pelukan dan menatap wajah wajah suaminya.


"Kita ke Rumah sakit sekarang, kakakmu--" lagi-lagi Louis tidak meneruskan ucapannya, bibirnya terasa kelu untuk mengatakan apa yang baru saja disampaikan oleh Jodi di dalam telpon.


"Apa? RUMAH SAKIT?"


"Lebih baik kamu jangan banyak nanya dulu, kita langsung berangkat ke sana aja, takutnya kita terlambat." Pinta Louis segara turun dari atas ranjang, begitupun dengan Arista yang saat ini merasa khawatir. Firasatnya mengatakan bahwa, telah terjadi sesuatu yang buruk dengan kakaknya itu.


Keduanya pun bergegas pergi ke Rumah Sakit tidak peduli meskipun keadaan masih dini hari.


Di Rumah Sakit.


Jodi segera menghampiri Tuannya saat melihat Louis berjalan di lorong bersama Nyonya besar. Mata Jodi nampak menatap wajah Arista dengan perasaan iba penuh kesedian.


"Tuan, Nyonya ..." Sapa Jodi wajahnya pucat pasi.


"Dimana Mbak Clara, Jod?"


"Ada di dalam Nyonya, beliau sudah menunggu Nyonya dari tadi."


Arista pun segera berlari dan masuk ke dalam ruangan ICU dimana kakaknya itu berada.


Ceklek ....


Arista membuka pintu ruangan. Dokter yang masih berada di dalam sana pun nampak menoleh dan menatap wajah Arista yang masuk bersama suaminya.


"Apa yang terjadi dengan kakak saya, Dokter?" Tanya Arista berdiri tepat di samping ranjang.


"Sepertinya, pasien mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum obat penenang dalam jumlah yang banyak," jawab Dokter tersebut.

__ADS_1


"Lalu, gimana keadaan dia sekarang? Mbak Clara baik-baik aja 'kan?"


"Obat di dalam tubuhnya sudah kami keluarkan tapi--"


"Tapi, apa Dokter?"


"Sebagian dari obat yang sudah di minum sudah menyatu dengan tubuh pasien."


"Astaga .... Hiks hiks hiks ..." Arista seketika menangis sesenggukan menatap wajah sang kakak yang terlihat pucat pasi, kulit wajahnya yang memang putih semakin terlihat putih layaknya mayat hidup.


"Mbak ... Bangun, Mbak? Mbak kenapa kayak gini? Hiks hiks hiks ..." Lirih Arista mengusap lembut kepada kakaknya.


Seketika, Clara pun mulai membuka mata. Bola matanya yang memerah menatap wajah Arista dengan tatapan sayu penuh kesedihan. Bibir seorang Clara pun menyunggingkan senyuman, senyuman bahagia karena berfikir bahwa dirinya akan segera menyusul putrinya ke alam baka. Dia pun menurunkan alat bantu pernapasan yang menutup hidung serta bagian mulutnya.


"Dek ..." Lemah Clara, mencoba berbicara di tengah napasnya yang sebenarnya terasa sesak.


"Iya, Mbak. Jangan ngomong apa-apa dulu, Mbak harus istirahat." Jawab Arista lembut dengan air mata yang memenuhi kelopak matanya kini.


"Kenapa Mbak bilang kayak gitu? Masih ada David yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian Mbak. Maafkan aku juga karena aku terlalu keras dan udah membenci Mbak. Seharusnya aku lebih bisa menahan emosi aku, aku tau kalau Mbak punya emosi yang kurang stabil. Maafkan aku Mbak, hiks hiks hiks ..."


"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Seketika Clara pun memuntahkan darah segar dan Dokter pun hendak melakukan pemeriksaan lagi namun, Clara menolak dan lebih memilih meneruskan perbincangan terakhirnya bersama adik yang sangat dia sayangi itu.


"Mbak yang seharusnya minta maaf sama kamu, Dek. Sama Mas Louis juga. Maafkan Mbak karena telah meninggalkan kamu dan juga Putri, anak kandung Mbak sendiri."


Deg ....


Seketika Louis pun merasa terkejut. Putri anak kandung Clara? Itu berarti dahulu saat ini dia menikahi wanita ini, Clara telah memiliki satu orang anak dan dia sama sekali tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya.


Kecewa?

__ADS_1


Pasti ... Louis merasa kecewa karena selama 10 tahun berumah tangga, Clara telah menyembunyikan tentang siapa dirinya.


Merasa di bohongi?


Tentu saja ... Louis merasa sakit hati karena dengan begitu apiknya Clara membohongi dirinya kala itu.


Akan tetapi, dia tidak akan terlalu mempermasalahkan hal itu saat ini karena semuanya toh sudah terjadi dan dirinya pun sudah mendapatkan istri pengganti yang lebih baik segala-galanya dari Clara. Namun, sebagai mantan suaminya, bukankah wajar jika rasa kecewa itu sedikit mengusik hati seorang Louis? Karena walau bagaimanapun Clara adalah wanita yang pernah dia puja dan dia cintai dengan sepenuh hati pada masanya dulu sebelum wanita itu mengkhianati cintanya.


"Maafkan aku, Mas. Aku udah banyak berbuat salah sama kamu, aku juga berbohong bahwa sebenarnya aku memiliki seorang putri cantik yang aku terlantarkan. Jahat bukan? Ya aku memang wanita jahat. Aku titip adik serta David padamu, Mas." Lirih Clara lagi menatap wajah mantan suaminya.


Louis hanya bisa terdiam menatap wajah mantan istrinya yang terlihat begitu mengenaskan.


"Nggak, Mbak. Aku gak mau, Mbak harus hidup untuk menebus semua kesalahan Mbak sama aku. Mbak itu bukan sekedar kakak bagi aku. Tapi, Mbak adalah ibu, ayah dan juga satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini, hiks hiks hiks ...."


Clara tersenyum kecil, kata-kata itu yang selalu saja dia dengar dari bibir adiknya saat dia merasa terpuruk dan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Dan kata-kata itu juga yang slalu membuatnya kuat ditengah kehidupannya yang begitu menyedihkan dahulu sebelum mereka berpisah.


"Dek, sekarang kamu udah gak hidup sendirian lagi. Ada suami kamu yang sangat mencintai kamu, Mbak yakin dia akan menjaga kamu dengan baik dan hidup kamu gak akan pernah serba kekurangan lagi. Ada David juga yang Mbak titipkan sama kamu, uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Clara kembali memuntahkan darah segar.


"Udah Mbak, udah! Mbak jangan bicara apapun lagi, Mbak harus segera di tolong. Dokter tolong kakak saya, Dokter. Saya mohon selamatkan dia, hiks hiks hiks ...'' Pinta Arista mengalihkan pandangannya kepada Dokter yang memang masih ada di sana.


"Ti-dak, Dok-ter. Ja-ngan me-la-kukan apa-apa. Saya me-mang su-dah i-ngin per-gi." .


"MBAAAAAK ... Hiks hiks hiks ... Jangan tinggalin aku, Mbak. Aku mohon ... Hiks hiks hiks ..." Arista menangis sesenggukan dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah sang kakak yang kini membuka matanya lebar namun, Arista tidak mendengar suara sang Kaka lagi.


Napasnya pun tidak lagi berhembus, dada sang Kakak yang semula terlihat naik turun kini terlihat tenang. Hanya buliran air mata saja yang kini turun dari ujung kelopak mata seorang Clara benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya di sana, di hadapan adik kandung dan dihadapan mantan suaminya.


"Mbak bangun, Mbak. Bangun ... Hiks hiks hiks ..." Teriak Arista menggoyangkan tubuh Clara yang kini terbujur kaku tidak lagi bernyawa.


Dokter pun segera memeriksa denyut nadi serta detak jantung Clara dengan seksama.

__ADS_1


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." Ucap sang Dokter membuat Arista seketika histeris dan menangis sejadi-jadinya, suara tangisnya bahkan terdengar menggema di udara mengiringi kepergian Clara sang kakak.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2