Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Rumah Duka


__ADS_3

Louis benar-benar merasa terpuruk, selain dia harus memberi dukungan kepada sang istri, dia pun harus memenangkan putra kesayangannya yang saat ini begitu terpukul atas kepergian ibu kandungnya.


Di tengah perasaannya yang sebenarnya juga hancur, Louis harus tetap kuat dan terlihat tegar demi dua orang yang sangat dia cintai, David dan Arista sang istri.


David yang saat masih berteriak histeris pun nampak begitu mengenaskan, benar-benar terpukul dengan kepergian sang ibu yang secara tiba-tiba. Tanpa pesan, tanpa memberi isyarat apapun dan tanpa pamit membuat kesedihan yang dirasakan oleh David begitu mendalam.


"MOMMY ... MOMMY GAK MUNGKIN MATI, DAD. GAK MUNGKIN ... HAAAAAA ..." David berteriak histeris turun dari atas ranjang berlari keluar dari dalam kamar.


Louis yang menyaksikan hal tersebut pun segera dan mengejar putranya dengan hati dan perasaan yang hancur. Dia pun segera memeluk sang putra dan mencoba untuk menenangkan meskipun tubuhnya terasa lemas sekarang.


"Kamu yang sabar, sayang. Mommy kamu udah tenang di alam sana, doakan Mommy semoga dia bahagia dengan pilihannya.''


"BAHAGIA? MANA MUNGKIN ORANG MATI BISA BAHAGIA, DAD? APA MAKSUD DADDY MOMMY MATI KARENA DIA INGIN MATI? JAWAB, DAD? HIKS HIKS HIKS.''


Benar-benar pertanyaan yang sama sekali tidak mampu di jawab oleh Louis. Bibirnya terasa kaku, tubuhnya pun terasa semakin lemas bahkan terasa akan tumbang. Namun, dia berusaha dengan segenap kekuatan yang masih dia miliki untuk tetap berdiri tegar demi David yang saat ini membutuhkan dukungan darinya.


"KENAPA DADDY DIAM SAJA? KENAPAAAAA ...?" David semakin berteriak histeris dan berontak berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan ayahnya.


"Maafkan Daddy, Nak. Daddy gak tau harus ngomong apa sama kamu, kita doakan saja semoga Mommy kamu tenang di alam sana.''


"Mommy ... Mommy ... Mommy ... Kenapa Mommy ninggalin aku, kenapa Mom? Hiks hiks hiks ..."


Semakin erat saja dekapan Louis, tangisnya pun ikut pecah tidak kuasa lagi menahan rasa sesak di dadanya yang terasa semakin menghimpit jiwanya.


❤️❤️

__ADS_1


Satu jam kemudian iring-iringan mobil ambulance pun memasuki halaman luas kediaman Louis. Bendera kuning di pasang di depan pagar sebagai tanda bahwa, rumah tersebut sedang dalam keadaan berduka atas meninggalnya mantan istri dari pemilik rumah.


David yang sudah menunggu di dalam rumah seketika berlari berhamburan keluar menghampiri mobil ambulance. Jenazah pun di sambut dengan Isak tangis David yang terdengar pilu dan terlihat begitu terpukul.


"Mom ... Mommy ...'' Lirih David dengan suara yang melemah seiringan dengan tubuhnya yang semakin terasa lemas, matanya terlihat sayu dan membengkak karena tidak berhenti menangis sedikitpun.


Arista yang sudah sedikit tenang segera memeluk putra sambungnya yang juga keponakannya sendiri. Hatinya semakin merasa terluka melihat David seperti ini.


"Sayang, Mommy kamu udah tenang di atas sana. Kita doakan semoga Mommy bahagia, ya. Tante yakin kamu anak yang kuat, sayang." Lirih Arista memeluk erat tubuh sang putra.


"KENAPA KALIAN SAMA SAJA? KENAPA ORANG MATI BISA MERASA BAHAGIA? AKU BENCI TANTE SAMA DADDY, KALIAN JAHAT ...'' Teriak David mengurai pelukan lalu berlari ke dalam rumah.


"David ... Sayang ..." Arista berusaha mengejar namun, Louis sang suami menghentikan langkahnya dan memintanya untuk memberi waktu kepada putranya itu untuk sendiri dan menenangkan diri.


Arista pun balas memeluk suaminya, perlahan dia pun sudah mulai menerima kepergian kakak kandungnya itu. Sekeras apapun dia berteriak, sekeras apapun dia mencoba memanggil nama kakaknya dan sekeras apapun dia menangis sampai dadanya terasa sesak, semua itu tidak akan merubah keadaan dan tidak akan bisa menghidupkan kembali Clara yang kini sudah tenang di alam sana.


❤️❤️


Satu Minggu kemudian.


David masih belum bisa menerima kepergian sang ibu. Baginya, karena ibunya itu telah tiada maka dia pun tidak lagi memiliki semangat untuk hidup dan menjalani hari-harinya. Bahkan sudah beberapa hari ini pun dia tidak makan dan menolak untuk bertemu siapapun.


Sebagai orang tua Arista dan Louis masih berusaha untuk membujuk David untuk makan. Mereka berdua berdiri dan mengetuk pintu kamar putranya itu dengan membawa satu piring berisi nasi lengkap dengan lauk-pauknya.


Tok ... Tok ... Tok ....

__ADS_1


"David sayang. Ini Tante, Nak. Kita makan dulu ya," ucap Arista mengetuk pintu secara berkali-kali.


"PERGI, AKU BENCI KALIAN BERDUA,'' teriak David di dalam sana.


Tok ... Tok ... Tok ....


"David, ini Daddy. Buka pintunya, apa kamu mau Daddy mati karena karena khawatir, hah? Apa kamu mau Tante Arista mati juga kayak ibu kamu? Buka, Nak." Pinta Louis sedikit menaikan suaranya.


Ceklek ....


Akhirnya, pintu kamar pun di buka, David berdiri di depan pintu dengan wajah pucat dan bola mata memerah. Arista pun langsung memeluk tubuhnya lalu mengecup pucuk kepala David lembut dan penuh kasih sayang.


"Kita makan ya? Udah beberapa hari ini kamu gak makan, Nak." Lirih Arista mengurai pelukan.


"Aku gak mau makan, Tante. Aku gak lapar." Rengek David menundukkan kepalanya.


Louis yang membawa piring berisi nasi lengkap dengan lauk-pauknya pun mencoba untuk mendekatkan piring tersebut agar sang putra bisa melihat makanan yang dia bawa dimana itu adalah makanan kesukaan putranya.


Akan tetapi, bukannya menatap piring tersebut. David dengan bola mata yang memerah mengangkat kepala lalu menatap wajah ayahnya dengan tatapan tajam penuh dengan rasa kebencian, setelah itu David pun menepis tangan ayahnya sehingga piring tersebut pun seketika melayang di udara kemudian mendarat di atas lantai dan hancur berantakan.


Prank ....


Piring pun pecah dengan isinya yang berhamburan di atas lantai lengkap dengan serpihan piring yang kini hampir memenuhi ruangan kamar, membuat Arista dan Louis merasa terkejut bukan kepalang.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2