Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Kado Spesial


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Akhirnya pernikahan antara Jodi dan Nadia adik Arista pun di gelar. Pernikahan pun di gelar sangat meriah bertempat di hotel berbintang lima, dengan mengundang lebih dari 1000 tamu undangan.


Jodi nampak terlihat begitu bahagia, duduk di atas singgasana bersama Nadia yang telah sah menjadi istrinya kini. Sementara Louis dan istrinya duduk di antara tamu undangan bersama David sang putra.


Mereka terlihat serasi dengan memakai pakaian couple berwarna putih bersih.


"Mas tidak lupa kado spesial buat adik ipar kita 'kan?" Tanya Arista setengah berbisik di telinga Louis suaminya.


Louis hanya mengangguk datar menatap sepasang pengantin yang saat ini terlihat begitu bahagia di atas singgasana.


"Mas ini kenapa si? Ko muka-nya Mas kayak laki-laki yang lagi patah hati ditinggal nikah sama kekasihnya aja si." Tanya Arista menatap wajah sang suami yang terlihat muram bahkan masam benar-benar terlihat seperti orang yang sedang patah hati.


"Maaaaas ....''


Louis pun akhirnya menoleh menatap wajah Arista.


"Kenapa pertanyaan aku gak di jawab? Mas kenapa?"


"Kenapa harus Jodi yang jadi adik ipar kita? Di antara sekian banyaknya pria, kenapa harus dia?" Ketus Louis terlihat kecewa.


"Ya namanya juga jodoh, Mas. Aku juga gak nyangka kalau Jodi bakalan jadi adik ipar kita. Aku seneng deh."


"Kamu seneng, Mas tidak."


"Lho, kenapa? Seharusnya Mas senang juga dong? Ko malah sebaliknya si?"


"Gimana nasib Mas Louis mu ini nantinya, sayang?"

__ADS_1


"Hah?"


"Apa jadinya Mas tanpa Jodi? Mas biasanya apa-apa Jodi, ini Jodi, itu Jodi, Mas lagi emosi lampiasin juga ke si Jodi. Sekarang kalau gak ada dia, sama siapa lagi Mas minta tolong ini dan itu. Gak bakalan ada orang yang sesabar Jodi. Meskipun kadang dia suka nyebelin tapi, Mas benar-benar sudah nyaman sama dia." Gerutu Louis panjang lebar.


"Hah? Jadi karena itu Mas kesal kayak gini? Gara-gara Jodi gak kerja lagi sama Mas?"


Louis menganggukkan kepalanya dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.


"Hahahaha ... Sebegitu ketergantunganya Mas sama dia sampai-sampai Mas patah hati kayak gini? Astaga, Mas Louis, Mas Louis ..." Arista terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.


"Ketawa aja, sayang. Ketawain Mas sesuka kamu, Mas lagi gak mood ngeladenin, Mas lagi benar-benar gak mood tau."


"Ya udah, kita cari asisten baru ya."


"Gak mau, Mas maunya Jodi."


"Astaga, Mas ... Kamu benar-benar kayak anak kecil ya." Arista kembali terkekeh.


Dengan ditemani David sang putra. Louis dan juga istrinya hendak berjalan ke arah panggung untuk bersalaman dengan sepasang pengantin baru yang sedang duduk di atas singgasana.


"Sayang, kamu duluan ya. Kamu naik saja, nanti Mas nyusul, oke?" Pinta Louis sesaat sebelum mereka naik ke atas panggung.


"Lho, Mas mau kemana? Masa aku naik berdua saja sama David?"


"Daddy mau kemana dulu? Kita tungguin di sini deh.'' Tanya David.


"Gak akan lama, Daddy cuma mau ambil hadiah spesial buat Om Jodi. Daddy janji gak akan lama ko.'' Ucap Louis lalu dengan setengah berlari meninggalkan istrinya dan juga sang putra tepat di bawah panggung.


Mau tidak mau, akhirnya Arista pun naik ke atas panggung dengan hanya ditemani oleh David saja.

__ADS_1


"Nyonya Arista? Ko cuma sendirian? Tuan bos mana?" Tanya Jodi saat melihat Nyonya besar yang telah menjadi kakak iparnya itu naik ke atas panggung.


"Hey, jangan panggil saya dengan sebutan Nyonya besar lagi dong. Panggil saya dengan sebutan Mbak sekarang. Kamu 'kan sudah jadi adik iparnya saya." Protes Arista bersalaman dengan Jodi seraya mengucapkan kata selamat.


"Hehehe ... Iya, Mbak. Ish ... Rasanya masih canggung sekali," celetuk Jodi tersenyum cengengesan.


"Nanti lama-lama juga terbiasa ko. O iya, Nadia. Selamat ya, akhirnya kalian sudah sah menjadi suami-istri sekarang. Mbak doakan kalian jadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah." Arista mengalihkan pandangannya kepada Nadia sang adik.


"Terima kasih, Mbak. Aku seneng banget Mbak bisa hadir di pernikahan aku."


Arista tersenyum ramah, lalu mulai mengalami Tuan Adrian sang ayah yang juga duduk tepat di samping Nadia.


"Arista, suami mu mana? Tadi ada." Tanya Tuan Adrian menatap sekeliling lalu tersenyum senang menatap David sang cucu.


"Daddy gak tau kemana, Kek. Tadi katanya mau ambil kado spesial buat Om Jodi." David mewakili ibunya menjawab pertanyaan sang kakek.


"Hmm ... Kemana kira-kira Daddy mu itu? Masa hari gini baru beli kado. Ada-ada aja." Tuan Adrian menggelengkan kepalanya.


Obrolan mereka pun seketika tiba-tiba terhenti saat mendengar suara keriuhan di bawah panggung, para pengunjung tiba-tiba saja bersorak seraya bertepuk tangan saat mobil mewah seharga lebih dari 1 Milliar berwarna kuning terang masuk ke dalam gedung lewat pintu samping.


Suara riuh pun semakin terdengar saat mobil itu tiba-tiba berhenti tepat di depan panggung.


"Apa-apaan ini?" Gumam Jodi menatap mobil tersebut dengan tatapan heran.


Akan tetapi, mata Jodi seketika terlihat berbinar saat melihat Louis Gabriel keluar dari dalam mobil tersebut. Tanpa basa-basi lagi, Louis pun melemparkan kunci mobil ke arah Jodi dan refleks tangan Jodi pun meraih kunci mobil tersebut dengan perasaan tidak percaya.


"INI HADIAH DARI SAYA, SEMOGA KALIAN BERDUA SUKA." Teriak Louis berdiri tepat di depan mobil.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


SELAMAT MALAM READER, JANGAN LUPA MAMPIR JUGA DI NOVEL BAGUS TEMAN OTHOR YA. CERITANYA DI JAMIN BIKIN NAGIH DAN PASTINYA MENEGANGKAN.



__ADS_2