Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Spa


__ADS_3

Akhirnya Louis pun membawa tubuh istrinya ke dalam kamar mandi dan mereka pun mandi bersama padahal Louis baru saja selesai membersihkan diri, karena dirinya benar-benar tidak bisa lagi mengendalikan piton kesayangannya itu, setelah di suguhkan tubuh polos istrinya yang semuanya masih orisinil dan juga indah di pandang begitu menggiurkan, Louis pun melakukannya sekali lagi di dalam sana.


Louis dan istrinya pun kini sudah siap untuk melakukan Spa hotel dengan pasilitas terbaik. Mereka berdua nampak sudah berada di ruangan khusus dimana mereka akan melakukan kegiatan tersebut, Arista nampak sudah duduk dengan tidak sabar karena ingin segera di pijat karena tubuhnya benar-benar terasa remuk setelah di garap semalaman.


Belum lagi bagian intinya yang semakin terasa nyeri setelah permainan terakhirnya di dalam kamar mandi.


"Mas, ini serius nanti aku bakalan di pijit?" Tanya Arista menatap sekeliling ruangan yang tidak terlalu luas lengkap dengan lilin aroma terapi yang telah menyala hampir memenuhi ruangan serta mengeluarkan aroma harum menenangkan.


"Iya serius? Pokoknya tubuh kamu bakalan segar setelah di pijat nanti."


"Mas juga mau di pijat sekalian? Mas pasti lelah juga lho."


"Nggak, Mas gak apa-apa ko. Lagian, emangnya boleh Mas di pegang-pegang sama cewek lain?"


"Iya juga sih? Ya udah, Mas di pijat aku aja nanti malam ya,'' ucap Arista dengan begitu polosnya.


"Pijat plus-plus ya?" Bisik Louis tersenyum menggoda.


"Hmm ... Dasar, gak ada puasnya Mas ini lho."


"Hahaha ... Wajar kali, sayang. Kita 'kan pengantin baru. Lagi anget-angetnya gitu."


"Iya-iya, Mas Louis sayang. Istrimu ini siap melayani kapanpun, dimanapun, dan berapa kali pun Mas minta."


"Serius?"


"Tentu saja, aku 'kan istri yang berbakti. Selain itu, piton Mas juga menggemaskan bikin aku anu, hehehe ..."


"Bikin ketagihan maksudnya?"


"Ya gitu deh pokoknya, hehehe ..." Jawab Arista dengan wajah memerah menahan rasa malu sebenarnya.


"Hahaha ... Istri Mas ini benar-benar menggemaskan, kalau aja bukan di sini udah Mas lahap kamu sampai habis." Ucap Louis dengan wajah gemas, mencubit kedua sisi pipi istrinya.

__ADS_1


"Dih, Mas ini."


Tidak lama kemudian, dua orang perempuan pun memasuki ruangan dengan memakai seragam hotel dan siap untuk menjalankan tugasnya. Mereka berdua menghampiri Arista dan memintanya untuk berganti pakaian yang telah disiapkan.


"Silahkan ganti pakaian Nyonya dengan yang ini."


"Kenapa harus ganti baju segala? Pakai ini lagi.'' Tanya Arista merentangkan pakaian yang hanya berupa kemben berwarna putih merasa enggan.


"Iya, Nyonya. Itu agar kami mudah dalam memijat tubuh Nyonya."


"Nggak, aku gak mau. Pake baju yang aku pakai aja udah cukup kali. Kenapa harus setengah polos kayak gini?"


Seketika, dua orang pelayan itu pun tertawa lucu, begitupun dengan Louis yang kini berdiri dengan menertawakan istrinya.


"Sayang, emang kayak gini kalau mau di pijit. Biar mereka gampang pijit tubuh kamu. Mas bantu kamu gantiin ya."


"Tapi Mas--"


"Gak usah tapi-tapian segala. Di sini juga gak ada siapa-siapa lagi selain kita ko. Jadi, gak bakalan ada orang lain yang akan liat tubuh kamu ini, kamu tenang aja ya."


"Iya, Rista sayang." Jawab Louis masih sedikit menertawakan istrinya yang selalu saja bersikap polos dan menggemaskan.


"Kami permisi dulu, Nyonya, Tuan." Ucap pelayan tersebut memberi waktu kepada pelanggannya untuk berganti pakaian.


Louis membantu istrinya berganti pakaian setelah dua pelayan itu keluar dari dalam ruangan, Arista hanya terdiam pasrah saat satu-persatu pakaian yang dia kenakan dilucuti dan diganti dengan kemben yang membuat tubuhnya benar-benar terlihat se*si dan Louis pun seketika menatap tubuh istrinya itu tanpa berkedip sedikitpun.


"Hmm ..." Louis hanya bergumam menatap tubuh indah istrinya.


"Awas lho, pikirannya jangan traveling kemana-mana dulu. Ingat ... Taaaaahan ..." Pinta Arista mengerti dengan arti tatapan suaminya.


"Iya-iya, sayang. Mas tahan sekuat tenaga. Astaga, padahal semalam kita udah ngelakuinnya berkali-kali. Tapi, tubuh kamu ini masih aja mengiurkan. Aduuuuh ..." Jawab Louis mengusap wajahnya kasar.


"Ya wajar dong. Kita 'kan pengantin baru, hahaha ..."

__ADS_1


Cup ....


Louis tiba-tiba mendaratkan ciu*an di bibir Istrinya membuat Arista terkejut seketika.


"Dih, katanya mau tahan?"


"Dikit doang, sayang." Jawab Louis kembali menguap wajahnya kasar.


Ceklek ....


Kedua pelayan yang hendak memijit Arista pun kembali masuk ke dalam ruangan dan memintanya untuk berbaring di atas ranjang kecil dan siap untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk pelanggannya yang satu ini.


Arista pun berbaring telentang, entah mengapa ada rasa tidak nyaman saat tubuhnya di raba dan di pijit pelan. Dia pun tertawa kegelian membuat pelayan tersebut pun ikut tertawa merasa lucu. Kedua tangannya masing-masing di pijit oleh satu orang membuatnya merasa merasa risih pada awalnya.


"Argh ... Mbak, geli Mbak ..." Ucap Arista tertawa dan menggerakkan tubuhnya.


"Rasanya memang geli, Nyonya. Tapi, nanti juga rasa gelinya bakalan hilang." Jawab pelayan tersebut sedikit terkekeh.


"Hahaha ... Geli, tapi enak sih. Nah iya, sebelah sana pegel banget tuh," ucap Arista lagi saat tangannya kembali di pijit dengan lebih bertenaga.


Arista pun mulai terbiasa dengan setiap pijatan pelayan tersebut, semakin lama semakin nyaman dan terasa menenangkan membuatnya seketika memejamkan mata menikmati setiap sentuhan sang pelayan hingga dia pun ketiduran, bahkan tidur dengan begitu lelapnya.


"Arista-arista, kamu sampai ketiduran kayak gitu," gumam Louis tertawa menatap wajah istrinya kesayangannya.


♥️♥️


Di saat sepasang pengantin baru sedang indah-indahnya merasakan kebersamaannya sebagai suami-istri dan terlihat begitu bahagia. Hal berbeda dirasakan oleh Clara. Sepertinya, gangguan Bipolar-nya semakin menjadi-jadi membuat dirinya merasa tertekan.


Bukan hal yang mudah baginya untuk menerima kenyataan bahwa mantan suaminya menikah dengan adiknya sendiri, ditambah lagi kenyataan bahwa putri telah tiada pun membuat jiwa seorang Clara semakin merasa tertekan dan dihantui rasa bersalah yang begitu menyiksa dan menggerogoti jiwanya.


Dia pun duduk dengan memeluk kedua lututnya, tangisnya terdengar lirih menahan rasa sesak di dada. Membayangkan sosok Putri membuatnya terasa ingin menyusul gadis kecil itu ke alam sana.


Di tambah lagi, suami barunya yang baru saja meninggalkan dirinya setelah mengetahui bahwa dia mengidap penyakit Bipolar pun membuat Clara semakin tidak punya lagi sandaran hidup dan benar-benar merasa kesepian.

__ADS_1


"Putri ... Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu karena telah meninggalkan kamu dahulu, hiks hiks hiks ..."


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2