
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu pun kembali di ketuk beberapa saat setelah Tere masuk ke dalam rumah.
"Hadeuh dasar, baru juga dari sini udah balik lagi. Apa dia pikir nyari uang segitu itu gampang apa?" Gerutu Tere lalu membuka pintu mengira yang datang adalah ibu pemilik kontrakan.
Ceklek ....
Pintu pun di buka dan Tere pun seketika terkejut karena yang datang bukanlah ibu pemilik kontrakan melainkan David yang saat ini berdiri tepat depan pintu.
"Kamu? Kenapa balik lagi? Katanya kamu bisa gila kalau lama-lama ada di sini?" Tanya Tere sedikit meledek.
"Mobil saya hilang." Lemas David dengan nada suara berat.
"Apa? Serius? Gimana caranya bisa hilang? Jelas-jelas semalam kamu parkir itu mobil di pinggir jalan.''
"Itu dia yang membuat saya heran."
"Apa mungkin mobil kamu di derek sama Dinas terkait karena di parkir sembarangan?"
David seketika termenung, sepertinya apa yang di katakan oleh Tere memanglah benar.
"Hmm ... Bisa jadi."
"Terus?"
"Terus apa?"
"Terus kenapa kamu balik lagi ke sini?"
"Saya mau ambil pakaian yang ketinggalan di sini. Kamu tau, itu pakaian mahal buatan desainer terkenal." David beralasan.
"Dih, katanya orang kaya. Tapi, pakaian gitu aja di pinta.''
"Bukan itu masalahnya."
"Terus?"
"Eu ... Dompet, ponsel dan semua benda berharga saya ketinggalan di dalam mobil dan saya tidak memegang uang sepeser pun.''
Tere sedikit tersenyum mengejek, dia pun menatap wajah David dan seketika teringat kejadian tadi malam. Wajah wanita itu seketika memerah, tatkala mengingat tubuh atletis pemuda bernama David, apalagi saat mengingat benda seperti belalai gajah yang saat ini tersembunyi di balik celana kolor yang dikenakan oleh pemuda itu.
'Astaga, apa yang aku pikirkan. Ampun deh ...' (batin Tere.)
Dia pun seketika mengusap wajahnya kasar mencoba menyingkirkan bayangan kejadian tadi malam yang membuat bulu kuduknya terasa merinding.
"Hei, malah bengong lagi. Dimana pakaian saya? siapa tahu di saku celananya ada uang recehan gitu." Tegas David tidak sabar.
"Pakaian kamu basah, sekarang lagi di jemur. Tadi pagi baru saja aku cuci."
"Di cuci pake tangan?"
"Ya iya lah, masa pake dengkul."
"Astaga, Teresia. Jas seperti itu tuh di laundry bukan di cuci pake tangan bisa rusak nanti pakaian saya.''
"Ya, kamu 'kan orang kaya. Uang yang kamu punya katanya gak akan habis tujuh turunan, ya tinggal beli lagi 'lah, perhitungan banget si."
David memgusap wajahnya kasar merasa kesal, dia pun menarik napas panjang seraya memejamkan mata mencoba menahan emosi di dalam hatinya kini.
"Ya udah, sekarang di mana pakaian saya?"
"Tuuh ..." Singkat Tere menunjuk jemuran yang berada di samping rumahnya.
David pun menoleh dan segera menghampiri stelan Jas mahal juga kemeja berwarna putih yang tergantung di tali jemuran. Dia menatap satu persatu pakaiannya itu, sampai akhirnya matanya menangkap segitiga berwarna hitam yang di gantung menggunakan jepitan jemuran.
"Ini? Astaga, apa ini?" Gumamnya menarik lalu membolak-balikkan segitiga berwarna hitam tersebut.
"Apa dia juga mencuci ini?"
'Astaga, ya Tuhan ...' (batin David semakin merasa malu.)
"Gimana, ada uang recehan'nya gak?" Tanya Tere tiba-tiba saja berjalan menghampiri dan sontak saja, David pun segera memasukan benda tersebut ke dalam saku celananya dengan tergesa-gesa.
"Eu ... Baru mau saya lihat." Jawab David, memeriksa setiap saku pakaiannya, saku jas, saku celana bahkan saku kemeja berwarna putih miliknya pun tidak luput dia periksa.
"Ada?"
David mengusap wajahnya kasar seraya mendengus kesal lalu menggelengkan kepalanya merasa kecewa.
"Gak ada sepeserpun? Selembar aja gitu?"
David kembali menggelengkan kepalanya lengkap dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.
__ADS_1
"Astaga, orang kaya macam apa kamu masa tidak menyimpan uang receh sepeserpun di saku celana?"
"Ya itu karena semuanya ketinggalan di dalam mobil, uang, dompet, ponsel pokoknya semuanya ada di sana."
Tere seketika terdiam seraya mengangguk samar.
"Yang jadi masalahnya sekarang adalah, gimana caranya saya bisa pulang sekarang?"
Tere hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.
"Eu ... Boleh saya minta bantuan sama kamu?''
Teresia pun mengerutkan keningnya.
"Boleh saya pinjam uang sama kamu? Eu ... Saya janji akan saya bayar 10x lipat besok di kantor."
Tere seketika termenung terlihat berfikir.
"Aku gak punya uang."
"Serius? Hahaha ... Mana mungkin kamu gak megang uang sepeser pun?"
Tere kembali terdiam.
'Uang aku cuma sisa 150ribu, itupun buat makan sehari-hari. Apa aku pinjamkan dulu sama dia?' (batin Tere.)
"Apa kamu tidak percaya sama saya? Kamu tahu 'kan siapa saya?"
"Nggak bukan begitu, aku tahu siapa kamu dan aku juga percaya sama kamu. Tapi, emangnya kamu mau pinjam berapa?''
"200ribu saja buat naik taksi."
"Hah? Aku gak punya uang sebanyak itu, Dav."
"Uang 200ribu gak banyak, Tere."
"Ya itu menurut kamu, Dav. Tapi bagi aku, uang segitu itu banyak banget, bisa buat biaya makan saya selama seminggu.''
"Hah? Kamu makan apa selama satu Minggu dengan uang segitu?"
"Bukan urusan kamu. Aku akan pinjami kamu uang 50rbu, oke?"
"Hah? Mana cukup uang segitu."
"Hah? Gila kamu, seumur-umur saya gak pernah naik angkot apalagi bis. Nggak, pokoknya pinjami saya uang 200rbu, oke? Saya janji akan bayar 10x lipat, lumayan 'kan bisa buat bayar uang kontrakan kamu." Paksa David masih bersikukuh.
"Nggak ada, Dav. Lagian, emangnya aku rentenir apa minjemin uang terus di ganti berkali-kali lipat?'' Tere pun masih bersikukuh.
"Astaga, ini cewek keras kepala banget si."
"Kamu yang astaga, minjem uang ko maksa.''
Perdebatan pun semakin panas.
David hanya bisa mengusap wajahnya kasar lalu mendengus kesal.
"Aku bakal pinjamin kamu uang 50ribu, terserah mau cukup apa tidak itu bukan urusan aku. Dan kamu harus kembalikan dengan jumlah yang sama karena aku bukan rentenir, oke?" Tegas Tere penuh penekanan lalu pergi begitu saja meninggalkan David di tempat jemuran.
"Teresia Anindya Putri, uang segitu mana cukup."
"Bukan urusan aku, pokoknya cukup gak cukup harus cukup.''
David semakin mendengus kesal.
Tere pun masuk kedalam rumahnya dan diikuti oleh David kemudian.
"Tere ..." Panggil David namun, di abaikan.
Tere masuk kedalam kamar lalu kembali beberapa saat kemudian dengan membawa satu kembar uang 50ribuan.
"Nih, buruan sana pulang. Udah di tolongin malah gak tau terima kasih kayak gitu." Usirnya merasa kesal.
"Tapi--"
"Gak ada tapi-tapian. Buruan pulang ..." Tere mendorong tubuh David hingga dia benar-benar keluar dari dalam rumahnya.
Blug ....
Pintu pun seketika langsung di tutup sesaat setelah David menginjakkan kaki di teras rumah.
"Dasar, udah sukur di tolongin, sekarang malah minjem uang maksa lagi. Mana aku masih bingung harus cari uang kemana buat bayar kontrakan. Apa aku keluar saja dari rumah ini. Tapi, aku mau kemana lagi jika bukan tinggal di sini?' (batin Tere merasa dilema.)
Dia pun menyadarkan tubuhnya di balik pintu seraya memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
♥️♥️
Butuh waktu sekitar dua jam untuk David benar-benar sampai di kediamannya, dengan hanya memakai kaos oblong biasa juga celana kolor, David naik bis dengan sangat-sangat terpaksa dan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
Tentu saja hal itu menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dia lupakan di seumur hidupnya.
David pun tersenyum kecil lalu membuka pintu pagar kediamannya dengan wajah yang lelah juga penampilan berantakan.
"Den David? Anda dari mana saja? Tuan sama Nyonya nyariin anda semalaman.'' Tanya Jodi menatap tubuh David dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Saya habis terkena musibah semalam, om.''
"Hah? Musibah apa?"
David pun hendak menceritakan kejadian semalam namun, dia seketika mengurungkan niatnya saat melihat mobil miliknya yang dia anggap hilang kini sudah terparkir di halaman.
"Mobil saya? Kenapa mobil saya bisa ada di sini?" Teriak David menghampiri mobil tersebut dengan perasaan heran.
"Tadi pagi di derek ke sini."
"Hah? Siapa yang derek?"
"Ya dinas terkait dong. Mereka mengenali mobil ini sebagai mobil kamu."
"Ko bisa?"
Jodi memgusap wajahnya kasar karena David terlalu banyak bertanya. Seharusnya dia bersyukur karena mobil mahalnya bisa kembali dengan utuh.
"Den David tanya saja sama Daddy-nya Aden. Mereka sudah menunggu Aden di dalam." Jawab Jodi malas menjawab semua pertanyaan David.
"Ya udah, aku masuk dulu ya."
Jodi menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
Ceklek ....
David membuka pintu rumahnya dan seketika, dia pun langsung mendapatkan sambaran pelukan dari si kembar yang saat ini sedang menunggu kedatangannya dengan perasaan cemas di ruang tamu.
Grep ....
Keduanya langsung memeluk tubuh kakak kesayangannya.
"Kak David, hiks hiks hiks ...'' Teriak si kembar menangis sesenggukan di dalam pelukan sang kakak.
"Kalian kenapa? Ada apa?" David mengerutkan kening tidak mengerti.
Tidak lama kemudian, Arista dan juga Louis yang baru saja melihat David pun segera memeluknya erat penuh rasa khawatir.
"Astaga, Dav. Kamu habis dari mana? Mommy khawatir sekali sama kamu." Tangis Arista seketika pecah memeluk putra kesayangannya.
"Ada apa sama kalian? Kenapa menangis seperti ini, astaga."
"Ada apa gimana maksud kamu? Semalam kamu tidak pulang, apa kamu tahu kami di sini khawatir sama kamu," ucap Louis kemudian bergantian memeluk putra sulungnya itu.
David pun tersenyum kecil lalu mendekap erat tubuh sang ayah.
"Saya baik-baik saja, Dad. Semalam mobil saya mogok makannya saya menginap di luar."
"Ya sudah, yang penting kamu pulang dengan selamat, Dav. Mommy sayang sama kamu, Mommy gak tau apa yang akan terjadi sama Mommy Kalau kamu sampai kenapa-napa.'' Lirih Arista kembali memeluk putra kesayangannya.
Louis pun menatap istri juga putra kesayangannya itu dengan tatapan sayu penuh rasa syukur.
'Terima kasih, sayang. Terima kasih istriku karena kamu telah membesarkan dan menyayangi David seperti putra kandung sendiri.' (batin Louis)
Louis benar-benar merasa terharu melihat begitu tulusnya kasih sayang Arista kepada sang putra.
__________TAMAT____________
____________________________________
Promosi Novel lagi ya Reader.
Blurb : Cinta Terlarang. Begitulah dia menyebut perasaannya ini.
Bercerita tentang seorang anak berusia 10 tahun yang mengalami nasib malang. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan maut. Namun, ada seseorang berhati malaikat yang mau mengadopsinya sebagai anak.
Waktu berlalu, hingga si anak ini beranjak dewasa. Reina, tumbuh menjadi gadis cantik dan manis. Banyak pria yang mengincarnya untuk menjadikannya pacar. Namun, perasaan cintanya telah terpaut pada satu orang. Reina mencintai ayah angkatnya sendiri. Namun, dia cukup pandai memendam perasaannya karena dia tahu jika perasaannya adalah cinta terlarang.
Namun sepertinya, Reina tidak bisa terus-menerus memendam perasaannya selama itu. Apalagi setelah sang Ayah telah mengenalkannya dengan calon istrinya yang di pilihkan oleh Neneknya, Ibu dari Ayah angkatnya.
Dia akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada sang Ayah angkat, meski dia tidak tahu bagaimana nanti respon Ayah angkatnya itu. Tidak peduli dengan apa jawabannya nanti.
Apa cinta Reina akan di terima?
__ADS_1