Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Terpukul


__ADS_3

Louis mengusap lembut wajah Clara, menutup kedua matanya yang masih saja terbuka meskipun raganya baru saja melepaskan nyawa seolah baru saja melihat sesuatu yang begitu menakutkan.


Sebagai laki-laki yang pernah mencintai Clara, Louis merasa terpukul dengan kepergian mantan istrinya itu yang begitu tiba-tiba sungguh sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Baru saja beberapa hari yang lalu dia berbincang dengannya dan berpesan agar dia menjaga diri baik-baik. Louis tidak menyangka bahwa, itu akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Clara.


Louis menatap lekat wajah Clara, hatinya begitu berkecamuk kini. Meskipun dirinya pernah merasa sakit hati dan baru saja merasa kecewa karena baru mengetahui kebohongan besar yang selama ini disembunyikan oleh Clara, hati Louis tetap saja merasa sakit melihat Clara tidak lagi bernyawa.


"Beristirahatlah dengan tenang, Clara. Semoga kamu bisa ketemu dengan Putri, maafkan Mas karena telah bersikap kasar dan sudah menghabiskan waktu selama tiga tahun lebih untuk membenci kamu. Maafkan Mas, Clara." Lirih Louis mengusap buliran air mata yang kini mulai berjatuhan membasahi wajahnya.


Perasaan Louis benar-benar hancur, hatinya begitu terluka. Akan tetapi, ada hati lain yang lebih merasa terluka dan hancur 1000 kali lipat dari apa yang dirasakan oleh Louis.


Ya ... Dia adalah Arista, dia tidak berhenti menangis dan memanggil nama kakaknya meskipun dia tau bahwa kakaknya itu tidak mungkin menjawab apalagi membuka mata.


Arista begitu terpukul, dia telah benar-benar kehilangan orang yang telah dia anggap kakak, ibu dan juga ayahnya sendiri. Kepergian Clara benar-benar menorehkan luka yang begitu dalam di hati seorang Arista.


"BANGUN, MBAK. BANGUN ... HIKS HIKS HIKS ... KENAPA NINGGALIN AKU LAGI, MBAK?" Teriak Arista terus saja menggoyangkan tubuh Clara meskipun dia tahu, mustahil untuk kakaknya itu untuk kembali membuka mata.


Louis segera memeluk tubuh istrinya, mendekapnya erat dan memberi waktu kepada sang istri untuk meluapkan kesedihannya tanpa mengatakan apapun. Dia tau betul bagaimana rasakannya kehilangan orang yang sangat berarti baginya, dan tidak ada cara satupun yang bisa menghibur rasa sedih akibat kehilangan.


"Mbak Clara, Mas. Mbak Clara, hiks hiks hiks ..." Hanya kata itu yang keluar dari dalam bibir Arista. Dadanya terasa sesak hanya untuk mengeluarkan satu kalimat saja.


"Iya, sayang. Kamu yang sabar, kita ikhlaskan kepergian Clara biar dia tenang di atas sana." Jawab Louis mengusap lembut punggung istrinya.


''Kenapa malang sekali nasibmu, Mbak. hiks hiks hiks ..."


Louis tidak mengatakan apapun lagi, dirinya pun tidak kuasa menahan kesedihan meskipun mencoba bersikap tegar. Tangis Arista semakin pecah saat tubuh sang kakak mulai di tutup kain berwarna putih, wajah cantiknya benar-benar tersembunyi di balik kain putih tersebut, membuat hati Arista semakin terasa hancur.

__ADS_1


"Apa yang akan kita katakan kepada David, Mas. Dia pasti sedih banget saat tau kalau ibunya telah tiada," tanya Arista mengurai pelukan, di tengah kesedihan yang dia rasakan dia masih sempat memikirkan perasaan anak sambungnya, David.


"Astaga, Mas sampai lupa sama dia," semakin sesak saja dada Louis.


Selain dia harus menghibur istrinya, dia juga harus bersiap melihat putra kesayangannya terpuruk dan tentu saja terkejut karena ibunya tiba-tiba saja pergi untuk selama-lamanya.


Arista pun menarik napas panjang, lalu mulai mengurai jarak, matanya yang sembab menatap wajah Louis dengan tatapan penuh kesedihan.


"Mas, lebih baik Mas pulang dulu, kasian David. Aku tau ini pasti berat buat dia tapi, dia harus tau dan hanya kamu yang bisa memberitahu dia tentang kepergian Mbak Clara. Hanya kamu juga yang bisa menghibur dan menenangkan dia," lirih Arista lembut dan menahan sesak di dadanya.


"Kalau Mas pulang, gimana sama kamu, sayang? Kamu juga lagi butuhin Mas sekarang."


"Aku udah besar Mas. Aku memang membutuhkan Mas tapi, David lebih membutuhkan Mas. Kasian dia, Mas."


Seketika Louis pun kembali memeluk istrinya erat, sangat erat hingga membuat dada Arista terasa sesak.


"Makasih, sayang. Makasih karena kamu masih memikirkan perasaan putra Mas, padahal kamu sendiri sedang membutuhkan Mas saat ini." Lirih Louis tidak bisa lagi menahan kesakitan yang saat ini dia rasakan.


"Baiklah, Mas akan pulang setelah Mas mengurus administrasi dan mengurus kepulangan jenazah. Almarhumah Clara biar di bawa ke rumah agar kita bisa segera mengurus pemakamannya."


Arista menganggukkan kepalanya masih dengan buliran air mata yang bergulir dengan semakin derasnya kini.


❤️❤️


Setelah mengurus kepulangan jenazah mantan istrinya, ibu dari putra semata wayangnya. Louis pun kembali ke rumah dengan hati yang berkecamuk dan perasaan yang begitu hancur.


Dia tidak tau harus mengatakan apa kepada putra semata wayangnya tentang kepergian ibunya yang secara tiba-tiba yang pastinya akan sangat membuat hati David sang putra merasa terluka.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, David pun baru saja bangun dari tidurnya karena dia memang belum mendaftar sekolah.


Ceklek ....


Louis membuka pintu kamar putranya dan masuk ke dalam sana dengan tersenyum menahan rasa getir, dia mencoba bersikap setenang mungkin agar putranya tidak terlalu syok saat dirinya mengatakan kabar duka tentang Clara sang ibu.


"Kamu udah bangun, sayang?" Tanya Louis sedikit tersenyum, matanya yang terlihat memerah menatap wajah putra kesayangannya lalu duduk di tepi ranjang.


"Iya, Dad. Tante Arista belum bangun? Tumben, biasanya pagi-pagi sekali dia udah bangunin aku," jawab David duduk di atas ranjang.


"Tante, Arista lagi ada di Rumah sakit, sayang."


"Lho, Tante kenapa? Apa dia sakit?"


"Tidak, bukan dia yang sakit. Tapi--" ucapan Louis tertahan. Dia masih mencoba merangkai kata yang sehalus mungkin untuk mengatakan prihal kepergian Clara.


"Tapi apa, Dad?"


"David putra Daddy. Kamu sayang sama Mommy kamu?"


David menganggukkan kepalanya dengan perasaan bingung. Dia menanyakan tentang ibu sambungnya tapi, sang ayah malah menanyakan hal yang tidak masuk akal, membuat David benar-benar merasa heran.


"Sayang ... Setiap manusia pasti akan kembali kepada sang maha pencipta, setiap yang bernyawa pasti akan berpulang dan meninggalkan kita semua. Kamu harus kuat, Nak. Daddy tau ini berat buat kamu tapi, Daddy janji akan menjaga kamu dengan baik, ada Tante Arista juga yang akan menggantikan posisi Mommy Clara," Louis dengan suara berat dan mata yang mulai berkaca-kaca membuat David seketika bergejolak.


"Dad? Kenapa Daddy ngomong kayak gitu? Mommy kenapa, Dad? Kenapa Daddy bicara seolah-oleh Mommy--" David tidak meneruskan ucapannya, dadanya tiba-tiba saja terasa sesak akhirnya bisa menangkap maksud dari ucapan ayahnya.


"Nggak, Dad. Mommy gak mungkin mati? Baru kemarin aku ketemu sama dia, Mommy baik-baik aja. Muka Mommy juga cantik banget gak mungkin kalau dia tiba-tiba--" teriak David tiba-tiba histeris.

__ADS_1


"HAAAAAA, MOMMY ..." David berteriak kencang tidak kuasa untuk menerima kenyataan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2