
Louis seketika merasa panik karena tidak bisa menemukan istrinya dimanapun di dalam rumahnya, dia berlari ke sana ke sini layaknya cacing yang kepanasan.
Tubuhnya pun terasa bergetar dengan keringat dingin yang membasahi pelipis wajahnya kini. Dadanya pun terlihat naik turun dengan helaan napas yang berhembus tidak beraturan.
"ARISTA ... SAYAAAAANG ...'' teriaknya lagi memekikkan telinga.
Bibi yang saat ini sedang menyelesaikan tugasnya pun seketika menghampiri majikannya dengan perasaan heran.
"Ada apa, Tuan? Ko Tuan teriak-teriak seperti itu?" Tanya bibi mengerutkan kening.
"Bi, Nyonya besar kamu dimana? Dia tidak apa-apa 'kan? Kandungannya juga baik-baik saja 'kan?"
Bibi semakin mengerutkan kening tidak mengerti.
"Maksud Tuan?"
"Bibi! Di tanya malah balik nanya, mau saya pecat bibi?"
Bibi semakin merasa tidak mengerti mengapa Tuannya bersikap seperti ini.
"Maaf, Tuan. Jika saya di pecat pun saya ikhlas, tapi katakan dulu salah saya dimana?"
"Astaga, bi Sumi ...! Salah bibi tidak langsung jawab pertanyaan saya. ISTRI SAYA DIMANA?" Kesal Louis memutar bola matanya kesal.
"Oh, Nyonya besar. Ada Tuan." Jawab Bibi berbelit-belit semakin membuat Louis merasa kesal.
"DIMANA BI, DIMANA? BIBI BENAR-BENAR YA, KAYAKNYA SAYA HARUS GANTI ASSISTEN RUMAH TANGGA SAMA ORANG YANG MASIH MUDA DEH, BIBI SAYA PECAT." Tegas Louis berjalan meninggalkan bibi karena tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Astaga Tuan besar. Sudah lama saya tidak melihat Tuan marah-marah seperti ini," gumam Bibi tersenyum kecil seolah tidak terusik sama sekali oleh teriakan Tuannya itu.
"Arista!'' teriak Louis lagi berjalan semakin memasuki rumah besarnya.
Dia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari keberadaan Istrinya. Sampai akhirnya, kedua matanya menangkap sosok yang dia cari. Arista sang istri sedang berbincang di halaman belakang rumahnya tepat di area tepi kolam renang.
Benar saja, dia melihat sosok pria tua yang merupakan ayah kandung Arista. Anehnya mereka sedang mengobrol santai layaknya seorang anak yang sedang berbincang dengan ayahnya, Arista bahkan menyunggingkan senyuman manis mendengarkan pria tua itu yang sedang menceritakan sesuatu.
Louis seketika berjongkok menahan lututnya yang semula sempat gemetar, dadanya pun masih saja terlihat naik turun dengan hembusan napas yang tidak beraturan.
__ADS_1
"Astaga, Rista. Di sana kamu rupanya," gumam Louis masih berjongkok seraya menatap wajah sang istri yang terlihat begitu ceria jauh dari apa yang sempat dia pikirkan.
Apa yang terjadi? Kenapa mereka akrab sekali? Apa Arista sudah tahu bahwa orang yang sedang berbincang dengannya itu adalah ayah kandung yang sangat dia benci? Otak Louis seketika dipenuhi berbagai tanda tanya.
"Mas Louis!" Teriak Arista saat matanya menangkap sosok sang suami di dalam rumah.
Louis mencoba bersikap tenang dan biasa saja di tengah hatinya yang sebenarnya berkecamuk.
"Sayang, ko ngobrolnya di situ?" Tanya Louis mencoba mengatur napasnya.
"Mas kenapa? Kayak habis balapan lari? Muka Mas juga berkeringat gini, apa Mas sakit?" Tanya Arista yang sudah berada tepat di depan suaminya.
Dia pun mengusap wajah suaminya lembut dan sedikit tersenyum.
"Nggak ko, Mas buru-buru tadi. Takut tamu kita terlalu lama menunggu," jawab Louis.
"Nggak ko, Mas. Kami malahan lagi asik ngobrol. Beliau benar-benar baik, Mas. Andai saja bapakku kayak dia," jawab Arista menatap ke arah luar dimana orang bernama Adrian Aditama yang sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri itu berada.
"Masa si? Mas mau bertemu sama beliau, kamu bisa masuk sekarang."
"Tapi, Mas. Aku masih pengen ngobrol sama dia. Rasanya seperti--"
Arista seketika terdiam lalu menarik napas panjang. Sebenarnya, dia masih ingin berbincang dengan rekan bisnis suaminya itu.
"Ya udah, lain kali aja aku ngobrol sama beliau lagi. Aku masuk dulu ya."
Louis menganggukkan kepalanya lalu mengecup kening sang istri seraya memejamkan mata.
Setelah itu dia pun keluar dari sana dan menghampiri pria tua yang telah berani datang ke rumahnya bahkan bertemu dengan istrinya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Dimatanya, pria itu tetaplah laki-laki yang tidak bertanggung jawab yang telah membuat hidup Clara dan juga Arista istrinya menderita.
"Sedang apa anda di sini?" Ketus Louis tidak ramah.
"Akhirnya kamu datang juga, Louis. Maaf karena saya datang ke sini tidak bilang dulu sama anda," jawab Tuan Adrian berdiri dan tersenyum ramah.
"Seharusnya, jika anda ingin membicarakan masalah pekerjaan, anda datang saja ke kantor. Kenapa harus datang ke sini? Saya tidak biasa membicarakan urusan pekerjaan di rumah."
__ADS_1
"Apa anda marah?"
"Apa salah jika saya marah?"
"Istri anda adalah putri saya, bukankah wajar kalau saya ingin bertemu dengan dia?"
"Apa istri saya tau kalau anda adalah ayahnya? Apa anda sudah meminta maaf sama dia? Apa anda berani mengakui bahwa Anda salah karena telah membuat masa kecil dan masa muda istri saya menderita?"
Tuan Adrian seketika terdiam tidak berkutik. Dia pun mendongakkan kepalanya menatap langit luas yang membentang tepat di atas kepalanya kini. Mecoba menahan rasa getir.
"Kenapa anda diam, Tuan Adrian yang terhormat?" Ketus Louis lagi tersenyum menyeringai.
"Itu sebabnya saya minta bantuan kamu, Louis. Bantu saya agar saya bisa meminta maaf kepada Arista. Hanya anda yang bisa membantu saja, menantuku."
"Jangan panggil saya menantu anda, selama istri saya belum memaafkan dan mengakui anda sebagai ayahnya, saya belum menjadi menantu anda. Satu lagi, jangan pernah berharap mendapatkan bantuan dari saya dalam mendapatkan maaf dari istri saya. Jika anda ingin minta maaf, minta maaf saja sendiri tentunya dengan usaha sendiri. Karena saya tidak akan pernah membantu anda," jawab Louis panjang lebar dengan suara datar.
"Baiklah, saya akan berusaha sendiri untuk meminta maaf dan mendapatkan maaf dari kedua putri saya itu. Saya memang salah, dan saya sangat menyesali semua yang telah saya lakukan dulu.''
"Maaf kalau saya bersikap tidak sopan, tapi sebaikanya anda pulang karena saya masih banyak pekerjaan di kantor."
Tuan Adrian seketika menarik napasnya panjang seraya mengusap dada sebelah kirinya yang terasa begitu sesak sebenarnya.
"Baiklah, saya permisi sekarang." Pamit Tuan Adrian hendak pergi.
Akan tetapi, dia pun seketika menghentikan langkah kakinya dan kembali menoleh menatap wajah Louis tajam.
"Kalau boleh saya tau, apakah anda tahu dimana keberadaan putri sulung saya, Clara? Saya sudah mencarinya kemana-mana tapi saya tidak dapat menemukan dia."
Deg ....
Louis seketika merasa terhenyak. Apakah pria tua itu sama sekali tidak tahu bahwa Clara Kiel putri sulungnya telah tiada?
"Maksud anda?" Tanya Louis hanya ingin memastikan.
"Saya hanya ingin bertemu sama dia, Louis."
Louis semakin terhenyak, pria tua ini benar-benar tidak tahu bahwa putri sulungnya yang merupakan mantan istrinya itu telah tiada.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️