Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Tahu Bulat


__ADS_3

"Hahaha ... Rista-rista, kamu ini benar-benar ya ..." Ucap Louis tertawa terbahak-bahak lalu turun dari atas ranjang.


"Mas kenapa ketawa? Apa ucapan aku itu lucu? Mas ngetawain aku, gitu?" Tanya Arista sedikit kesal dia pun menatap wajah Mas Louis'nya itu dengan tatapan tajam.


"Nggak, bukan gitu. Mas gak ngetawain kamu, justru Mas seneng banget. Kamu benar-benar pinter obok-obok hati Mas ya, heuuuuuh ... Rasanya Mas pengen nelan kamu bulat-bulat," ucap Louis dengan nada gemas.


"Dih, katanya seneng tapi mau makan bulat-bulat, emangnya aku ini tahu bulat yang digoreng dadakan 500san." Celetuk Arista dengan begitu polosnya.


"Hah? Apaan tuh?"


"Mas gak tau tahu bulat? Camilan yang di jual keliling pake mobil pickup gitu?"


Louis menggelengkan kepalanya merasa tidak mengerti.


"Hmm ... Wajar sih kalau Mas gak tau. Orang kaya kayak Mas mana tau makanan yang kayak gitu."


"Ya udah, kapan-kapan kamu ajak saya makan tahu bulat-bulat kayak yang tadi kamu sebutkan itu," celetuk Louis membuat Arista tetawa.


"Hahaha ... Di sini mana ada yang jualan kayak gitu, Mas Louis sayang ..."


"Lho ... Lho ... Lho ... Kenapa kita jadi bahas tahu bulat-bulat di goreng dadakan yang harganya 500san sih? Astaga ... Banyak hal penting yang harus kita bicarakan. 1. Rencana pernikahan kita. 2. Ini tubuh kamu harus diperiksa, kamu itu baru aja jatuh dari tangga lho, kalau tulang kamu ada yang patah gimana? Gimana nasib malam pertama kita kalau kamu sampai cedera?" Cerocos Louis panjang lebar.


Arista pun seketika meringkuk dengan menutup tubuhnya sendiri dengan menggunakan selimut tebal seolah malas membahas semua hal yang baru saja di katakan oleh calon suaminya.


Louis yang menyaksikan hal itupun duduk di tepi ranjang lalu mengusap lembut punggung Arista penuh kasih sayang.


"Rista sayang. Kamu itu pandai banget bikin hati Mas was-was, untung Mas gak jantungan. Tiba-tiba aja kamu minta buat undurin acara pernikahan kita, terus kamu jatuh di tangga pula. Belum lagi ucapan kamu tadi yang membuat hati Mas tersentuh. Apa kamu tau gimana perasaan Mas saat ini?"


Arista membalikan tubuhnya lalu menatap wajah Mas Louis kesayangannya itu dengan tatapan penuh rasa cinta.


"Maaf ...'' Hanya kata itu yang keluar dari dalam mulut mungil seorang Arista memasang wajah serius.


"Mas udah maafin kamu ko. Mas akan selalu maafin kamu, sayang. Karena apa? Karena Mas cinta sama kamu, Arista." Ucap Louis tatapan sayu'nya membuat Arista benar-benar luluh dan melenyot seketika.


Dia pun bangkit lalu memeluk tubuh Mas Louis tersayangnya, mendekapnya erat sangat erat. Betapa hati seorang Arista merasa bersyukur karena telah dipertemukan dengan laki-laki sebaik Mas Louis'nya itu, betapa Arista pun sangat-sangat mencintai Mas Louis tersayangnya itu.


Dia tidak tau apa yang akan terjadi dengan dirinya jika sampai kehilangan laki-laki yang saat ini sangat dia cintai itu. Louis pun balas memeluk tubuh Arista, mengusap kepalanya lembut lalu mendaratkan kecupan mesra di kening calon istrinya tersebut.

__ADS_1


"Mas umurnya berapa sih?" Tanya Arista secara tiba-tiba membuat Louis seketika mengurai pelukan lalu menatap wajah Arista dengan tatapan heran dan senyuman yang mengembang lebar dari kedua sisi bibirnya.


"Ko tumben nanyain umur?"


"Pengen tau aja. Mas itu dewasa, dewasa banget, jadi penasaran sebenarnya umur Mas ini berapa?''


"Mas masih muda ko, umur Mas juga gak jauh beda sama kamu."


"Bohong ..."


"Iya-iya deh. Mas kasih tau, umur Mas OTW 40. Masih muda 'kan?"


"Masih muda apaan. Umur Mas dua kali lipat dari umur aku lho itu."


"Umur gak masalah, yang penting kita saling mencintai."


Arista menganggukkan kepalanya lalu kembali memeluk tubuh calon suaminya yang terasa begitu hangat dan sangat menenangkan.


"Jadi gimana sama rencana pernikahan kita? Kamu tau Mas udah gak sabar pengen segera halalin kamu." Tanya Louis mengusap punggung Arista lembut.


"Seriusan?" Teriak Louis kegirangan seraya melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar.


"Iya, apa bedanya di undur atau nggak, masih sama-sama akan nikah juga 'kan pada akhirnya. Lebih cepat lebih baik." Jawab Arista tersenyum senang.


"Makasih, sayang. Makasih banget, Mas pikir pernikahan kita bakalan benar-benar di undur. Besok kita ke boutique buat fitting baju pengantin, kita ajak David juga ya."


Arista menganggukkan kepalanya seraya tersenyum bahagia.


Mata mereka pun saling beradu pandang kini, saling melayangkan tatapan penuh rasa cinta dan saling melemparkan senyuman sampai akhirnya, Louis pun mendekatkan wajahnya dengan mata yang tertuju kepada bibir mungil Arista yang terlihat begitu menggoda. Bibir Louis pun hampir mendarat di bibir mungil itu namun, tiba-tiba saja ....


Ceklek ....


"Tuan, barbeque'nya sudah ma--" Jodi masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu membuat Louis merasa kesal dan menghentikan gerakan kepalanya seketika.


"JODIIIIIIIII ..." Teriak Louis menggema di seisi ruangan dan memekikkan telinga membuat Jodi seketika menutup mata sekaligus kembali menutup pintu keras dan juga bertenaga.


Blug ....

__ADS_1


Jodi menutup pintu kamar lalu tertawa dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan sehingga tidak mengeluarkan suara.


"Hahaha ... Tuan lagi anu ternyata. Astaga, kenapa aku main buka-buka pintu segala si. Siap-siap deh bakalan kena semprot dari Tuan, ya Tuhan sabar'kan dan kuatkan hamba mu ini," gerutu Jodi hendak melangkah.


Ceklek ....


"Mau kemana kamu? Udah ganggu momen penting mau kabur lagi," terdengar suara Tuannya dari arah belakang membuat Jodi seketika menghentikan langkah kakinya.


"Hehehe ... Maaf, bos. Saya gak tau kalau bos lagi anu ..." Jawab Jodi menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.


"Anu-anu ... Mana barbeque'nya udah matang belum? Calon Nyonya besar kamu udah kelaparan itu," ketus Louis dengan wajah kesal.


"Udah bos, udah matang. Mau saya bawa ke sini?"


"Ya iyalah, masa saya yang ke atas?"


"Hehehe ... Tunggu sebentar, saya ambilkan dulu ya bos." Jodi hendak melangkah.


"Tunggu."


"Iya, bos."


"Awas aja kalau rasanya gak enak, gaji kamu bakalan saya potong 10%."


"Lho ko gitu bos?"


"Itu hukuman kamu karena telah mengganggu saya tadi."


Jodi pun kembali menggaruk kepalanya lalu menghela napas panjang.


"Iye-iye ... Duh ... Nasib-nasib ..." Gerutu Jodi kembali naik ke atap.


Louis pun masuk kembali ke dalam kamar dan seketika dia terkejut saat melihat Arista sudah tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.


"Astaga, Arista'nya Mas Louis. Kamu kenapa, sayang? Mas bilang juga apa, tadi kita ke Rumah sakit aja. JODIIIIIII ...'' Louis berteriak memanggil Assisten-nya dengan perasaan panik dan segera menggendong tubuh calon istrinya.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2