Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Teresia


__ADS_3

Si kembar Bulan dan Bintang tengah duduk di kelas 10 Sekolah Menengah Atas. Parasnya yang cantik dan juga kembar identik membuat mereka berdua banyak di sukai banyak pria dan hal itu juga yang membuat David sang Kaka bersikap posesif dan tidak pernah memberi celah kepada para siswa laki-laki untuk mengajak adik kembarnya keluar di luar jam sekolah.


Tentu saja, hal itu membuat si kembar merasa terkekang dan tidak memiliki kebebasan layaknya gadis remaja seusianya.


Ckiiit ....


Mobil pun berhenti tepat di depan pagar sekolah. Bulan dan Bintang nampak menyalami kakaknya lalu keluar dari dalam mobil.


"Hati-hati, jangan nakal yang kalian berdua. Ingat jangan main-main sama cowok, oke?" Pesan David sesaat sebelum si kembar menutup pintu mobil.


"Ikh, kakak apaan si. Posesifnya ngalahin Daddy. Nyebelin,'' umpat Bintang mengerucutkan bibirnya.


"Hahahaha ... Babay ...'' Teriak David melambaikan tangannya, tidak peduli meskipun diabaikan oleh adik kembar kesayangannya itu.


Dia pun memutar stir lalu berlalu meninggalkan Sekolah Menengah Atas dimana adik kembarnya bersekolah.


David memiliki paras tampan seperti ayahnya, diusianya yang beranjak 27 tahun, David sama sekali tidak memiliki kekasih. Setiap harinya dia hanya menghabiskan waktu dengan bekerja di perusahaan milik Louis sang ayah.


David mengendarai mobilnya di dengan kecepatan tinggi karena dirinya memang sudah terlambat datang datang ke kantor.


"Hmm ... Selalu seperti ini setiap pagi. Gara-gara nganterin si kembar. Apa aku biarkan saja mereka bawa mobil sendiri? Tapi--! Akh sudahlah, tidak masalah terlambat juga, toh bos-ku Daddy sendiri.'' Gumam David tersenyum kecil.


Ckiiiiiit ....


David tiba saja menginjak rem dan mobil pun seketika berhenti tepat di tengah jalan di tengah padatnya pengendara.


"Astaga ... Itu siapa yang nyebrang seberangan." Gerutunya lalu membuka pintu mobil dengan perasaan kesal.


Ceklek ....


Blug ....


David keluar dari dalam mobil dengan perasaan kesal.


"Hey, kalau nyebrang jalan lihat-lihat dong. Kamu pikir jalanan ini punya nenek moyang kamu apa?'' Bentak David saat melihat seorang wanita berjongkok dengan memegangi kepalanya tepat di depan mobil.


Wanita tersebut pun bangkit lalu berdiri dengan wajah kesal.


"Ko jadi saya yang disalahin, kamu sendirian yang tidak becus bawa mobil. Sembarangan.'' Jawab wanita tersebut.


"Astaga, udah salah nyolot lagi. Kamu lihat lampu masih hijau, dan hak pengendara untuk melaju di jalanan. Kamu kalau mau nyebrang tunggu lampu merah dulu. Dasar wanita aneh."


"Mau lampu hijau kek, lampu kuning atau lampu merah kek, hak saya dong untuk nyebrang atau tidak. Ini jalanan umum lho bukan jalan milik nenek moyang kamu. Sombong amat jadi orang kaya.''


"Hiiiiih ... Dasar wanita miskin tidak tau diri. Percuma saya debat sama kamu. Sekarang minggir, mobil saya mau lewat, kamu gak lihat juga di belakang mobil sudah pada antri nungguin kamu pergi." Hardik David berjalan ke arah mobil lalu membuka pintunya dan hendak masuk ke dalamnya.


Namun, tiba-tiba saja ....

__ADS_1


Bukkk ....


Kepala David di lempar sendal jepit membuatnya seketika mengurungkan niatnya lalu kembali menoleh ke arah wanita tersebut dengan tatapan mata tajam merasa geram.


"Argh ... Dasar cewek gila. Apa-apaan kamu, kurang ajar.'' Murka David mengusap bagian belakang kepalanya.


"Syukurin, laki-laki sombong kayak kamu pantas di timpuk kayak gitu, weeee ...'' jawab wanita tersebut lalu berlari meninggalkan tempat itu, mengabaikan kakinya yang kini tidak memakai alas kaki karena satu sandal jepitnya ada di tangan David kini.


"Dasar kurang ajar," umpat David hendak balas melempar sandal itu kembali.


Tut ... Tut ... Tut ....


Mobil yang berada di belakangnya membunyikan klakson secara berkali-kali seraya meneriakinya.


"Heeey ... Kamu lagi apa di situ? Cepetan maju, emangnya jalanan ini milik nenek moyang kamu apa?" Teriak pemilik mobil yeng berada tepat di belakangnya.


"Iya-iya, Maaf." Jawab David mengurungkan niatnya lalu masuk ke dalam mobil.


Tanpa sadar, sandal jepit milik wanita itu pun ikut dia bawa ke dalam mobil.


"Sial, kenapa sandalnya aku bawa masuk segala?" Umpatnya, melemparkan sembarang sandal tersebut di dalam mobil.


Mobil David pun perlahan mulai berjalan meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.


❤️❤️


Dia pun berjalan dengan berjinjit kaki karena hanya memakai satu sandal saja. Wanita berusia 23 tahun yang belum memiliki pekerjaan tetap itu pun hanya bisa mendengus kesal meratapi nasibnya yang selalu saja terkena sial.


Kring ... Kring ... Kring ....


Ponsel miliknya pun tiba-tiba saja berdering. Tere merogoh saku celana jeans yang dikenakannya lalu mengangkat telpon.


📞 "Halo, dengan siapa ini?" Tanya Tere menghentikan langka kakinya.


📞 "Iya, halo. Apa benar ini dengan Teresia Syafitri."


📞 "Iya betul, anda siapa ya?"


📞 "Saya telah menerima surat lamaran kerja anda. Mulai hari ini juga anda sudah bisa bekerja sebagai Cleaning Service di perusahaan ****. Saya tunggu sekarang juga ya."


📞 "Hah? Serius, Pak?'' Tere tersenyum lebar.


📞 "Tentu saja saya serius. Saya tunggu sampai jam 9 pagi ini. Kalau anda tidak datang, saya anggap anda mengundurkan diri."


📞 "Baik, Pak. Baik, saya akan ke sana sekarang juga."


Tuut ... Tuut ... Tuut ....

__ADS_1


Teresia pun menutup telpon lalu bersorak kegirangan, karena stelah menunggu lama akhirnya dirinya akan segera memiliki pekerjaan. Dia pun berjalan dengan tergesa-gesa menuju rumahnya dan bersiap untuk bekerja sebagai Cleaning Service di sebuah perusahan besar.


❤️❤️


Sesampainya di perusahaan yang akan menjadi tempat kerjanya mulai hari ini. Tere nampak berdiri tepat di bawah gedung lalu mendongakkan kepalanya menatap betapa tingginya gedung tersebut, dia bahkan mengernyitkan keningnya menahan panasnya sinar matahari yang mulai naik kepermukaan.


"Semoga aku betah kerja di sini." Gumamnya sebelum dia mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung.


"Permisi, Pak. Saya mau bertemu dengan Bapak Zainal di bagian Cleaning Service?" Tanya Tere bertanya kepada satpam yang berdiri tepat di depan pintu masuk.


"Oh, kamu Cleaning Service baru yang akan bekerja di sini?"


"Betul, Pak Satpam."


"Tunggu sebentar ya. Saya telpon Pak Zainal dulu."


"Baik, Pak."


Satpam tersebut pun nampak mundur beberapa langkah lalu terlihat menelpon seseorang.


Sementara Tere, dia menatap ke dalam kantor dimana di dalamnya ramai dengan para karyawan yang sedang hilir-mudik melakukan pekerjaannya.


"Waah ... Rasanya bagai mimpi bisa bekerja di perusahan besar seperti ini." Gumamnya masih dengan mata yang menatap kedalam kantor tersebut.


"Silahkan, Nona. Anda tinggal masuk saja ke dalam dan datang ke ruangan Pak Zainal yang ada di bagian paling belakang gedung ini," pinta Satpam tersebut sesaat setelah beliau selesai menghubungi orang bernama Zainal.


"Terima kasih, Pak. Saya masuk ya."


Satpam itu pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah.


Baru saja Tere hendak masuk ke dalam kantor, tiba-tiba saja dia kejutkan dengan teriakan seseorang yang memintanya untuk berhenti.


''BERHENTI ...'' Teriak orang tersebut memekikkan telinga dan Tere pun sontak menghentikan langka kakinya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


SELAMAT PAGI, READER. PAGI INI OTHOR BAWA NOVEL BAGUS BANGET BUAT KALIAN. CERITANYA DI JAMIN SERU DAN MENEGANGKAN. JANGAN LUPA MAMPIR DAN TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA.


Blurb.


Setelah sama-sama merasakan sakit hati yang paling dalam, Bima dan Renata menata hati mereka, sampai akhirnya, Renata dan Bima kembali menemukan kebahagiaan bersama pasangannya masing-masing.


Namun, takdir ternyata kembali mempertemukan mereka dalam situasi yang sama-sama sulit.


Lalu, akankah takdir kembali berpihak pada mereka setelah mereka berdua sama-sama merasa kehilangan?


Yuk, kepoin kisah Bima dan Renata. Seperti biasanya, jangan lupa sedia tisu, karena cerita ini banyak mengandung bawang

__ADS_1



__ADS_2