Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Kakek Misterius


__ADS_3

"Maaf, anda siapa ya?'' Tanya Arista menatap pria paru baya tersebut dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Permisi, Nyonya. Bolehkan saya meminta makanan? Dari kemarin saya belum makan sama sekali," jawab pria tua tersebut mengiba dan terlihat begitu mengenaskan.


Pakaiannya yang terlihat kotor, serta rambutnya yang sudah memutih dengan wajah keriputnya membuat Arista seketika mengingat sosok sang ayah yang mungkin saja akan seumuran dengan pria tersebut membuatnya merasa iba.


"Sebentar, kek. Saya ambilkan makanan buat kakek," jawab Arista masuk kembali ke dalam rumah dan meminta bibi untuk menyiapkan makanan untuk kakek tersebut.


"Bi, siapkan makanan buat tunawisma di luar," pinta Arista kepada bibi yang saat ini sedang mencuci piring di dapur.


"Tunawisma? Tumben ada tunawisma ke sini? Bukannya pintu pagar di tutup ya?"


"Entahlah Bi, cepetan ya. Saya mau ambilkan yang dulu buat beliau," ucapnya lagi berjalan meninggalkan dapur.


"Nyonya benar-benar baik, tunawisma aja mau di beri uang." Gumam Bibi menyiapkan apa yang diminta oleh majikannya.


Tidak lama kemudian, Arista pun kembali dengan membawa beberapa lembar uang seratus ribuan yang akan dia berikan kepada tunawisma tersebut.


"Uangnya banyak sekali, Nyonya? Satu lembar aja cukup kalau buat Tunawisma." Pinta Bibi menatap kepalan tangan majikannya dengan perasaan heran.


"Gak apa-apa, Bi. Mas Louis memberikan saya uang belanja yang lumayan besar dan belum saya gunakan sama sekali. Kakek itu lebih membutuhkan uang ini. Lagian cuma satu juta doang ko."


"Wah, Nyonya memang baik. Mari Nyonya saya bantu bawa makanannya sampai ke depan.''


Arista menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


Sesampainya di depan rumah, Arista langsung memberikan kotak makan dan sejumlah uang yang tadi dia siapkan kepada Tunawisma tersebut dengan tersenyum ramah.


"Ini, kek. Semoga uangnya bermanfaat." Ucap Arista mengepalkan uang tersebut di telapak tangan sang kakek tanpa merasa jijik sama sekali, meskipun penampilannya terlihat lusuh dan juga kotor.


"Terima kasih, Nyonya. Saya doakan semoga Nyonya di permudahkan dalam segala urusan dan apabila Nyonya sedang menghadapi masalah besar, semoga masalah Nyonya cepat selesai. Apakah Nyonya sedang mengandung?"


Arista menganggukkan kepalanya seraya tersenyum heran.


"Saya doakan semoga putra-putri Nyonya lahir dengan selamat, jadi anak-anak yang Sholeh dan Sholehah."


"Hah?"

__ADS_1


Arista seketika termenung seraya mengusap perutnya yang masih terlihat datar sebenarnya.


"Maksud kakek?"


"Saya juga berdua semoga apa yang sedang Nyonya tunggu bisa sampai dengan selamat di sini, Nyonya yang ikhlas agar beliau tenang di alam sana. Percaya saja, bahwa beliau sekarang sudah sangat bahagia di atas sana. Terima kasih atas makanan serta uangnya. Saya permisi, Nyonya." Ucapan terakhir Tunawisma tersebut sebelum meninggalkan tempat itu dengan perasaan heran.


Arista hanya bisa diam mematung menatap kepergian kakek tersebut dengan perasaan heran. Darimana kakek tua itu tahu tentang apa yang sedang dia hadapi sekarang? Putra-putri?


Apakah dia juga akan melahirkan anak kembar? Tapi, bukankah kehamilannya ini masih terlalu muda untuk mengetahui seperti apa bayi yang ada di dalam perutnya itu?


Hal lain yang lebih mencengangkan adalah, darimana dia tau bahwa dia sedang menunggu jenazah sang ibu yang saat ini sedang di tunggu kepulangannya? Akh ... Otak Arista di buat pusing memikirkan hal itu.


Siapa sebenarnya kakek tua itu? Apakah dia malaikat yang menjelma menjadi manusia?


'Entahlah, hanya Tuhan yang tahu siapa beliau sebenarnya,' (batin Arista)


Dia pun menatap kakek tersebut sampai beliau benar-benar keluar dari halaman rumahnya lalu menghilang di balik pagar.


"Nyonya?" Panggil bibi seketika membuyarkan lamunannya.


"Bi, apa mungkin beliau itu malaikat yang menjelma menjadi manusia?" Tanya Arista tanpa menoleh, tatapan matanya menatap kosong lurus ke depan seolah tanpa berkedip sedikitpun.


"Tapi bi--"


"Udah, gak usah terlalu dipikirin. Kita masuk yu, Nyonya harus banyak istirahat lho. Ingat pesan Tuan Besar, Nyonya harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu banyak pikiran lho."


"Baik Bi. Tapi, entah mengapa pikiran saya merasa tenang sekarang setelah mendengar apa yang diucapkan oleh kakek tadi.'' Jawabnya menoleh ke arah bibi dengan tersenyum ceria.


Bibi pun balas tersenyum menatap wajah Nyonya besarnya.


"Bi, buatin saya mie rebus ya. Mienya jangan terlalu matang, pake telor juga. O iya, telornya juga jangan terlalu matang saya pengen yang kuningnya itu masih meleleh," pinta Arista mulai berjalan masuk ke dalam rumah.


"Lho, Nyonya. Itu 'kan makanan kesukaannya Tuan besar?''


"Iya, saya lagi kangen berat sama Tuan besarnya Bibi itu, udah dua hari pergi tapi belum juga nelpon saya. Apa dia gak kangen? Saya pengen makan makanan kesukaan dia buat ngobatin rasa kangen saya." Celetuk Arista seketika mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa menahan rasa rindu kepada sang suami.


"Mungkin Tuan lagi sibuk, Nyonya."

__ADS_1


"Ya, sepertinya begitu. Tapi tetap saja, seharusnya dia luangin waktu buat nelpon saya dong. Sehari itu 24 jam lho, masa selama 24 jam itu Tuan besar Louis Gabriel itu gak ada waktu sedikitpun buat megang Ponsel. Nyebelin ..."


Bibi hanya tersenyum lucu menatap raut wajah Nyonya besarnya yang sedang merajuk layaknya akan kecil yang sedang meminta untuk dimanja.


"Saya bikinin dulu Mie rebus'nya ya, Nyonya. Saya yakin sebentar lagi Tuan besar nelpon ko.''


Arista menganggukkan kepalanya seraya tersenyum hambar lalu duduk di kursi santai di tempat yang sama seperti sebelumnya.


♥️♥️


"Nak bangun, nak. Arista ini ibu.'' Sayup-sayup terdengar suara lembut dan lirih di dengar membuat Arista seketika membuka mata.


Arista pun mengedipkan kedua matanya secara perlahan, memaksa pelupuknya untuk terbuka sempurna meskipun rasa kantuk itu masih terasa menyiksa. Perlahan, bayangan seorang wanita paruh baya pun terlihat di matanya, sampai akhirnya bayangan itu nampak jelas dan terlihat begitu nyata.


"Ibu?" Gumam Arista menatap dengan tatapan sayu wanita paruh baya dengan pakaian serba putih dan lengkap dengan rambut yang juga terlihat memutih.


"Iya, Nak. Ini ibu, ibu mau minta maaf sama kamu, karena telah meninggalkan kamu dan kakakmu selama 20 tahun lamanya. Maaf karena ibu, kalian berdua hidup menderita. Ibu benar-benar minta maaf." Lirih sang ibu memeluk tubuh Arista penuh rasa kerinduan.


"Aku udah maafin ibu ko. Ibu nekat jadi Tenaga Kerja Indonesia demi memenuhi kebutuhan kami di sini, dan ibu juga gak tau kalau nasib ternyata berkata lain dan ibu harus berakhir seperti ini. Aku juga minta maaf karena telah membenci ibu selama ini. Hiks hiks hiks ..." Jawab Arista seketika menangis sesenggukan di pelukan sang ibu.


"Jangan menangis, sayang. Ibu udah pulang sekarang dan Ibu akan berkumpul dengan kakakmu segera, kamu jaga diri baik-baik, jaga juga cucu Ibu yang ada di dalam kandungan kamu ini." Ucap Ibu lagi mulai mengurai pelukan.


Arista menggelengkan kepalanya seraya menangis sesenggukan seolah tidak ingin ditinggalkan.


"Nggak, Bu. Arista ikut ibu. Rista kangen juga pengen ketemu sama Mbak Clara. Hiks hiks hiks.''


"Tidak, Rista." Terdengar suara Clara berjalan mendekat dengan berpakaian yang sama seperti sang ibu.


"Mbak Clara?"


"Kamu harus tetap di sini buat jagain David dan Mas Louis. Mereka berdua masih membutuhkan kamu, Mbak titip David ya tolong jaga dan didik dia dengan baik. Mbak percaya sama kamu. Mbak pergi dulu ya,'' ucap Clara menggandeng tangan sang ibu lalu membawanya pergi dari hadapan Arista yang saat ini masih menangis sesenggukan tidak ingin ditinggalkan.


"Ibu, Mbak Clara. Jangan pergi, hiks hiks hiks ..." Teriak Arista memekikkan telinga.


"Sayang, bangun sayang. Kamu mimpi buruk?" Tiba-tiba terdengar suara Louis mengusap lembut kedua sisi pipi Arista dan Arista pun seketika terbangun dari mimpi dari mimpi indahnya.


"Mas? Mas udah pulang?" Tanya Arista menatap wajah suaminya penuh kerinduan dengan air mata yang masih saja berjatuhan dari kedua bola mata sayu'nya.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2