
"Apa saya perlu minta maaf juga untuk hal itu? Kamu juga suka 'kan dicium sama saya?" Tanya Louis mengangkat kepalanya menatap wajah Arista dengan tatapan mes*m menggoda.
"Apa? Siapa bilang saya suka di cium sama Tuan?" Arista dengan wajah memerah dan kedua sisi pipinya terasa panas membara.
"Buktinya, tadi kamu diam aja, malahan kamu nikmatin banget ciuman dari saya."
"Tuan?" Arsita menutup bibir Tuannya itu menggunakan kelima jarinya merasa malu.
"Stop, Tuan. Saya malu. Liat bibi sama Jodi ngetawain kita," bisik Arista dengan berjinjit kaki dan berdiri tepat di depan Louis.
"Emangnya siapa yang mulai duluan? Kamu sendiri yang kasih tau mereka tadi bahwa kita udah ciuman sebayak tiga kali, 'kan-'kan?'' jawab Louis menurunkan telapak tangan Arista lembut, matanya menatap wajah Arista dengan senyum yang sedikit mengembang di kedua sisi bibirnya.
"Hah? Emang iya?"
Louis menganggukkan kepalanya seraya tersenyum bangga.
"Hehehe, maaf Tuan. Saya keceplosan tadi. Lagian Tuan juga belum minta maaf sama saya. Apa Tuan tau apa yang Tuan lakuin itu sama saja dengan pelecehan s*ksual?" Ucap Arista lagi dengan wajah yang merah bersemu.
"Tapi suka 'kan?"
"Nggak."
"Tapi enak 'kan?"
"Siapa bilang."
"Bohong, buktinya tadi kamu sampe merem-melek, iya 'kan? Ngaku deh?" Louis terus saja menggoda membuat Arista salah tingkah dan senyum-senyum sendiri.
"Tuan ... Maaf menyela. Maaf banget tapi, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan?" Tanya Jodi membuat Louis seketika langsung memelototinya.
"Nggak jadi, Tuan. Silahkan lanjutkan perdebatan kalian saya permisi,'' ucap Jodi lagi lalu pergi meninggalkan Tuannya yang saat ini sedang kasmaran.
"Tunggu Jodi," pinta Louis dan Jodi pun seketika menghentikan langkah kakinya.
"Iya, Tuan bos."
"Saya akan kasih bonus juga buat kamu. Kamu cek nanti, saya bakalan transfer ke rekening kamu sebentar lagi, oke." Ucap Louis penuh percaya diri.
"Wah, terima kasih, Tuan. Anda benar-benar bos yang baik hati. Saya beruntung bisa bekerja dengan Tuan." Jawab Jodi dengan tersenyum senang.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang kamu boleh pergi."
"Baik, Tuan. Saya permisi," jawab Jodi lalu benar-benar keluar dari dalam rumah meninggalkan Louis bersama Arsita yang saat ini sedang salah tingkah dengan wajah yang memerah.
Arista yang saat ini di tinggal hanya berdua bersama Louis karena bibi pun yang semula berada di sana kini masuk kembali ke dalam dapur, hendak pergi karena perasaannya benar-benar gugup sekarang.
"Saya juga permisi, Tuan." Ucap Arista pelan seraya sedikit membungkukkan tubuhnya lalu berbalik dan hendak melangkah.
"Mau kemana kamu? Urusan kita belum selesai, Rista," tanya Louis dan Arista pun menghentikan langkah kakinya seketika.
'Astaga, Tuan mau apa lagi si?' (batin Arista)
"Ada sesuatu yang ingin saya katakan sama kamu, Arista."
"Apa? Tuan mau minta maaf sama saya karena--"
"Tidak, bukan itu."
"Lalu?"
"Eu ... Anu ..."
"Tuan, kenapa diam aja? Kalau Tuan nggak mau minta maaf sama saya, ya udah gak apa-apa, itu akan saya anggap sebagai hutang sampai Tuan benar-benar mau minta maaf sama saya."
'Saya cinta sama kamu, Arista. Kenapa sulit sekali buat saya ngucapin semua itu secara langsung, ya Tuhan,' (batin Louis lagi)
"Eu ... Rista, anu ... Saya ... Saya ..." Louis dengan terbata-bata mencoba untuk berbicara jujur namun, bibirnya serasa kaku untuk digerakkan.
"Eu ... Eu ... Anu ... Anu ...! Apa? Tuan kenapa si? Bilang aja Tuan mau nyatain cinta sama saya! Iya 'kan?" Arista dengan polos seperti biasanya.
'Hah? Kok dia tahu? Apa keliatan jelas?' (batin Louis)
"Dih, so tau kamu."
"Terus? Tuan mau ngomong apa sama saya? Dari tadi cuma, a eu ... A eu ... Anu ... Anu ...''
"Gak jadi, saya gak jadi ngomong sesuatu sama kamu. Sekarang kamu terusin pekerjaan kamu. O iya, kamar saya belum diberesin, saya minta kamu beresin kamar saya sekarang juga, oke?" Pinta Louis tiba-tiba, niatnya untuk memberitahukan tentang perasaannya diurungkan begitu saja.
"Baik, Tuan. Saya akan melakukan perintah Tuan sekarang juga," jawab Arista lirih dan pelan seraya membungkukan tubuhnya dengan wajah datar.
__ADS_1
'Astaga, kenapa aku bisa sebodoh ini sih? Seharusnya aku tembak aja dia tadi? Arista, Arista kamu benar-benar telah meluluhlantahkan hati dan perasaan saya,'( batin Louis )
♥️♥️
Satu bulan kemudian.
Arista sudah mulai terbiasa bekerja di sana. Sebagai pelayan yang bertugas menyediakan seluruh kebutuhan Tuannya. Bahkan, Louis selalu bersikap manja dan tidak ingin memakai atau memakan sesuatu jika bukan Arista yang menyiapkan.
Jika diperhatikan, tugas yang selalu dikerjakan oleh Arista adalah tugas yang biasa dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya dan Arista sama sekali tidak menyadari hal itu begitupun dengan Louis.
"Arista, dasi saya yang warna hitam mana? Kenapa belum siap juga?'' tanya Louis berdiri di depan cermin merapikan kancing kemeja berwarna putih yang dikenakannya seraya menatap wajah tampannya dari pantulan cermin.
"Iya-iya, ini datang. Tuan gak sabaran banget si," gerutu Arista kesal menghampiri Tuannya.
"Saya buru-buru banget ini. Ada meeting penting pagi ini."
"Iya, Tuan. Mau sekalian saya pasangkan?"
"Tentu saja, itu 'kan memang tugas kamu sebagai seorang pelayan," jawab Louis menatap tubuh Arista yang saat ini sudah berdiri tepat di hadapannya dengan membawa dasi berwarna hitam.
"Dih, ini sih bukan tugas pelayan. Pelayan itu tugasnya, nyapu, ngepel, masak, cuci baju dan lain sebagainya. Ini mah tugas seorang istri sama suaminya, seharusnya Tuan buruan menikah biar gak perlu lagi minta bantuan saya hanya untuk masangin dasi kayak gini," gerutu Arista lagi, seraya memasangkan dari tersebut di leher Tuannya sekaligus merapikan dengan mata yang menatap lekat dasi tersebut.
Louis hanya bisa tersenyum kecil. Hampir setiap hari dia mendengar Arista mengucapkan hal itu, berkali-kali juga dia mendengar Arista dengan lantangnya memintanya untuk segera menikah tanpa dia sadari bahwa, wanita yang Tuannya inginkan itu adalah dirinya, gadis yang saat ini berdiri tepat di depannya.
"Kamu mau jadi istri saya?" Celetuk Louis secara tiba-tiba.
"Hah?" Arista menghentikan gerakan tangannya seketika lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah Louis.
"Tadi kamu nyuruh saya buat cepet-cepet nikah 'kan?"
"Iya, biar Tuan gak nyusahin saya terus. Tuan ini kayak anak kecil tau, masangin dasi aja gak bisa.''
"Apa kamu mau jadi istri saya, Rista?"
"Jangan bercanda gak lucu," jawab Arista merapikan dasi Louis yang terlihat sedikit miring.
"Saya gak lagi bercanda, Rista. Maukah kamu jadi istri saya? Saya serius ...'' Louis dengan bersungguh-sungguh membuat Arista seketika merasa terkejut.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1