Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Mas Louis Sayang.


__ADS_3

"Hah, Minggu depan?" Tanya Arista terkejut mendengar bahwa Louis akan menikahinya Minggu depan.


Arista memang bahagia dan begitu senang karena Louis akhirnya menyatakan cinta kepada dirinya tapi, dia tidak menyangka bahwa Louis akan menikahinya dalam waktu satu minggu.


"Kenapa? Apa kamu gak mau? Atau kamu gak siap? Kamu gak lupa 'kan kalau saya gak suka di bantah?" Tanya Louis, mengurai jarak diantara mereka sehingga dia bisa dengan jelas melihat wajah gadis yang dicintainya itu.


"Minggu depan itu satu Minggu 'kan? Berarti 7 hari? Apa gak kecepatan?" Tanya Arista dengan ucapan yang berputar-putar membuat Louis seketika tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha ... Sejak kapan satu Minggu itu 8 hari? Satu Minggu ya 7 hari, 7 hari itu sudah cukup buat saya untuk mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan kita, sayang."


Arsita pun tersipu malu, wajahnya kini memerah dengan kedua sisi pipinya yang terasa panas membara. Kata sayang yang lolos begitu saja dari bibir Louis benar-benar terasa membuat hatinya melayang sekaligus berbunga-bunga bak taman bunga yang sedang bermekaran.


"Muka kamu kenapa merah kayak gitu? Kamu demam?" Tanya Louis meletakkan telapak tangannya di kedua sisi Arista yang saat ini terasa panas.


"Hah? Eu ... Nggak ko, aku cuma terkejut aja karena tiba-tiba akan menikah 7 hari lagi," jawab Arista merasakan telapak tangan Louis yang terasa begitu lembut menyentuh kulit wajahnya.


"Hmm ... Siap gak siap kamu harus siap, sayang."


Gubrak ....


Hati Arista kembali terasa melayang. Sayang? Akh ... Terasa mimpi baginya di panggil sayang untuk yang kedua kalinya oleh laki-laki yang selama ini menjadi Tuannya.


"Ko diam lagi?"


"Nggak."


"Mulai sekarang kamu stop melakukan pekerjaan sebagai pelayan, kamu cuma boleh menyiapkan keperluan saya, karena saya udah terbiasa dilayani sama kamu. Nyapu, ngepel, cuci piring dan lain sebagainya biar dikerjakan sama bibi, oke?''


"Tapi kasian kalau bibi ngerjain itu sendirian, palingan aku cuma bantu-bantu dikit aja ya."


"Nggak ... Sekali nggak tetap nggak. Saya gak akan biarin, calon Nyonya Louis mengerjakan pekerjaan rumah kayak gitu. Tugas kamu sekarang, persiapkan mental dan fisik kamu buat malam pertama kita nanti."

__ADS_1


Gleg ....


Arista menelan ludahnya kasar. Malam pertama? Keringatnya mendadak membasahi pelipis wajahnya kini. Kedua sisi pipinya pun semakin panas membara kini bahkan merah merona dan Louis menyadari hal itu. Dia pun kembali memeluk tubuh Arista, mendekapnya erat seraya mengusap punggungnya lembut, mencoba menenangkan hati Arista yang sepertinya masih terkejut dengan permintaannya yang secara tiba-tiba menyatakan cinta sekaligus akan menikahinya dalam waktu tujuh hari.


"Tadi katanya Tuan ada meeting? Nanti kesiangan lho.'' Ucap Arista memeluk erat tubuh Louis.


"Gak apa-apa, kamu lupa saya ini siapa? Mereka gak akan memulai meeting sebelum saya datang."


"Hmm, baiklah. Tubuh Tuan hangat banget, biarkan aku kayak gini sebentar lagi," lirih Arista memejamkan mata seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Louis.


Louis pun hanya tersenyum kecil, dia mengecup pucuk kepala Arista lembut dan penuh kasih sayang. Betapa hati seorang Louis begitu bahagia. Setelah sekian lama sendiri dan hidup dalam kesepian, akhirnya Louis melabuhkan hatinya kepada gadis bernama Arista. Gadis polos dengan sejuta tingkah lucunya, gadis belia dengan sikap cuek dan selalu membantah semua yang dia katakan dengan begitu angkuhnya.


Anehnya, semua itu yang membuat Louis jatuh hati kepadanya. Kepolosan, keegoisan bahkan bantahan yang keluar dari bibir Arista membuat Louis jatuh cinta dan yakin bahwa dialah gadis yang selama ini dia cari. Dialah gadis impiannya dan gadis yang mampu menggantikan posisi Clara mantan istri yang sempat menghuni relung hatinya yang paling dalam namun, hanya menorehkan luka yang mendalam kala itu.


Louis pun perlahan mengurai pelukan, dia menatap lembut wajah Arsita dengan tatapan penuh rasa cinta. Bibirnya pun nampak tersenyum bahagia begitupun sebaliknya. Arista pun nampak menatap wajah tampan Louis dengan tatapan mata bahagia, mereka berdua saling menatap satu sama lain dan saling melemparkan senyuman, sampai akhirnya wajah mereka pun saling berdekatan dengan mata yang mulai dipejamkan.


Wajah mereka pun semakin dekat dengan bibir yang hampir saling menempel, namun, saat bibir mereka baru saja sedikit bersentuhan, tiba-tiba saja pintu kamar Louis di buka tanpa diketuk terlebih dahulu.


Ceklek ....


"Ma-maaf, Tuan. Saya ti-dak tau ka-lau ka-lian--" ucap Jodi merasa tidak enak sekaligus ketakutan karena Tuannya itu pasti akan marah besar.


Benar saja, mata Louis nampak dibulatkan sempurna, menatap wajah Jodi dengan tatapan tajam dan tangan yang dikepalkan merasa geram.


"JODI ... Kamu bisa tidak kalau masuk kamar saya ketuk pintu dulu, hah?" Teriak Louis merasa kesal.


"Ma-maaf, Tuan. Saya--" Jodi tidak meneruskan ucapannya dan lebih memilih kembali menutup pintu sebelum Tuannya itu memuntahkan kemarahannya.


"Dasar assiten kurang ajar, ganggu kesenangan orang aja si," gerutu Louis menatap pintu yang kini sudah kembali di tutup.


"Sabar, Tuan. Jangan marah-marah kayak gitu, nanti Tuan cepet tua lho," lirih Arista yang sebenarnya juga merasa malu.

__ADS_1


"Eit ... Sayangku, cintaku, calon istriku. Berhenti panggil saya dengan sebutan Tuan. Coba panggil dengan sebutan 'Mas', atau panggil saya dengan panggilan 'sayang'.''


"Tapi, Tua--"


"Huus, Tuan lagi. Coba ikuti perkataan saya."


Arista mengangguk seraya tersenyum.


"Mas, Mas Louis sayang." Lirih Louis seraya menatap bibir mungil Arista dan memintanya untuk mengikuti ucapannya.


"Mas Louis sa-yang," terbata-bata Arista pun mengikuti ucapan laki-laki yang merupakan calon suaminya itu.


"Good Job. Panggil saya dengan sebutan itu mulai sekarang.''


"Tapi, apa gak terlalu berlebihan. Mas Louis aja udah cukup, apa harus ada kata 'sayangnya' juga?''


"Harus dong. Mas Louis sayang, coba ulangi?"


"Iya-iya Mas Louis sa-yang ..." Lirih Arista dan langsung mendapatkan sambaran di bibirnya.


Ciu*an yang tadi sempat tertunda pun akhirnya terlaksana, ciu*an lembut penuh kasih sayang dan begitu menggairahkan. Arista melingkarkan tangannya di leher Louis, sedangkan Louis kini melingkarkan tangannya di pinggang ramping calon istrinya tersebut.


"I love you, Rista." Bisik Louis sesaat setelah dirinya melepaskan tautan bibirnya.


"I love you too, Mas Louis sa-yang," jawab Arista tersenyum bahagia.


"Kamu akan segera menjadi Nyonya Louis, kamu akan menggantikan posisi Clara mantan istri saya."


Deg ...


Mendengar nama Clara, membuat hati Arista sedikit terusik. Apakah mungkin Clara yang dimaksud oleh calon suaminya itu adalah orang yang sama dengan Clara kakak perempuannya yang sudah meninggalkan dirinya dan memdiang sang adik 10 tahun yang lalu?

__ADS_1


'Semoga dugaan aku salah,' (batin Arista)


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2