Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Anak Kandung


__ADS_3

Clara menangis sesenggukan, mengingat Putri yang sebenarnya adalah anak kandungnya sendiri membuat dadanya terasa sesak, sangat sesak.


Ya ....


Putri sebenarnya adalah anak kandungnya, anak di luar nikah hasil hubungan gelap dengan mantan kekasihnya dahulu sebelum dia bertemu dan menikah dengan Louis.


"Putri, maafkan ibu, Nak. Maaf, gara-gara ibu kamu meninggal dunia. Seharusnya ibu gak pernah ninggalin kamu, sayang. Mommy benar-benar menyesal, hiks hiks hiks ..." Gumam Clara semakin erat memeluk lututnya dengan tangis yang semakin terdengar pilu dan menggelegar.


Clara pun bangkit lalu mencari botol obat berisi kapsul penenang yang biasa dia minum dan diresepkan oleh Dokter pribadinya. Setelah menemukan obat tersebut, dia pun meminum segenggaman obat sekaligus lalu segera meminum air putih.


"Ibu akan menyusul kamu ke sana, putri ..." Lirih Clara sebelum tubuhnya terkulai lemas tidak sadarkan diri.


Flash back.


"Huek ... Huek ... Huek ..." Clara, remaja yang masih berumur 20 tahun tiba-tiba saja terasa mual dan muntah-muntah di kamar mandi.


Dia berjongkok mencoba mengeluarkan isi di dalam perutnya untuk mengobati rasa mual yang terasa semakin menjadi-jadi, membuat dadanya terasa sesak kini.


Tok ... Tok ... Tok ....


"Mbak ... Kamu kenapa, Mbak? Apa Mbak sakit?" Tanya Arista sang adik yang masih mengenakan seragam putih abu baru pulang dari sekolah.


"Huek ...."


Akhirnya, Clara benar-benar memuntahkan seluruh isi didalam perutnya hingga benar-benar terasa kosong dan rasa mual yang semula terasa menggerogoti tenggorokannya pun perlahan mulai menghilang.


Clara pun bangkit lalu keluar dari dalam kamar mandi.


"Kamu kenapa, Mbak? Mbak sakit? Aku beliin obat ke warung ya." Tanya Arista menatap wajah sang Kaka yang terlihat pucat pasi.


"Mbak gak apa-apa, Dek. Gak usah beli obat segala, Mbak cuma masuk angin aja ko.''


"Tapi, muka Mbak pucat banget. Yakin Mbak baik-baik aja? Mau aku kerokin?"


"Gak usah."


"Tapi, Mbak. Kalau sakitnya Mbak semakin parah gimana? Aku beliin obat ya."


"ARISTA ... KALAU MBAK BILANG GAK USAH YA NGGAK USAH, NGEYEL BANGET SI JADI ADIK." Tiba-tiba Clara berteriak membuat Arista sang adik terkejut seketika.


"Maaf, aku cuma khawatir sama Mbak.''


"Mbak juga minta maaf, Mbak gak sengaja bentak kamu tadi, maaf ya."

__ADS_1


Arista menganggukkan kepalanya lalu memeluk tubuh Clara sang Kaka. Kakak satu-satunya yang dia punya, dan Kakak yang selama ini hanya tinggal berdua dengan dirinya.


"Dek, sekarang tanggal berapa?" Clara mengurai pelukan.


"Tanggal 21 Juli, kenapa emang?"


"21 Juli?"


Clara nampak termenung seolah sedang berfikir, lalu dirinya berjalan ke arah tembok dimana kalender tahun ini di tempel. Dia pun menghitung jumlah tanggal bahkan membolak balikkan kalender tersebut sampai akhirnya, tiba-tiba Clara terduduk lemas di atas lantai yang hanya beralaskan tikar tipis dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Bruk ....


Tubuh Clara seketika lemas.


"Ada apa lagi Mbak?" Tanya Arista menatap wajah sang kakak dengan perasaan khawatir.


"Udah dua bulan Mbak gak datang bulan, Dek."


"Apa?"


"Gimana ini? Apa yang akan terjadi dengan Mbak, kalau Mbak benar-benar ha-mil?" Lirih Clara dengan buliran air mata yang mulai berjatuhan membasahi wajahnya.


"Haaah ...? Nggak, nggak mungkin Mbak sampai hamil? Emangnya Mbak pacaran sama siapa sampai Mbak hamil kayak gini, hah?"


"Gimana ini, Dek? Gimana kalau Mbak sampai hamil? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Hiks hiks hiks ..." Jerit Clara menahan rasa getir di hatinya.


"Dengerin aku, Mbak. Siapa laki-laki yang udah ngehamilin Mbak, SIAPA? KITA DATANGI DIA DAN SURUH DIA TANGGUNG JAWAB. SIAPAAA MBAK?" Teriak Arista yang juga menangis sesenggukan meratapi nasib sang kakak.


Sudah cukup hidupnya yang begitu menyedihkan dengan hidup di bawah garis kemiskinan dan hanya tinggal berdua dalam keadaan yang pas-pasan. Sekarang di tambah lagi kakaknya yang tiba-tiba hamil di luar nikah, sungguh Arista merasa kehidupannya benar-benar mengenaskan.


Selama ini, kakaknya 'lah yang banting tulang bekerja untuk membiayai sekolah dan kehidupannya sehari-hari, jika kakaknya itu hamil, bagaimana dengan sekolahnya? Bagaimana juga dengan tanggapan para tetangga yang pastinya akan mencemooh dirinya dan juga sang kakak.


"KENAPA KAKA DIAM AJA? KAKA HARUS MENUNTUT PERTANGGUNG JAWABAN LAKI-LAKI YANG TELAH MENGHAMILI KAKAK."


"Gak bisa, Dek. Gak bisa. Hiks hiks hiks ...''


"Kenapa gak bisa? Kalau Mbak gak nikah? Gimana nasib bayi yang ada di dalam kandungan Mbak? Gimana pula dengan nasib aku, sekolah aku gimana kalau Mbak gak kerja. Hiks hiks hiks ...'' Arista pun seketika menangis sesenggukan menahan rasa getir di hatinya.


Sakit, rasanya sangat sakit. Seluruh dunianya terasa runtuh mengetahui pakta bahwa sang Kakak orang yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya tiba-tiba hamil membuat perasaan seorang Arista merasa hancur. Benar-benar hancur.


Clara pun tiba-tiba saja mengusap wajahnya kasar. Dia menatap wajah adik kesayangannya itu dengan tatapan tajam. Tatapan matanya nampak penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. Dia pun berlari ke arah dapur lalu mengambil sesuatu dari sana.


"Mbak ...? Mbak mau ngapain?" Tanya Arista menatap pisau yang ada di dalam genggaman Clara.

__ADS_1


"Dek, daripada kita hidup menderita kayak gini, mendingan kita mati sama-sama aja. Kehidupan di dunia ini gak adil buat kita, Dek. Gak adil ... Hiks hiks hiks ..." Ucap Clara meletakan pisau tersebut di atas pergelangan tangannya membuat Arista benar-benar terkejut.


"ASTAGA, MBAK. JANGAN LAKUIN ITU, MBAK. APA MBAK PIKIR DENGAN MBAK MELAKUKAN INI, MASALAH KITA AKAN SELESAI, HAH ...?'' Teriak Arista memekikkan telinga.


"SETIDAKNYA KALAU KITA MATI, KAMU GAK AKAN KESUSAHAN DAN GAK PERLU LAGI SEKOLAH, MBAK UDAH GAK BISA KERJA LAGI, DEK. LEBIH BAIK KITA MATI," Clara semakin menggila, perasaan dan jiwanya seolah lelah menjalani hidupnya yang slalu menderita dan hidup serba kekurangan.


"HAAAAAA ... Mbak gila, hah? Kalau Mbak mau mati, mati aja sendiri jangan bawa-bawa aku dan juga bayi yang ada di dalam kandungan Mbak, dia gak salah Mbak? Hiks hiks hiks ...''


"Bayi ...?"


Bruk ....


Clara ambruk seketika, tangisnya pun pecah seraya mengusap perutnya dimana janin seorang bayi berada di dalam sana.


"Maafin Mbak, Dek. Maaf ... Hiks hiks hiks ..."


Arista pun mendekati Clara lalu segera memeluknya erat, Arista yang masih duduk di bangku kelas 10 Sekolah Menengah Pertama itu pun mencoba menangkan sang kakak yang saat ini begitu terpuruk.


Keduanya pun menangis sesenggukan dengan tubuh yang saling berpelukan.


"Mbak jangan pernah lagi ngelakuin hal ini. Hati aku sakit melihat Mbak kayak gini, bagi aku Mbak bukan hanya sekedar kakak. Tapi, Ibu, ayah dan satu-satunya orang yang aku miliki di dunia. Mbak harus kuat dan melahirkan dengan sehat, aku akan menganggap anak kandung Mbak sebagai adikku sendiri." Lirih Arista mengusap punggung kakaknya.


"Makasih, Dek. Makasih ... Hiks hiks hiks ...''


Flash back and.


"MBAK CLARAAAA ..." Arista yang sedang tertidur tiba-tiba saja menjerit seolah baru saja bermimpi buruk membuat Louis sang suami pun ikut terbangun.


"Sayang? Kamu kenapa? Apa kamu mimpi buruk?'' tanya Louis menatap khawatir wajah Arista sang istri yang terlihat pucat pasi lengkap dengan air mata yang tiba-tiba saja berjatuhan tanpa sebab yang jelas.


"Mas ... Mbak Clara, Mas. Aku tiba-tiba mimpiin dia, aku takut dia kenapa-napa." Jawab Arista merasakan sesak di dadanya, mimpi yang baru saja dia dapatkan seolah benar-benar nyata.


"Memangnya kamu mimpiin apa, sayang?"


"Aku mimpi masa lalu, Mas. Aku bermimpi waktu Mbak Clara mau bu--" Arista tidak meneruskan ucapannya karena ponsel sang suami tiba-tiba saja berdering.


Louis pun segera menatap layar ponsel lalu mengangkat telepon.


📞 "Halo, Jodi. Ada apa?"


Raut wajah Louis seketika berubah saat Jodi mengatakan sesuatu di dalam telpon. Dia pun menatap wajah istrinya dengan tatapan sayu penuh rasa iba. Louis pun menutup telpon lalu memeluk tubuh Arista secara tiba-tiba.


"Kamu yang sabar ya, sayang. Kakakmu--''

__ADS_1


"Apa yang terjadi Mas? Mbak Clara kenapa?" Tanya Arista dengan mata yang memerah dan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2