
Arista merasa beruntung karena memiliki putra yang baik dan dewasa. Mungkin karena dia tumbuh di keluarga yang tidak lengkap, situasi dan kondisi memaksanya untuk bersikap dan juga berfikir dewasa.
Kedewasaan yang dimiliki oleh putra sambungnya itu bahkan melebihi kedewasaan dirinya yang tidak bisa bersikap se'lapang David yang bisa memaafkan kelakuan Clara meskipun Kakak kandungnya yang telah tiada itu telah berbuat kesalahan fatal yang membuat David kehilangan kasih sayang dari ayahnya.
Sejenak diapun berfikir untuk mencoba melapangkan hati dan perasaannya seperti sang putra. Tapi, apakah dia bisa memaafkan orang tua yang telah meninggalkan dirinya sedari kecil bahkan dia sendiri tidak dapat mengingat wajah ayah serta ibunya itu?
Tidak ada sedikitpun kenangan yang tersisa di dalam memori otaknya, seluruh inginkan yang ada tentang kedua orang tuanya telah hilang termakan waktu dan usia.
"Mom?" Rengek David di dalam pelukan seketika membuyarkan lamunannya.
"Iya, sayang."
"Aku harap Mommy panjang umur agar aku bisa membalas kasih sayang yang telah Mommy Arista berikan. Aku berharap Mommy bahagia sama Daddy karena aku melihat Daddy begitu mencintai Mommy," lirihnya lagi membuat Arista seketika merasa tersentuh, sangat-sangat tersentuh.
Apa yang baru saja dikatakan oleh David benar-benar mampu menyentuh titik terdalam relung hati seorang Arista.
"Iya, sayang. Mommy juga berharap kamu panjang umur dan jadi anak yang Sholeh juga berbakti kepada orang tua. Mommy harap kamu jadi anak yang bisa dibanggakan oleh kami orang tua kamu, sayang. Muach ..." Jawab Arista mengecup pucuk kepala putranya secara berkali-kali hingga David pun seketika tertawa bahagia.
Ceklek ....
Suara pintu yang dibuka seketika mengejutkan mereka berdua, Louis masuk ke dalam kamar membuat Arista merasa heran karena hari masih siang suami tercintanya itu sudah pulang.
"Mas Louis? Tumben udah pulang?" Tanya Arista mengerutkan kening.
"Mas sengaja pulang cepat, Mas ingin periksakan kamu ke Dokter kandungan. Beberapa hari ini keadaan kamu memprihatinkan, sayang. Mas khawatir lho,'' jawab Louis berjalan mendekat lalu duduk tepat di samping David.
"Hmm ... Aku kira Mas biasa aja, gak ngerasa khawatir sama sekali sama aku."
"Mana mungkin, sayang. Akhir-akhir ini Mas memang sibuk. Tapi, Mas gak mungkin sampai melupakan kamu.''
"Dad, aku boleh ikut ke Dokter? Aku juga ingin tau gimana kondisi adikku di dalam perut Mommy," rengek David menatap wajah sang ayah.
"Tentu saja. Kita ke sana bertiga, sekarang kamu siap-siap dulu. Nanti Daddy panggil kalau sudah mau berangkat, oke?"
__ADS_1
David menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lalu turun dan keluar dari dalam kamar.
Sepeninggal David, Arista nampak menatap sayu wajah suaminya seperti ingin mengatakan sesuatu namun, tidak berani untuk mengucapkan'nya.
"Kenapa, sayang? Ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Louis balas menatap wajah istri kesayangannya.
"Eu ... Anu, Mas."
"Anu apa, cintaku?"
"Tuan Alex itu seperti apa orangnya?" Tanya Arista dengan nada suara malu-malu.
"Hmm ... Kenapa? Kamu ingin bertemu mereka?" Jawab Louis lembut seraya memeluk tubuh Arista, menyandarkan kepala sang istri di dada bidangnya.
"Entahlah, aku masih ragu untuk melakukannya. Beri aku waktu sedikit lagi, Mas. Aku masih butuh waktu untuk menata perasaan aku sendiri."
"Mas akan memberi waktu sebanyak yang kamu butuhkan, gak usah terlalu terburu-buru. Mas tau tidak mudah untuk kamu menerima semua ini."
"Mas tau, aku kangen banget sama Mas." Rengek'nya dengan nada suara manja.
"O ya? Bukannya tiap hari kita ketemu ya?"
"Ketemu apanya? Aku bangun Mas udah gak ada. Mas pulang aku udah tidur. Apa itu yang namanya ketemu? Aku rindu sama si anu.''
"Hah? Si anu?"
"Ini, si ini Mas Louis tersayang." Jawab Arista secara tiba-tiba mengusap bagian dimana piton suaminya itu bersembunyi seolah begitu merindukan pusaka milik suaminya itu.
"Hahahaha ... Dasar nakal ya, kalau kamu rindu sama dia, kenapa gak bilang dari kemarin-kemarin? Piton Mas ini akan selalu siap sedia manjain kamu lho, hahaha ...'' Tawa Louis terdengar nyaring dan seketika men*geliat saat tangan istrinya itu semakin nakal mengusap piton kesayangan hingga dia meronta-ronta di dalam sana meminta untuk keluar dari dalam sarangnya.
"Aduh, sayang. Jangan salahin Mas ya, kalau nanti dia berontak minta di bertemu sama dede bayi di dalam sana." Ringis Louis memejamkan mata.
"Ampun Mas piton, eh salah ... Maksudnya Mas Louis tersayang, sekarang 'kan kita mau ke Dokter. David lagi nungguin kita tau." Rengek Arista menarik tangannya lalu mengendusnya seraya memejamkan mata.
__ADS_1
"Dih, sayang? Kamu lagi ngapain?"
"Wangi, Mas. Wanginya seger banget, hmmmm ..." Lirih Arista masih memejamkan mata seraya terus menciumi aroma ditangannya yang tadi dia gunakan untuk mengusap bagian selang*angan suaminya.
"Astaga ... Arista-Arista ... Kalau kamu mau, kamu boleh ko mencium aroma si piton secara langsung. Hahahaha ...''
"Dih, maunya itu mah," jawab Arista tertawa ringan.
"Tapi, kamu juga suka 'kan? 'Kan ... 'Kan ... 'Kan ...?''
"Iya-iya aku suka, nanti malam awas ya kalau tidur duluan?" Ancam Arista membulatkan bola matanya.
"Siap Nyonya bos. Nanti malam kita begadang semalaman, hahaha ..." Jawab Louis kembali memeluk seraya mendaratkan ci*man di kening istrinya.
♥️♥️
Setelah pulang dari Rumah sakit untuk memeriksakan kandungan istrinya, Louis pun sudah bersiap untuk memanjakan istrinya itu oleh si piton kesayangan yang telah menjadi benda favorit istrinya dari semenjak mereka menikah.
Sebagai laki-laki perkasa, dia pun selalu siap sedia saat ini istrinya meminta bermain bersama piton'nya itu kapanpun dimanapun. Dia pun tidak menyangka kalau istrinya akan benar-benar ketagihan bahkan lebih agresif semenjak Arista sang istri mengandung buah hatinya.
Apakah ini bawaan bayi di dalam kandungannya? Entahlah ... Yang jelas Louis senang karena istrinya itu selalu memuaskan dirinya di atas ranjang.
Louis nampak sudah bersiap di atas ranjang dengan hanya memakai celana boxer yang dia gunakan untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, sementara bagian atasnya dia biarkan terekspos sempurna tanpa mengenakan apapun.
"Sayang, buruan. Lama banget si?" Teriak Louis karena sang istri sudah berada lebih dari 10 menit berada di dalam kamar mandi.
Ceklek ....
Suara pintu yang terbuka seketika membuat Louis tersenyum senang. Akan tetapi, senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibirnya tiba-tiba saja lenyap saat menyadari bahwa suara pintu itu bukan berasal dari pintu kamar mandi, melainkan pintu kamarnya yang di buka oleh David sang putra
"Dad, boleh aku tidur di sini? Di kamar aku gak bisa tidur." Rengek David membuat Louis seketika mengusap wajahnya kasar merasa kesal.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1