
"Anu, Tuan. Eu ... Nyonya Clara ada di luar, Tuan. Den David juga ada sini," ucap Bibi terbata-bata membuat Louis seketika terkejut begitupun dengan Arista.
"APAAAAA ...?" Teriak Louis merasa tidak percaya.
"I-iya, Tuan." Jawab bibi lagi.
"Suruh mereka tunggu, saya akan keluar sekarang juga."
"Baik, Tuan."
Bibi pergi meninggalkan pintu.
Louis menatap lekat wajah Arista yang saat ini masih berada di dalam dekapannya. Wajah calon istrinya itu terlihat pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi pelipis wajahnya begitupun bagian wajah lainnya yang masih terdapat terdapat air sisa mandi.
"Mas ...? Gimana ini?" Tanya Arista dengan nada suara gugup.
"Gimana apanya? Dia cuma mantan istri Mas. Palingan dia ke sini karena David."
"David?"
"Iya, Mas belum sempat cerita sama kamu kalau Mas punya seorang putra berusia 10 tahun. Rencananya, Mas juga akan kasih tau sama kamu masalah ini secepatnya.''
Seketika, Arista pun bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Baginya tidak masalah jika dia harus bertemu dengan mantan istri Mas Louis sayangnya itu tapi, ada alasan lain yang membuatnya merasa tertekan saat ini.
Bagaimana jika tebakannya itu benar? Bagaimana jika Clara mantan istri Mas Louis'nya itu adalah kakak kandungnya sendiri? Apa yang akan terjadi dengan dirinya begitupun dengan pernikahan yang tinggal menghitung hari saja?
Arista mengusap kasar wajahnya lalu menoleh ke arah Louis dengan tatapan sayu.
"Kenapa kamu gak keluar, Mas? Kasian mereka menunggu kamu tuh?" Tanya Arista mencoba menangkan gejolak di dalam hatinya yang kini dipenuhi dengan berbagai tanda tanya.
"Apa kamu marah sama Mas?" Tanya Louis meletakkan kepalanya di bahu Arista dengan tangan yang dilingkarkan di perut ramping calon istrinya.
"Nggak, buat apa aku marah. Gak ada alasan juga aku harus marah sama Mas." Jawab Arista mengusap punggung tangan calon suaminya lembut.
__ADS_1
"Ya udah, kita keluar sekarang."
"Kita? Mas aja kali, aku nggak."
"Lho kenapa? Tadi katanya kamu ingin tau wajah mantan istri Mas? Mas bakalan buktiin kalau kamu jauh lebih cantik dari mantan istri Mas itu," pinta Louis bangkit lalu menarik pergelangan tangan Arista.
"Tunggu dulu, Mas. Aku belum pakai baju." Teriak Arista mencoba melepaskan diri dari genggaman kuat tangan calon suaminya.
"Gak usah pakai baju, biar dia mengira kalau kita habis anu.''
"Hah? Masssss ..." Rengek Arista dengan suara manja.
Belum siap. Itulah yang dirasakan oleh Arista saat ini, dirinya merasa belum siap menerima kenyataan bahwa apa yang dia pikirkan itu benar.
"Mas Louis ...'' Ketus Arista menghentakkan kasar tangan calon suaminya membuat Louis seketika terkejut menghentikan langka kakinya.
"Arista, ada apa sama kamu, hah? Kenapa kamu ngedadak kayak gini? Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu ingin tau wajah mantan istri Mas? Apa kamu marah karena Mas baru bilang sekarang tentang putra Mas?" Tanya Louis menatap dengan tatapan tidak mengerti lengkap dengan alisnya yang kini dinaikan sebelah.
"Aku--" Arista tidak mampu berkata-kata lagi, dia menunduk sedih menatap lantai marmer yang entah mengapa terasa begitu dingin di telapak kakinya.
Mau tidak mau, hati Arista pun akhirnya luluh. Apapun yang terjadi dia harus siap, kenyataan sepahit apapun yang akan dia terima, dia harus bisa tetap berdiri tegak dengan penuh percaya diri di samping calon suaminya, di samping Mas Louis tersayangnya.
"Kamu siap?" Tanya Louis lagi sebelum dia benar-benar membuka pintu kamar.
Arista menganggukkan kepalanya seraya memejamkan kedua matanya, tak lupa dia pun menarik napasnya panjang sebelum pintu kamar benar-benar di buka lebar.
Ceklek ....
Pintu pun di buka, Louis dengan penuh percaya diri dan langkah kaki lebarnya mulai melangkah keluar bersama Arista calon istrinya. Arista pun nampak menggenggam kuat jemari hangat calon suaminya, mencoba mengimbangi langkah kaki Louis berjalan menuju ruang tamu dimana wanita bernama Clara itu berada.
"Daddy ..." Suara David terdengar nyaring diiringi suara langkah kaki kecilnya berlari menghampiri ayahnya yang sudah lama tidak dia temui.
"David, putra kesayangan Daddy," jawab Louis berjongkok dan segera memeluk tubuh David putra yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
"Daddy ... Hiks hiks hiks ..." Tangis David pun pecah seketika di dalam pelukan sang ayah meluapkan kerinduan yang teramat dalam.
"Daddy kangen banget sama kamu, Nak. Kamu udah besar sekarang, astaga putra Daddy hiks hiks hiks ..." Louis pun tidak kuasa menahan rasa harunya, dia menangis sesenggukan memeluk tubuh putra yang kini sudah lebih tinggi dari terkahir kali mereka bertemu.
"Daddy jahat, kenapa Daddy gak pernah nemuin aku? Apa Daddy udah gak sayang sama aku, heuh ... Hiks hiks hiks ..."
"Nggak, bukan kayak gitu, sayang. Daddy gak tau kamu sama Mommy kamu tinggal dimana, sebenarnya Daddy pun ingin ketemu sama kamu, tapi--" jawab Louis mengurai pelukan lalu menatap wajah David dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Tapi apa, Dad?"
"Nggak, bukan apa-apa. Kamu ke sini sama siapa? Mommy kamu kemana?" Tanya Louis menatap sekeliling mencari keberadaan mantan istrinya.
"Aku ke sini sama Mommy, dia lagi ada di dapur sama bibi. O iya, Dad. Tante ini siapa? Apa Daddy sudah menikah lagi?" Tanya David, menatap Arista dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"O iya, Daddy sampai lupa. Kenalin, Tante ini namanya Tante Arista, dia calon Mommy kamu," Louis meletakan tangannya di bahu Arista mengenalkan kepada putra semata wayangnya dengan penuh Percaya diri.
"Calon Mommy?" David membulatkan bola matanya merasa terkejut.
"Iya, sayang."
"David, kenalin nama saya Tante Arista." Arista mengenalkan diri sendiri ramah dan penuh kasih sayang seraya mengulurkan tangannya.
David hanya terdiam, wajahnya terlihat begitu sedih mengabaikan uluran tangan Arista.
"DAVID ...!" Terdengar suara Clara berjalan dari arah dapur berteriak memanggil nama putranya dengan membawa segelas susu hangat.
"Mas Loui--"
Prank ....
Seketika Clara menjatuhkan gelas yang digenggamnya, gelas itu pun seketika pecah begitupun dengan susu hangat yang kini berjatuhan membasahi lantai.
"Aaa-arista? Adikku--" terbata-bata Clara memanggil nama adiknya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️