
Satu tahun Kemudian.
"Sayang ... Dasi Mas yang warna merah dimana?" Teriak Louis berdiri tepat di depan cermin di dalam kamarnya.
"Iya, Mas. Sebentar, ini si kembar rewel." Jawab Arista berjalan masuk ke dalam kamar.
"Memangnya si kembar kenapa? Tumben rewel?" Tanya Louis menoleh dan menatap si kembar yang saat ini di gendong oleh Arista.
"Eak ... Eak ... Eak ..." Tangis si kembar secara bersamaan.
"Sayang, kamu kenapa, Nak?"
"Eak ... Eak ... Eak ..."
"Sayang, gendong Daddy ya."
Louis menggendong baby Bulan dan menimangnya.
"Badan Bulan panas, sayang." Ucap Louis meletakkan punggung tangannya di kening Bulan.
"Bintang juga panas, gimana ini? Apa kita bawa ke Rumah Sakit saja, Mas."
"Ya udah, Mas gak masuk kantor hari ini, kita ke Rumah sakit saja ya."
Arista menganggukkan kepalanya.
Keduanya pun menggendong si kembar lalu membawanya ke Rumah Sakit.
"JODI, CEPAT SIAPKAN MOBIL?" Teriak Louis berlari keluar dari dalam kamar.
"Berangkat ke kantor sekarang, Tuan bos?"
"Bukan ke kantor tapi ke Rumah Sakit."
"Hah? Si kembar sakit?"
"Iya, udah jangan banyak omong, jangan banyak nanya, siapin saja mobilnya cepetan ..." Gerutu Louis dengan setengah berlari menggendong tubuh Bulan sementara Arista menggendong Bintang.
"Baik, Tuan bos. Hadeuh mulai deh marah-marahnya kumat." Gumam Jodi berlari mendahului Tuannya.
Di Rumah Sakit.
"Bagaimana keadaan putri-putri saya, Dokter?" Tanya Louis, wajahnya terlihat begitu khawatir.
"Baby kembar cuma panas biasa, sepertinya mereka akan segera berjalan, makannya demam seperti ini." Jawab sang Dokter sesaat setelah selesai memeriksa si kembar.
"Memangnya seperti itu ya, Dokter?''
"Tentu saja. Bayi umur segini memang rentan terkena demam, apalagi kalau bayi mau pintar melakukan sesuatu, pasti demam tinggi dan hal itu memang biasa. Nanti saya resep'kan obat penurun demam ya."
__ADS_1
"Tapi mereka akan baik-baik saja 'kan? Apa perlu di rawat segala?"
"Tidak usah, Tuan. Setelah meminum obat penurun panas, nanti juga panasnya turun dan sehat seperti sedia kala lagi. Kalian tidak usah khawatir."
"Baiklah, Dok. Saya minta obat yang paling bagus ya."
"Baik, Tuan. Saya akan meresepkan obat terbaik untuk baby kembar."
Louis dan Arista menganggukkan kepalanya seraya menggendong tubuh si kembar.
Setelah dari Rumah sakit, mereka pun kembali ke rumah dan tentu saja Louis benar-benar batal berangkat ke kantor dan lebih memilih tinggal untuk menjaga baby kesayangannya.
Si kembar nampak sudah sedikit tenang. Dia tertidur di dalam gendongan ayah serta ibunya seraya di timang-timang.
"Mas ... Apa tidak sebaiknya kamu berangkat ke kantor?" Tanya Arista dengan setengah berbisik.
"Tidak, sayang. Mana mungkin Mas tega ninggalin si kembar lagi sakit seperti ini. Nanti kamu kerepotan lho."
"Gak apa-apa, ada Bibi yang nemenin nanti."
"Tetap saja, kasian si kembar kalau gak ada Mas. O iya sayang, apa tidak sebaiknya kita sewa baby sister saja? Semakin hari si kabar semakin aktif lho. Kamu pasti kewalahan ngurusin mereka sendirian.''
"Hmm ... Entahlah, 'kan ada Mas juga yang bantuin, ada bibi juga. Rasanya aku agak gimana gitu kalau si kembar di urus sama orang lain."
"Mas 'kan tidak 24 jam ada di rumah, harus ngantor juga. Bibi juga tidak pokus ngurusin si kembar, ada banyak pekerjaan yang harus dia lakukan juga."
Arista terdiam sejenak. Tubuhnya yang digoyangkan ke kiri dan ke kanan nampak menghentikan gerakannya sekejap seolah sedang berfikir.
"Eu ... Mas, rasanya gimana ya. Andai saja kita punya saudara yang bisa kita jadikan baby sister. Aku kurang begitu percaya kalau sama orang yang baru dikenal.''
"Ya kita ambil baby sister-nya dari yayasan resmi dan terpercaya dong. Kita bandrol mereka dengan gaji yang besar, biar mereka lebih tanggung jawab lagi buat ngurusin si kembar.''
Arista kembali terdiam.
"Ya udah, besok Mas tanya-tanya sama Ingrid, siapa tau dia punya saudara yang bisa di jadikan baby sister."
"Lho, ko nanyanya sama sekertaris kamu? Memangnya dia punya yayasan resmi seperti yang Mas katakan tadi?" Arista mengerucutkan bibirnya.
"Tidak seperti itu juga. Siapa tau aja dia punya--"
"Kenapa si apa-apa nanya'nya harus sama sekertaris kamu yang cantik dan sek*i itu? Emangnya Mas gak ada karyawati lain lagi apa?''
Kali ini Louis yang terdiam, dia menatap lekat wajah Arista dengan tersenyum cengengesan.
"Ko kamu tiba-tiba kesal kayak gitu? Jangan bilang kalau kamu cemburu sama dia?" Celetuk Louis tersenyum mengejek.
"Apa cemburu? Hahahaha ... Siapa bilang aku cemburu, gak ada kerjaan banget si?"
Eak ... Eak ... Eak ....
__ADS_1
Tiba-tiba saja baby Bintang yang di gendong Arista pun menangis karena terkejut mendengar suara tawa ibunya.
"Sttt ... Kamu ini, jadi bangun 'kan?"
"Cup ... Cup ... Cup ... Sayang, maaf ya Mommy ketawanya kekencangan. Cup ... Sayang ..." Gumam Arista mengusap punggung baby Bintang lembut dan penuh kasih sayang.
Perbincangan mereka pun seketika di hentikan karena tidak ingin baby kembar sampai terjaga dari tidurnya.
Sudah hampir dua jam mereka berdiri dengan menimang si kembar, tanpa duduk dan beristirahat sedikitpun. Karena kondisi si kembar sedang sakit seperti itu membuat mereka selalu ingin gendong.
"Sayang, Mas pegel banget ini." Bisik Louis berbicara sepelan mungkin.
"Sama, Mas. Aku juga pegel. Aku coba tidurkan dia di box bayi ya.''
Louis menganggukkan kepalanya.
Dengan sangat hati-hati, Arista pun mencoba untuk membaringkan Bintang di dalam box bayi. Untungnya Bintang yang sudah tertidur lelap pun bisa mendarat dengan sempurna di dalamnya membuat Arista kini tersenyum senang.
Giliran Louis yang mencoba untuk membaringkan Bulan di dalam box bayi, dengan sangat hati-hati dan sedikit memejamkan matanya dia pun mencoba membaringkan Bulan dengan gerakan sehalus mungkin, dan akhirnya Baby Bulan pun bisa mendarat persis seperti saudara kembarnya.
Louis pun tersenyum penuh kemenangan. Dia merentangkan kedua tangannya juga menggerakkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan mencoba melenturkan ototnya yang sempat tegang.
"Untunglah mereka berdua tidur lelap sekali. Astaga pinggang Mas, sakit banget ini." Gerutu Louis memejamkan mata.
"Mau aku pijitin?"
"Plus-plus ya?"
"Dih ..."
"Hehehe ... Sekalian olah raga, siapa tau dengan olah raga ranjang pegelnya Mas hilang hehehehe ...'' Louis cengengesan.
"Hmm ... Dasar. Tapi, kalau nanti si kembar bangun lagi gimana?"
"Gak bakalan, sebentar aja ko. Ya ... Ya ... Ya ..."
Arista pun mengangguk juga akhirnya.
Keduanya pun berjalan ke arah ranjang lalu berbaring dan siap untuk memulai kegiatan olah raga ranjang seperti yang baru saja dikatakan oleh Louis.
Perlahan, Louis pun mulai mendekatkan wajahnya hendak mendaratkan ciu*an dan Arista pun nampak memejamkan mata siap menerimanya dengan hati bahagia dan juga memejamkan kedua matanya.
Akan tetapi sedetik kemudian ....
Eak ... Eak ... Eak ....
Si kembar pun seketika menangis secara bersamaan membuat Louis menghentikan gerakan kepalanya dengan wajah kesal.
"Astaga, Bulan ... Bintang ... Kalian ... Hiks ..." Gerutu Louis merasa kesal.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️