
Jodi menatap dengan perasaan tidak percaya hadiah yang luar biasa yang diberikan oleh Louis Gabriel, majikannya yang telah resmi menjadi kakak iparnya kini.
Matanya bahkan terlihat berkaca-kaca menahan rasa haru karena Louis sudah sangat-sangat baik terhadapnya selama ini.
"Tuan Louis? Anda--" terbata-bata Jodi tidak kuasa meneruskan ucapannya.
Jodi pun berlari turun dari atas panggung lalu seketika segera memeluk tubuh Louis dan sedikit terisak. Tentu saja, Louis pun merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Jodi dan menganggap bahwa hal itu sangat lebai menurutnya.
"Tuan Bos. Makasih, makasih banget ...'' lirih Jodi mendekap erat tubuh Louis Gabriel.
"Hentikan, jangan sampai seperti ini geli tahu dipeluk-peluk sama kamu lebay banget sih." Gerutu Louis mungurai kasar pelukan Jodi.
"Hehehe ... Akhirnya saya bisa peluk, Tuan juga. Sudah lama saya ingin melakukan hal ini. Anda benar-benar baik hati dan tidak sombong. Saya beruntung punya majikan seperti anda."
"Tapi kamu mau resign jadi asisten saya 'kan?"
"Kata siapa?"
"Kan kamu sendiri yang bilang waktu itu kepada saya."
"Kalau Saya tidak bekerja kepada Tuan bos. Saya harus bekerja apa lagi? Mana mungkin saya numpang hidup kepada mertua saya? saya juga 'kan sudah berjanji kalau saya akan bekerja seumur hidup saya untuk Tuan. Lagian saya masih punya hutang sama perusahaan, mana mungkin saya resign begitu saja." Jelas Jodi panjang lebar dan Louis pun seketika tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kamu serius?"
"Tentu saja, kapan saya pernah bohong sama Tuan?"
Grep ....
Louis pun seketika memeluk tubuh Jodi erat, padalah sebelumnya dia sendiri mengatakan kepada Jodi bahwa dia sama sekali tidak suka jika dirinya peluk-peluk seperti itu.
"Makasih, Jodi. Makasih karena kamu masih mau berkerja dengan saya. Saya tidak tau apa jadinya saya jika tidak ada kamu." Ucap Louis dengan hati senang.
"Tuan bos. Tadi katanya geli di peluk-peluk sama saya? Sekarang ko Tuan yang peluk saya. Memangnya udah gak geli lagi ya?''
Louis seketika mengurai pelukan dengan wajah memerah.
"Tuan bos beneran gak bisa hidup tanpa saya 'kan?" Ledek Jodi sedikit cengengesan.
"Hah? Kata siapa? Lebay tau." Ketus Louis wajahnya semakin memerah kini.
"Wajah Tuan bos merah, Tuan bos malu 'kan?'' Jodi semakin meledek.
"Jodi, mana kunci mobilnya? Hadiahnya gak jadi saya berikan dan kamu saya pe--"
__ADS_1
"Ampun, Tuan bos. Maaf saya bercanda tadi. Gak baik juga tau hadiah yang sudah diberikan di ambil lagi. Gimana si." Jawab Jodi mengusap wajahnya kasar.
"Kalau kamu gak mau di pecat, mendingan kamu diam sekarang atau hadiah kamu ini akan saya ambil lagi, mengerti?" Tegas Louis penuh penekanan lalu pergi begitu saja dari hadapan Jodi dengan wajah kesal. Namun, sedetik kemudian bibirnya pun tersenyum lebar tanpa di saksikan oleh siapapun.
Arista yang menyaksikan hal itu pun nampak tersenyum menatap punggung suaminya yang saat ini berjalan menjauh dari arah panggung.
'Syukurlah Jodi gak jadi resign.' (Batin Arista.)
"Nadia, Bapak, saya pamit ya. Lihat, saya sudah di tinggal sama Mas Louis," pamit Arista sedikit terkekeh.
"Ya udah tidak apa-apa, bilangin sama kakak ipar, terima kasih atas hadiahnya." Jawab Nadia ramah.
Arista menganggukkan kepalanya balas tersenyum ramah. Kemudian, dia bersama David pun turun dari atas panggung lalu menyusul suaminya yang saat ini semakin berjalan meninggalkan pesta.
"Mas, Mas Louis tunggu aku,'' teriak Arista dengan setengah berlari menyusul suaminya begitupun dengan David sang putra.
Sementara Jodi, dia hanya bisa menatap punggung Tuan bosnya dengan tersenyum senang.
'Terima kasih Tuan bos. Saya doakan semoga rumah tangga anda selalu bahagia dan semakin dilimpahkan rejekinya oleh Tuhan Yang Maha Esa.' (Batin Jodi.)
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
SELAMAT MALAM READER, MAMPIR JUGA DI KARYA SAHABAT OTHOR YA. MUDAH-MUDAHAN BISA MENGHIBUR KALIAN SEMUA.