Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Dewasa


__ADS_3

Keesokan harinya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Ceklek ....


"Mom? Apa Mommy sudah bangun?" Tanya David masuk ke dalam kamar ibu sambungnya dengan membawa satu gelas penuh susu hangat.


Memang sudah dua hari ini Arista tidak melakukan kegiatan apapun selain berbaring di atas ranjang. Kehamilannya yang pertama ini benar-benar membuat tubuhnya terasa lemas bahkan tidak berselera untuk makan apapun.


Rasa mual, di tambah perutnya yang kosong membuat tenaga di dalam tubuh Arista benar-benar terkuras habis tidak bersisa. Arista pun mulai mengedipkan matanya secara perlahan saat mendengar suara putranya itu masuk ke dalam kamar.


"Kamu gak sekolah?" Tanya Arista mencoba untuk duduk dengan bersandar bantal di belakang punggungnya.


"Aku baru aja pulang, Mom. Ini udah siang lho, apa Mommy belum bangun sama sekali?'' jawab David berjalan mendekat.


"Badan Mommy lemas banget, Mommy juga malas melakukan apapun. Jadinya ya gini deh, rebahan aja di kamar kayak orang yang gak ada kerjaan,'' jawab Arista tersenyum kecil.


"Aku bawain susu hangat buat Mommy, diminum dulu ya." David menyerahkan gelas berisi susu hangat yang sengaja dia buat khusus untuk sang ibu


"Makasih, sayang. Kamu memang anak yang baik dan perhatian. Tau aja kalau sebenarnya Mommy emang lapar," ucap Arista menerima gelas tersebut dan langsung diminum habis tidak bersisa.


"Hmm ... Rasanya ko beda sama yang kemarin ya.''


"Jelas beda, Mom. Susu yang aku bawa ini adalah susu khusus ibu hamil, Daddy sengaja beliin buat Mommy lho.''

__ADS_1


"O ya? Hmm ... Mommy kangen sama Daddy kamu. Akhir-akhir ini Daddy kamu benar-benar sibuk, sampai-sampai Mommy bangun aja dia udah berangkat kerja.''


"Itu karena Daddy gak mau gangguin tidurnya Mommy, makannya beliau langsung berangkat kerja."


"Kamu memang anak yang pintar, sayang. Mmuach ..." Arista mengecup pucuk kepala David lembut dan penuh kasih sayang.


"Sebenarnya aku juga lagi rindu banget sama Mommy Clara."


Arista seketika menundukkan kepalanya mengingat sosok sang Kaka. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia pun mengakui bahwa dirinya sangat merindukan sosok Clara.


Apa yang akan Clara lakukan jika dia tau bahwa, kedua orang tuanya sedang mencari mereka berdua setelah sekian lama? Apakah sang kakak akan melakukan hal yang sama seperti dirinya? Menghindar dan tidak ingin bertemu dengan mereka?


Akh ... Entahlah, dada Arista terasa semakin sesak saat memikirkan hal itu. Ingin rasanya dia bertemu dengan Clara hanya untuk bertanya, 'Apa yang harus dia lakukan sekarang?'


Suara David seketika membuyarkan lamunan panjang Arista, dia pun mengusap wajahnya kasar lalu menoleh menatap wajah David dengan tatapan sayu dan wajah pucat paci.


"Mommy juga kangen sama Mbak Clara, ibu kamu."


"Aku tau Mommy itu jahat, aku juga tau kalau dulu Mommy menduakan cinta Daddy."


"Hah? Anak kecil kayak kamu tau darimana tentang hal itu?" Arista seketika membulatkan bola matanya menatap wajah David sang putra.


"Ya ... Aku tau semuanya. Meskipun aku anak kecil, aku punya mata dan telinga. Aku bisa melihat dan mendengar saat Mommy Clara dan Daddy bertengkar dulu. Satu lagi, aku juga punya otak yang aku gunakan untuk berfikir." Jawab David berbicara layaknya orang dewasa.


"Astaga David. Kamu cerdas sekali, ya Tuhan. Apa Daddy kamu menurunkan kecerdasannya sama kamu? Mommy benar-benar salut sama kamu, sayang.''

__ADS_1


"Tapi, Mom. Aku sekalipun tidak pernah membenci Mommy Clara, karena apa? Karena dia ibu kandung aku dan wanita yang telah melahirkan aku ke dunia ini. Sejahat apapun dia, meskipun Mommy Clara telah meninggalkan aku di sini, aku tetap sayang sama dia. Jadi, aku ingin Mommy pun seperti itu.''


"Maksud kamu?" Tanya Arista mengerutkan kening.


"Seperti yang aku katakan tadi, meskipun aku anak kecil, aku punya mata dan telinga. Aku mendengar semua yang Mommy bicarakan bersama Daddy kemarin, aku harap Mommy mau bertemu dengan orang tua kandung Mommy, kakek dan nenek aku."


"Da-vid?" Terbata-bata dia merasa terhenyak dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut anak berusia 12 tahun itu.


Ada rasa malu yang kini terselip di dalam hati seorang Arista, kenapa dia tidak se'dewasa putranya yang umurnya masih sangat muda? Kenapa dia tidak memiliki hati se'lapang David yang bisa memaafkan semua perbuatan mendiang Kakaknya padahal Clara telah melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji dahulu.


Arista pun menundukkan kepalanya benar-benar merasa malu dengan sikapnya sendiri.


"Mommy malu sama kamu, Dav. Ternyata Mommy gak se'dewasa kamu. Mommy masih kayak anak kecil yang suka merajuk dan merengek.'' Lembut Arista dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini.


David pun seketika langsung memeluk tubuh ibu sambungnya erat dan penuh kasih sayang.


"Jadi, Mommy temui orang tua Mommy dan tanyakan kepada mereka kenapa dulu meninggalkan Mommy dan juga Mommy Clara, jangan seperti aku, aku tidak sempat menanyakan hal itu kepada Mommy Clara sampai akhirnya dia pergi untuk selama-lamanya." Lirih David di dalam dekapan sang ibu.


"Iya, Dav. Mommy akan menanyakan hal itu sama mereka. Setelah Mommy tau alasannya, baru Mommy akan mengambil keputusan, apakah Mommy akan membenci mereka atau, akan menerima dan memaafkan mereka?'' Jawab Arista penuh keyakinan seraya mengecup pucuk kepala putra kesayangannya.


"Makasih, sayang. Mommy beruntung punya putra yang cerdas kayak kamu.''


"Aku juga beruntung karena punya ibu sambung yang mau menyayangi aku layaknya anak kandung sendiri." Jawab David balas mencium pipi kiri ibu sambungnya tersebut.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2