
"Kamu serius?" Tanya Louis. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, karena dahulu sewaktu mereka masih berumah tangga mantan istrinya tidak memiliki gejala penyakit seperti itu.
"Iya, Mas. Itu sebabnya aku menitipkan David di rumah Mas. Karena aku gak ingin dia tau kalau ibunya ini mengidap penyakit kayak gini."
"Tapi, bukannya dulu kamu baik-baik aja?"
"Dari dulu aku gak baik-baik aja, Mas. Hanya saja, dulu aku rajin berobat dan melakukan konsultasi ke psikiater tanpa sepengetahuan kamu, dan itu juga yang menyebabkan aku selingkuh waktu itu. Maaf ..." Jawab Clara menundukkan kepala merasa malu sebenarnya.
"Kenapa kamu gak bilang sama Mas dari dulu? Kenapa kamu menyembunyikan semua ini?" Tegas Louis merasa kecewa, sangat kecewa.
"Aku gak mau kamu merasa ilfil sama aku. Aku gak mau kamu ninggalin aku. Tapi, aku malah berbuat kesalahan fatal yang tidak termaafkan. Aku benar-benar minta maaf, Mas.''
"Maaf kamu gak ada gunanya, percuma kamu minta maaf untuk sesuatu yang udah lama terjadi." Jawab Louis datar menatap ke arah depan.
"Aku tau, Mas. Aku sama sekali udah gak punya kesempatan lagi. Aku tau betul hal itu."
"Hmm ..." Louis menghela napas panjang lalu mulai berdiri dan hendak pergi.
"Mas ..."
Louis seketika menghentikan langkah kakinya.
"Kapan kamu menikah sama Arista? Apa dia baik-baik aja?" Tanya Clara menatap punggung Louis, ingin rasanya dia bersandar di pundak lebar laki-laki yang dahulu pernah sangat mencintainya itu.
"Dia baik-baik aja. Lima hari lagi kami menikah," jawab Louis datar dan hendak kembali melangkah.
"Tunggu, Mas."
Louis kembali menghentikan langkah kakinya.
"Aku titip Arista. Tolong jaga dia dengan baik."
"Aku akan melakukannya tanpa kamu minta, Clara. Karena aku sangat mencintai dia."
__ADS_1
Tegas Louis dan hendak kembali melangkah namun, tiba-tiba saja dia menghentikan langkah kakinya lalu menoleh menatap wajah Clara sang mantan istri.
"Jaga diri kamu baik-baik dan jangan mengkhawatirkan adik serta putra kita, karena aku akan menjaga mereka dengan baik." Pesan Louis sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Clara sendiri di sana.
Clara pun hanya bisa termenung sendiri meratapi nasib malang dan kehidupannya yang begitu mengenaskan. Sejenak, dia pun menyesali perbuatannya dahulu, andai saja dirinya tidak berselingkuh, mungkin saja Louis sekarang masih menjadi suaminya dan keluarga mereka masih utuh dan juga bahagia.
Air mata seorang Clara pun tiba-tiba turun berjatuhan merasakan sesak di dadanya, sangat sesak. Dia pun meraih obat penenang dari dalam tas kecil yang melingkar di bahu kirinya lalu segera meminumnya agar perasaannya tidak kembali terguncang.
♥️♥️
Di dalam Rumah Sakit.
Arista menunggu dengan perasaan khawatir karena sampai saat ini, baik David maupun Jodi masih sebelum juga kembali. Dia pun mencoba memejamkan mata dan menenangkan perasaannya, sampai tiba-tiba pintu ruangan pun dibuka Jodi dan David masuk ke dalam ruangan lalu berdiri tepat di samping ranjang.
"David, sayang. Syukurlah kamu sudah diketemukan, Tante benar-benar khawatir sama kamu." Ucap Arista menatap wajah David dengan perasaan lega.
"Maaf karena telah membuat tante khawatir, tadi aku habis ketemu sama Mommy di luar."
David menganggukkan kepalanya.
"Di mana dia sekarang? kenapa dia nggak ke sini? Mas Louis juga mana? apa mereka lagi bersama?"
"Mommy ada di luar sama Daddy."
Deg ....
Tiba-tiba saja hati Arista mendadak merasa panas, perasaan yang baru pertama kali dia rasakan, dan rasanya sangat sakit. Apakah Arista cemburu? Tentu saja, dia merasa sangat cemburu mendengar calon suaminya sedang bersama kakak kandungnya sendiri yang merupakan Mantan istrinya.
"Mereka cuma lagi ngobrol biasa, calon Nyonya besar. Nyonya tidak usah khawatir." Ucap Jodi secara tiba-tiba seolah mengerti dengan isi hati seorang Arista.
Arista hanya tersenyum hambar.
Ceklek ....
__ADS_1
Pintu ruangan pun dibuka, Louis masuk ke dalam ruangan dengan tersenyum kecil menatap wajah Arista yang saat ini sudah terlihat segar.
"Gimana, udah siap di suntik vitamin?"
"Gak, aku gak mau," tolak Arista ketus memalingkan wajahnya.
"Sayang ... Arista-nya Mas Louis, ko kamu gitu, sayang. Kamu 'kan udah janji mau di suntik tadi?" Ucap Louis merasa kecewa.
Jodi yang sudah tau bahwa pasti akan terjadi perdebatan hebat seperti sebelumnya, segera mengajak David untuk keluar dari ruangan tersebut agar tidak menyaksikan pemandangan yang tidak mengenakan itu.
"Den, kita tunggu di luar ya," pinta Jodi dan di jawab dengan anggukan oleh David.
Mereka berdua pun berjalan keluar dari dalam kamar.
Louis pun menatap wajah Arista yang masih saja memalingkan wajahnya dari semenjak dirinya masuk ke dalam sana. Wajah Arista pun terlihat kecut dan masam, tidak ceria seperti biasanya.
"Kamu kenapa, Sayang? apa kamu marah sama mas?"
Arista hanya terdiam tidak menjawab.
"Kalau Mas punya salah, ngomong dong jangan diam kayak gini?"
Arista masih saja diam seribu bahasa tanpa menoleh sedikitpun.
"Sayang?" Louis meletakkan telapak tangannya di kedua sisi pipi Arista seraya menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Arsita pun menatap wajah tampan Mas Louis'nya, menatap bola mata bundarnya dengan alis tebal yang terlihat begitu tampan.
"Mas udah puas ngobrol sama Mbak Clara? Apa dia baik-baik aja? Kenapa gak sekalian aja Mas bawa dia ke sini? Atau, Mas ajak pulang aja dia sekalian, kalau Mas mau balikan sama dia juga gak apa-apa, biar aku yang mundur," ketus Arista membuat Louis seketika tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1