
Louis seketika termenung merasa Dilema, apa yang harus dia lakukan sekarang? Mana mungkin orang yang sudah di makamkan selama lebih dari 20 tahun bisa dipindahkan begitu saja. Terlebih makan itu dari luar negara, sesuatu yang sangat sulit untuk di lakukan.
Akan tetapi, dia tidak kuasa melihat kesedihan yang diperlihatkan oleh Arista sang istri yang saat ini sedang dalam keadaan mengandung buah hatinya. Louis tidak ingin jika kesedihan yang saat ini dirasakan oleh istrinya itu berakibat buruk terhadap kandungannya.
"Mas?"
Rengek Arista dengan suara manja seperti biasanya, lengkap dengan buliran air mata yang masih saja berjatuhan dengan begitu derasnya.
Louis hanya bisa menatap wajah sang istri dengan tatapan iba. Dia sama sekali tidak pernah bisa melihat wajah sedih Arista yang membuat hatinya merasa begitu terluka.
"Siapa nama anda Nyonya Louis?" Tanya Tuan Alex menatap wajah Arista dengan tatapan iba.
"Arista Aditama, itu nama saya."
"Nyonya Arista, jika anda ingin makam mendiang Wina di pindahkan ke Indonesia, saya akan usahakan. Saya yang akan mengurus kepulangan jenazah beliau selamat sampai di sini. Semua ini saya lakukan sebagai permohonan maaf saya dan istri saya."
"Serius, Tuan Alex? Saya benar-benar akan sangat berterima kasih jika anda bisa melakukan hal itu, sungguh.''
"Tidak usah berterima kasih, Nyonya Arista. Sudah seharusnya saya melakukan hal ini untuk menebus semua kesalahan saya yang tidak segera menemukan kalian di sini. Saya akan segera mengirim kabar kepada kalian setelah saya menyelesaikan prosedur di sana."
"Tapi, apakah saya boleh terbang ke sana juga? Saya ingin melihat proses pemindahan makam ibu saya itu."
__ADS_1
"Tidak bisa, sayang." Sela Louis membuat Arista merasa kesal.
"Mas ini kenapa si? Dari tadi gak bisa mulu." Ketus Arista menatap kesal wajah suaminya.
"Kamu gak punya faspor, sayang."
"Aku bisa bikin itu sekarang juga."
"Gak bisa langsung selesai dalam waktu satu hari, butuh waktu selama satu bulan buat bikin faspor."
"Bohong.''
"Astaga ... Dengerin Mas. Arsita Aditama istrinya Mas Louis. Apa kamu lupa kalau kamu lagi hamil? Usia kandungan kamu masih rentan, kamu lupa apa kata Dokter? Kamu harus banyak istirahat. Usia kandungan kamu belum aman untuk di bawa terbang."
"Kamu mengerti apa yang Mas katakan? Andai saja makam ibu kamu masih berada di Indonesia dan tidak perlu naik pesawat, Mas pasti akan mengantarkan kamu kemanapun itu. Tapi, untuk kali ini Mas mohon nurut sama Mas. Demi kandungan kamu, demi anak kita.''
Arista masih diam membisu. Dia pun mengakui bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya itu memanglah benar adanya.
"Mas akan ikut ke sana untuk mengurus kepulangan mendiang ibu kamu. Mas janji akan membawa beliau dan memakamkan beliau di dekat Clara seperti yang kamu inginkan." Ucap Louis lagi mengusap telapak tangan Arista lembut dan penuh kasih sayang.
"Benar apa yang dikatakan oleh Tuan Louis, Arista. Lebih baik kamu tunggu di sini saja, biarkan suami-suami kita yang mengurus semua ini. Kamu tau, suami saya adalah orang yang berpengaruh di Singapura. Jadi, kamu tidak usah khawatir makan ibumu pasti akan pulang dengan selamat seperti harapan kamu.'' Lirih Miss Shopia ikut meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menuruti keinginan Mas kali ini. Tapi, Mas harus janji akan membawa jenazah ibu dengan selamat sampai ke sini.'' Ucap Arista akhirnya.
"Pasti, sayang. Mas pasti akan bawa ibu mertua Mas itu dengan aman sampai beliau dimakamkan kembali di sini. Kamu yang sabar ya, mas gak bisa liat kamu sedih kayak gini. Kamu juga harus jaga kandungan kamu dengan baik selama Mas gak ada.''
Arista menganggukkan kepalanya lalu memeluk tubuh suaminya erat, sangat erat.
"Baiklah, kapan anda bisa terbang ke Singapura, Tuan Louis?"
"Terserah anda, saya bisa terbang kapanpun." Jawab Louis mengurai pelukan.
"Bagaimana jika besok pagi kita langsung terbang ke sana. Lebih cepat lebih baik."
"Baik, saya akan mempersiapkan berkas-berkas yang nantinya akan diperlukan di sana."
"Baiklah, kami permisi sekarang, Tuan Louis." Pamit Tuan Alex berdiri dan hendak pergi.
"Tunggu, Tuan Alex. Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan sama anda." Cegah Arista menatap lekat wajah Tuan Alex.
"Silahkan, saya akan menjawab semua pertanyaan anda selagi saya tau." Jawab Tuan Alex kembali duduk di kursi semula.
"Sebelumnya, saya tidak pernah merasa penasaran tentang siapa kedua orang tua saya karena sedari kecil pun saya sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang mereka, bahkan saya pun sudah tidak dapat mengingat wajah dan semua kenangan tentang mereka telah memudar dari memori otak saya termakan oleh waktu."
__ADS_1
"Akan tetapi, setelah saya menemukan ibu saya meskipun hanya berupa kabar duka. Saya jadi penasaran dengan keadaan ayah saya, apakah anda bersedia membantu saya untuk menemukan beliau? Anggap saja ini untuk membayar lunas keterlambatan anda dalam menemukan saya selama 20 tahun ini.'' Ucap Arista tegas dan penuh penekanan, membuat Louis sang suami seketika merasa tertegun dan kagum dengan setiap kata yang terucap dari bibir istrinya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️