
"Tunggu, Bapak ..." Lirih Arista berjalan menghampiri dengan wajah pucat pasi dan bola mata memerah.
Tuan Adrian pun seketika menghentikan langkah kakinya, begitupun dengan Rian sang Assisten yang kini tersenyum kecil.
Louis yang semula memegang kedua bahu istrinya pun seketika melepaskan kedua tangannya, dan membiarkan Arista berjalan mendekati ayah kandungnya dengan tatapan mata yang tidak luput sedikitpun dari tubuh sang istri.
"Jangan pergi dulu, Pak. Rista ingin mengatakan sesuatu sama Bapak." Pinta Arista sedikit terisak.
Tuan Adrian pun berbalik dan menatap dengan tatapan sayu wajah putrinya lalu menghampiri sang putri.
"Iya, sayang. Bapak akan di sini selama yang kamu mau."
"Maaf karena aku terlalu keras sama Bapak. Aku memang belum bisa sepenuhnya memaafkan apa yang telah bapak lakukan. Semuanya terlalu menyakitkan buat aku. Aku harus kehilangan Putri, Mbak Clara juga, dan terakhir ibu juga pulang hanya tinggal nama. Aku melewati begitu banyak kesulitan yang aku hadapi sendiri.''
"Bapak pasti mengerti bagaimana perasaan aku. Jadi, aku minta waktu sedikit lagi untuk benar-benar bisa memaafkan Bapak. Meskipun begitu, benar apa yang dikatakan oleh pria ini, jauh di lubuk hati aku yang paling dalam, aku senang karena akhirnya aku bisa bertemu dengan bapak, aku pun beruntung masih di beri kesempatan untuk bertemu dan mendengar permintaan maaf dari bapak.'' Lembut Arista.
"Terima kasih, sayang. Bapak sangat-sangat mengerti perasaan kamu. Betapa kamu begitu menderita karena perbuatan bapak di masa lalu, tapi sungguh ... Bapak sangat-sangat menyesal, sayang. Bapak memang bukan seorang bapak yang baik dan bapak tidak bertanggung jawab dan bapak ingin memperbaiki semua itu sekarang, mudah-mudahan bapak masih memiliki banyak waktu untuk melakukan hal itu."
Arista menganggukkan kepalanya masih dengan terisak menahan sesak di dadanya kini.
"Arista, bolehkan Bapak memeluk kamu? Tidak akan lama, sebentar saja." Lirih Tuan Adrian yang langsung mendapatkan persetujuan dari Arista sang putri.
Dengan sangat hati-hati dan air mata yang terus saja berjatuhan dari kedua bola matanya, Tuan Adrian pun memeluk tubuh Arista penuh rasa penyesalan. Tangisnya pun semakin pecah menggelegar tatkala tubuh sang putri berada di dalam dekapannya kini.
"Arista, putri bapak. Bapak benar-benar minta maaf, Nak. Hiks hiks hiks ...''
"Rista juga minta maaf, Pak. Karena telah bersikap terlalu keras tadi, maafkan Rista, Pak. Hiks hiks hiks ..."
Ayah dan putri itu pun meluapkan kerinduan juga penyesalan masing-masing, tangis keduanya bahkan terdengar begitu pilu membuat Rian seketika ikut menetaskan air mata, begitupun dengan Louis yang tidak kuasa menahan rasa haru sekaligus rasa leganya karena apa yang dia khawatirkan tidaklah terjadi.
Akan tetapi, napas leganya tidak bertahan lama karena tiba-tiba saja ....
Bruk ....
__ADS_1
Tubuh istrinya itu ambruk tidak sadarkan diri di dalam pangkuan ayahnya.
"Arista?" Teriak Louis segera menghampiri dengan perasaan khawatir.
"Sayang, Rista. Kamu kenapa, Nak. Bangun sayang." Lirih sang ayah memangku tubuh Arista.
"Saya bilang juga apa? Astaga ...! Hey, kamu bawa mobil 'kan? Bawa kami ke Rumah sakit sekarang juga." Pinta Louis kepada Rian.
Dia segara menggendong tubuh istrinya dan berlari keluar dari dalam rumah tidak peduli jika tubuh Arista yang sedang hamil besar itu terasa begitu berat.
"Cepat siapkan mobil.''
Rian pun segera menganggukkan kepalanya seraya berlari keluar dari dalam rumah dan menyiapkan mobil seperti yang dipintakan.
'Bertahanlah, sayang. Mas mohon, jangan sampai kamu dan juga bayi kita kenapa-napa ...' (batin Louis.)
❤️❤️
Di Rumah Sakit.
Hal yang sama pun dirasakan oleh Tuan Adrian kini. Dia mengutuk sikap egoisnya yang memaksa untuk kembali ke rumah menantunya itu meskipun Louis sudah berkali-kali memperingatkannya.
Tuan Adrian akan merasa semakin bersalah apabila hal buruk menimpa putri kesayangannya itu.
"Maafkan saya, Louis. Seharusnya saya mendengar ucapan kamu. Saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri bila terjadi sesuatu dengan Arista." Lirihnya penuh kesedihan.
Louis hanya bisa menarik napas berat, dadanya terasa begitu sesak hanya untuk mengatakan sepatah kata saja.
Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dari dalam ruangan dengan sedikit tersenyum ramah menghampiri Louis dan juga tuan Adrian.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" Tanya Louis.
"Istri Tuan baik-baik saja, beliau hanya kelelahan dan tekanan darahnya sempat tinggi dan itu tidak baik untuk seorang ibu hamil. Tapi, syukurlah keadaannya sekarang sudah sedikit membaik, akan tetapi beliau harus dirawat selama beberapa hari di sini,'' jawab sang Dokter ramah.
__ADS_1
"Syukurlah ... Tapi dokter, bayi saya juga baik-baik saja 'kan? dia tidak apa-apa 'kan?"
"Syukurlah bayi di dalam kandungan Nyonya juga baik-baik saja, tidak ada hal buruk yang menimpa calon bayi Anda Tuan Louis.''
Louis akhirnya menghembuskan nafas lega, dia mengusap wajahnya kasar seraya memejamkan mata dan mengucap kata syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Hal yang sama pun dirasakan oleh Tuan Adrian, dia memejamkan mata seraya meletakan telapak tangannya di dadanya seolah sedang membenahi perasaannya yang sempat tidak karuan.
"Apakah kami sudah boleh bertemu dengan dia, Dokter?" Tanya Tuan Adrian.
"Tentu saja boleh. Akan tetapi, diharapkan jangan menghujani pasien dengan berbagai pertanyaan dulu, takutnya nanti tekanan darahnya akan kembali naik.''
"Baik, Dokter. Terima kasih."
"Silahkan masuk, saya permisi dulu. Masih ada pasien yang harus saya periksa."
Louis menganggukan kepalanya seraya tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam ruangan dan diikuti oleh Tuan Adrian kemudian.
Di dalam ruangan, Arista nampak sedang termenung sendiri menatap langit-langit ruangan, wajahnya terlihat pucat pasi dengan infus yang menempel di pergelangan tangan kirinya.
Dia pun segera menoleh ke arah pintu, saat Louis dan sang ayah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Mas, Bapak." Sapa Arista dengan suara lemah.
"Kamu baik-baik saja 'kan, sayang? Tidak ada yang sakit 'kan? Pusing mungkin, atau mual? Perut kamu juga baik-baik saja 'kan? Tidak terasa sakit sama sekali?" Tanya Louis.
Dia masih saja bertanya meskipun Dokter sudah menjelaskan sedemikian rupa sebelumnya saat mereka masih di luar, Louis masih merasa belum puas jika belum mendengar dari mulut istrinya sendiri di bahwa dia baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja, Mas. Tubuh aku cuma lemes aja ko." Lemah Arista sedikit tersenyum.
"Syukurlah, Mas senang mendengarnya."
"Kata Dokter, kamu harus di rawat selama beberapa hari di sini, sayang. Bolehkah Bapak ikut menemani kamu di sini?" Tanya sang ayah menatap sayu wajah Arista.
__ADS_1
"Hah? Aku harus di rawat di sini? Aku gak mau, Mas. Kalau nanti aku di suntik gimana? Nggak, aku gak mau. Aku mau pulang saja." Rengek Arista membuat Louis tersenyum seketika dan benar-benar yakin bahwa istrinya benar-benar baik-baik saja.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️