
Dari kejauhan, terlihat sepasang mata yang sedang memperhatikan Louis dan juga Arista. Laki-laki berusia akhir 50-han itu terlihat tersenyum lega saat pemakaman itu selesai diadakan.
Dia pun berbalik dan hendak pergi meninggalkan area pemakaman tersebut namun, sebelumnya dia menoleh terlebih dahulu ke arah Arista dan menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan dan bola mata yang memerah lengkap dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah belum bisa menunjukan diri dihadapan kamu, tunggu sampai ayah siap. Ayah janji akan meminta maaf secara layak kepada kamu, putriku." Gumamnya lalu benar-benar pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju mobil mewah yang diparkir di tepi jalan.
"Apakah Tuan tidak ingin bertemu dengan putri Tuan itu?" Tanya Assisten yang berdiri tepat di samping mobil.
"Tidak usah, biarkan dia menata dulu perasaannya sekarang. Aku yakin Arista masih berduka setelah mendengar kabar tentang ibu kandungnya."
"Tapi, Tuan. Bukankah anda sudah lama mencari beliau? Nona muda Arista?"
"Iya betul, tapi aku tidak yakin kalau dia akan memaafkan saya begitu saja setelah saya meninggalkan keluarga saya sendiri demi--" pria itu tidak meneruskan ucapannya lalu menarik napas panjang mencoba mengatur perasaannya yang sebenarnya sedang berada di ambang dilema.
"Sudahlah sekarang kita pulang saja, kalau saya sudah siap, saya akan menghubungi dia dan meminta maaf dengan layak kepada Arista." Ucapnya lagi lalu mulai membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya dengan perasaan sedih.
Mobil tersebut pun mulai melaju pelan hingga akhirnya melesat di jalanan.
♥️♥️
Setelah acara pemindahan makam selesai. Tuan Alex dan Miss Shopia yang juga ikut mengantar mendiang Wina ke peristirahatan terakhirnya pun nampak mampir terlebih dahulu di kediaman Louis.
Louis memang sengaja meminta Tuan Alex untuk beristirahat di rumahnya agar bisa menjamu rekan bisnisnya dari negeri sebrang itu dengan layak, sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu proses pemindahan sampai selamat dan tanpa ada kendala sedikitpun.
Tuan Alex dan Miss Shopia nampak sedang duduk di ruang tamu rumah mewah dan megah milik Louis dengan tersenyum lega karena akhirnya proses pemindahan makam itu selesai diadakan.
__ADS_1
"Terima kasih atas bantuan anda, Tuan Alex." Ucap Arista ramah diiringi dengan senyuman.
"Sama-sama, Nyonya Arista. Hanya saja, saya masih belum mendapatkan kabar mengenai ayah anda." Jawab Tuan Alex yang juga tersenyum ramah.
"Maaf, kalau saya boleh bertanya. Apakah mendiang ibu saya pernah bercerita mengenai ayah saya? Miss Shopia pernah berkata kalau anda dekat dengan mendiang ibu saya."
"O iya, saya memang dekat dengan Wina. Beliau sempat bercerita sedikit tentang suaminya." Jawab Miss Shopia. Pikirannya melayang ke masa lalu mencoba mengingat masa-masa saat mendiang Wina menceritakan tentang kehidupannya yang mengenaskan.
"Kalau anda tidak keberatan, bolehkah saya tau apa yang diceritakan oleh lbu saya? Atau, setidaknya gambaran seperti apa ayah saya itu?'' tanya Arista lagi, menatap wajah Shopia penuh harap.
"Apa anda yakin ingin mendengar semua itu? Saya tidak yakin anda siap untuk mendengarnya. Semua yang diceritakan Wina bukanlah sesuatu yang enak di dengar. Kisah hidup dan perjalanan rumah tangganya dengan ayah anda sangat rumit dan menyedihkan." Jawab Miss Shopia merasa ragu untuk menceritakan semua yang dia tahu.
"Maksud anda?"
"Hmm ... Sebenarnya--" Miss Shopia kembali merasa ragu membuat Arista semakin merasa penasaran.
"Sayang, kamu lagi hamil lho. Mas gak ingin kamu kepikiran tentang ayah kamu nantinya. Pelan-pelan aja ya." Lirih Louis perasaannya mulai tidak enak.
"Gak apa-apa, Mas. Mas lupa siapa aku? Aku Arista lho, aku udah melewati berbagai macam cobaan hidup yang tidak mungkin sanggup di jalani oleh wanita lain."
"Tapi sayang--"
"Stop, Mas cukup diam dan dengarkan apa yang akan dikatakan oleh Miss Shopia, oke."
Louis hanya menghela napas panjang karena dia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah menang dalam berdebat dengan istrinya, lebih tepatnya dia harus selalu mengalah karena istrinya yang bernama Arista Aditama itu pasti tidak akan pernah mau mengalah darinya.
__ADS_1
'Hmm ... Seperti itulah istriku, keras kepala dan maunya selalu menang,' (batin Louis.)
"Ceritakan saja, Miss. Saya siap ko mendengarnya." Pinta Arista lagi penuh penekanan membuat Miss Shopia pun akhirnya tidak punya pilihan lain selain menceritakan semua yang dia tahu tentang suami dari wanita bernama Wina tersebut.
"Wina pernah bercerita kepada saya kalau suaminya meninggalkan dirinya saat kalian masih kecil, ayah anda nekad nikah lagi dengan seorang janda kaya lalu meninggalkan ibumu begitu saja. Hal itu juga yang membuat beliau nekad bekerja menjadi TKI dan berakhir seperti ini."
Tubuh Arista seketika merasa lemas. Dadanya pun terlihat naik turun menahan rasa sesak. Ternyata ayahnya itu bukanlah orang yang baik, dia tega meninggalkan istri dan anak-anaknya demi menikah lagi dengan wanita lain?
Akh ... Sungguh kenyataan yang luar biasa menyakitkan bagi Arista dan Louis pun menyadari akan hal itu. Dia meraih pergelangan tangan Arista dan menggenggam jemari-nya erat.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Louis menatap wajah sang istri yang kini terlihat pucat pasi.
"Mas benar, seharusnya aku gak menanyakan tentang hal itu. Rasanya sakit, Mas. Ternyata ayahku bukan orang baik, beliau hanya laki-laki yang tidak bertanggung jawab yang meninggalkan istri juga anak-anaknya demi menikah lagi dengan wanita lain yang lebih kaya." Lirih Arista menundukkan kepalanya meremas kuat jemari suaminya.
"Maaf, Nyonya Arista. Seperti itulah yang dikatakan oleh mendiang ibu anda. Tapi, beliau tidak mengatakan lebih lanjut nama dan dimana ayah anda itu berada.''
"Nggak apa-apa, saya pun tidak ingin tau dimana laki-laki jahat itu berada. Ayah macam apa yang tega meninggalkan anak-anaknya bahkan Istinya sendiri seperti itu? Tuan Alex, hutang anda sudah saya anggap lunas. Anda tidak perlu mencarikan keberadaan ayah saya lagi karena mulai sekarang, saya akan menganggap laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu sudah mati." Tegas Arista lalu berdiri dan meninggalkan ruang tamu dengan perasaan yang terluka.
"Maafkan kami, Tuan Louis. Seharusnya kami tidak menceritakan hal itu kepada istri anda," ucap Tuan Alex penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Istri saya memang begitu, saya sudah melarangnya tadi. Tapi, dia tetap bersikukuh ingin mendengarnya.''
"Tapi, apa itu berarti saya tidak usah mencari keberadaan ayah mertua anda?"
"Tidak, lanjutkan pencarian anda secara diam-diam tanpa sepengetahuan istri saya. Saya ingin tahu seperti apa ayah mertua saya itu sebenarnya." Jawab Louis penuh penekanan.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️