
Hati Arista benar-benar merasa hancur, mengingat perjuangannya dalam merawat adik tersayangnya sampai dia tiada. Betapa selama ini dia hidup menderita dan serba kekurangan di tengah keadaan sang adik yang juga sakit-sakitan sampai akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
Hati Clara pun merasa hancur saat mendengar putri, adik yang dulu dia telantarkan sudah tidak ada lagi di dunia ini. Ada rasa sesal yang kini terselip di dalam hati seorang Clara tapi apalah daya, semua penyesalannya terlambat dan penyesalannya tidak akan dapat menghidupkan Putri yang kini telah tenang di alam sana.
Tangis keduanya pun pecah menggema di udara, terdengar pilu bagi siapapun yang mendengar. Tangis kesakitan dan tangis penyesalan dari dua orang kakak yang kehilangan adiknya.
Akan tetapi ada orang lain yang merasakan kesakitan yang lebih dalam, sakit karena harus melihat wanita yang dicintainya terlihat begitu terpuruk dan menangis sesenggukan dihadapannya, sesuatu yang baru pertama kali dia saksikan.
Bahkan, ketika Putri meninggal beberapa waktu yang lalu pun calon istrinya itu tidak terlihat seterpuruk ini, sesedih ini. Arista bahkan menepuk dadanya secara berkali-kali berharap rasa sakitnya akan segera hilang jika dia melakukan hal itu.
Ya ...
Orang itu adalah Louis, tanpa sadar air matanya pun ikut berjatuhan. Air mata yang sama sekali tidak pernah turun karena terakhir kali dia menangis adalah tiga tahun yang lalu saat mengetahui istrinya berselingkuh dan saat dirinya resmi bercerai dari Clara.
Hari ini, air mata itu kembali berjatuhan karena dirinya tidak kuasa melihat Arista, gadis yang sangat dicintainya, calon istrinya menangis sesenggukan di hadapannya benar-benar membuatnya merasa hancur dan terpukul.
Louis mengusap wajahnya kasar, mencoba membersikan sisa air mata yang masih saja berjatuhan dengan begitu derasnya. Dia pun berjalan menghampiri Arista dengan suara isakan yang masih sedikit terdengar.
"Bangun, Ritsa. Bangun, sayang." Pinta Louis berdiri tepat di samping calon istrinya, menatap Arista tanpa melirik apalagi sekedar menoleh ke arah Clara.
"Mas ... Mas Louis ... hiks hiks hiks ..." Lirih Arista mengangkat kepalanya menatap dengan tatapan sayu wajah Mas Louis tersayangnya itu.
__ADS_1
Louis pun mendongakkan kepalanya, menahan air mata yang masih saja hendak berjatuhan. Kemudian, tanpa berfikir panjang dan lagi-lagi mengabaikan perasaan Clara yang saat ini juga membutuhkan dukungan darinya, Mas Louis, Mas Louis sayangnya Arista berjongkok dan menggendong tubuh calon istrinya dengan penuh rasa percaya diri diiringi tatapan iri dari kedua mata Clara.
'Kenapa, kenapa harus dia? Kenapa bukan aku yang kamu gendong, Mas?' (Batin Clara)
Perlahan dan sangat hati-hati, Louis pun mengangkat tubuh Arista lalu mulai berjalan pelan meninggalkan Clara yang semakin mengencangkan suara tangisnya.
"Mas ...?" Lirih Clara di bawah sana.
"Sebaikanya kamu pergi dari sini. David biarkan ikut dengan aku." Tegas Louis tanpa menoleh dan kembali berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada dengan Arista berada di dalam gendongannya.
Arista hanya pasrah dan terkulai lemas di dalam pangkuan Mas Louis-nya itu. Suara tangis yang semula terdengar menggelegar pun perlahan sudah tidak lagi terdengar dari bibir mungil Arista.
Nyaman dan perlahan hatinya pun mulai terasa tenang saat berada di atas sana, di dalam gendongan Louis yang dengan begitu lembutnya memeluk dirinya di dalam dekapan hangat kedua tangan kekarnya.
"Mas ..." Lirih Arista saat tubuhnya dibaringkan di atas ranjang.
"Huss ... Jangan ngomong apa-apa dulu, sayang. Kamu istirahat aja dulu. Apa kamu mau Mas temani kamu di sini?" Jawab Louis, duduk di tepi ranjang menatap wajah calon istrinya yang terlihat begitu murung dan tidak seceria sebelumnya.
Tanpa ragu sedikitpun Arista menganggukkan kepalanya. Dia memang sedang butuh sandaran, dia memang sedang butuh dukungan dan Mas Louis'nya inilah yang bisa memberinya semua itu. Dekapan hangatnya, dada bidangnya yang akan membuat jiwa seorang Arista merasa tenang.
Setelah mendapatkan anggukan dari Arista, Louis pun mulai naik ke atas ranjang dan berbaring tepat di samping Arista, dia merentangkan tangannya lebar agar bisa di jadikan bantalan hangat oleh Arista calon istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas." Bisik Arista mendekap erat tubuh Louis dan benar-benar menjadikan tangan kekar Mas Louis'nya itu sebagai bantalan ternyaman untuk kepalanya.
"Kamu ini bisanya bantah Mulu. Kamu lupa kalau Mas gak suka di bantah. Mas bilang jangan ngomong apapun dulu, kamu istirahat dulu, tidur dulu dan tenangin pikiran kamu dulu, oke?" Jawab Louis memejamkan mata menahan rasa getir di hati sebenarnya.
Mendengar Mas Louis'nya berkata seperti itu, bibir Arista pun sedikit mengungging'kan senyuman meski senyuman itu hanya berupa tarikan kecil di kedua sisi bibir mungilnya.
"Baiklah, aku akan tidur sekarang. Mas diam jangan bergerak sedikitpun." Jawab Arista mulai memejamkan mata dan semakin merekatkannya lingkaran tangannya.
Louis pun tersenyum kecil seraya mengecup mesra pucuk kepala Arista. Tidak membutuhkan waktu lama, Arista pun tertidur pulas masih dengan posisi yang sama. Pulas bahkan sangat pulas seolah merasa begitu nyaman berada di sana di dalam dekapan hangat calon suaminya.
Di tengah Arista yang kini tertidur begitu pulas-nya bahkan, suara dengkuran kecil pun sedikit terdengar dari setiap helaan napas beratnya. Hal berbeda dirasakan oleh Louis yang saat masih dalam posisi yang sama, bahkan tidak bergerak sedikitpun seperti yang pesankan oleh Arista sebelum dia tertidur.
Tangannya mendadak kesemutan, mungkin karena terlalu lama menahan beban kepala Arista yang semakin lama terasa semakin terasa berat. Belum lagi, tubuh calon istrinya yang kini menempel sempurna dengan hanya memakai kimono handuk yang mungkin saja di dalamnya juga belum sempat memakai penghalang apapun.
Benar saja, saat Louis sedikit menundukkan kepala, bagian atas kimono yang membalut tubuh Arista sedikit terbuka dengan sendirinya. Louis pun menelan saliva-nya kasar saat melihat bagian yang tersembunyi di balik kimono calon istrinya itu benar-benar tanpa penghalang apapun.
''Astaga Arista, Mas Louis mu ini gimana? Iman Mas gak sekuat laki-laki alim yang bisa tahan ketika dihadapkan dengan tubuh wanita. Tubuh kamu, Astaga, kenapa tadi gak pake baju dulu si sebelum keluar dari kamar,'' gumam Louis mencoba memejamkan kedua matanya, menetralkan gejolak di dalam dirinya yang saat ini mulai naik kepermukaan.
Tanpa di sangka, kaki Arista tiba-tiba saja bergerak naik dan melingkar tepat di atas pusaka miliknya dengan kaki mulus Arista yang kini benar-benar terekspos sempurna.
"Ya Tuhan, kuatkan 'lah imanku. Saya memang jarang berdoa tapi kali ini, saya mohon ...!? Astaga, saya benar-benar sudah tidak tahan lagi," gumamnya lagi saat mendapati celana jeans yang dikenakannya terasa semakin sesak seperti ada yang hendak berontak.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️