Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Syok


__ADS_3

Louis seketika menarik napasnya panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan. Dia pun mengusap wajahnya kasar merasa kesal sebenarnya.


"Apa anda ingin tau dimana putri sulung anda?'' Tanya Louis menatap tajam wajah ayah mertuanya namun, dia sama sekali tidak Sudi memanggil pria itu dengan sebutan ayah.


"Katakan dimana dia? Siapa tau hatinya lebih lembut dan bisa membujuk Arista agar bisa memaafkan saya." Jawab Adrian dengan tatapan sayu memelas.


"Kalau anda ingin meminta maaf sama dia, silahkan menyusul dia ke alam baka." Celetuk Louis datar dan hendak pergi.


"Apa maksud kamu?"


Louis kembali menghentikan langkah kakinya.


"Putri sulung anda sudah meninggal, Tuan Adrian yang terhormat. Jika anda ingin meminta dan mendapatkan maaf dari dia silahkan kunjungi dia di alam baka."


Seketika wajah Adrian pun memerah dengan kelompok mata berair merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Jangan becanda Louis. Kamu boleh membenci saya karena saya memang pantas di benci, saya akui saya bukan ayah yang baik. Saya ayah yang tidak bertanggung jawab yang menelantarkan keluarganya demi wanita lain. Kamu juga boleh mengutuk saya di dalam hati kamu. Tapi, jangan pernah mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti itu. Tidak mungkin Clara putri sulung saya sudah meninggal. Tidak mungkin Louis.'' Tegas Adrian dengan nada suara yang bergetar.


"Memang kenyataannya seperti itu, Tuan. Putri anda sudah meninggal, apa anda tau karena apa beliau meninggal?"


Adrian termenung merasakan sesak di dadanya. Sebagai seorang ayah, tentu saja hatinya akan merasakan sakit yang tidak terkira saat mendengar putrinya telah tiada padahal dirinya belum sempat bertemu dan meminta maaf kepadanya.


"Dia meninggal karena bunuh diri. Puas anda ..."


Bruuuk ....


Tubuh Adrian seketika ambruk di atas lantai. Kedua kakinya terasa begitu lemas setelah mengetahui kenyataan yang begitu menyakitkan. Bunuh diri? Seberat apakah kehidupan yang dijalani oleh putrinya itu sehingga dia lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri?


Sakit, rasanya benar-benar sakit. Adrian seketika menangis sesenggukan menahan rasa sesak yang terasa menghimpit dadanya yang kini dipenuhi penyesalan yang begitu mendalam.


Louis yang menyaksikan hal itu pun hanya bisa menghela napas panjang. Memang penyesalan selalu datang terlambat, sekeras apapun pria bernama Adrian itu menangis, hal itu tidak ada gunanya dan tidak akan mengembalikan Clara yang sudah meninggal.

__ADS_1


"Maafkan, Ayah Clara. Kenapa kamu lebih memilih mengakhiri hidup kamu, Nak? Apa kamu tau, ayah sudah mencari kamu selama bertahun-tahun agar ayah bisa mendapatkan maaf dari kamu, Nak. Hiks hiks hiks ...'' lirih Adrian benar-benar merasa hancur.


"Sebaikanya anda kunjungi makamnya, setidaknya anda masih bisa melihat tempat peristirahatan terakhir Clara sebelum anda juga menyusul dia ke sana." Ucap Louis dengan suara datar.


"Tuan Louis, saya mohon sama anda. Saya mohon bantu bujuk istri anda untuk bisa memaafkan saya sebelum saya benar-benar meninggalkan dunia ini," lirih Adrian, tatapan sayu'nya menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Louis hanya bisa terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun lagi. Dia takut jika sang istri mendengar semua pembicaraan mereka berdua dan syok jika dia tahu bahwa pria yang saat ini ada di hadapannya ini adalah ayah kandungnya.


"Sebaiknya anda pulang, saya tidak mau kalau istri saya sampai mendengar semua yang kita bicarakan ini."


"Saya akan pergi, saya pasti pergi dari sini bahkan dari dunia ini pun saya pasti akan segera pergi. Tapi, sebelum ajal saya benar-benar datang, saya ingin mendapatkan maaf dari Arista terlebih dahulu, Louis. Bantu saya. Saya sudah kehilangan putri sulung saya sebelum saya sempat bertemu dengan dia, dan saya tidak mau kehilangan kesempatan kepada putri bungsu saya." Lirihnya mengiba.


"Saya akan memikirkan hal itu, saya minta anda pulang sekarang, saya akan mencoba berbicara dengan Arista." Jawab Louis masih dengan wajah datar.


"Terima kasih, saya pamit sekarang." Adrian pun bangkit lalu berjalan dengan tergopoh-gopoh keluar dari dalam rumah menantunya.


❤️


Setelah kepergian Adrian, Louis pun memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Moodnya sudah benar-benar hilang untuk bekerja. Dia akan menghabiskan waktu di rumah bersama sang istri dan juga putranya.


"Mas lelah, Mas mau istirahat di rumah saja. Mas malas balik lagi ke kantor.'' Jawab Louis tersenyum menatap wajah istrinya.


"Lho, kenapa?"


"Ya karena Mas pengen menghabiskan hari ini berdua sama kamu, sayang."


"Hmm ... Baiklah kalau begitu, aku juga senang bisa berduaan gini sama Mas. Mas selalu saja sibuk dengan pekerjaan Mas, aku di biarkan kesepian setiap hari.'' Rengek Arista menyandarkan kepalanya di bahu lebar suaminya.


"Kesepian?"


Arista menganggukkan kepalanya seraya mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.

__ADS_1


"Masa sih? 'Kan ada David. Ada bibi juga.''


"Tapi gak ada kamu-nya. Kamu itu berangkat pagi, pulang malam."


"Ya udah, mulai sekarang Mas bakalan pulang cepat deh."


"Janji?"


"Iya, sayang Mas janji."


Arista seketika tersenyum senang lalu melingkarkan tangannya di pinggang Mas Louis tersayangnya itu.


"O iya, Mas. Pria yang tadi itu siapa namanya? Aku belum sempat kenalan lho sama dia."


Deg ....


Jantung Louis tiba-tiba saja berdetak kencang mendapatkan pertanyaan itu secara tiba-tiba.


"Eu ... Bukannya tadi kamu ngobrol sama dia?"


"Iya, tapi aku gak sempat kenalan sama beliau, kami terlalu asik mengobrol tadi."


"Sayang, istrinya Mas Louis." Lirih Louis meraih pergelangan tangan istrinya lalu menggenggamnya erat.


"Ada apa, Mas Louis'nya Arista?"


"Mas mau mengatakan sesuatu sama kamu, Mas harap kamu bisa--"


"Bisa apa? Serius banget."


"Eu ... Sebenarnya pria tadi itu adalah ..."

__ADS_1


Arista menatap lekat wajah suaminya yang terlihat gugup dengan suara yang terbata-bata merasa penasaran dengan apa yang hendak diucapkan oleh Louis suaminya tercinta.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2