Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Menantu Pemilik Perusahaan


__ADS_3

"BERHENTIIII ..." Teriak seseorang berjalan keluar dari dalam kantor.


Teresia yang hendak melangkah masuk ke dalam gedung itu pun seketika menghentikan langkah kakinya lalu menoleh mencari sumber suara.


"Kamu?" Tere balas berteriak seraya membulatkan bola matanya merasa terkejut.


Dengan wajah kesal David berjalan menghampiri wanita itu dengan mata yang menatap dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Siapa yang mengijinkan wanita ini masuk ke kantor saya?" Murka David mengingat jelas wajah Tere, wanita yang telah menipuk kepalanya menggunakan sandal.


"Maaf, Tuan muda. Dia adalah OB baru di sini." Jawab Satpam sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Jadi kamu kerja di sini juga? Heuuuh ... Mimpi apa aku semalam bisa berkerja satu kantor sama pria sombong kayak kamu." Tere memutar bola mata kesal.


"Kerja? Kamu tidak tau siapa saya? Saya adalah--"


"Kalau bukan kerja namanya apa? Cuma numpang nongkrong, gitu? Kita rekan kerja sekarang jadi kamu jangan sombong ya." Celetuk Tere tersenyum menyeringai.


"Pak Satpam. Tolong usir dia dari sini?''


"Hah? Enak aja main usir-usir aja, emangnya kamu siapa, hah?"


"Kamu ingin tahu saya siapa?"


"Iya, siapa kamu berani mengusir saya?'' Tanya Tere tidak kalah garang, dia bahkan meletakan kedua tangannya di pinggang rampingnya lengkap dengan mata yang membulat sempurna membuat David benar-benar merasa kesal.


"Saya adalah pemilik perusahaan ini. PUAS ...?"


"HAH ...? Hahahaha ... Kalau kamu pemilik perusahaan, maka saya adalah menantu dari pemilik perusahaan. PUAAAAS ..."


David semakin di buat murka, dia melayangkan tangannya ke udara namun, segera di tahan saat melihat Louis sang ayah berjalan menghampiri mereka bersama Jodi sang asisten.


"Ada apa ini?" Tanya Louis menatap wajah sang putra juga wajah Tere secara bergantian.


Satpam dan karyawan lainnya yang menyaksikan hal itu segera membungkukan tubuhnya memberi hormat.


"Ini, Dad. Aku lagi ngusir wanita jadi-jadian ini dari sini?" Jawab David menatap sinis wajah Teresia.


"Siapa? Dia?" Louis menatap Tere dari ujung kaki hingga ujung rambut.

__ADS_1


Rambut yang di ikat rapi, wajah dengan make-up tipis, serta pakaian kemeja putih serta rok pendek berwarna hitam lengkap dengan sepatu pantofel berwarna hitam datar membuatnya terlihat jelas kalau dia adalah karyawan baru di perusahaan miliknya.


"Kamu karyawan baru di sini?" Tanya Louis penuh selidik.


"Betul, Tuan. Anda pasti pemilik perusahaan ini 'kan?"


Louis tersenyum tipis, melihat sikap penuh percaya diri gadis ini benar-benar mengingatkannya kepada sosok Arista sang istri kala muda dulu.


"Siapa nama kamu?" Tanya Louis tersenyum ramah.


"Nama saya Teresia, Tuan. Saya OB baru di sini dan baru di terima kerja hari ini. Tapi, pemuda sombong ini malah mengusir saya, Tuan. Dia juga ngaku-ngaku kalau dia adalah pemilik perusahaan ini." Celetuk Tere panjang lebar.


"Hmm ... Jadi seperti itu? Teresia, silahkan pergi ke tempat dimana kamu bekerja, dan kamu David, ikut Daddy. Kita ada meeting penting hari ini."


David seketika menarik napas berat merasa kesal.


"Tapi, Dad. Mana boleh wanita kasar seperti dia bekerja di sini?''


"Masalah itu nanti saja di bahasanya, lagian Tere cuma bekerja sebagai OB di sini." Jawab Louis berlalu begitu saja meninggalkan Tere yang saat ini berdiri mematung merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Daddy? Jadi laki-laki itu benar-benar anak dari pemilik perusahaan ini? Dan dia, dia tadi mengatakan bahwa dia adalah menantu dari pemilik perusahaan. Seketika Tere merasakan merinding di sekujur tubuhnya kini.


Dia pun mulai berjalan masuk ke dalam gedung dengan perasaan kacau.


* * *


Bruuk ....


David menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerja, tubuhnya terasa lelah setelah ikut bersama sang ayah meeting di luar ruangan. Rasa haus pun seketika mendera tenggorokannya.


David pun meraih telpon dan menghubungi Sekertaris-nya.


📞 "Buatkan saja jus buah sekarang. Saya haus." Ucap David, singkat, padat, jelas dan langsung menutup telpon.


Dia pun menyandarkan punggungnya juga kepalanya di sandaran kursi lalu memutar kursi pelan seraya memejamkan mata.


Tok ... Tok ... Tok ....


Ceklek ....

__ADS_1


''Selamat siang, Tuan bos. Saya membawakan pesanan anda.'' Ucap Tere masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa segelas jus buah yang tadi di minta oleh David.


"Simpan saja di meja." Jawab David memejamkan mata.


Dengan langkah gontai, Tere pun berjalan menghampiri lalu meletakkan jus tersebut dengan sangat hati-hati di atas meja. Tere nampak melirik ke arah David dan sepertinya dia pun mengenalinya sebagai laki-laki yang sempat mengusirnya tadi di depan gedung.


'Dia? Dia 'kan?' (Batin Tere.)


Karena merasa takut akan kembali di usir, Tere berjalan dengan berjinjit kaki dan agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Tanpa dia sadari bahwa, David telah membuka mata dan menatap dirinya dengan tatapan penuh kebencian.


"Mau kemana kamu wanita bar-bar?" Tanya David dan sontak Tere pun menghentikan langkah kakinya lalu menoleh menatap wajah David dan berpura-pura memasang wajah tenang.


"Pesanan anda sudah saya antar, jadi saya mau kembali ke tempat saya bekerja." Jawab Tere.


"Tunggu dulu, jangan pergi kemana-mana sebelum saya memastikan bahwa minuman yang kamu bawa ini tidak diracuni."


"Hah? Memangnya saya penjahat meracuni bos saya sendiri?"


"Bos? Kata siapa saya bos kamu? Kepedean banget jadi cewek. Dengerin ya cewek bar-bar, miskin tapi sombong. Saya pastikan kamu gak akan bertahan lama bekerja di sini. Meskipun hanya sebagai OB tapi, saya tidak Sudi punya karyawan bar-bar seperti kamu." Tegas David penuh penekanan.


Tere pun seketika menarik napas berat lalu menghembuskan'nya kasar. Dia pun menatap tajam wajah David dengan tatapan kesal.


Kemudian, dia pun melepaskan satu sepatu yang dia pakai dan menggenggamnya erat.


"Mau apa kamu, hah? Mau lempar saya pakai sepatu itu?"


"Menurut, Tuan? Apa yang akan saya lakukan dengan sepatu saya ini. Saya sudah kehilangan sandal yang baru saja saya beli beberapa hari yang lalu. Masa sekarang aku harus kehilangan sepatu yang baru saja saya beli kemarin.'' Jawab Tere memutar sepatu datar miliknya dan siap untuk dilemparkan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Selamat pagi Reader, pagi ini Othor mau rekomendasikan novel bagus untuk kalian. Othor kasih bocoran ceritanya 👇👇


Blurb.


Hidup bahagia dengan bergelimang harta adalah mimpi semua wanita. Berfoya-foya dengan geng sosialita adalah kegiatan rutin yang harus dilaksanakan oleh keempat wanita yang usianya tidak muda lagi.


Mereka tak lain adalah Astrid, Soraya, Dena dan Rahma. Lalu apakah hidup hanya dipakai untuk bersenang-senang? Lantas bagaimana dengan permasalahan masing-masing? Apakah hidup hanya untuk sekadar bersenang-senang, kemewahan dan gemerlap malam?


Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya.❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2