
Louis menatap kaki putih mulus calon istrinya yang kini melingkar sempurna di atas pusaka miliknya. Sesak ... Sesuatu di dalam sana benar-benar terasa sesak seperti ada sesuatu yang hendak berontak.
"Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan. Saya benar-benar udah gak kuat lagi," gumam Louis memejamkan mata seraya menarik napasnya panjang mencoba mengatur helaan nafasnya yang kini berhembus tidak beraturan.
Ser ... Ser ... Ser ....
Tidak dapat dipungkiri lagi, darahnya terasa berdesir. Gejolak di dalam jiwanya terasa meronta-ronta bahkan menuntut sesuatu yanga lain. Jantungnya pun berdetak tidak beraturan membuatnya tersiksa, sangat tersiksa.
"Akh ... Arista, kaki kamu kenapa mulus sekali. Astaga, apa yang harus saya lakukan. Selimut ... Dimana selimut." Gerutu Louis menatap sekeliling ranjang besar miliknya.
Dia pun sedikit mengangkat kepalanya, mencari keberadaan selimut yang akan dia gunakan untuk menutupi kaki calon istrinya yang kini terekspos sempurna dan juga berada di atas sana.
Akhirnya, matanya pun menangkap keberadaan selimut yang dia cari melipat di ujung ranjang. Kaki panjangnya pun di gerakan selembut mungkin agar bisa meraih selimut tersebut.
Grep ....
Kaki Louis pun meraih selimut tersebut, dia mengapitnya menggunakan sela-sela jari kaki agar selimut itu bisa dia tarik. Kepalanya yang di angkat pun sesekali melirik bagian atas tubuh Arista yang juga sedikit tersibak memperlihatkan belahan putih menggoda.
"Astaga, astaga, astaga, dada kamu, ya Tuhan. Aduuuh ... Itu ... Huuuuh ..." Bisik-nya mencoba menekan sesuatu di dalam sana yang semakin bergejolak kini.
Louis pun kembali memejamkan mata lalu menarik napasnya panjang-panjang bahkan, sangaaaat panjang lalu, dia pun menghembuskan'nya kasar semakin merasa tidak karuan.
Setelah itu, matanya tertuju kepada selimut yang sedari tadi di apit di sela-sela jari kakinya, perlahan selimut itu pun mulai bisa ditarik dengan segenap kekuatan yang masih dia miliki saat ini.
Louis pun menutup bagian kaki Arista dengan selimut tersebut lalu, perlahan dia mulai menurunkan kaki indah, putih mulus itu dari atas miliknya pelan dan sangat hati-hati dengan mata yang dipejamkan sempurna. Pelan tapi pasti dan sangat-sangat hati-hati kaki Arista pun akhirnya bisa dia turunkan dari atas pusaka miliknya itu.
Louis pun menarik napas panjang secara berkali-kali, mengusap bagian tengah celana jeansnya seolah menenangkan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya yang tadi sempat berontak dan meronta-ronta.
"Cup ... Cup ... Cup ... Sabar ya piton kesayangan. Jangan sekarang, tunggu 6 hari lagi, 6 hari lagi saya akan memanjakan kamu dan membiarkan kamu memuntahkan bisa kamu sepuasnya tapi, sekarang kamu tenang dulu ya. Sabaaaaar ..." Gumamnya lagi mengusap secara berkali-kali sesuatu yang dia panggil dengan sebutan piton tersebut.
__ADS_1
Setelah itu, tangan Louis pun meraih selimut tersebut lalu menutup bagian atas tubuh Arista yang semakin terbuka lebar dan hampir menunjukan bagian dalamnya. Sampai akhirnya, seluruh tubuh mungil nan menggi*rkan itu berhasil dia tutup seluruhnya hanya menyisakan kepalanya saja kini.
"Arista-Arista, andai saja bukan kamu mungkin piton Mas udah benar-benar melahap kamu bulat-bulat. Mas cinta sama kamu dan Mas gak ingin merusak kamu meskipun Mas menikahi kamu pada akhirnya. Mas akan simpan ha*rat ini untuk nanti, akan Mas tahan sampai kita benar-benar sah menjadi sepasang suami-istri," lirihnya menatap lekat wajah calon istrinya lalu melayangkan kecupan mesra di keningnya.
"Hmm ..." Arista tiba-tiba saja bergumam, padahal kedua matanya masih terpejam sempurna.
"Dih, dasar ... Apa kamu udah bangun?"
Arista tidak bergeming, hanya suara dengkuran kecil yang terdengar lirih diiringi suara helaan napasnya yang entah mengapa terdengar begitu syahdu di telinga Louis.
Tiga jam kemudian.
Tubuh Arista menggeliat, matanya pun perlahan mulai berkedip pelan. Entah mengapa tubuhnya terasa begitu ringan seolah telah beristirahat dengan begitu nyaman dan tidur dengan begitu lelapnya.
"Huaaaa ..." Dia pun membuka mulutnya lebar seraya merentangkan kedua tangannya lalu terkejut seketika saat telapak tangannya menyentuh wajah Mas Louis tersayangnya.
"Ini kamar saya. Kamu tidur di kamar saya," jawab Louis pelan dan lirih juga lemas.
"Mas Louis ...? Mas Louis sayang, wajah kamu kenapa merah gitu? tubuh Mas juga panas? Apa Mas sakit? ya Tuhan kita ke Dokter ya," tanya Arista panik lalu bangkit dan duduk tepat di samping calon suaminya seraya meletakkan punggung tangannya di kening Mas Louis kesayangannya itu.
Louis hanya terdiam, sekujur tubuhnya terasa kaku terutama bagian tangannya yang sudah selama tiga jam tidak dia gerakan sedikitpun.
"Mas, Mas sayang? Kenapa diam aja? Mas gak apa-apa 'kan?"
"Tangan Mas, Rista. Tangan Mas gak bisa di gerakin? Rasanya kaku banget."
"Hah ... Apa? Astaga ... Apa Mas kena struk mendadak? Gimana ini? kalau Mas terkena struk, gimana sama pernikahan kita? Lalu, gimana sama nasib malam pertama kita nanti? hiks hiks hiks ...'' Arista tiba-tiba menangis sesenggukan membuat Mas Louis'nya itu tertawa seketika.
"Hahaha ... Arista, Mas masih normal ko. Mas sehat wal'afiat, hanya saja si piton'nya Mas gak baik-baik aja sekarang," jawab Louis masih dalam posisi yang sama.
__ADS_1
"Hah? Si piton? Maksudnya ...?"
"Noh, yang dibawah sana." Jawab Louis melirik belahan celana jeansnya.
"Ikh ... Mas ini, pikirannya mes*m banget si, jorok ..."
''Kamu itu benar-benar keterlaluan, Rista. Kamu tidur pules banget dan meminta Mas buat jangan bergerak sedikitpun, tubuh Mas benar-benar kaku sekarang karena tiga jam gak bergerak sedikitpun," rengek Louis dengan nada suara manja.
"Astaga ... Mas beneran gak bergerak sedikitpun?"
Louis menganggukkan kepalanya seraya meringis merasakan seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal.
"Hahaha ... Mas ini lucu, Mas Louis kesayangannya aku ... Mana yang kaku biar aku pijitin ya,'' Arista tertawa lucu dengan tangan yang memijit kaki Mas Louis'nya itu pelan dan lembut, tentu saja hal itu sukses membuat piton yang sudah dia tenangkan pun kembali berontak di dalam sana.
"Cukup ... Cukup Rista sayang. Cukuuup ... Mas udah gak apa-apa, Mas mandi dulu ya. Gerah banget ini," ucap Louis segera bangkit lalu berlari terbirit-birit ke arah kamar mandi.
"Dih dasar, tadi katanya kaku, sulit digerakkan tapi larinya kencang banget kayak gitu," gumam Arista menatap Mas Louis'nya itu dengan tatapan heran.
Setelah itu, dia pun turun dari atas ranjang lalu berdiri seketika dan m menatap tubuhnya sendiri.
"Astaga ... Apa aku masih make pakaian kayak gini? Aduuuh ... Pantesan piton'nya Mas Louis gak baik-baik aja. Arista-Arista dasar bodoh ..." Gerutunya seraya berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari dalam kamar calon suaminya dengan perasaan campur aduk tidak karuan.
Arista pun segera turun dari lantai dua, dia secara berkali-kali memukul kepalanya sendiri pelan dengan perasaan kesal diiringi suara gerutuan yang keluar dari mulut mungilnya mengutuk tindakannya sendiri.
Saat langkah kakinya hampir sampai di ujung tangga, tiba-tiba saja kakinya itu berhenti melangkah dan menatap ke arah depan dengan tatapan heran lengkap dengan kening yang dikerutkan.
"David?" Lirih Arista menatap tubuh David yang saat ini duduk di kursi seraya menangis sesenggukan sendirian.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1