
Louis seketika tersenyum menatap Arista yang kini berlari ke arah kamar dengan tangan yang merapatkan belahan bagian atas kimono handuk yang dikenakannya. Seketika, dia pun mengingat kejadian yang baru saja dialaminya beberapa waktu yang lalu.
Louis lebih memilih membasuh seluruh tubuhnya dengan air dingin untuk meredam gejolak di dalam jiwanya, karena itu merupakan cara yang ampun untuk menenangkan piton kesayangannya yang sempat meronta-ronta meminta untuk dimanjakan oleh pemiliknya.
'Gak usah di tutupi gitu, Rista. Mas udah ngintip tadi, lumayan meskipun cuma dikit, hehehe ...' (batin Louis)
Setelah calon istrinya itu masuk ke dalam kamar, kini dia mengalihkan pandangannya ke arah sang putra yang sangat dia sayangi. Louis duduk di samping David lalu menatap wajahnya lembut dan penuh kasih sayang.
"Kamu udah makan?"
David menggelengkan kepalanya.
"Kita makan ya. Daddy bakalan suapin kamu, Daddy benar-benar kangen nyuapin kamu, sayang."
David hanya terdiam menunduk seraya memainkan ujung kuku jari jempolnya.
"David ... Apa kamu gak sayang sama Daddy? Apa kamu gak kangen sama Daddy?''
"Aku sayang sama Daddy, aku juga kangen sama Daddy, sangat kangen tapi, akan lebih baik jika Mommy juga ada di sini. Aku rindu kasih sayang kalian berdua," lirih David sedikit terisak menatap wajah sang ayah.
"Iya, sayang. Daddy mengerti gimana perasaan kamu. Setiap anak pasti menginginkan hal seperti itu tapi, Daddy sama Mommy udah gak bisa bersama lagi. Kamu tahu betul bahwa kami sudah berpisah tiga tahun yang lalu dan Mommy kamu pun sudah punya suami baru. Daddy harap kamu mengerti, sayang,'' lirih Louis memeluk tubuh putranya erat dan penuh kasih sayang.
"Aku mau sama Mommy, Dad. Kasian kalau dia tinggal sendiri, hiks hiks hiks ..." David seketika memuntahkan tangisnya di dalam dekapan sang ayah, tangis pilu, tangis kesedihan dan tangisan anak yang merindukan belaian kasih sayang dari kedua orang tuanya seolah melebur menjadi satu.
"Maafkan Daddy, sayang. Kamu jadi korban perpisahan kami, kamu anak yang tidak tau apapun harus menanggung beban dan menderita atas apa yang dilakukan oleh kami kedua orang tua kamu. Daddy benar-benar minta maaf karena telah gagal menjadi seorang ayah yang baik, maafkan Daddy, Nak." Lirih Louis, tangisnya pun ikut pecah menahan rasa pilu dan tidak kuasa melihat putra kesayangannya begitu bersedih akibat perpisahan dirinya dengan mantan istrinya.
Mungkin saja, David telah menahan selama tiga tahun ini, menahan betapa dirinya merasa berat harus memilih antara ibu dan juga ayahnya. Sebagai seorang anak, tentu saja dia ingin kedua orang tuanya bersatu dan menjadi keluarga utuh layaknya anak-anak lain dan Louis pun menyadari hal itu.
Akan tetapi, semua itu mustahil terwujud saat ini. Meskipun dunia dan seisinya runtuh dan meskipun dirinya harus kehilangan semua kemewahan dan kekayaan yang dia miliki sekarang, dia Louis Gabriel tidak akan pernah sudi untuk kembali kepada mantan istrinya.
Karena apa? Karena dia telah mencintai wanita lain, wanita yang mampu mengusir kesepian di dalam hatinya. Wanita yang mampu mencairkan kebekuan di dalam jiwanya, wanita polos dengan sejuta keceriaannya yang selalu saja membuat dia tertawa dan semangat dalam menjalani hari-harinya yang semula dia jalani dengan sangat-sangat kesepian.
__ADS_1
Wanita bernama Arista Aditama yang akan menemani hari-harinya sekarang, besok, lusa, dan sampai dia tua nanti saat ajal menjemputnya. Hanya Arista yang dia inginkan saat ini tidak akan tergantikan lagi oleh siapapun.
Louis pun mengurai pelukan, dia menatap wajah sang putra seraya mengusap wajahnya lembut, membersihkan sisa-sisa air mata yang masih saja bergulir dengan begitu derasnya.
"Kamu gak usah khawatir, sayang. Meskipun kamu tinggal sama Daddy, kamu masih bisa menemui ibumu bahkan bebas menginap dirumahnya kapanpun kamu mau. Daddy gak akan pernah membatasi waktu kamu bersama dia, karena dia ibu kandung kamu." Lirih Louis pelan dan lembut.
"Tapi, Dad. Mommy bilang dia mau balik ke luar negeri tinggal sama suami barunya. Itu yang Mommy katakan padaku, mana mungkin aku bisa menemui dia sesuka aku, sekarang."
"Jangan khawatir, jangankan luar negeri. Ke ujung dunia pun akan Daddy antarkan jika kamu ingin bertemu sama Mommy kamu jadi, jangan bersedih lagi ya. Ada Tante Arista juga yang akan menggantikan posisi Mommy kamu, meskipun Daddy tau butuh waktu buat kamu benar-benar bisa menerima dia tapi, Daddy tau betul bahwa Tante Arista itu baik dan akan menyayangi kamu layaknya anak kandung sendiri."
David menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum juga akhirnya, meski senyum yang dipaksakan, senyuman hampa yang menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Ceklek ....
Pintu kamar Arista pun di buka. Rista yang sudah berpakaian lengkap nampak berjalan menghampiri David dan juga Mas Louis tersayangnya itu dengan tersenyum ramah.
"David, makan yu. Tante bakalan masakin kamu makanan yang enak," lembut Arista duduk tepat di samping David.
"Gak usah, Tante. Aku gak lapar."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Mommy kamu meninggalkan kamu di sini agar kamu bisa hidup dan makan dengan baik. Dia akan sedih banget kalau tau kamu kayak gini. Kamu sayang 'kan sama Mommy?" Tanya Arista mengusap lembut kepala calon anak sambungnya itu.
"Iya, aku sayang sama Mommy."
"Kalau begitu kamu makan ya. Coba kamu bilang sama Tante, makanan apa yang kamu suka."
"Eu ... Aku ingin makan mie rebus.'' Celetuk David tersenyum menatap wajah Arista.
"Hah, mie rebus? Serius? Ko sederhana banget, Tante kira makanan kesukaan kamu itu stik daging sapi yang di bakar-bakar gitu. Atau, spaghetti, gitu?''
__ADS_1
"Nggak, aku bosen makan yang gituan. Aku pengennya mie rebus pake telor." Jawab David begitu polosnya.
"Hahaha ... Kalau cuma masak mie rebus pake telor mah, Tante ahlinya. Dulu makanan itu jadi makanan sehari-hari Tante. Hmm ... Kamu tunggu di sini, Tante bikinin dulu ya,'' jawab Arista tersenyum lebar lalu berdiri dan hendak berjalan ke arah dapur.
"Tunggu, Rista." Pinta Louis dan Arista pun menghentikan langkah kakinya seketika.
"Iya, Mas."
"Eu ... Buatkan Mas juga ya. Mie pake telur."
"Mas lapar juga?"
Louis menganggukkan kepalanya seraya sedikit cengengesan.
"Oke, tunggu bentar ya." Arista pun hendak kembali melangkah.
"Tunggu, sayang."
"Apa lagi, Mas Louis kesayangan?"
"Mie rebus'nya jangan terlalu matang, pake sedikit gula dan irisan cabe juga. Telurnya juga jangan sampe pecah, Mas lebih suka jika telurnya masih setengah matang dan bagian kuningnya itu meleleh, hehehe ...''
"Hmmm ... Pesanannya ribet banget." Arista kembali hendak melangkah.
"Tunggu, cintaku."
"Apa lagi, sayangku ...?"
"Nanti malam kita buat acara Barbeque di loteng ya, sekalian menyambut kedatangan David di rumah ini."
Seketika wajah Arista pun tersenyum senang.
__ADS_1
"Serius? Yeeeey ...! Hmm ... Kalian tunggu sebentar ya. Mie rebus pake telor satu, mie rebus dengan mie yang tidak terlalu matang, pake sedikit gula dan irisan cabe terus telurnya jangan sampe pecah, kuning telurnya meleleh, akan segera datang," ucap Arista tersenyum lebar dan terlihat sangat senang.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️