Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Bertemu


__ADS_3

Louis seketika termenung, mendengar sekertaris-nya mengatakan hal itu membuatnya langsung menoleh ke arah Arista sang istri yang saat ini sedang bersamanya.


Apakah ini takdir yang akan mempertemukan Arista dengan dua orang yang di duga adalah orang tau kandung istrinya itu? Apakah istrinya itu bersedia untuk dipertemukan dengan Tuan dan Nyonya Alex sementara mereka belum pernah membicarakan hal itu lagi dari sejak terakhir kali mereka membicarakannya?


Louis menatap lekat wajah Arista seolah sedang menyelami isi hati istrinya yang paling dalam, sementara Inggrid masih berdiri di sana untuk menunggu perintah apakah bosnya itu bersedia bertemu dengan tamu yang sengaja terbang ke sini demi bertemu dengan bosnya tersebut.


"Permisi, bos. Apa yang harus saya katakan kepada mereka? Apakah saya harus meminta mereka menunggu di bawah atau mau langsung di suruh ke sini saja?" Tanya Inggrid setelah sekian lama menunggu dengan tidak sabar.


"Mas? Apakah Tuan dan Nyonya Alex itu mereka?" Tanya Arista yang sedari tadi hanya menyimak percakapan suaminya.


"Iya, sayang. Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kamu siap jika harus--" Louis tidak meneruskan ucapannya menoleh ke arah Inggrid tidak ingin kalau sampai masalah pribadi sang istri di dengar oleh sekertaris-nya.


"Hmm ... Bilang sama mereka suruh pulang lagi saja, nanti saya yang akan menemui mereka di hotel." Ucap Louis kepada sekertaris-nya.


"Tidak, Mas. Aku ingin bertemu sama mereka,'' pinta Arista secara tiba-tiba membuat Louis seketika merasa terkejut.


"Tapi, sayang. Kamu serius ingin bertemu dengan mereka?"


Arista menganggukkan kepalanya meskipun dengan sedikit ragu-ragu.


"Yakin?"


Arista kembali menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, bilang sama mereka kalau saya akan turun 30 menit lagi. Bawa mereka ke ruang tunggu dan layani mereka dengan baik."


"Baik, bos. Akan saya sampaikan kepada mereka sekarang juga. Saya juga akan menemani mereka sampai anda datang."


"Baik, terima kasih Inggrid."


"Sama-sama, bos. Saya permisi sekarang." Inggrid pun mulai keluar dari dalam ruangan menuju lantai dasar dimana Tuan dan Nyonya Alex berada.


Sepeninggal Inggrid, kini tinggalah Louis bersama sang istri yang masih terdiam mencoba menyelami hati masing-masing. Arista, dirinya sedang mempersiapkan hatinya untuk benar-benar bertemu dengan dua orang yang di duga adalah orang tua kandungnya.


Apakah dirinya siap untuk bertemu mereka? Apakah dia juga siap mendengar alasan-alasan kenapa mereka berdua meninggalkan dirinya dan juga sang kakak kala itu?


Akh ... Entahlah, Arista semakin dibuat dilema apabila mengingat hal itu.


"Sayang? Kamu beneran siap untuk bertemu dengan mereka berdua? Kita turun sekarang?" Tanya Louis menggenggam erat jemari istrinya.

__ADS_1


"Tunggu, Mas."


"Kenapa? Kalau kamu masih merasa ragu dan belum siap, Mas bisa bilang sama mereka untuk pulang saja."


"Tidak, jangan. Jangan suruh mereka pulang. Aku hanya ingin minum dulu, tenggorokan aku kering banget."


"Astaga, bukannya bilang dari tadi. Tunggu, Mas ambilkan minum buat kamu." Louis berbalik dan meraih botol mineral di atas meja kerjanya.


"Untung masih penuh isinya, minum dulu, sayang." Louis menyerahkan botol mineral tersebut.


"Bukain," rengek Arista dengan suara manja.


"O iya maaf, Mas lupa. Hehehe ...'' Jawab Louis membuka tutup botol tersebut lalu menyerahkannya kepada sang istri tercinta.


Glegek ... Glegek ... Glegek ....


Suara air yang melintasi tenggorokan Arsita bahkan terdengar begitu nyaring membuat Louis tersenyum lucu.


"Pelan-pelan dong, sayang." Pinta Louis mengusap ujung bibir Arista yang terlihat basah sisa air minum.


"Aku haus banget tau. Lagian bukannya Mas dari tadi kasih aku minum."


"Ya mana Mas tau kamu haus kalau kamu gak ngomong."


"Hahahaha .... Iya-iya, Mas yang salah. Seperti kata pepatah, wanita tidak pernah salah dan laki-laki harus selalu mengalah," ucap Louis mencubit gemas kedua sisi pipi istrinya.


"Dih, mas ini."


"Hahahaha ...! Udah-udah, kita turun sekarang."


Arista menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan sebelum dia menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


Dengan berpegangan erat kepada suaminya, Arista mulai melangkah keluar dari dalam ruangan dengan perasaan yang berdebar. Kedua orang tuanya ada di bawah? Apakah ini mimpi? Seharusnya, Clara sang kakak pun ada bersamanya di sini untuk bertemu juga dengan mereka.


Akan tetapi, Clara telah pergi terlebih dahulu dan sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertemu dengan mereka.


Pelan tapi pasti, akhirnya mereka berdua pun sampai di lantai dasar dimana Tuan dan Nyonya Alex berada, Arista semakin mempererat genggaman tangan bahkan telapak tangannya itu terasa berkeringat dingin.


Ceklek ....

__ADS_1


Pintu ruangan khusus pun di buka, ruangan dimana Tuan dan Nyonya Alex menunggu sekarang.


Sementara itu, Tuan Alex dan istrinya itupun segera berdiri saat melihat Louis datang bersama Arista.


"Apa kabar, Tuan Louis?" Sapa Tuan Alex mengulurkan tangannya.


"Saya baik-baik saja. Bagaimana kabar anda juga Tuan Alex?'' Jawab Louis menerima uluran tangan Tuan Alex.


"Kabar saya juga baik. O iya perkenalkan Ini istri saya,'' ucap Tuan Alex memperkenalkan istrinya.


''Perkenalkan, nama saya Shopia.'' Ucap Nyonya Alex memperkenalkan diri.


''Saya Louis, dan ini istri saya Arista,'' jawab Louis menerima uluran tangan Miss Shopia.


Arista dan Miss Shopia pun seketika saling menatap satu sama lain dengan tatapan sayu penuh tanda tanya. Di dalam hati Arista, dia merasakan ada sesuatu yang aneh, jika memang kedua orang ini adalah ayah dan ibu kandungannya, kenapa dia sama sekali tidak bisa merasakan getaran di dalam hatinya.


Dia merasa biasa saja, bahkan hatinya terasa hampa dan tidak merasakan apapun layaknya anak yang baru saja bertemu dengan ibu kandungannya.


''Arista,'' ucap Arista mengulurkan tangan yang sedikit bergetar sebenarnya.


''Shopia,'' ucap Miss Shopia tersenyum ramah.


''Silahkan duduk.''


''Baik, terima kasih.''


Mereka berempat pun duduk di samping pasangan masing-masing.


''Begini, Tuan Louis. apakah sudah ada kabar tentang anak yang sedang kami cari?'' tanya Tuan Alex langsung pada intinya.


''Sebenarnya saya--'' Ucap Louis tidak meneruskan ucapannya.


''Sebenarnya, saya datang ke sini mau bicara jujur sama anda, Tuan Louis.''


Louis seketika mengerutkan keningnya tidak mengerti.


''Sebenarnya, 20 tahun yang lalu kami berdua memiliki Asisten Rumah Tangga dari negara Indonesia, akan tetapi setelah satu tahun bekerja dia tiba-tiba saja meninggal dunia karena serangan jantung,'' ucap Tuan Alex memasang wajah sedih.


''Terus?'' Louis seketika merasa penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Tuan Alex selanjutnya.

__ADS_1


Dia pun menatap dengan seksama wajah mereka berdua dengan tatapan tajam penuh tanda tanya.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2