Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Bonus


__ADS_3

Arista seketika menghentikan langkah kakinya lalu menatap tajam wajah Louis sang suami. Senyuman yang semula mengembang lebar dari kedua sisi bibirnya pun seketika hilang digantikan dengan ekspresi wajah kesal.


"Apa maksud kamu, Mas? Jangan ngaco kalau ngomong. Dia itu udah mati, ngerti?" Ketusnya berjalan mendahului Louis dengan tergopoh-gopoh seraya memegangi perut buncitnya.


"Sayang, Mas 'kan cuma nanya, lagian seandainya lho ini, Mas cuma bilang seandainya, jikalau bila, seumpama. Jangan marah dong, sayang.'' Teriak Louis berusaha mengejar istrinya.


"Mas jahat, kenapa Mas tiba-tiba bahas yang kayak gituan? Mas tau 'kan kalau aku benci sama dia? Bapak kurang ajar, tidak tanggung jawab, aku benci sama dia."


"Sayang, kalau bicara jangan sembarang. Ingat kamu lagi hamil besar lho."


Arista seketika menghentikan langkah kakinya tepat di depan kamar miliknya di lantai dua.


"Mas yang salah."


"Lho ko jadi Mas yang salah? Salah Mas Louis'mu ini apa, sayang?"


"Kenapa Mas tiba-tiba bahas bapak aku yang brengsek itu?"


"Astaga, sayang. Hati-hati kalau bicara, wanita hamil itu gak boleh ngomong sembarang lho. Harus jaga ucapan dan jaga hati kamu juga."


"Ya pokoknya Mas yang salah."


"Mas 'kan cuma bilang, seandainya, jikalau bila, seumpama. Berandai-andai saja, bukan berarti bapakmu itu benar-benar lagi nyariin kamu sekarang."


"Ya tetap saja, itu salah. Kenapa Mas harus bahas dia segala?''


Louis hanya bisa menarik napas panjang lalu menekan rasa egoisnya, dirinya memang tidak akan pernah menang saat berdebat dengan istri tercintanya itu.


'Mas harus selalu mengalah sama kamu, Rista.' (batin Louis.)


"Iya-iya, Mas yang salah. Mas minta maaf, kita masuk ya dan jangan ngebahas masalah itu lagi, oke?" Lembutnya meletakan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipi Arista lembut lengkap tatapan penuh rasa cinta.


"Jangan bahas dia lagi.''


"Iya, Mas janji."


"Awas aja kalau bohong."


"Iya, sayang. Istri Mas, cintanya Mas. Kamu gemesin banget si kalau lagi ngambek kayak gini," jawab Louis mencubit kedua sisi pipi Arista lembut.


Ceklek ....


Pintu kamar pun di buka, Louis meletakan tangannya di pinggang ramping sang istri lalu masuk ke dalam kamar.


"Mas lelah banget hari ini."


"Mau aku pijitin?" Tawar Arista tersenyum manja.


"Pijit plus-plus ya?"


"Dih?"


"Ya udah pijitnya gak usah, plus-plusnya aja ya?"


"Dih ...?''

__ADS_1


"Hahahaha ... Arista ... Arista ..." Tawa Louis seketika berbaring di atas ranjang diikuti oleh Arista kemudian.


❤️❤️


Keesokan harinya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Ceklek ....


"Permisi, Tuan.'' Jodi masuk ke dalam ruangan Tuan bosnya.


"Jodi? Ada apa? Kamu sudah antar David ke Sekolah?"


"Sudah, Tuan bos."


"Bagus, bonus kamu cair bulan ini."


"Terima kasih, Tuan bos. Anda benar-benar baik hati dan tidak sombong, udah gitu ganteng lagi. Saya benar-benar beruntung punya bos seperti anda, hehehe ...''


"Hmmm ... Ada apa? Biasanya kalau kamu muji-muji saya kayak gini, kamu itu ada maunya lho." Tanya Louis menghentikan pekerjaannya seketika menatap wajah Jodi dengan tatapan tajam.


"Anu, bos?"


"Anu apa?"


"Bulan depan saya mau menikah, bos?"


"Waah ... Selamat, akhirnya kamu gak bakalan jadi jones lagi. Hahahaha ..."


"Dih, si bos ini. Orang tua kayak bos tau istilah jones segala, alias jomblo ngenes."


"Jangan, Tuan bos. Ampun, saya masih ingin bekerja sama Tuan bos yang tampan ini. Maksud saya, meskipun bos sudah tua, Tuan bos masih tau bahasa gaul. Gitu Tuan." Jawab Jodi terbata-bata menyesal karena telah salah bicara.


"Hmm ... Udah cukup muji-muji saya'nya. Sekarang katakan apa mau kamu?"


"Saya mau kasbon, Tuan bos. Bos bisa potong gaji saya tiap bulan, saya mau beli rumah secara cash, Tuan.''


"Berapa kamu yang kamu butuhkan, bilang aja."


"100juta, Tuan bos."


"Hah? Gak salah?'' Louis membulatkan matanya seketika merasa terkejut.


"Gak salah, Tuan bos. Tapi, kalau gak dikasih juga gak apa-apa ko. Biar saya ambil pinjaman ke bank saja." Ucap Jodi kemudian lalu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.


"Siapa bilang saya gak bakalan kasih. Saya akan transfer sekarang juga tapi ingat, ini pinjaman ya saya akan potong 20% dari gaji kamu setiap bulannya." Jawab Louis santai lalu meraih ponsel.


"Serius, Tuan bos?"


"Kapan saja bercanda sama kamu? Kebetulan perusahan lagi untung besar, ya itung-itung nabung di kamu juga. Cuma bedanya gak dapat bunga kayak nabung di bank."


"Waaah ... Terima kasih, Tuan bos. Terima kasih ... Saya doakan semoga perusahaan Tuan bos semakin berkembang dan dapat keuntungan yang semakin besar. Saya benar-benar terharu, Tuan bos. Hiks hiks hiks ...!'' Ucap Jodi begitu senang sampai-sampai air matanya tidak bisa lagi dia tahan.


"Kamu mewek? Hahahaha ..."

__ADS_1


"Sa-ya terharu, Tuan bos. Saya janji bakalan bekerja sama bos seumur hidup saya. Bahkan sampai hembusan napas saya yang terkahir." Lirih Jodi menatap penuh rasa haru bosnya yang menyimpan kebaikan di balik sikapnya yang sedikit arogan.


'Bukan sedikit, Tuan bos sangat arogan. Tapi, sebenarnya hatinya sangat baik dan penyayang,'' (batin Jodi.)


"Nah, udah saya transfer. Coba di cek," ucap Louis seketika membuyarkan lamunannya.


"Serius, bos transfer sekarang juga?"


"Tentu saja, tinggal di cek saja."


Jodi seketika merogoh saku celananya dan memeriksa notipikasi yang masuk ke dalam ponselnya.


"Beneran udah masuk, Tuan bos. Tapi, ko ini jumlahnya lebih dari 100 juta?"


"Sisanya bonus kamu, seharusnya saya kirim bulan depan, tapi karena bulan depan kamu menikah, saya kirim saja sekarang sekalian."


"Boooos ..." Rengek Jodi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa, jangan lebay."


"Saya ingin memeluk bos sekali saja."


"Hah?"


"Sekali saja, Tuan bos.''


"Nggak, jangan. Enak saja main peluk-peluk segala. Hanya istri saya yang boleh peluk-peluk tubuh saya, kamu? ikh ... geli saya! Nggak ... Nggak ... Sekarang kamu keluar sebelum saya pecat kamu,'' ketus Louis dengan tatapan mata tajam juga suara lantang.


"Siap, Tuan bos. Saya permisi," jawab Jodi segera berlari dan membuka pintu ruangan.


Ceklek ....


Jodi membuka pintu namun, masih berdiri tepat di depan pintu.


"Bos!"


"Apa lagi? Ya ampun si Jodi ini!"


"Makasih, bos. Sekali lagi terima kasih banyak.'' Rengek Jodi menatap wajah Tuan bosnya dengan tatapan teduh penuh rasa haru.


"Iya-iya, cepetan keluar."


Blug ....


Jodi pun menutup pintu dan benar-benar keluar dari dalam ruangan.


Seiringan dengan itu, ponsel miliknya pun seketika berdering dan Louis segara mengangkat telpon.


📞 "Halo, sayang. Tumben nelpon? Kangen sama Mas ya?" Ucap Louis mengangkat telpon.


📞 "Mas, di rumah ada tamu yang mencari Mas."


📞 "Tamu?" Louis seketika mengerutkan keningnya.


📞 "Iya, Mas. Orangnya udah tua, bapak-bapak gitu deh. Tapi aku belum sempat kenalan karena aku mau ngehubungi Mas dulu.''

__ADS_1


Louis seketika menutup telpon lalu berlari keluar dari dalam ruangan hendak segera pulang.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2