
"Hahaha ... Arista, kamu cemburu?" Tanya Louis tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair.
"Eu ... Hah ... Nggak ko. Siapa juga yang cemburu?" Jawab Arista mengelak, padahal dirinya benar-benar sedang terbakar api cemburu.
"Bohong ... Kamu bohong, sayang. Jelas-jelas kamu cemburu, hahaha ..."
"Apa itu lucu? Apa lucu jika aku cemburu? Lagian aku gak cemburu juga ko, aku cuma--" Arista masih berkelik, bahkan berbicara dengan kata-kata yang terdengar racau dan tidak beraturan.
"Gak apa-apa kalau kamu cemburu. Justru Mas senang, itu tandanya kamu sangat-sangat mencintai Mas Louis yang tampan ini, hahaha ..."
"Dih ...?"
"Tadi kami cuma ngobrol biasa kok, nggak ada yang terjadi antara Mas dengan Clara, lagian gak nyampe 30 menit juga kami ngobrol."
"Gak nanya ...!"
"Mas cuma ngejelasin biar kamu gak salah paham."
"Gak usah dijelasin dan gak penting." Ketus Arista membulatkan bola matanya masih memasang wajah kecut dan masam.
"Kamu lucu kalau ngambek kayak gini?"
"Dih ...?"
"Gemes deh ..."
"Dih ...!"
"Sekarang Mas mau panggil Dokter dulu ya."
"Mau ngapain?"
"Jangan bilang kamu masih bersikukuh menolak buat di suntik? Kamu ingat, Mas gak suka di bantah? Mas gak suka menerima penolakan? Mas juga gak suka kalau kamu terlalu teguh dengan pendirian kamu, ingat sayang. Beberapa hari lagi kita menikah, besok juga kita mau cobain baju pengantin. Kalau kamu sakit terus, gimana nasib pernikahan kita? Gimana juga sama nasib piton-nya Mas yang udah meronta-ronta gak tahan buat muntahin bisa,'' tegas Louis panjang lebar.
"Dih, apa hubungannya sama si piton?"
__ADS_1
"Kan tadi kamu sendiri yang bilang udah gak tahan pengen di suntik sama piton'nya Mas?'
"Hah ...? Kapan aku bilang kayak gitu, ngarang ikh ..."
"Siapa yang ngarang? Jelas-jelas kamu bilang kayak gitu tadi. Kamu bilang, 'mendingan aku di suntik sama piton'nya Mas Louis daripada di suntik jarum suntik yang tajam itu,' begitu 'kan?'' ucap Louis menirukan gaya bicara Arista saat calon istrinya itu mengatakan hal itu.
"Masa sih?" Jawab Arista malu-malu dengan wajah memerah.
"Kalau kamu udah gak sabar pengen cepet-cepet di suntik sama si piton, kamu sehat dulu, tubuh kamu harus di kasih Vitamin dulu. Kamu gak tau kalau si piton'nya Mas ini ganas dan berbahaya, sekali suntik bisa bikin ketagihan lho," canda Louis membuat wajah Arista semakin memerah membayangkan seberapa ganas yang besarnya ular piton calon suaminya itu.
Arista pun seketika menggelangkan kepalanya lalu mengusap wajahnya kasar, mencoba menyudahi lamunannya dalam bayangkan ular piton panjang, besar, ganas dan akan membuatnya merasa ketagihan seperti yang baru saja diucapkan oleh Mas Louis tersayangnya itu.
'Astaga Arista? Kenapa otak kamu jadi me*um gini. Ular piton'nya kira-kira segede apa ya?' (batin Arista)
"Hey! Malah ngelamun lagi, apa jangan-jangan kamu lagi ngelamunin ular piton'nya Mas? sambil bayangin seberapa besarnya dia, begitu?"
'Hah ...? Ko Mas Louis tau, aku lagi bayangin kayak gituan?' (batin Arista)
"Nggak ko, si-siapa bilang. So tau Mas ini, emangnya Mas bisa liat isi otak aku?"
'Astaga, ko Mas Louis bisa tau?' (batin Arista lagi)
"Udah-udah, jangan bahas kayak gituan lagi. Buruan panggil piton'nya, eh ... maksud aku Dokternya," pinta Arista sampai salah bicara saking otaknya benar-benar sedang dipenuhi pikiran kotor akan si ular piton.
"Hahaha ... Nah 'kan sampai salah ngomong. Arista ... Arista ..." Louis menertawakan calon istrinya seraya berjalan keluar dari dalam ruangan.
♥️♥️
Setelah menghabiskan satu labu infus dan memberikan suntikkan vitamin, Arista sudah diperbolehkan pulang malam itu juga. Meski setelah jarum infus di cabut badannya kembali terasa lemas namun, Arista segera pulang dan beristirahat di rumah.
Louis pun menggendong tubuh calon istrinya masuk ke dalam kamar dan segera membaringkannya di atas ranjang. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tanpa disangka mereka menghabiskan waktu sekitar lima jam di Rumah sakit.
"Kamu istirahat ya, sayang.'' Pinta Louis lembut dan penuh kasih sayang.
Arista hanya menganggukkan kepalanya dengan tubuh lemas.
__ADS_1
"Mas keluar dulu. Eu ... Apa kamu mau Mas temenin di sini?" Tanya Louis sebelum dia beranjak pergi dari dalam kamar.
"Mas ..."
"Iya, sayang.''
"Apa Mbak Clara baik-baik aja?" Tanya Arista, ada rasa khawatir di dalam hatinya mengingat sosok sang kakak.
"Dia baik-baik aja ko. Kamu gak usah khawatir."
"Tapi, buat apa dia malam-malam ada di Rumah sakit?"
"Eu ... Entahlah, Mas lupa nanyain hal itu. Lagian, buat apa juga Mas tau urusan dia." Jawab Louis berbohong tidak ingin jika calon istrinya itu merasa khawatir.
"Oh begitu? Ya udah kalau gitu."
"Rista!"
"Iya, Mas."
"Gak mau kenalan dulu sama ular piton'nya Mas ...?"
"MAS LOUIIIIIIS ...?"
Bruk ....
Arista melemparkan bantal tepat mengenai wajahnya Mas Louis'nya itu dengan wajah memerah dan perasaan malu sebenarnya.
"Hahaha ... Mas bercanda, sayang. Sekarang kamu tidur, besok Mas bakalan kasih kamu kejutan. Oke ...?"
Arista menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
Setelah itu, Mas Louis'nya itu pun segera keluar dari dalam kamar namun, sebelumnya dia mendaratkan ciu*an mesra di kening Arista baru benar-benar keluar dari dalam kamar.
'Kenapa 5 hari lama banget si? Aku udah gak sabar pengen segera kenalan sama ular piton ganasnya Mas Louis, hehehe ...' (batin Arista seraya memejamkan mata.)
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️