Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Maaf.


__ADS_3

"Apa maksud anda? Siapa anda sebenarnya?" Tanya Arista berjalan dengan langkah gontai menghampiri Tuan Adrian juga Louis Gabriel sang suami.


"Sayang? Kamu--" terbata-bata Louis menahan rasa terkejutnya, kaki seorang Louis pun seketika merasa lemas menatap wajah sang istri.


"Kamu diam, Mas. Aku tidak bertanya sama kamu. Aku bertanya sama pria ini." Arista dengan wajah kesal.


"Arista ...!"


"Jangan panggil nama saya. Saya hanya butuh penjelasan tentang apa yang baru saja Anda katakan.''


"Ini Bapak, Nak. Saya bapak kamu."


Deg ....


Jantung seorang Arista seketika berdetak kencang dengan tubuh yang terasa lemas. Tubuhnya hampir saja roboh jika tidak ada Louis sang suami yang menopang tubuhnya dengan cepat.


"A-pa ini, Mas? Dia--?" Terbata-bata Arista tidak kuasa meneruskan ucapannya.


"Mas bisa jelaskan ini sama kamu. Sekarang kamu masuk dulu ya, sayang."


"Tidak, Mas. Aku ingin penjelasannya sekarang."


Tiba-tiba saja, Tuan Adrian berlutut tepat didepan tubuh putrinya. Tatapan matanya menatap lantai putih di bawah kakinya yang entah mengapa tiba-tiba saja terasa dingin.


"Maaf karena bapak terlambat menemukan kamu. Maaf juga karena bapak, Clara kakakmu bunuh diri. Bapak benar-benar menyesal telah meninggalkan kalian, hiks hiks hiks ..." Lirih Tuan Adrian menekan rasa malu juga egonya sendiri.


"Bapak? Anda bapak saya? Jangan bercanda, Tuan yang terhormat. Bapak saya sudah lama mati," teriak Arista, buliran air matanya pun seketika tumpah dengan suara tangis yang terdengar menggelegar.


"Tenang, sayang. Kamu tidak boleh seperti itu sama beliau, walau bagaimanapun pun, dia tetaplah ay--" Louis seketika menghentikan ucapannya saat sang istri tiba-tiba saja menoleh menatap wajahnya tajam kini.

__ADS_1


"Diam kamu, Mas. Belum saatnya kamu bicara."


"Arista, putri bapak. Tolong maafkan kesalahan bapak, Nak. Bapak tahu dan bapak sadar bahwa bapak memang salah." Lirih Tuan Adrian lagi.


"Penyesalan Tuan tidak ada gunanya. Mbak Clara sudah pergi dan ibu pun nekat merantau ke negeri orang dan pulang tinggal sebuah nama. Sementara bapak, tiba-tiba saja datang dengan penyesalan? Kemana bapak selama 20 tahun ini KEMANA? Hiks hiks hiks ...''


"Tenang, sayang. Tahan emosi kamu, ingat bayi yang ada di dalam perut kamu ini.'' Louis mencoba untuk menenangkan.


"Apa bapak tau kalau kami hidup serba kekurangan dan bahkan kelaparan semenjak bapak tinggalkan dahulu? Apa bapak tau kalau Mbak Clara hamil di luar nikah dan putrinya pun meninggal dunia? Apa bapak tau rasanya menahan rasa lapar dan haus sementara kami tidak punya uang sepeser pun? jawab, Pak. Hiks hiks hiks ...''


"Bapak minta maaf, sayang. Bapak sudah mencoba mencari kamu kemana-mana, bahkan bapak mendatangi rumah kita yang lama. Tapi, kamu sudah tidak ada lagi di sana."


"Kapan? Kapan bapak datang ke sana? Aku tinggal di sana selama 20 tahun tapi, tidak pernah melihat bapak sekalipun."


Tuan Adrian diam tidak bergeming.


"Sekarang lebih baik bapak bangun, kalau sampai ada orang yang lihat, mereka pasti mengira bahwa aku ini adalah anak yang durhaka karena membiarkan bapaknya sendiri bersujud seperti ini di depan anaknya.''


"Tuan Adrian, benar kata istri saya. Sebaiknya anda bangun, tidak enak di lihat orang." Pinta Louis menatap penuh rasa iba ayah mertuanya.


"Saya tidak akan pernah bangun, sebelum kamu memaafkan bapak, Nak."


"Apa bapak pikir memberi maaf itu semudah meminta maaf? Meminta maaf gampang, bapak tinggal bersujud seperti ini dan berkata ' Maafkan bapak, Nak.' Tapi, memaafkan itu susah, Pak. Tidak mudah untuk aku memaafkan Bapak begitu saja setelah apa yang telah Bapak lakukan sama, ibu, Mbak Clara dan juga aku,'' jawab Arista memegangi dadanya yang entah mengapa tiba-tiba saja terasa sesak sekarang.


Tuan Adrian masih tidak bergeming, dia menundukkan kepala tidak kuasa menatap wajah putrinya yang masih dipenuhi kemarahan. Sampai akhirnya, Assiten pribadinya tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah dan menghampiri Tuannya.


"Tuan Adrian? Sedang apa anda berlutut di sini?" Tanyanya menghampiri dengan setengah berlari lalu memapah tubuh Tuannya untuk bangkit.


"Bangun, Tuan. Saya sudah bilang sama anda kalau anda tidak usah balik lagi ke sini?" Tambahnya lagi.

__ADS_1


"Bawa majikan anda ini pulang dari sini," pinta Louis menatap Assiten pribadinya Tuan Adrian.


"Kalian benar-benar keterlaluan. Apa pantas seorang putri memperlakukan ayahnya sendiri seperti ini?"


"Hey ... Jaga mulut kamu ya?" Teriak Louis tidak terima.


"Apa kalian tau bagaimana perjuangan Tuan saya ini dalam mencari keberadaan kalian? Apa Kalian berdua tau bagaimana selama sisa hidupnya ini selalu dihantui rasa penyesalan karena kesalahannya di masa lalu?" Bukannya diam, sang Assisten malah menghujani Louis dengan berbagai pertanyaan.


"Diam kamu, jangan ikut campur. Memangnya kamu siapa berani mencampuri urusan keluarga saya, hah?" Teriak Louis semakin merasa murka.


"Cukup, Ryan. Sebaiknya kamu diam, apa yang dikatakan oleh Louis benar. Kamu jangan ikut campur." Pinta, Tuan Adrian menatap wajah laki-laki bernama Ryan sang Assisten.


"Tidak, Tuan. Saya sudah menganggap anda seperti ayah kandung saya sendiri, dan saya tidak terima anda diperlakukan seperti ini." Jawabnya menatap tajam wajah Louis dan juga Arista.


"Nyonya Arista, Tuan Louis. Saya tau apa yang dilakukan oleh Tuan saya ini salah, sangat salah. Tapi, beliau tetap orang tua kalian, se'salah-salahnya seorang ayah sudah kewajiban kita sebagai seorang anak untuk memaafkan. Kalian tau, dengan beliau bersujud dan menumpahkan air matanya itu sudah cukup untuk beliau menunjukkan penyesalannya.''


"Saya tau, saya hanya orang luar. Saya juga tau kalau saya tidak ada hak untuk ikut campur dengan urusan keluarga kalian. Tapi, saya hanya ingin berpesan kepada kalian berdua, seharusnya kalian bersyukur karena ayah kalian masih hidup, dan masih di beri kesempatan bertemu dan mendengar kata maaf dari beliau ini.''


Louis dan Arista seketika terdiam seperti sedang mendapatkan pencerahan dari seorang yang berpendidikan padahal pria bernama Ryan ini hanyalah seorang Assiten.


"Anda beruntung Nyonya, anda masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan ayah anda ini, sementara kakak anda sama sekali tidak beri kesempatan oleh Tuhan untuk mendengar kata maaf dan memberikan maaf kepada ayahnya sendiri."


Deg ....


Dada Arista semakin terasa sesak kini, buliran air matanya pun semakin deras ditumpahkan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Assisten dari ayahnya tersebut.


"Mari kita pulang, Tuan. Beri mereka waktu untuk mencerna apa yang baru saja saya katakan ini." Pinta Ryan memapah tubuh Tuannya itu untuk keluar dari dalam rumah.


"Tunggu, Bapak!" Teriak Arista tiba-tiba berjalan menghampiri.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2