
seharian Andra menemani Rinda di rumah nya. Mereka hanya melakukan aktivitas dari dapaur ke kamar dari kemar ke ruang keluarga.
Seperti sekarang tepat pukul 16.00 setelah mandi sore dan olahraga siang mereka bersantai sambil menonton tv hingga bel pintu rumah mereka berbunyi.
" Siapa??"
" Mas lihat dulu ya" Andra pergi menuju pintu masuk dan di ikuti Rinda.
----- Andra membuka kan pintu di lihat nya Om Aryo dan beberapa orang membawakan beberapa tas dan koper.
" Om Aryo??" ucap Rinda sambil melangkah ke depan melewati Andra
" Ada apa Om??"
" Ini barang - barang kamu dan barang - barang Almarhum Mamah kamu."
Rinda menatap koper nya dan menyentuhnya, barang - barang almarhum Mamah nya ada di hadapannya, Bos Rangga saja belum mengirimkan barang - barang milik almarhum Mamahnya yang ada di kediaaman Papah Mahfud. Ini barang Mamah nya yang jelas - jelas ada di kediaman lama mereka malah sudah di antarkan.
" Kenapa diantarkan kesini Om??"
" Rumah lama kamu mau di jual Papah Bastian"
" Itu kan rumah Mamah, sudah Bastian berikan kepada Mamah"
" Iya selama Mamah kamu hidup, sekarang Mamah Ayu kan sudah meninggal"
" Terima kasih Om !!! ucap Rinda denga tegas
Andra langsung mendekap Rinda.
" Om permisi dulu " ucap Aryo.
Melihat mata Rinda yang menahan air mata membuat Andra tidak bisa menahan diri.
" Om Aryo, tolong sampaikan kepada Papah Bastian. Saham keluarga Wijaya diperusahaaan Angkasa Jaya di tukar dengan rumah lama Rinda. Saya yakin, saham 30% diperusahaan itu nilai nya 10x lipat dari harga rumah tersebut."
" Akan saya sampaikan " ucap Aryo sambil undur diri dan pamit dari kediaman Rinda.
" Mas!!!"
" Mas tahu rumah itu penuh kenangan kamu dan Mamah Ayu, lagian saham 30% tersebut kan sudah Papah kasih buat kamu"
" tapi..."
" Tidak ada tapi - tapian"
Rinda langsung memeluk Mas Andra, karena Mas Andra selalu mengerti segala keinginannya tanpa harus dia bicara.
" Terima kasih Mas, terima kasih untuk kehidupan yang sudah Mas berikan kepada Rinda" ucap Rinda mendekap Mas Andra dan menyimpan kepalanya di dada Mas Andra.
" Sudah kewajiban Mas memberikan kehidupan yang layak untuk kamu"
" Rinda tidak bisa membalas semua kebaikan Mas"
" cukup lahir kan anak yang banyak untuk Mas"
" Memang Mas mau punya anak berapa??" tanya Rinda sambil melepaskan dekapan nya di tubuh suaminya.
" 5 anak laki, untuk dijadikan tim Basket. Mas wasitnya"
" ya Tuhan, rusak dong Rinda sampai turun mesin lima kali, dua saja Mas. turut pemerintah, Mas ka kerja di salah satu instansi pemerintah"
" pemerintah cuma nyaranin dua anak cukup, bukan berarti harus di turuti".
" iiih dua saja Mas"
__ADS_1
" Lima"
" Dua "
" Ya udah empat"
" Dua"
" Tiga deh, Mas sudah ngalah tuh di kurangin dua. tiga anak pokoknya, tidak ada tawar menawar lagi"
" aiiikhh"
" Ya sudah ayo bawa barang - barang ini masuk" ucap Andra.
Rinda membawa nya ke kamar tamu, Rinda membuka koper nya satu satu. dilihat mya baju - baju dirinnya di masa lalu juga baju - baju Mamah Ayu
Rinda lebih tertarik dengan barang - barang Mamah Ayu. Rinda memelum Baju Mamah Ayu menghirup aroma dari baju Mamab Ayu. Bau khas pewangi lemari yang sellau di gunakan Mamah Ayu
" Ya Tuhan Mamah, Mamah sudah meninggal ya Mas. Rinda tidak akan pernah bertemu Mamah lagi, Rinda tidak akan pernah merasakan di peluk Mamah." Ucap Rinda sambil memeluk baju Mamah Ayu.
Andra hanya tersenyum kaku dan mengusap kepala Rinda yang sedang menunduk.
Andra pun ikut duduk di lantai di sebelah Rinda.
Rinda terus membuka barang- barang yang ada di koper hingga dia melihat album foto yang tidak pernah Rinda tahu sebelumnya.
Di deoa album tersebut tertulis Malaikat kecilku,
Rinda perlahan membuka foto tersebut
Tersimpan foto Rinda dari usia 0 bulan, Rinda membuka satu satu album foto tersebut, terlihat bagaimana Mamah Ayu benar - benar mengabadika pertumbuhan Rinda.
Walau saat masuk sekolah dan Rinda mulai ingat, Mmaah ayu menagmbil foto nya saat kenaikab sekolah Rinda.
" Mamah" ucap Rinda yang tidak pernah tahu Mamah nya menyimoan foto dirinya sejak lahir.
Hingga foto terakhir saat dirinya menikah.
Mamah Ayu menulisnya kalkmat " kini Malaikat kecilku telah menemukan malaikat pelindungnya"
Rinda melirik kepasa Mas Andra dan mengurai air mata.
Betapa sayang nya Mamah sama Rinda"
" Semua orang tua pasti menyayangi anaknya"
" Kecuali bastian" ucap Rinda berubah mimik muka dan fokus melihat kembali barang - barang Mamah Ayu.
Andra tak bisa menjawab apa - apa lagi.
Rinda melihat sebuah buku diari Mamah Ayu, dada Rinda berdetak kencang saat tangannya memegang buku harian tersebut.
" Mas" ucap Rinda kembali saling lirik dengan Andra.
Rinda perlahan membuka buku diari Mamah Ayu.
Di halaman pertama saja Rinda sudah menangis.
Mamah Ayu selama ini tidak punya teman ngobrol, Rinda dan Mamah Ayu dulu pernah tidak dekat.
Mamah Ayu mencurah kan isi hatinya ke dalam sebuah buku.
setiap akhir curahan hatinya tak luput dari kata " bertahan hidup hanya untukmu malaikat kecilku Rinda Ayu Lestari"
" Mamah" gumam Rinda.
__ADS_1
" Ya Tuhan Mas, kasian Mamah" ucap Rinda setelah beberapa halaman dia baca buku harian Mamah Ayu, Rinda menutup buku tersebut dan memeluknya.
" Maafkan Rinda Mah, Maaf tidak pernah jadi anak yang baik untuk Mamah" gumam Rinda.
" Sudah - sudah jangam menangis, kasian dedek kalau sedih terus" ucap Mas Andra dan memeluk Rinda.
-------
Perusahaan Angkasa Jaya.
Aryo baru sampai di perusahaan
" Papah dari mana??" tanya Renata saat bertemu Papah nya di loby perusahaan
" Papah habis ada urusan"
" Urusan apa??"
" jangan kepo urusan orang tua"
" Waduh Papah tahu kepo" ucap Renata kepada Papah nya yang sudah berlalu.
Rena pun kembali ke ruangan manager keuangan perusahaan.
---- " Bagaimana?? sudah kamu antarkan?? bagaimana tanggapan dia??"
" Pak Andra menawarkan saham di perusahaan angkasa jaya ini dengan Rumah tersebut."
" apa?? kamu yakin??"
" iya"
" Kamu bilang kamu seetuju??"
" Belum, aku harus nanya dulu kepada kamu"
" aku setuju, tolong sampaikan kepada Andra " ucap Bastian penuh kemenangan. Saham Rinda 30% di perusahaannya aka jatuh kepada nya dengan bertukar dengam rumah yang sebenarnya sudah milik Ayu.
" Baik sekarang saya akan hubungi Pak Andra " ucap Aryo meninggalkan ruangan Bastian.
" semudah ini Aku mendapatkan saham Rinda pemberian mertuanya" gumam Bastian.
" Keberuntungan benar - benar sedang berpihak kepadaku. Pak Radit memberikan saham 50% kemudian sekarang Rinda hanya demi sebuah rumah" gumam Bastian sambil senyum penuh kemenangan.
" Aku benar - benar kaya raya, kaya raya" teriak Bastian.
---- Aryo masuk keruangan saat Bastian sedang berteriak.
" Aku sudah beritahu Pak Andra kalau Kamu sudah setuju dengan kesepakan tukar saham dengan rumah"
" Bagus Aryo, Aku semakin kaya raya" ucap nya.
.
.
.
.
.
like
vote
__ADS_1
komentar
ππππsegitu dulu yaππππ