
Setelah mandi Andra melihat Rinda yang tertidur lelap.
Andra mengecuo kening Rinda dan mengelap bulir keringat yang masih tersisa di kening nya.
" Sampai segitunya kamu ingin muaskan suami " Gumam Andra yang mengingat bagaimana Rinda membuatnya terbang ke surga dunia.
Andra menggunakan kembali seragamnya dengan pandangan tak lepas dari Rinda, bebek nakalnya yang menggemaskan.
Setelah di rasa siap Andra merangkak kembali ke ranjang nya dan mengecup Rinda berkali kali agar Rinda bangun.
"Emmmmm Mas" Rinda melepaskan ciuman Andra di bibirnya.
Andra menempelkan keningnya di kening Rinda
" Mas berangkat dulu ya "
" Iya "
Rinda menarik kembali selimutnya sampai leher.
" Mandi dulu, terus tidur lagi"
" iya"
" Terima kasih sayang, Mas puas"
" hehehe tapi Rinda masih mau lagi, belum puas."
" Oke besok Rapel, sekarang Mas dinas dulu"
" oceh "
------'
Rinda segera menghubungi dua sahabat nya Lela dan Nisa agar main lagi ke rumah nya karena Mas Andra dinas malam lagi.
" Duh Rinda ngajak meet up di rumahnya. Apa aku cerita sama Rinda dan Nisa kalau Bimo sudah bebas??" gumam Lela setelah membaca pesan di grup kolang kaling yang di baca nya.
" Sebaiknya Aku nunggu waktu yang tepat " gumam Lela kemudian.
Rinda bangkit dari kamar mandi dan mulai membersihkan diri, tepat pukul 14.30 setelah selesai mandi ponsel Rinda berdering.
" Om Aryo??" gumam Rinda saat melihat si penelpon.
" Hallo Om??"
" Rinda apa kamu ada waktu??"
" Kenapa Om ??"
" Papah kamu ingin bertemu, ada hal penting yang ingin dia bicarakan. kalau kamu ada waktu sekarang di tunggu di perusahaan Angkasa Jaya"
" Sebentar ya Om, Rinda minta ijin dulu Mas Andra. Kalau Mas Andra ijinkan. Rinda akan kesana"
" Di tunggu Rin"
" Iya Om"
------ Rinda membetulkan posisi handuk nya yang masih melingkar di tubuh nya.
Rinda mencoba menghubungi suaminya, baru tersambung sambungan telepon langsung di jawab.
" Kenapa Yank??"
" Mas "
" Hemm"
" Om Aryo barusan nelpon"
" Terus??"
" Katanya Bastian nyuruh Rinda ke perusahaan"
" Ada apa??"
" Justru Rinda tidak tahu, boleh Rinda kesana??"
" Kapan??"
" Sekarang"
" Sendiri??"
" Iya"
" Teman - teman kamu??"
" Habis magrib mereka ke rumah"
" ya sudah hati - hati, jangan berkata kasar sama Papah Bastian ya"
" Tergantung"
" Nurut tidak sama Mas??"
" Nurutlah"
" Apapun yang Papah Bastian katakan kamu jangan sakit hati, karena ada Mas yang akan menjaga hati kamu"
__ADS_1
" Aaah co cwit"
" Ya udah hati - hati, kalau udah pulang lagi ke rumah kasih kabar Mas. Mas masih sibuk"
" Siap daddy"
" Eh Yank, dedek ga apa - apa barusan di tengok Mas??"
" Tidak apa - apa, malah katanya pengen lagi"
" Hahaha ya udah besok daddy tengok dede lagi, Mas tutup telrponnya ya."
" Iya Mas"
----- setelah beberapa saat Rinda mengakhiri telepon Rinda langsung menggunakan pakaiannya dan bersiap menuju perusahaan Angkasa Jaya.
Tepat pukul 16.00 disaat para karyawan sebagian sudah ada yang pulang Rinda baru tiba di sana.
Rinda langsung masuk ke ruangan direktur, tentu saja kedatangan Rinda di sambut oleh Aryo.
" Papah sudah menunggu " ucap Aryo di ambang pintu.
Rinda menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam ruangan sosok musuh yang menjelma jadi sosok yang harus dia panggil Papah.
" Pah " Panggil Rinda kepada Papah nya yang entah kapan terakhir kali Rinda memanggil nya dengan sebutan Papah.
Bastian yang sedang duduk membelakangi arah pintu masuk memutar kursi kebesarannya.
Bastian melihat sosok Rinda, sangat mirip dengan sosok Ayu, yang pernah menjadi istri simpanannya.
" Kamu datang??"
" iya, bukannya Papah yang minta"
" Duduk lah "
Rinda duduk berhadapan dengan Bastian
" Ada hal yang ingin Papah bicarakan".
" Rinda siap mendengarkan"
" Suami tahu kamu datang kesini"
" Iya, Rinda kesini atas ijinnya"
" Papah pernah meminta sesuatu kepadamu ??"
Rinda tampak berfikir, apakah Bastian pernah meminta sesuatu kepadanya?? dia selalu menyiksaku iya" gumam Rinda.
" Dengarkan ucapan Papah, papah hanya meminta nya sekali"
Mendengar kata Radit, mendadak udara yang dia hirup menjadi bau comberan. Perut nya bergejolak ingin muntah.
" Pak Radit meminta wakil dari perusahaan untuk menandatangani kesepakatan tentang dana yang akan dia berikan kepada perusahaan kita. Papah ingin kamu yang menemui nya."
" Kenapa Rinda??"
" Karena kamu putri ke dua Papah, Siska baru melahirkan. tidak mungkin dia yang menemui Pak Radit"
Saat Bastian menyebutnya putri kedua entah harus bahagia atau harus muntah
Apa tidak janggal tiba - tiba Bastian mengakui nya sebagai putri kedua setelah selama ini dia mati- matian menolak dan menyembunyikan keberadaannya.
Mas Andra dan keluarganya yang menganggap dia ada sebagai bidadari.
" Kenapa tidak Papah??" jawab Rinda pelan.
" Papah masih masa penyembuhan" Bastian memegang dada nya.
Rinda menatap keseluruhan wajah Bastian, gurat keriput di wajahnya sudah terpancar.
Menunjukan bahwa sosok laki - laki ini sudah tidak muda lagi.
Inilah pertama kali nya Rinda bicara dengan Bastian saling berhadapan dan dengan keadaan normal.
" Kapan Rinda harus menemuinya??"
Bastian langsung menatap manik mata Rinda, begitupun Rinda menatap bola mata itu.
Bola mata sosok laki - laki yang harus nya menjadi cinta pertama setiap anak perempuan.
" Kamu bersedia menemui Pak Radit??"
" Iya, nanti Rinda akan ijin dulu kepasa Mas Andra. dan meminta Mas Andra mengantar Rinda."
Bastian meraih jemari tangan Rinda yang terlipat diatas meja nya.
Tentu saja yang di lakukan Bastian membuat Rinda tersentak kaget.
Untuk pertama kalinya di usia 22 tahun tangannya di pegang oleh Bastian.
Rinda sampai melihat tangannya di genggam Bastian.
" Ya Tuhan, begini rasanya di genggam seorang ayah " gumam Rinda.
" Jangan beritahu Mas Andra" ucap Bastian tiba - tiba menyadarkan Rinda dari lamunannya.
" Kenapa??" tanya Rinda heran.
__ADS_1
" Papah takut Mas Andra tidak mengijinkan"
" Pasti mengijinkan, ini kan urusan perusahaan"
" tapi kamu harus menemuinya malam ini??"
" Malam ini??"
" Iya, dia menjamu makan malam"
" Rinda tidak bisa, Rinda harus ijin Mas Andra"
" Papah mohon, kamu mau mengabulkan permintaan Papah"
Bastian menggenggam erat tangan Rinda.
" Ini demi perusahaan kita"
Rinda malah menatap sendu jemari tangan yang di genggam Bastian.
" Kamu mau kan bantu Papah?? Om Aryo akan menemani kamu"
Rinda menatap kembali bola mata Bastian, terlihat di sana pancaran penuh harap agar Rinda mau menganggukan kepalanya.
" Rinda mau bantu Papah???" Bastian meremas jemari Rinda dan menggenggamnya lebih erat.
" Iya Rinda mau "
Bastian langsung mencium jemari Rinda yang ada di genggamannya.
" Terima kasih" ucap Bastian
Rinda sampai bengong saat tanggannya di kecup Bastian.
Entah kenapa naluri nya menuntun dia membalas mengecup punggung tangan laki - laki tua tersebut
Bastian membungkukan badannya melewati meja yang jadi penghalang mereka dan mengusap kepala Rinda.
Rinda menjadi luluh lantah, itu usapan pertama dalam hidupnya dari sosok Papah.
" Terima kasih " ucap Bastian kemudian dan berdiri.
" Ayo minum dulu" Bastian berdiri.
" Rinda harus pulang" ucap Rinda sambil ikut berdiri.
" Nanti Om Aryo akan jemput kamu dan mengantarkan ke tempat Pak Radit.
" Kirimkan alamatnya, Rinda bisa pergi sendiri"
" Benar kamu bisa pergi sendiri??"
" Iya "
" Jangan beritahu suami kamu"
" Iya, kebetulan Mas Andra lagi dinas malam "
" Terima kasih " ucap Bastian kemudian
Rinda pun tersenyum, entah kenapa Rinda ingin sekali memeluk laki - laki yang ada di hadapannya. tapi dia sangat takut untuk melakukannya.
" Rinda pamit dulu".
" Rinda!!! "
" Iya" Rinda membalikan kembali badannya dan melihat kembali ke arah Bastian.
Bastian mendekat dan memegang bahu Rinda, Tak lama Bastian memeluk Rinda.
Sumpah demi apapun saat itu Rinda langsung membalas memeluk Bastian bahkan sangat erat.
Pelukan pertama, iya pelukan pertama dari sosok seorang ayah yang sudah lama Rinda dambakan.
Tanpa permisi air mata Rinda lolos, akhirnya dia bisa menyandarkan kepalanya di dada seorang Ayah.
" Maafkan Rinda tidak pernah jadi anak yang baik" ucap Rinda sambil terisak.
Bastian melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Rinda.
" Malam ini kamu mau menemui Pak Radit, Papah anggap kamu anak yang baik"
Bastian mengecup kening Rinda.
Rinda menangis kembali, dan memeluk Bastian.
.
.
.
.
Like
Vote
Komentar
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ kasihan Rinda, tidak tahu yang sebenarnya