
Rena, kamu ngapain di sini??? " tanya Azka kepada adiknya.
" Kak, Rena habis nganter Sesil. dia mencoba bunuh diri"
" kenapa??"
" Eko kan pacar Sesil Kak, Sesil lagi hamil anaknya Eko juga"
" Astaga, kasian Sesil"
" Iya makanya"
" bagaimana sekarang keadaan Sesil??"
" Sudah baikan Kak, dan sekarang sedang bersama orang tuanya"
" kamu mau pulang??"
." Iya Kak"
" Hati - hati di jalan"
" Iya Kak" jawab Rena sambil tersenyum
---- setelah meninggalkan Azka, Rena bertemu dengan Andra.
" Rena"
" Kak Andra"
" Sedang apa kamu di sini???"
" Hemmm pertanyaan yang sama dengan Kak Azka"
" Jadi???"
" Rena habis nganterin Sesil Kak, dia mencoba bunuh diri. Dia shock karena Eko ditemukan meninggal"
" Ada hubungan apa Sesil dengan Eko??"
" Mereka pacaran Kak, Sesil juga lagi hamil anaknya Eko"
Andra tidak menjawab apa - apa lagi. dan hanya menganggukan kepalanya.
" Kak, Rena pulang dulu ya."
" Hati - hati di jalan" ucap Andra sambil mengacak ngacak rambut Rena. ya walau bagaimanapun Andra dari dulu menganggap Rena adiknya. walau Rena tidak ingin Andra menganggapnya adik. karena Rena sempat sangat menyukai Andra .
" Makasih Kak, salam ya buat Rinda"
Andra mengembangkan senyum mendengar ucapan Rena.
" Iya nanti Kakak sampaikan"
setelah itu Rena kembali ke rumahnya sedang Andra dan Azka berada di ruang ICU di mana Bimo berada.
------ kediaman Wijaya
Rinda baru saja sampai di kediaman mertuanya.
Dia di sambut Bak putri raja oleh Mamer juga pamernya.
sekatang mereka sedang duduk di ruang keluarga sambil ngobrol ringan.
" Akh sayangku, kenapa tidak bialng mau ke sini. Mamah belum masak makanan spesial buat kamu"
" Tidak apa - apa Mah, Mas Andra lagi sibuk sama kasusnya. Rinda tidak mau sendiri di rumah. jadi Rinda kesini deh"
" kasus yang melibatkan Papah kamu ya??"
" Iya Mah"
" Kalau kata Papah mending kamu jadi pengacaranya. walau bagaimanapun dia Papah kamu"
" Tapi dia belum minta Rinda untuk jadi pengacaranya Pah"
" Eh Pah, biarkan saja Bastian di penjara. biar dia menyadari keserakahannya"
" Bastian sudah tua Mah, walau bahaimanapin dia orang tua Rinda"
" Memang Bastian mengakui Rinda anaknya??"ucap Mamah Sofia
" hemmm sudah jangan di lanjutkan".
" Nanti Rinda pikirkan lagi ya Pah" jawab Rinda kemudian.
" Ya sudah mending kamu istirahat ya" ucap Mamah Sofia
" Iya Mah, jawab Rinda dan menuju kamar Andra
Rinda membaringkan tubuhnya dan menatao langit - langit kamar.
" Pak Radit, Aku harus bertemu dengannya. Dia kan mencintai Aku, rasa - rasanya aku harus bicara dengan dia" gumam Rinda.
Rinda pun mengambil ponselnya den menghubungi geng kolang kaling
Rinda : geng
Lela : Woy
Nisa : β
Rinda : temani gue ketemu Pak Radit
Lela : π±
Nisa : π
Rinda : gue penasaran dengan dia sumpah, gue cuma ingin ngobrol dengan nya.
Lela : Oke
Nisa : π
Rinda : jemput gue di rumah mertua
Lela : Otw
Nisa : Jemput gue La
Lela : π
----Andra mengecek keberadaan ponsel Rinda dan Andra tersenyum saat melihat sinyal itu terdiam di titik alamat orang tuanya.
" Az, balik ke Polres yuk. disini sudah ada anggota kita"
" Ayo gas, kita susun rencana selanjutnya" ucap Azka
---- setelah beberapa saat kemudian Andra dan Azka pun sampai di Polres.
Azka melihat kembali Papah nya. Om Aryo yang menjadi kaki tangan Bastian
" Papah di sini lagi??"
" Iya, Om Bastian kambuh lahi penyakit jantungnya. Barusan Polwan sudah membawanya ke rumah sakit bhyangkara" ucap Papah Aryo.
" Papah sekarang mau kemana??"
__ADS_1
" Ke rumab sakit"
" ooo" jawab Azka sedangkan Andra yang mendengar ucapan Om Aryo langsung menghubungi Alinda
" Lin"
" Pak Maaf Pak Bastian tadi tumbang, saya lupa mengabari. sekarang tahanan bapa sedang di rumah sakit"
" Oke terimakasih , tetap jaga dengan ketat."
" beberapa anggota polisi berjaga disini Pak, anggota keluarganya juga ada di sini"
" Oke tidak apa - apa" ucap Andra.
---" Mertua Lu sekarat kayanya"
" Memang beliau punya riwayat penyakit jantung"
" Kasian juga ya, diusia senja nya harus terlibat kasus yang tidak main - main"
" Hemm akibat serakah itu"
" Rencana Lu sama Alinsa bagaimana???"
" Entahlah, gue malah tidak mood untuk bersandiwara. wajah senyum bini gue tidak mampu membuat gue berpaling walau pun cuma pura - pura"
" Hahahahahaha, pengen muntah gue dengar kelebayan Elu"
" Serius Az, makin lama gue makin sayang sama dia. perasaan cinta gue juga makin besar sama dia"
" bucin"
" Dari dulu memang gue bucin, untung Rinda tidak menyadarinya" jawab Azka terkekeh.
.
-
.
.
" sayang ada teman - teman kamu" ucap Mamah Sofia masuk ke dalam kamar
" Oh Mah, Rinda mau jalan dulu sama teman teman ya"
" pulang pas jam makan malam??"
" Tidak tahu Mah, kemungkinan Rinda makan di luar"
" Kamu sudah ijin sama Mas Andra??"
" Kalau sama mereka selalu dapat ijin Mah"
." ya sudah hati - hati ya" ucap Mamah Sofia membiarkan Rinda ikut bersama teman- telannya.
---- Rinda melihat jam menunjukan pukul 17.00
ya masih sore lah, kemungkinan Pak Radit baru pualng dari perusahaannya.
" Elu yakin mau menemui Pak Radit??" tanya Lela setelah Rinda masuk kedalam mobilnya
" Iya, gue perlu bicara sama dia, gue yakindia lah di balik kasus kematian Eko."
" Gue ga bilang sama Azka kalau kita menuju rumah Pak Radit " ucap Nisa
" Gue juga kagak" ucap Lela
" Lah emang gue bilang, kalau bilang ga bakalan di kasih ijin lah" ucap Rinda kemudian
" Kita mau masuk kandang macan loh ini" ucap Lela
" kandang monyet yang lebih tepat" ucap Rinda sambil terkekeh
" Rin hati- hati ya Lu, Lu tahu kan bagaimana Pak Radit"
" Dia tidak akan membunuh gue, yakin lah"
setelah beberapa menit Rinda dan geng samapi di kediaman Pak Radit.
Pengawal Pak Radit menerima kedatangan Rinda, pengawap tersebut tahu bahwa sosok yang datang adalah perempuan yang di sukai bos nya. hanya statusnya sudah menjadi istri orang
" Saya ingin bertemu Pak Radit" ucap Rinda membuka sedikit jendela mobilnya.
" Anda hanya bisa masuk sendiri"
" Oke teman - teman saya menunggu di mobil" ucap Rinda yang di angguki oleh Rpengawal tersebut.
ini kedua kalinya Rinda memginjakan kaki di rumah Pak Radit.
" Bos sedang berada di ruangannya" ucap Pengawal tersebut mengantarkan Rinda.
Pengawal tersebut membukakan sebuah pintu, di lihatnya oleh Rinda Radit sedang duduk di atas sofa yang membelakangi pintu, jadi yang terlihat hanya kepalanya saja.
" Bos, ada yang datang" ucap pengawal tersebut. Radit yang sudah melihat kedatangan Rinda dari cctv tidak bergeming.
" Pak Radit" ucap Rinda.
Saat itu Rinda membuat sambunga telepon dengan geng kolang kaling, dan mode rekam percakapan sudah di putar di ponsel Lela juga Nisa.
" Ko gue deg degan ya, Rinda sudah ketemu Pak Radit" bisik Nisa dengan pelan saat mendengar ucapan Rinda.
" sssttt" ucap Lela menyimpan jari tangannya di bibir.
----- mendengar namanya di sebut, Radit leririk ke arah Rinda
" Ada apa??" ucap Radit dan dengan kode tangan menyuruh pengawalnya meninggalkan Radit juga Rinda berdua di sana.
Rinda memberanikan diri untuk mendekat dan duduk berhadapan dengan Pak Radit
Tatapan Pak Radit kini berubah sendu saat melihat sosok Rinda di hadapannya.
" Iya sosok Rinda mengingatkan krpada calon tunangannya yang di bawa kecelakaan oleh nya dan meninggal di lokasi".
" Rinda" ucap Pak Radit.
Rinda merasakan aura kesedihan di raut wajah Pak Radit, bukan Pak Radit yang biasa dia lihat
" Pak Radit" ucap Rinda kemudian
kemudian Radit berdiri otomatis Rinda pun berdiri, Radit mendekati jendela rumahnya dan menyenderkan tubuhnya di sana
" Ada apa kesini??" tanya Radit kemudian dengan mimik wajah normal kembali
" Entahlah, tiba - tiba Rinda ingin kesini" ucap Rinda kemudian. Rinda berusaha hati - hati dalam bicara agar tidak memancing emosi Radit.
Radit kemudian menatap Rinda yang sedang berdiri tidak jauh dengannya.
" Apa tidak ada alasan kamu kesini menemui Aku??"
" Apa harus ada alasan dulu untuk saya menemui Anda Pak Radit??"
" tidak" ucap Radit membuang pandangan ya dari menatap Rinda.
Rinda kemudian mendekati Pak Radit dan sama - sama berdiri depa jendela dan sama - sama menatap jauh ke luar sana.
" Apa kamu di suruh suami kamu kesini"
__ADS_1
" Tidak"
" lalu??"
" Sudah Rinda bilang, entah kenapa Rinda tiba - tiba ingin kesini" ucap Rinda melirik kembali ke arah Radit. dan tanpa sengaja kedua bola mata mereka beradu pandang.
Radit melemah kembali saat melihat bola mata itu, bola mata yang sangat dia rindukan. kenapa sosok wanita yang tidak bosa hilang dari hati dan pikirannya semua berada di diri Rinda yang statusnya Istri orang lain.
Dengan Refleks Radit mengarahkan tangannya ke pipi sebelah kiri Rinda lalu mengusap mata itu.
" kenapa kamu mirip sekali dengan nya" ucap Radit menatap sendu Rinda.
" Siapa??" tanya Rinda
" Kekasih Ku" ucap Radit pelan
" Dimana dia??"
" Dia sudah lama meninggal" ucap Radit masih menatap wajah Rinda dan mengusap ngusap pipi Rinda
" Kamu tahu??? kamu sangat mirip dengannya, mata ini, hidung ini, bibir ini, wajah ini semuanya mirip dengannya " ucap Radit
Rinda kemudian memegang pergelangan tangan Pak Radit. yang telapak tangannya sedang mengusap pipinya.
" Cukup lama mereka beradu pandang"
" Tuhan tidak adil kepadaku, saat aku beranjak remaja. Tuhan membuat kedua orang tua ku meninggal didepan mata kepalaku sendiri. saat aku beranjak dewasa bahkan tuhan memgambil wanita yang aku cintai dan meninggal di depan mata kepalaku sendiri. dan kejadiannya sama, karena kecelakaan lalu lintas" ucap Radit menarik tangannya dan mengusap rambutnya kebelakang.
" Pak Radit" ucap Rinda memegang bahu Radit.
Radit melihat tangan Rinda mendarat di bahunya.
" sejauh ini Pak Radit sudah sangat hebat, bisa melewati masa lalu Pak Radit dengan kuat. Pak Radit bisa merajai dunia bisnis" ucap Rinda menyemangati Pak Radit.
" Tapi tanpa orang - orang yang Aku sayangi. Bahkan kamu yang harusnya Aku miliki sudah di miliki orang lain, kamu mirip dengannya. kamu seperti keuatanku" ucap Radit kemudian dengan wajah yang berubah kembali.
" pulang lah" ucap Radit dengan ketus kepada Rinda
" Rinda tidak mau" ucap Rinda dengan menunjukan wajah melas.
Radit kemudian meninggalkan Rinda yang berdiri di sampingnya dan duduk kembali di sofa. Rinda lun mengikuti Radit duduk di sofa dengan posisi semula saling berhadapan.
" ada apa kamu kesini??"
" Kenapa menanyakan hal yang sama berkali kali. sudah Rinda bilang. tidak ada alasan apa - apa.
Radit menatap Rinda dengan penuh amarah, Rinda merasakan kini aura Radit berubah dari sebelumnya. kini tatapan itu penuh emosi dan amarah.
" Keluar dari rumah ku, Aku tahu maksud kedatangan mu kesini untuk apa" ucap Radit dengan nada tinggi
Rinda merasakan perubahan emosi Radit secara tiba - tiba.
" Keluar!!!!" Radit berteriak dengan kencang dan Membanting sebuah pas bunga yang ada di meja.
entah kenapa Rinda malah menangis, padahal itu bukan Rinda.
Radit yang melihat Rinda menundukan kepalanya dan menangis berubah kembali dan mendekati Rinda.
" Maaf, maaf aku tidak bermaksud menyakiti kamu" ucap Radit berjongkok di hadapan Rinda.
sumpah demi apapun Rinda saat itu ingin muntah melihat wajah Radit. kalau Rinda pualng Rinda belum mendapatkan informasi apapun, belum lagi nanti dimarahi Mas Andra.
Rinda semakin menangis dan meraung raung membuat Radit panik.
" Aaakkkhhhh diaaaam!!!!"teriak Radit saat Rinda menangis dan meraung raung, Radit menutup telinganya dan berdiri menjauhi Rinda.
Ada sebuah trauma besar dengan sebuah air mata dan suara tangisan untuk Radit. dahulu dia sering emnangis dan meraung raung menangisi kepergian kedua orang tua juga kekasihnya. tapi tangisannya tidak pernah mengembalikan semuanya.
" aaakkkhhh Rinda diam!!!!" teriak Radit
" Pergi kamu dari sini!!!!"teriak Radit berubah kembali.
Rinda langsung terdiam saat itu juga melihat Radit yang menutup telinganya.
Radit perlahan membuka telinganya saat Rinda sudah berhenti menangis.
"Pergilah sebelum kamu ku lenyapkan seperti mereka"ucap Radit dengan tatapan mata membunuh.
" Kalau aku tidak bisa memiliki mu tidak juga dengan suami kamu"
mendengar ucapan Radit di sebrang telepon membuat Lela dan Nisa merubah tempat duduk dan menelan air liurnya dengan susah payah
" Aku tidak akan pergi, kalau mau silakan lenyapkan Aku seperti Nando, Eko, juga Mamah Ayu dan Papah Mahfud" ucap Rinda
Mendengar ucapan Rinda, Radit semakin geram. Dia menatap Rinda dengan penuh kebencian. " Jadi kamu sudah tahu semuanya hah???" ucap Radit
" iya, aku tahu. kamu dibalik pembunuhan Nando bukan??? kasus Bimo?? kematian kedua orang tuaku, juga Eko. kenapa kamu melakukannya Pak Radit, kamu sudah mendapatkan semuanya. orang tua angkat yang menyayangimu, perusahaaan, dan kekayaan" ucap Rinda.
" Kamu mau tahu alasannya??"
" karema mereka membangkangku" ucap Radit
" siapapun yang tidak menuruti perintahku, harus aku lenyapkan."
" Apa salah Mamah Ayu dan Papah Mahfud, mereka salah apa. kenal saja dengan mu tidak"
" Aku hanya mengalihkan perhatian kalian Rinda dan juga Rangga" ucap Radit sambil tertawa keras
Rinda sangat yakin Radit mengalami gangguan mental.
" hahahahahaha, Aku pembunuh, aku pembunuh, aku pembunuh, " gumam Radit.
Rinda melangkah mundur ke belakang mendengar gumaman Radit.
" Kenapa kamu takut kepadaku??" teriak Radit
" Dengar Rinda, Bastian juga kambing hitam ku. dia orang jahat dan serakah. dia pantas menerima hukuman" teriak Radit kemudian.
" semua kejahatan yang sedang di selidiki oleh suami kamu, akulah biangnya" ucap Radit sambil tertawa terbahak - bahak
" sekararang kamu sudah tahu semuanya, itu artinya kamu dan teman - teman kamu tidak akan bisa pualng dalam keadaan hidup - hidup" ucap Radit.
Lela langsung mengunci mobilnya lalu. Nisa apalagi langsung memutuskan sambungan telepind an mengirimkan rekaman tersebut kepada Azka.
" Aduh lamaaaa" ucap Nisa melihat ponselnya berputar putar saat mengirimkan rekaman tersebut.
Tak lama pengawal Pak Radit mengetuk jendela Mobil Lela
" ****** deh kita" ucap Lela
Nisa kemudian menyembunyikan ponselnya di dasbor mobil Lela dan berdoa semoga rekaman tersebut sampai ke ponsel Azka.
----- Mas Andra tolong cek keberadaan Rinda" gumam Rinda dalam hati.
" Mas Andra, Mas Andra, Mas Andra" dengan seluruh keuatannya Rinda memanggil manggil nama suami nya. berharap ukatan batin bisa membuat Andra mengingatnya dan menolongnya.
.
.
.
like
vote
komentar
__ADS_1
sampai ketemu besok di episode terakhirπ€π€π€π₯³π₯³π₯³π€£