
" ada apa??" tanya Azka melepaskan pelukan Renata adiknya
" Kak..."
" Iya "
" Kak..."
" Iya ada apa?? kamu mau bicara sesuatu???"
" Kak....Rena....Rena " ucap Rena terputus putus.
Azka masih menatap Rena dan mengangukan kepalanya menunggu Rena mengucapkan sesuatu.
" Kak, tadi malam Rena...."
" Kenapa??" tanya Azka penasaran ..
--------- " Surpriseeeee!!!!!" teriak Nisa masuk ruangan Azka...
Azka dan Rena serempak melirik ke arah Nisa serampak.
" Ooooopsss ada tamu" ucap Nisa.
Azka dan Rena saling tatap. " Rena lain kali kesini lagi" ucap Rena handak berdiri dari duduk nya dan meninggalkan Azka. Tapi Azka langsung menarik lengan Rena.
" Sekarang saja, apa yang mau kamu katakan"
" lain kami Kak"
" Sekarang!!!!" bentak Azka.
Rena melirik ke arah Nisa.
" Oke aku keluar dulu, kalau kalian ingin bicara seriuskan" ucap Nisa.
Nisa pun memilih ke luar dan menuju ruangan Mas Andra untuk menemui Rinda.
----" katakan!!!"
Rena jadi takut saat melihat tatapan mata Azka. dia juga merasakan pergelangan tangannya di genggam begitu erat oleh Azka.
" Sakit Kak" ucap Rena mencoba melepaskan pergelangan tangannya.
"Ayo apa yang ingin kamu bicarakan tadi" ucap Azka melemah lagi.
" Janji dulu kakak tidak akan marah"
" Kaka janji"
" Janji jangan cerita kepada Nisa"
" Iya Kakak janji"
" Janji hanya kita saja"
" Iya!!!!"
Rena kemudian duduk lagi dan Azka mencoba mendengarkan apa yang akan di katakan Rena. Rena menceritakan secara detail kejadiannya bersama Radit di club, saat dirinya tiba - tiba terbangun di hotel dan saat dirinya menemui Radit di kantor Bima Sakti.
Saat itu Azka sangat emosi dan ingin sekali mencincang Radit, Azka berusaha tenang dan meredam emosi nya. dan berusaha terlihat biasa di depan Rena.
" Kak, Rena sudah tidak perawan"
" Apa selangkanga* kamu sakit???"
" Engga, tapi aku lihat darah di tempat tidur hotel"
"ayo ikut Kakak !!" Azka menarik lengan Rena
" Kemana Kak??"
" Ke rumah sakit bahayangkara, kita visum"
" Rena malu Kak!!!"
Azka tidak mempedulikan ucapan Rena, dia menarik lengan adik nya untuk membuktikan ucapan Rena. Azka tidak bisa begitu saja menangkap Radit tanpa ada bukti apa - apa, apalagi kalau adik nya dalam keadaan mabuk. dan apalagi kalau Radit memang melakukannya dan mengakui melakukannya suka sama suka. belum ada hukumannya, dan Rena wanita yang sudah pantas di tiduri, bukan lagi gadis di bawah umur.
Walau hati nya berdebar kencang atas pengakuan Rena, Azka tetap terlihat biasa.
" Kak Rena malu"
" Percaya sama Kakak" ucap Azka.
----- Ruangan Andra
di sana Nisa baru saja bergabung dan menyimak obrolan Andra, Rangga dan juga Alinda.
" Polisi puncak menelpon lagi" ucap Rangga
" Jawab" perintah Andra.
" Baik" ucap Rangga dan mengakhiri teleponnya.
" ada kabar apa??" tanya Rinda
" sketsa orang kedua sudah selesai" ucap Rangga membuka ponsel nya untuk mengecek pesan yang masuk.
terlihat ada pesan dalam bentuk pdf.
" Memang ada sketsa orang pertama??" tanya Rinda melirik Mas Andra.
" Astaga!!!!" Rangga mengagetkan semua yang ada di ruangan, sehingga pertanyaan Rinda belum di jawab oleh Andra
" ada apa??" tanya Andra
" aku mengenal sketsa wajah ini" ucap Rangga sambil memegang ponsel nya.
" Siapa???" tanya Rinda merebut ponsel Rangga
" Pak Eko??" sebut Rinda yang sangat mengenal sosok asisten Pak Radit.
" Persis" ucap Rangga
" bukan persis, Rinda yakin ini Eko. Kenapa bisa ada sketsa wajah Eko ?? dia terlinbat atas kecelakaan Mamah dan Papah Mahfud??? ucap Rinda.
" Nanti kita tunggu tindak lanjut perkembangan kasus nya. serahkan saja sama polisi" ucap Andra
" Mas, kalau ada sketsa wajah begini berarti memang bemar Mamah kecelakaan karena di sengaja. jadi sketsa orsng pertama apa Bos Rangga kenal??" ucap Rinda
Nisa mengelus ngelus pundak Rinda yang badannya sedikit condong kepada Andra.
Andra menyerahkan selembar kertas agar bisa di lihat Rinda.
kamu lihat ini" ucap Andra
Rinda dan Nisa sama - sama melihat sketsa wajah yang di berikan Andra
" Bimo!!!!" ucap Nisa dan Rinda serempak.
" Ya Tuhan apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadaku" ucap Rinda menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
" Ya Alloh Mamah" ucap Rinda
" Mas bersama Azka, Alinda juga bos Rangga akan menyelidiki kasus ini.
" Rinda ingin bantu"
" Nisa juga kalau bisa ingin bantu, kalau sudah berhubungan dengan Bimo. Pasti ada kaitannya dengan kematian Nando yang masih bikin aku penasaran" ucap Nisa.
" Ada orang yang di curigai Mas??"
" untuk saat ini Bos besar yang selalu di katakan Bimo. seperinya Pak Radit" ucap Andra.
" Pak Radit??" ucap Rinda melirik Andra
" Tapi kenapa?? apa karena Rinda??" ucap Rinda
" hanya dia yang tahu alasannya" jawab Andra
" Bukannya Pak Radit teman kamu Bos??"
" Iya"
" Terus kenapa dia mencelakai orang tua kita Bos???" tanya Rinda dengan nafas sedikit tercekat di tenggorokannya.
" Sayang dengar, ini kasus sedang kita selidiki dan kasusnya seperti mata rantai, saling berhubungan satu sama lain. Mas minta kamu juga Nisa untuk menajaga rahasia penyelidikan ini . kalian posisi di sini sebagai ibu bhayangkari. "
" Iya siap" jawab Nisa dengan tegas
" yank??"
" Iya Mas, Rinda akan diam"
tak lama ada anggota polisi yang masuk.
" Pak Andra ini data keluar masuk uang hotel xxx, saya baru mendapatkannya dari Bank" ucap Polisi tersebut
" Oke terimakasih" ucap Andra
Andra dengan seksama membuka rekening koran dari Bank yang di dapat anggota nya. Dari penyelidikan sebelumnya di ruangan Pak Andrian, Andra menemukan beberapa buku rekening dan juga beberapa atm.
" dana di gelontorkan kepada rekening seseorang" ucap Andra menunjukan rekening koran kepada Rangga
" Mungkin kamu lebih paham, aku soalnya jarang ke perusahaan" ucap Andra
" ini nomer virtual account" ucap Rangga melihat nomer yang mendapat transferan dari penghasilan hotel xxx
" Jadi???" tanya Rinda
" Kemungkinan penerimanya pemilik saham perusahaan" ucap Rangga
" Perusahaan mana??" tanya Andra
" Bima sakti kah???" tanya Rinda
" nanti aku cek ini virtual account milik siapa" ucap Rangga.
------
Aryo dan Bastian
" Bagaimana anak kamu??"
" Dia sedikti tidak enak badan, dia sudah pulang"
" Aryo, laporan keuangan anak kamu sangat hebat. bulan ini keuangan perusahaan bahkan naik 200%.
" Apa itu pengaruh dari saham yang di berikan Pak Radit dari perusahaan Bima Sakti???"
belakangan ini rekening pribadi ku juga banyak notifikasi masuk uang"
" Uang dari mana??"
" Bonus dari perusahaan - perusahaan yang bergabung dengan Bima Sakti, ternyata Pak Radit memang sangat kaya raya" ucap Bastian
" Memang kan di urutan perusahaan Bima Sakti dalam urutan teratas, kemudian asa perusahaan Wijaya, lalu perusahaan Berlian milik Mahfud.
kemudian perusahaan kamu" ucap Aryo.
" Tidak lagi, perusahaan Angkasa jaya sudah bertengfer di posisi kedua" ucap Bastian menunjukan ponsel nya.
" Hebat" ucap Aryo.
----- " Ini virtual account milik perusahaan Angkasa Jaya" ucap Rangga tanpa ragu- ragu.
"apa??" ucap Rinda dan Andra
lain halnya Alinda dan Nisa yang hanya menyimak.
" Apa iya Papah kamu pemilik hotel xxx yang sebenarnya???" ucap Andra melirik Rinda
" Tidak ada yang tidak mungkin, Aku saja hampir di jual sama dia kepada Radit" ucap Rinda.
" Mas akan cek dulu kebenarannya. Mas akan tanyakan langsung kepada Papah Bastian" ucap Andra beranjak dari duduk nya.
" Kamu tunggu di sini bersama Nisa, Alinda ikut saya dan ajak dua anggota polisi yang lain. kalau memang Virtual account ini milik Pak Bastian kita tangkap beliau" ucap Andra
" Dra sorry Aku tidak ikut, aku harus menemui anak dan Istri aku" ucap Rangga
" Oke" ucap Andra segera mengambil kunci mobil nya.
" Mas!!" Andra melirik kembali Ke Rinda saat Rinda memanggil nya.
" Tolong hati - hati Mas"
" pasti" ucap Andra mengusap kepala Rinda dan mencium puncak kepalanya.
----- Azka berada di rumah sakit bahyangkari menemani Rena melakukan visum.
Saat Rena keluar dari ruangan dokter, Rena menundukan kepalanya sedangkan dokter tersenyum kepada Azka.
" Bagaimana dokter??"
" Adik Bapak tidak apa - apa, dan selaput dara nya masih utuh. "
Azka membuang nafas nya kasar dan menarik rambutnya ke balakang.
" Syukurlah, terimakasih dokter" ucap Azka kepada dokter.
" ayo pulang" ucap Azka menarik lengan Rena
" Kak, bilang sama Kak Andra. hati - hati sama Pak Radit, Pak Radit sangat terobsesi dengan Rinda"
" Andra sudah tahu itu, kamu juga hati - hati dalam bergaul. jadikan kejadian malam tadi pelajaran bagaimana kalau saja benar kamu di perkosa sama Radit."
" pantes Pak Radit tidak mau bertanggung jawab, memang dia tidak memperkosa Aku" jawab Rena kembali ke nada Rena yang sebenarnya.
" Kalau pun dia melakukannya dan merkosa kamu, dia memang tidak akan tanggung jawab"
" Oh ya??? " ucap Rena sedikit dengan nada mencibir.
" kalau kamu tidak percaya, lemparkan saja tubuh kamu kepada Pak Radit, dan jangan minta tolong lagi kepada Kakak , kalau terjadi sesuatu yang buruk. harus kamu ketahui, Pak Radit bukan orang baik - baik."
__ADS_1
" dari mana kakak tahu??"
" dari cerita kamu tadi, dan satu hal lagi. laki - laki baik - baik tidak akan mencintai istri orang dan tidak akan berusaha merebutnya. paham kamu???!!!"
" Tidak" jawab Rena sambil
tersenyum kepada Kakak nya
Azka hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
" Kak, terimakasih ya" ucap Rena
Ucapan yang tidak terduga dari mulut Rena kepada Azka.
Azka tidak bisa menebak Rena sebenarnya seperti apa. Salahnya dia terlalu acuh kepada adiknya.
" loh kita kemana Kak.?"
" ngaterin kamu pulang, dan satu lagi. tidak perlu berteman lagi dengan Sesil." ucap Azka
" ga janji" ucap Rena yang berhasil membuat Azka menggeleng gelengkan lagi kepalanya.
Ponsel Azka berdering tanda panggilan masuk
" hallo sayang"
" Abang di mana??" tanya Nisa di sebrang telepon.
" Kamu tunggu dulu di sana, Abang nganterin dulu Rena pulang"
" oke Bang, sekalian nemenin Rinda. Mas Andra nya keluar dulu" ucap Nisa
" Oke Abang akan segera kembali" ucap Azka
" Nisa ya??" tanya Rena saat Azka sudah memasukan kembali ponselnya ke dalam saku
" iya, Kakak ipar kamu"
Rena terkekeh mendengar ucapan Azka.
----- tak butuh waktu lama, Andra sudah berada di perusahaan angkasa jaya.
Andra bersama tim nya yang memakai pakaian preman, Andra tidak ingin membuat curiga karyawan perusahaan jika dtang ke perusahaan Angkasa Jaya dengan seragam polisi
" saya wakil direktur perusahaan Wijaya Grup. saya ingin bertemu atasan kalian" ucap Andra kepada resepsionist
" Bapak sudah buat janji??" tanya resepsionist tersebut dan melihat tiga orang yang mengikuti Andra.
" Sudah " ucap Andra dengan tegas
" bapak sudah tahu ruangannya???"
" sudah" ucap Andra tanpa melihat resepsionist.
" silakan kalau begitu Pak" ucap Resepsionist.
----- beberapa menit kemudian Andra sudah berada di depan pintu direktur perusahaan Angkasa jaya.
" Pak Andra" ucap seseorang yang mengenal Andra sebagai wakil dirut wijaya gruo sekaligus menantu Pak Bastian
" saya ingin bertemu Pak Bastian"
" sebentar Pak, ucap nya sambil mengangkat gagang teleponnya.
" Ada Pak Andra ingin bertemu bapak"
" baik pak"
----" Pak Andra silakan masuk"
Andra pun langsung masuk setelah orang tersebut mempersilakan Andra masuk.
" selamat sore" ucap Andra saat membuka pintu
Terlihat Bastian mengembangkan senyum dan duduk di kursi kebersarannya.
" Selamat sore, silakan masuk Pak Andra'" ucap Aryo.
" Ada apa anak mantu?? apa kamu sudah tahu sekarang perusahaan Angkasa Jaya menggeser posisi perusahaan Wijaya?"
Ucapan Bastian membuat Andra mengernyitkan keningnya.
" Saya tahu, kamu kesini ingin mengucapkan selamat bukan??"
" oh iya, selamat atas melaju pesatnya keuangan perusahaan Angkasa jaya" ucap Andra.
" Ya...ya ...ya..." ucap Bastian tersenyum puas karena merasa mengalahkan perusahaan milik anak mantunya.
" apa kabar istri kamu??"
" Baik, sangat baik"
" ada apa kamu ke sini??"
" Saya hanya ingin mennayakan apa benar ini virtual account bank milik perusahaan Angkasa jaya??" Andsmra menunjukan nomer virtual account tersebut.
" iya benar, itu milik salah satu saham perusahaan saya" ucap Bastian
Aryo pun melihat virtual accountnya.
" Benar Pak Aryo???" tanya Andra setelah Pak Aryo melihatnya
" iya" ucap Aryo sebagai kaki tangan Bastian dan mengetahui nya.
Andra menarik nafas panjang dan memerintahkan kedua anggota nya yang laki - laki untuk menjaga Bastian.
" Pak Bastian akan ikut sukarela dengan saya, atau anggota saya yang terpaksa memaksa Bapak??"
" apa maksudnya??" tanya Bastian. begitupun Aryo yang tak kalah kaget
" Saya akan jelaskan di kantor polisi" ucap Andra meninggalkan ruangan Pak Bastian dan membiarkan anggotanya menangani Bastian.
" silakan ikut baik - baik atau anggota saya yang memaksa, " ucap Andra sebelum hialng dari balik pintu ruangan Bastian
Bastian sampai menganga dengan ucapan Andra
.
.
.
.
.
like
vote
komentar
__ADS_1
segitu dulu ya geng🤸♀️🤸♀️🤸♀️🤸♀️🤸♀️