
haaayyyy....ada yang rindu pasangan Mas Andra dan Rinda???
dari kemarin jari - jariku berkedut dan menyuruhku melanjutkan cerita mereka..🤣
suka lanjut baca....ga suka silakan tinggalkan🥰🥰🥰💞💞
------------------
Tangerang
Rinda sudah masuk disebuah ruangan, Aula Polresta Tangerang yang sudah disiapkan Mas Andra untuk mediasi.
Rinda melihat Andra telah duduk bersama Grace, tampak Andra dan Grace sedang berbincang.
Andra tersenyum saat melihat sosok istrinya yang berubah menjadi lebih dewasa saat diruang rapat perusahaan.
Rinda melihat beberapa orang yang tak dikenal, mungkin itu merupakan keluarga korban.
suasana ruangan mediasi terlihat seperti ruang pengadilan untuk Rinda.
Dimana saat ini dia harus bisa meluluhkan emosi keluarga korban, segelintir orang yang ingin menutup proyek dan membuat keluarga korban mencabut laporannya kepada pihak polisi.
Rinda menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
dilihatnya Pak Rendi sudah duduk disana.
Rinda pun telah duduk didampingi Tim nya. Rinda menyelidik wajah Pak Rendi yang lebih santai, beribu curiga muncul dibenak Rinda.
mediasi belum dimulai karena menunggu Bastian selaku direktur perusahaan.
Andra bangkit dari tempat duduk nya dan berbisik kepada Rinda.
"ikut Mas dulu sebentar" bisik Andra
tanpa menjawab bisikan Andra, Rinda langsung berdiri dan mengikuti langkah Andra.
sebelum melangkah mengikuti Andra, Rinda pamit kepada Tim nya, Lela, Nisa dan Irfan.
Andra membawanya kesebuah ruangan, mungkin dia meminjam ruangan teman satu leting nya di Polresta Tangerang.
Rinda membaca Ruangan atas nama AKP. Roni Gultom Ka.Intel
"Ada Apa Mas?" tanya Rinda heran setelah mereka berada diruangan.
"dengar, Mas dari kemarin sudah mempelajari kasus ini.kamu jangan lupa, Mas Polisi. Mas sudah baca laporan tentang kasus kecelakaan kerja yang menimpa proyek apartemen perusahaan, Mas lihat data-data KTP korban bukan orang Tangerang.tapi pendatang dari Jawa Timur. Biaya pengobatan pemakaman Jenazah korban sudah di tanggung perusahaan, perusahaan juga memberikan santunan kematian, separo uangnya diambil dari saham kamu, heran nya ada tuntutan untuk menghentikan proyek apartemn kita yang sudah setengah jalan."
"terus kenapa keluarga korban sudah lebih dulu datang di sini untuk mediasi??terus kenapa melaporkan ke polisi kalau mereka sudah menerima santunan kematian??"
Rinda tampak berfikir karena Andra tidak menjawabnya.
sejenak mereka saling tatap, Rinda menutup mulutnya
"Istri pintar" ucap Andra mengacak rambut Rinda.
"sepertinya memang ada salah satu orang dari perusahaan yang terlibat, dan ingin proyek di hentikan. Jadi memanfaatkan keadaan, Apa mungkin Pak Rendi.tapi dia Kakak nya Mamah Riska.Masa iya dia terlibat.
"kalau terbukti bersalah tidak ada alasan, kalaupun keluarga korban tidak ingin mencabut laporan kepada polisi. Jangan takut, kita lanjutkan penyelidikan polisi. Mas akan selidiki kasus ini. Mas pastikan tidak ada Polisi yang bekerja sama dengan pihak terkait." ucap Andra.
"baiklah, ayo keruang mediasi. Pengen cepat selesai deh." Ucap Rinda hendak meninggalkan ruangan.
sebelum keluar Andra menarik lengan Rinda.
"kenapa Mas??"
Andra tersenyum lalu mengecup kening Rinda.
"sekarang kamu terlihat dewasa sayang, dan malah makin menggemaskan"
Rinda mencubit perut Andra. "haaaaaa nanti di rumah manja lagi" ucap Rinda.
"sayang" ucap Andra sambil menangkup kedua sisi wajah Rinda.
"Iya"
" Jangan terlalu dekat dengan Investor perusahaan Bima Sakti, Mas tidak suka cara dia menatap mu"
__ADS_1
"tadi Rinda diberi kesempatan bicara, jadi ya pantas saja kalau semua orang menatapku"
"tapi tatapan Radit tidak biasa sayang"
"Mas cemburu??"
"Iya" ucap Andra melepaskan tangkupan tangannya diwajah Rinda.
"dengar Mas, sama seperti yang pernah Mas bilang kepada Rinda. Walaupun ada 100 Radit atau 1000 Radit. Tidak akan mampu menggoda Rinda dan merubah perasaan Rinda kepada Mas Andra" ucap Rinda memeluk erat Andra.
Andra tersenyum lebar, mengecup kepala Rinda yang ada didekapannya.
Rinda melepaskan dekapannya dan menatap kedua bola mata Andra.
"Mas juga harus hati-hati dengan sekertaris Mas yang baru. PaMer ga asik ah, malah memberikan sekertaris yang lebih cantik dari Emma. Bahkan body nya lebih aduhay" ucap Rinda.
Andra tersenyum dan menarik pinggang Rinda kedekapannya.
"hanya kamu yang mampu membangunkannya, secantik apapun, seaduhay apapun body nya.dia tidak pernah bangun saat dekat dengan wanita lain" ucap Andra.
Rinda tersenyum saat merasakan sesuatu yang mengeras diperutnya.
" sudah ah, nanti lanjut di rumah." ucap Rinda sambil merapikan dasi Andra dan jasnya.
"Ayo" Rinda menarik jemari tangan Andra keluar dari ruangan.
Andra mengatur nafasnya agar belalainya tenang kembali.
Rinda dan Andra sudah kembali ke ruang mediasi.
Rinda duduk diantara Lela dan Nisa.
Sebelum duduk Rinda melihat Lela berbisik bisik dengan Irfan.
"Ada apa??" bisik Lela setelah melihat Lela dan Irfan melihat ke arah Rinda.
"Rin, kata Kak Irfan ada yang janggal. Dia merasa kenal dengan orang yang ada di samping Pak Rendi"
"maksudny??" bisik Rinda sambil mengarahkan pandangan kepada sosok laki-laki berkumis, berkacamata dan bertopi tersebut.
Rinda hanya mengangkat bahu nya, mulai menguasai ruangan.
sepertinya ruang mediasi memang sudahbberada di gemggamannya. Beruntung dia dapat mood booster dari suami dan tim.
saat moody nya bagus Rinda bisa mengatungi lautan dan gunung dengan waktu bersamaan.Apalagi ini hanya menaklukan segelintir orang hal yang sangat mudah untuk Rinda.
sedangkan saat moody nya jelek, dia bisa memporak porandakan apa yang ada disekitarnya.
tak lama Radit bersama asistennya tiba di ruangan tersebut.
Andra mengernyitkan dahinya saat melihat sosok Radit tidak melepaskan pandangan kepada Rinda saat masuk ruangan dan duduk berhadapan dengan Rinda.
kemudian tak lama Aryo datang mewakili direktur Angkasa Jaya.
Aryo membuka pembicaraan diruangan tersebut.
"kami atas nama perusahaan Angkasa Jaya ingin mengadakan mediasi mengenai laporan mengenai proyek yang menelan korban dan......." ucap Aryo
"iya korban nya adalah suami saya, sekarang saya janda.anak saya yatim" ucap ibu-ibu memotong ucapan Aryo.
"saya ingin perusahaamln menghentikan proyek pembangunan apartemen diwilayah kami" ucap laki-laki yang terlihat garang duduk tepat disamping pak Rendi
"anak saya salah satu korban kecelakaan kerja di proyek tersebut" ibu-ibu paruh baya terisak dalam tangis.
Rinda memperhatikan gerak gerik keluarga korban, sesekali Rinda melirik suaminya. hingga mereka beradu pandang.
Entah apa yang Rinda dan Andra pikirkan saat itu.
Aryo kemudian membuka suara.
"Bu Rinda, sebagai kuasa hukum perusahaan yang akan berbicara disini" ucap Aryo melimpahkan semua nya kepada Rinda.
"baik selamat sore semuanya, saya disini sebagai tim kuasa hukum perusahaan Angkasa jaya.saya disini sebagai penengah bukan untuk melindungi perusahaan dimana saya di tunjuk untuk menjadi tim kuasa hukum nya.
Jika memang perusahaan Angkasa Jaya bersalah, maka kami akan bertanggung jawab" ucap Rinda
__ADS_1
"tentu saja harus bertanggung jawab, sudah jelas alat berat yang di gunakan perusahaan tidak layak pakai hingga crane penggangkat alat berat saja terputus" ucap salah satu keluarga korban.
"baik disini saya mau menanyakan kepada keluarga korban, apa yang kalian laporkan kepada pihak kepolisian??"
"saya melaporkan anak saya meninggal dilokasi pembangunan proyek karena kelalaian pihak perusahaan"
"baik bu, disini saya ada dokumen data-data pekerja yang meninggal. Disini tercatat bahwa semua buruh lepas, kalau mereka buruh yang sudah ditunjuk perusahaan kami sudah mendaftarkan asusransi jiwa mereka. Dan yang saya baca dari dokumen perusahaan, perusahaan sudah memberikan santunan kematian untuk korban yang meninggal"
"santunan perusahaan tidak bisa mengembalikan anak saya" ucap nya terisak
"tapi Ibu sudah menerima uang santunan tersebut, jadi kenapa anda masih melapor??"
"saya ingin proyek dihentikan" ucap laki-laki yang terlihat sangat arogan.
"Maaf pak, ini tidak ada kaitannya dengan penghentian proyek kami, saya akan meminta pihak kepolisian untuk meneruskan menyelidiki kasus ini, dan menerima laporan keluarga korban"
Rendi menelan air liurnya sendiri, ternyata tidak mudah untuk bisa mengehentikan proyek nya Bastian, dan membuat dia menanggung kerugian" gumam Rendi.
"saya disini datang baik-baik, untuk mediasi bersama keluarga korban, walau bagaimanapun perusahaan sudah bertanggung jawab.dan kecelakaan ini tidak seharusnya kami mengehentikan proyek kami, tapi kalau keluarga korban tidak ada itikad baik, silakan lanjutkan laporan dan kembalikan uang santunan yang sudah bapak ibu terima".
otomatis perkataan Rinda membuat Pak Rendi tersentak kaget, bagaimana dia bisa mengembalikan santunan perusahaan, sedangkan yang ada ditempat mediasi hampir 90% orang-orangnya.
"amatir" gumam Rinda memicingkan matanya melihat satu persatu orang yang ada dihadapannya yang mengaku sebagai keluarga korban gelalapan.
"pilihan ada ditangan kalian semua, cabut laporan, tidak ada penghentian proyek atau lanjutkan laporan kembalikan uang santunan perusahaan" ucap Rinda dengan sorot mata tajam dan menerkam.
Pak Rendi memijit alisnya,sebagai kode meminta orang-orang yang ada disampingnya menghentikan mediasi. karena memang dia tidak memikirkan sejauh ini.dia menganggap mudah untuk menjungkalkan Bastian. Tapi realita tak seindah ekpektasinya.
sejenak ruang mediasi hening, Andra menyilangkan kedua tangannya di dada, takjub akan kemampuan Rinda.
"kami memilih pilihan pertama, ucap ibu-ibu yang tadi terisak tangis dan terlihat lebih baik"
"saya juga akan mencabut laporan saya"
"terima kasih kerjasamanya" ucap Rinda kepada keluarga korban palsu tersebut.
Rinda tersenyum sinis dan menatap mata Rendi yang dari tadi tidak bergeming sama sekali. Rinda dan Pak Rendi beradu pandang, sorot mata penuh kebencian diperlihatkan Pak Rendi.
" Kamu akan menyesal berurusan denganku, sebentar lagi dunia akan tahu siapa kamu Rinda." gumam Pak Rendi.
" kalau begitu mediasi ini saya kira cukup pak Aryo, kita bisa melanjutkan kembali proyek kita yang tertunda" ucap Rinda menutup beberapa dokumen dibantu Tim nya.
satu persatu keluarga gadungan korban disalami Rinda.
Radit tersenyum simpul menatap Rinda. Radit semakin terobsesi untuk mengenal Rinda lebih jauh.
sedangkan Aryo membiarkan laptopnya menyala, Aryo mengadakan siaran langsung saat mediasi agar dilihat langsung oleh Bastian.
Bastian bahkan memegang dadanya yang berdenyut seraja hujaman belati tajam di dadanya. ingin rasa nya Bastian berada disana dan memeluk juga mencium Rinda, anak yang tak pernah di inginkannya membela nya mati-matian.
bahkan tanpa terasa air mata lolos dari seorang Bastian.
.
.
.
.
.
.
.
.
like
vote
komentar
i love you all...
__ADS_1