
Setelah obrolan ringan dengan Nisa, jam makan siang Rinda memutuskan untuk ke Polres dimana suaminya berdinas.
Nis gue mau ketemu Mas Andra"
" Ayo gua juga mau ketemu Bang Azka, kita makan siang di sana"
" eh coba telepon Bang Azka, siapa tahu mereka masih di rumah sakit dan nungguin Bimo"
" Oke" ucap Nisa sambil mengambil ponselnya menghubungi Azka.
" Bang di mana??"
" Abang lagi di ancol, kenapa??"
" Lah ko di ancol, Abang piknik???"
" Bukan, ada temuan Jenazah di sini"
" Ikh serem"
" iya kemungkinan korban pembunuhan"
" Terus Abang masih lama balik ke Polres??"
" Masih, setelah dari sini ke rumah sakit lagi identifikasi korban"
" Oia keadaan Bimo bagaimana Bang??"
" Bimo masih belum sadarkan diri"
" koma??"
" Iya"
" kalau udah koma jarang yang bangun lagi Bang, biasanya langsung titik"
" Siapa tahu ada keajaiban"
" Lela masih di rumah sakit Bang??"
" Tadi sih iya"
" Terus sekarang Abang sama Mas Andra??"
" Iya"
" Oh kalau begitu kita tidak jadi ke Polres, kita mau ke rumah sakit tengok Papah Lela sekalian bertemu Abang di sana."
" Oke, Abang kerja dulu ya"
" Iya" jawab Nisa sambil memutuskan sambungan teleponnya.
" bagaimana??"
" suami kita lagi di Ancol, katanya ada penemuan jenazah"
" korban pembunuhan??"
" Iya katanya"
" ikh serem, terus kita jadinya ke rumah sakit tengokin Papah Lela??"
" Iya atau Elu mau ke Polres dulu tengokin papah kamu??" tanya Nisa.
" hah??"
" Ya siapa tahu Elu ingin tengokin Papah kamu dulu kalau mau Gue temani"
" Ga usah deh Nis, gue belum siap"
" Yakin??"
" heeem"
" Ya sudah yuk kita tengokin Papah Lela"
" hey mau pada kemana??" tanya Mba Lasmi tiba - tiba saat mereka hendak pergi
" nengokin Bos dulu, nengok Pak Rio"
" Ikut dong"
" terus kantor siapa yang jaga??"
" biarin lah kali - kali pualng setengah hari, lagian Pak Rio kan calon mertua Mba juga. Mas Lucky juga minta Mba pualng kerja langung kesana"
" sekarang kan belum jam lulang kerja Mba"
" Lah terus kalian?? bukannya kalian juga pulang duluan??"
" Ikkj ini kita jam istirahat makan siang ko, nanti balik lagi".
" Diragukan, kalian sering keluar makan siang taoi tidak balik lagi ke kantor"
" Hehehe itu sih kalau ada Lela, ya Nis??"
" Iya"
" Akh pokoknya Mba ikut bareng ke sana"
" Mba bawa mobil sendiri kan??"
" Iya lah Rin"
" Ya udah ayo, seru juga Nis kayanya balapan smaa Mba Lasmi"
" Okelah biar Gie ngerasain juara 2 dari 3 pembalap" ucap Nisa sambil terkekeh
" Ih tidak boleh balapan, memang jalan raya untuk balapan. kalau mau balapan ya di sirkuit lah
" hiburan Mba, kali - kali"
" tetap tidak boleh, balapan yang bukan tempatnya itu membahayakan diri sendiri dan orang lain.kalau di sirkuit kan cuma membahayakan diri sendiri"
"duuuuh, udah kaya ngomong sama momy gue deh" ucap Nisa menyimpan kepalanya di bahu Mba Lasmi
" Akh Jadi kangen Mama " ucap Rinda kemudian ikut menyenderkan kepala di bahu Mba Lasmi di sebelah yang kosong
" Hadeuh, ayo ah berangkat" ajak Mba Lasmi
" gasssspooool" ucap Rinda.
dan benar saja Mobil Rinda sudah melesat jauh meninggalkan mobil Nisa juga Mba Lasmi
" oaaaalaaah Rinda gendeng yo wong lagi hamil juga, bawa mobil ko koyo wong kesurupan" ucap Mba Lasmi.
Dan tak lama...wuuummmmm" mobil Nisa juga melesat meninggalkan Mba Lasmi.
" Emang bocah gendeng kabeh nyo" ucap Mba Lasmi kemudian.
Rinda dan Nisa sudah sampai rumah sakit duluan
" Nis, Mba Lasmi ketinggalan jauh kayanya. kita masuk duluan yuk"
" Sebentar gue telpon Lela dulu" ucap Nisa
Lela merasakan getaran ponsel di saku celananya
__ADS_1
" hallo Nis"
" Gue di lobby Rumah Sakit, ruang rawat Papah Lu dimana??"
" Gue di ICU sama Kak Irfan. Lagi lihat perkembangan Bimo. Elu mau ke ruangan Bokap gue apa langsung ke ruang ICU??"
" ke ICU dulu deh, tar ke ruangan Bokap Lu nya bareng"
" Oke" jawab Lela dan mengakhiri sambungan teleponnya
" Rin, kita ke ruang ICU dulu. lihat Bimo. Lela disana bareng Kak Irfan.
" Oke"
Rinda pun ke pusat informasi menanyakan ruang ICU sebelah mana . setelah dapat informasi mereka menuju ruang ICU.
----- dari lorong terlihat Lela dan Kak Irfan sedang berdiri, dengan segera mereka menghampiri Lela juga Kak Irfan.
" Bagaimana keadaan Bimo??"
" belum melewati masa kritis Rin, dan belum sadar"
" Apa nya yang luka??"
" Sekujur tubuhnya luka Nis, wajahnya juga tidak berbentuk. terus perutnya kena tusukan pisau"
" awww, ngilu Gue. jangan dilanjutkan" ucap Rinda.
" Gue pengen masuk dan lihat Bimo"
" Paling kalian melihatnya di balik kaca, belum bisa masuk selain dokter dan perawat"
" Iya sih tidak apa - apa, yang penting kita lihat keadaannya" ucap Nisa menarik lengan Rinda mendekati pintu untuk masuk ruang ICU
Rinda dan Nisa menutup mulut mereka melihat keadaan Bimo, sungguh sangat mengkhawatirkan. Kemungkinan selamat sepertinya sangat tipis.
Rinda tahu kalau Bimo yang telah mencelakai almarhum mamah Ayu, tapi jauh di lubuk hatinya Rinda sudah memaafkan Bimo. apalagi ada dalang di balik kejahatan Bimo malah membuat Rinda kasihan.
Nisa dan Rinda saling lirik, mereka tidak bisa berkata apa - apa lagi saat melihat kondisi Bimo.
peralatan medis menempel di seluruh tubuhnya.
" Gue tidak kuat kalau harus terus berdiri di sini dan melihat Bimo"
" Sama gue juga" ucap Nisa dan saat bersamaan mereka keluar dari sana
" Bagaimana??" tanya Lela
" Tragis ya" ucap Nisa
" Gue ga tega lihat Bimo, sumpah La. kasihan"
" Gue juga" ucap Lela dan sontak Kak Irfan langsung memeluk bahu Lela
" Kak Irfan sudah tahu ceritanya??"
" Sudah " jawab Lela sambil tersenyum melirik Kak Irfan.
" Terimakasih ya, kalian sudah menjaga Lela"
" Sama - sama Kak"
" Eh, orang tua Bimo tidak kesini??"
" kesini, tapi mereka pulang dulu. mereka merasa amat Bimondinjaga ketat smaa Polisi"
" Elu cerita semua sama bokap nyokap Bimo". tanya Rinda
" Iya, dan mereka menyesal sudah bersikap tidak adil kepada Bimo".
" Iya gue juga berharap Bimo segera sadar".
" Ayo kita ke ruangan Bokap Lu La" ajak Rinda
" hemmm ayo, eh kita tadi kesini sama Mba Lasmi"
" terus mana dia??"
" Ditinggalin La, lama bawa mobil nya kaya kira - kura tahu sendiri Rinda bawa mobil nya bagaimana. dan gue ikutan ngebut dong"
" udah lama gue ga test drive"
" heeeh inget dedek janin" ucap Lela sambil melotot dan memegang perut Rinda.
" Inget dong" ucap Rinda sambil terkekeh dan tak lama mereka pun telah berada di ruang Papah Lela dan di sana sudah ada Mba Lasmi juga Kak Lucky dan Mamah Lela.
" Hemmm ternyata rombongan" ucap Papah Lela
" Om, maaf kita kerja setengah hari"
" Iya tidak apa - apa, " ucap Om Rio sambil tersenyum kepada Nisa dan Rinda.
" Rin, maaf ya Om tidak bisa menjadi pengacara Papah kamu"
" Iya Om tidak apa - apa , kan Om sakit"
" Kamu saja Rin yang jadi pengacara Papah kamu"
Rinda tidak bisa menjawab perkataan Om Rio. Rinda hanya membalasnya dengan tersenyum.
saat semua otang terpaku dengan ucapan Papah Rio. ponsel Rinda berdering
Rinda mengambil ponsel yang ada di tasnya.
" Maaf Rinda jawab telepon Mas Andra dulu"
" Hallo Mas".
" Kamu masih di rumah sakit Yank??"
" iya ini du ruangan Papah Lela"
" Kenapa??"
" Yank, Eko tewas. ternyata setelah di identifikasi jenazah uang ditemukan di Ancol jenazah Eko asisten Pak Radit"
" Berarti Saksi kunci sekarang tinggal Bimo??" ucap Rinda yang membuat smeua mata di ruangan tersebut menatap Rinda.
" Iya, Mas sudah menyuruh anggota Mas memperketat pengawasan Bimo selama perawatan.
" Bos Rangga sudah tahu kalau Eko tewas??" ucap Rinda yang membuat semua orang di sana makin memperhatikan pembicaraan Rinda dengan swksama.
" iya Mas tadi sudah memberitahu Bos Rangga. pembunuhan Eko sepertinya tiga hari yang lalu, jenazahnya sudah bengkak
" Ya Tuhan" ucap Rinda
" ya udah ya, Mas masih di ruang forensik. dan kita tidak bisa pualng bareng. Mas masih sibuk, kamu pulang duluam saja dan hati - hati"
" Rinda pulang ke rumah Mamer dan Pamer ya"
" Oke itu lebih baik" ucap Andra dan menyudahi teleponnya.
" Eko tewas??" tanya Lela memastikan
" iya"
" Pasti Pak Radit nih" ucap Nisa
__ADS_1
" jelas lah, siapa lagi" ucap Lela kemudian
" Pak Radit pemilik Bima sakti??" tanya Papah Rio
" Iya Pah, dia jahat banget. cuma belum cukup bukti untuk menangkapnya" ucap Lela dengan gemas
" Pak Radit itu anak angkat teman Papah."
Papah kenal orang tua Pak Radit??"
" Orang tua nya dulu meninggal kecelakaan mobil, saat dia usia 12 tahun, sejak sat itu Pak Radit di besarkan oleh pak Wiguna dan istrinya, kebetulan Papah nya Radit karyawan terbaik Pak Wiguna".
" haaah jadi cuma anak angkat Pah" ucap Lela dengan terkejut. sama halnya Rinda, Nisa.
sedangkan Mamah Lela dan Lucky juga Lela terlihat biasa saja karena mereka tidak mengenal sosok Radit yang sednag di bicarakan Papah Rio dan geng.
" Pak Radit dulu juga sempat kecelakaan mobil denga calon tunangannya, dan calon tunangannya meninggal di lokasi"
" Sebentar Pah, apa yang pernah masuk berita hot dulu ya. pengusaha muda putra bapak Wiguna kecelakaan"
" Iya dulu pernah masuk berita"
" jaman kapan La beritanya??" tanya Rinda
" Jaman jahiliyah Bo, jaman kita masih pake bando"
" kapan kita pakai bando??"
" waktu SMA"
" perasaa gue ga pernah pakai bando" ucap Nisa
" Iya istilahnya saking sudah lama".
" Apa Pak Radit punya kepribadian ganda ya" ucap Rinda
" kemungkinan" jawab Lela dan Nisa.
" waah Om ini informasi nya terima kasih sekali, semoga bisa jadi titik terang untuk Mas Andra" ucap Rinda
" Terus Mas Andra jadi tidak kencan makan malam bareng Alinda??"
" ga tahu, belakangan malah makin sibuk saja" ucap Lela
" terus rencana Elu deketin Pak Radit bagaimana??"
" Mas Andra inginnya Pak Radit yang dekati Rinda"
" oooh begitu ya, ya sudab lah ikuti permainan suami kamu saja Rin. Gue sih cuma bisa mendoakan semoga secepatnya ni kasus selesai"
" iya Om juga berharap begitu, Om yakin Papah kamu tidak bersalah Rin. tolong lah Papah kamu sekali ini saja" ucap Om Rio
" Nisa juga sudah menyuruhnya Om"
" iya Rin, siapa tahu bisa memperbaiki hubungan kalian".
" nanti ya gue pikirin " ucap Rinda
" Jam besuk sudah habis, ayo pulang" ajak Mba Lasmi
" ikh Mba Lasmi"
" Iya benar ko jam besuk sudah habis, ini ruangan jadi panas nih kebanyakan orang.
" Ya sudah mending kalian pualng istriahat. malam ini Mamah Yang temani Papah. sudah tidak ada yang boleh membantah. Mamah ingin berdua dengan Papah" ucap Mamah Lela sebelum Lela dan Lucky anaknya melarangnya.
" ya udah ya tante Om kami pamit. ucap Nisa dan Rinda
begitupun Kak Irfan dan Lela kemudian Lucky dan Lasmi meninggalkan ruang perawatan Papah Rio.
------ di kediaman Renata
Rena sedang berbaring di tempat tidurnya, dia sedang menonton televisi dan melihat sekilas info.
Rena sangat kaget saat melihat berita penemuan jenazah di sekitar pantai Ancol, dan juga menyebutkan bahwa korban bernama Eko gunawan karyawan perusahaan Bima sakti.
" ya tuhan Eko" gumam Rena
" Sesil, sesil, sesil..." ucap Rena kemudian
Rena mencoba menghubungi Sesil, tapi tidak ada jawaban.
" akkh Sesil" teriak Rena dan beranjak dari tempat tidurnya untuk menuju apartemen Sesil,
Rena dengan kecepatan tinggi menjalankan mobil nya, perasaannya tidak enak. pasti Sesil sudah melihat beritanya karena belakangan ini Sesil terus mencari Eko dan juga memantau berita.
saat sampai di apartemen Sesil, Rena tidak bsia membuka pintunya, sesil menguncinya.
Rena meminta bantuan pihak aparremen untuk membuka pintu apartemen Sesil, Rena sangat khawatir Sesil nekad.
saat pintu berhasil di buka, Rena melihat Sesil sudah terbaring di temoat tidurnya, Rena juga melihat Sesil telah memotong urat nadinya menggunakan pisau.
" Sesil!!!!"
Ya tuhan Sesil, cepat tolong panggil ambulance" teriak Rena kepada pegawai apartemen tersebut.
" Sesil, Sesil bangun. kenapa kamubberlaku bodoh begini" teriak Rena dan berudaha menghentikan darah dari nadi Sesil denga mengikatnya menggunakan shal milik nya.
----- tak lama petugas medis datang dan membawa Sesil ke rumah sakit
Rena tak hentinya menangis dan memanggil manggil nama Sesil.
Rena juga mrmberitahu orang tua Sesil.
saat sampai di ruamh sakit, Sesil langsung di beri pertolongan beruntjnglah nadi nya tidak terputus dan Sesil bisa di selamatkan.
Orang tua Sesil datang saat Sesil sedang ditangani dokter.
Rena dengan hati - hati menceritakan apa yang dia alami Sesil.
Mamah nya Sesil langsung tidak sadarkan diri saat mendengar penjelasan Rena.
Papah Sesil juga kelihatan sangat terpukul
" Maaf Om, Tante saat ini yang dibutuhkan Sesil dukungan kita sebagai keluarganya"...
" terimakasih Nak Rena karena datsng teoat waktu ke apartemen Sesil, kalau saja terlambat mungkin kami tidak akan tahu apa yang di alami Sesil, kenapa dia simpan masalahnya sendiri.
" Sesil bilang sama Rena kalau dia takut Om dan tante marah"
Papah Sesil tidak bicara lagi, dia fokus membantu Mamah Sesil yang oingsan agar di beri pertolongan.
" Ya Tuhan kenapa nasib nya Sesil malang sekali" gumam Rena kemudian
.
.
.
.
jangan lupa like vote dan komentar
i love you all
Ketcup basyah untuk semua🥳🥳🥳🥳❤❤❤
__ADS_1