HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
100. Kecurigaan Annisa


__ADS_3

Tidak hanya muak Sania juga merasa jengkel karena telah di rendahkan oleh laki-laki di hadapannya. Bagaimana tidak, dia yang biasa dengan pujian dan sanjungan, kini harus menjadi seseorang yang menyedihkan bahkan tidak di percaya oleh orang.


"Lalu apa mau mu !" tantang Sania yang sudah mulai gerah dengan sikap laki-laki tersebut.


"Tidak sulit Nona" Ujar sang lelaki dengan senyum smirk


Sania hanya memicingkan matanya, menatap tajam pada manusia yang tengah duduk tepat di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Anda tidak perlu memberikan kekurangan dari perjanjian kita sebelumnya"


"Lalu?"


"Aku hanya ingin semalam bersama nona Sania "


"Cih. Sudah gila rupanya !!" ujar Sania dengan sinis.


"Jangankan semalam, bersama mu sedetik pun rasanya aku sudah muak !!" ketus Sania dengan membuang pandanganya.


Bukan marah, laki-laki tersebut justru tersenyum kecil, melihat tingkah sombong Sania. Nyatanya super model tersebut masih bisa jual mahal.


"Tidak masalah jika nona tidak bersedia, Saya rasa pertemuan kita kali ini sudah cukup, Permisi !" Tegas laki-laki di hadapan Sania tanpa ragu.


Melihat sosok di hadapannya kini mulai beranjak meninggalkan nya, Sania mulai pikir-pikir, jika dia menerima tawaran laki-laki tersebut sudah dapat di bayangkan apa yang ingin di lakukan nya, namun jika dia menolak maka rencana nya akan gagal sebelum berkembang. Sungguh pilihan yang sulit bagi Sania saat itu.


"Tunggu !"


Terlihat senyum kecil dari bibir sang lelaki , mendengar dirinya kembali di panggil oleh Sania, dia pun membalikkan badan.


"Apa anda berubah pikiran ?" tanya nya tanpa basa-basi.


Sejujurnya Sania begitu jijik namun apa boleh buat, demi sesuatu yang sudah sejak lama dia inginkan dan harapkan.


"Baiklah tentukan kapan dan dimana tempatnya, aku akan datang !" Ujar Sania.


Sebuah senyum menggoda jelas Sania lihat dari wajah laki-laki di hadapannya, benar-benar muak kali ini Sania menghadapi nya.


Berbeda dengan Sania yang terus saja ber ulah, justru kini Annisa tengah disibukan dengan beberapa persiapan, bukan hanya Annisa saja yang bersiap, nyatanya Yasmine pun juga ikut sibuk menyiapkan baju yang akan di kenakan saat wisuda sang mommy.

__ADS_1


Rasanya kebahagiaan begitu sempurna, terlebih Hari ini Annisa mendapat kan kabar jika kondisi sang Abi berangsur-angsur membaik, terlebih setelah mendengar kabar sang putri akan segera wisuda dan tidak lama lagi akan datang untuk mengunjunginya, rasanya sakit yang sebelumnya dia derita seolah hilang begitu saja.


***


Menjelang hari bahagia, tidak hanya Annisa dan keluarga kecilnya yang merasa bahagia, nyatanya keluarga Abi dan Ummi di pesantren pun juga begitu bahagia.


Bahkan mereka semua bersiap untuk turut serta menyaksikan acara di wisuda dari Putri bungsu nya tersebut, meski tidak dapat hadir nyatanya tidak mengurangi kebahagiaan diantara dua keluarga yang terpisah antara jarak dan waktu tersebut.


Kenyataan canggihnya teknologi Mampun menyatukan keduanya, sehingga seolah tiada jarak pemisah bagi mereka untuk ikut merasakan bahagia. Karena wisuda tersebut rencananya akan pula disiarkan secara Live streaming.


***


Satu hari berlalu tepat setelah hari wisuda Annisa, dia mendapatkan kabar jika sang Abi kembali harus di larikan ke rumah sakit, hal itu akibat dadanya yang terasa kembali sesak.


Sontak hal itu membuat panik seisi rumah, tidak hanya dari keluarga , nyatanya para santri pun banyak yang juga mencemaskan kondisi Abi.


Pasalnya Abi terlihat baik-baik saja dan jauh lebih bugar setelah keluar dari rumah sakit sebelumnya, namun saat ini kembali harus di larikan ke rumah sakit akibat penyakitnya kambuh.


Berita tentang kambuhnya Abi pun tak luput dari pendengaran Annisa yang berada di negeri sebrang.


Cukup terpukul dengan kenyataan jika Sang Abi kembali jatuh sakit, seketika perasaan takut menyeruak begitu saja, bagaimana hal itu bisa terjadi pada sang Abi.


Tidak hanya sedih sebab kabar sakitnya sang Abi, kini Annisa pun juga sangat terpukul, menatap layar pipih di hadapannya dengan deretan gambar sang suami tengah bersama wanita lain, sosok wanita yang begitu tidak asing bagi Annisa.


Ingin marah, namun rasanya berteriak saja Annisa sudah tidak memiliki tenaga.


"Nyonya ?, Apa nyonya baik-baik saja" tanya seorang pelayan yang melihat Annisa tertunduk lesu di ujung tangga.


Namun Annisa hanya diam, dan hal itu justru menambah khawatir sang pelayan, hingga pada saat pelayan tersebut membantu Annisa untuk duduk diatas sofa ruang keluarga, dan mengambilkan minuman hangat untuk Annisa, Annisa tak sekalipun mengucapkan sepatah kata.


Beberapa pelayan tampak berkumpul untuk mengetahui kabar Sanga majikan, pasalnya hal ini kontras dengan beberapa hari yang lalu ketika sang nyonya mendapatkan kabar kehamilannya, suasana rumah begitu bahagia,namun kali ini sangat berbeda, dan tidak satupun dari mereka mengetahui sebab dari diamnya Annisa.


Tap tap tap.


Suara sepatu yang seketika memecah keheningan ruangan, terdengar menggema di setiap sudut ruang yang mendadak sepi tersebut.


Tampak beberapa pelayan yang mengerubungi Annisa, berbalik dan menundukkan wajahnya, segan terhadap majikan nya tersebut.

__ADS_1


"Ada apa ?, kenapa semua orang berkumpul disini ?" tanya Emran yang baru saja kembali dari kantor.


Berdiri diantar pelayan dan Annisa yang tengah tertunduk lesu diatas sofa, cukup membuat Emran merasa bingung, terlebih tidak ada satupun yang memberi jawaban atas pertanyaan Emran sebelumnya.


"Maaf tuan, sepertinya nyonya Annisa sedang kurang sehat" jawab salah satu pelayan yang berada di sana.


"Benarkah begitu sayang ?" tanya Emran langsung pada annisa.


Seolah tidak percaya, pasalnya Annisa terlihat baik-baik saja sebelumnya, bahkan dia begitu antusias mengantarkan Emran hingga ke ambang pintu, sebelum Emran berangkat ke kantor.


Bukan memberikan jawaban , Annisa masih tetap Dian dengan entah apa yang kini tengah dia pikirkan.


"Terima kasih, kalian boleh kembali bekerja" ujar Emran pada beberapa pelayan di sana.


Mendengar instruksi sang majikan semua pelayan yang sebelumnya mengerubungi Annisa pun bubar dan kembali pada pekerjaan masing-masing.


Sementara Annisa yang masih abai, beranjak begitu saja meninggalkan Emran yang masih berdiri dengan wajah bingung nya.


Merasa di abaikan, Emran kembali mengejar Annisa dan bertanya ada masalah apa, hingga Sang istri harus mendiamkan nya seperti ini.


Sampai di dalam kamar pun Annisa masih enggan untuk menjawab beberapa pertanyaan dari sang suami sebelumnya. Perasaan Annisa saat ini hanyalah sedih dan bingung entah harus bagaimana.


Setelah cukup menenangkan hati dan pikirannya, Annisa mencoba untuk tabayun dengan sang suami. Begitu juga Emran yang dengan sabar menantikan sang istri hingga Annisa merasa cukup tenang.


"Mas ?"


"Em ?" Jawab Emran dengan begitu semangat membenarkan posisi duduknya menghadap sang istri yang sedari tadi terus saja membuang pandanganya.


"Adakah yang mas Emran sembunyikan dari Annisa ?"


Mendengar hal itu Emran hanya dapat mengernyitkan keningnya.


"Bukankah kau tau bagaimana diriku, tidak mungkin aku menyembunyikan apapun dari mu sayang" ujar Emran


"Lalu apa maksud dari semua ini ?" tanya Annisa dengan menunjukan layar pipih di tangannya. Seketika deretan gambar dirinya dengan Sania yang tengah beradu mesra terpampang nyata, meski bukan bercinta layaknya suami istri , namun gambar-gambar di sana cukup menegaskan bagaimana intimnya hubungan sang suami dengan wanita tersebut.


Deg.

__ADS_1


Sejenak Emran tertegun dengan beberapa potret dirinya bersama Sania tengah begitu mesra.


***


__ADS_2