HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
90. Perasaan Tidak Nyaman


__ADS_3

...Pada Akhirnya takdir Allah Selalu baik, walau terkadang Butuh air mata untuk Menerimanya...


...Umar Bin Khatab...


...🍁...


Di langit yang sama namun Temat yang berbeda, nyatanya Emran tengah di selimuti dengan amarah.


Hatinya begitu terasa sakit, setelah sebelumnya mendapat sebuah email yang berisi Video antara istrinya dan seorang laki-laki yang begitu tidak dia sukai.


Segelas Sampean nyatanya menjadi teman Emran saat ini, bahkan sang asisten pun merasa heran dengan Emran. Sudah cukup lama rasanya Amir tidak melihat Emran seperti ini.


Terlebih setelah menikah dengan Annisa,Rasanya hampir tidak pernah sekalipun Emran menyentuh minuman haram tersebut.


Amir pun hanya menggelengkan kepala, untuk saat ini dia memilih untuk diam, dan tetap mengawasi sang bos.


***


Beberapa hari berlalu, bahkan hampir satu Minggu Annisa tidak mendapati sang suami pulang ke rumah, bahkan kabar pun tidak Emran kirimkan padanya, telepon nya selalu tidak aktif jika Annisa menghubungi.


Annisa cukup khawatir dengan hal itu, pasalnya tidak biasanya Emran berlaku demikian. Annisa mulai merasa ada yang tidak beres dengan sang suami. Hingga dia memilih menghubungi asisten dari suaminya untuk memastikan kondisi Emran.


Annisa memilih mendaratkan tubuhnya di taman samping kolam renang, meraih ponselnya dan mencari sebuah nama yang ingin dia hubungi.


Tepat sekali, sebelum Annisa sempat menekan panggilan pada Amir, laki-laki tersebut nyatanya telah berada di kediamannya, entah angin apa yang membawanya kemari.


"Assalamualaikum nyonya" sapa Amir


"Waalaikumsalam Amir" Jawa Annisa


"Ohya Mas Emran dimana ?, Apakah begitu sibuk sehingga dia tidak sempat untuk pulang kerumah ?"


"Apakah Mas Emran baik-baik saja ?"


"Em Maksut saya, Yasmine juga menanyakan keberadaan Daddy nya" Ucap Annisa dengan terbata.


Mendengar hal itu,seutas senyum pun terkembang di bibir Amir.


"Tenang saja Nyonya, Anda tidak perlu khawatir, Tuan Emran baik-baik saja" Ucap Amir di iringi dengan senyuman


Mendengar hal itu Annisa tampak menganggukkan kepalanya, meski ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya, Annisa memilih untuk diam, dan membatasi interaksinya dengan sang asisten dari suaminya tersebut.


"Ohya nyonya, tuan Emran menitipkan ini pada saya untuk diberikan pada nyonya Annisa" ucap Amir


Dahi Annisa tampak berkerut melihat sebuah amplop coklat yang kini tengah di pegang oleh Amir.


"Untuk saya ?"

__ADS_1


"Kenapa mas Emran tidak memberikannya langsung padaku ?"


Mendengar hal itu Amir hanya tersenyum tipis, tanpa memberikan jawaban.


Dan hal itu tentunya semakin membuat Annisa merasa bingung.


Namun tidak menunggu lama, Annisa meraih amplop tersebut dari tangan Amir.


Dengan begitu penasaran, Annisa segera membukanya amplop di tangannya.


Cukup terkejut Annisa setelah melihat isi dari Amplop tersebut, Seketika matanya berkaca-kaca melihat selembar tiket Pesawat dengan tujuan Indonesia.


Tapi kenapa!. Kenapa Emran memberikan itu padanya, hal itu tentu membuat Annisa berfikir keras. terlebih disana hanya terdapat satu tiket saja, yang itu artinya hanya dirinya saja yang akan kembali ke Indonesia.


"Tiket ?"


"Mas Emran ingin aku pergi ke Indonesia?" Telisik Annisa dengan dahi berkerut.


"Tuan Hanya menyampaikan pada saya, Nyonya bisa segera kembali ke Indonesia untuk melihat kondisi Abi"


Belum sempat Annisa berfikir panjang, nyatanya Amir telah memberikan penjelasan yang begitu menohok.


Bagaimana Emran bisa tahu tentang kondisi sang Abi, sementara Annisa sama sekali belum memberitahunya. Bahkan sudah hampir satu Minggu keduanya tidak saling bertemu dan bertegur sapa.


"Lalu dimana Mas Emran?" Lirih Annisa


"Lalu kenapa mas Emran tidak pernah pulang ?"


Mendengar pertanyaan Annisa, Lagi-lagi Amir hanya tersenyum kecil "Sebaiknya hal itu nyonya tanyakan langsung pada tuan Emran" Ucap Amir.


Setelah menyampaikan maksut dan tujuan nya, Amir bergegas undur diri dan berpamitan pada Annisa.


"Tunggu !"


"Ya nyonya !"


"Lalu beberapa hari ini, dimana mas Emran tinggal ?" tanya Annisa penuh selidik.


Lagi-lagi Amir tersenyum, jujur dia tidak ingin memberitahukan keberadaan sang bos, karena itu merupakan permintaan Emran, namun melihat kekhawatiran Annisa yang begitu besar pada Emran, rasanya Amir tidak cukup tega untuk mendiamkannya.


"Beberapa hari ini tuan menginap di apartemen" ucap Amir.


"Apartemen?" Ulang Annisa


bahkan Annisa tidak pernah tahu jika sang suami memiliki apartemen khusus yang dia tinggali.


"Bisakah kau memberitahu kan alamatnya?" pinta Annisa

__ADS_1


Amir tampak ragu, namun lagi-lagi dia tidak cukup tega untuk tidak memberikannya.


Meski dengan berat hati, dan sedikit rasa takut, Amir meraih ponselnya dan mengetik kan sebuah alamat yang setelahnya dia kirim pada ponsel Annisa.


Melihat hal itu, senyum kecil terkembang di wajah Annisa yang kini tengah tertutup oleh cadar " Terima kasih" Ucap Annisa kemudian


"Sama-sama Nyonya"


Setelah Perbincangan singkat antara keduanya, Amir kembali berpamitan Pada Annisa untuk undur diri.


Melihat sekilas Sebuah alamat yang baru saja di kirim oleh Amir, nyatanya apartemen tersebut berada di kawasan elit kota Dubai. Tidak akan sulit bagi Annisa untuk menemukan sang suami.


Sejujurnya Annisa ingin menemui sang suami saat ini, namun mengingat tentu akan sangat merepotkan jika dia menemui Emran di saat jam kerjanya.


Annisa Pun memilih untuk menemui Emran setelah Emran pulang dari kantornya.


***


Waktu berlalu tiba sore hari menyapa, Saat ini Annisa tengah di sibukkan dengan aktifitasnya menemani Yasmine makan.


Sesekali Annisa menanyakan tentang bagaimana sekolahnya hari ini, dan tentunya bagaimana dengan teman-temanya di sekolah.


Yasmine pun ta.pak antusias menceritakan setiap kegiatan yang dia lakukan di sekolah. Tampaknya Yasmine sudah betul-betul menikmati dunia barunya.


Hal itu tentu membuat Annisa merasa bahagia, tak jarang Annisa menghujani Yasmine dengan ciuman mesra di pipi.


Meski begitu, Annisa tetap saja merasa tidak nyaman, terlebih dia belum mendapatkan penjelasan dari sang suami soal tiket perlawanan ke Indonesia siang tadi.


"Mommy kenapa bengong ?" Ucap Yasmine yang merasa sang mommy banyak melamun sedari tadi.


"Ohh. Tidak sayang, menangnya mommy melamun ?" ucap Annisa beralibi seraya menggelitik perut Yasmine


Keduanya lantas tertawa bersama,menikmati indahnya sore yang masih begitu cerah dan terang.


Tidak butuh waktu lama Yasmine pun telah selesai dengan makanan nya, Annisa kembali menyerahkan tanggungjawab Yasmine pada dua pengasuhnya.


Annisa merasa begitu tidak nyaman, hingga rencana semula dia akan datang malam nanti, kini Annisa ingin segera ke apartemen Emran.


Annisa memilih untuk menunggu sang suami hingga dirinya pulang, terlebih sebelumnya Amir juga tidak lupa memberikan akses Smart Lock dari apartemen Emran, dan tentunya hal itu tidak akan membuat Annisa kesulitan untuk masuk.


Setelah bersiap, Annisa berpamitan pada Yasmin,dan tak lupa menyampaikan beberapa pesan pada dua pengasuhnya untuk mengulang kembali pelajaran di sekolah sebelumnya, karena mungkin Annisa akan pulang larut atau mungkin tidak pulang, Annisa pun berpesan untuk tidak menunggunya.


Meminta dua pengasuh Yasmine untuk menemani sang putri selama dirinya tidak di rumah.


Annisa pun bergegas untuk berangkat,dengan di temani oleh supir pribadi yang selalu mengantarkannya kemanapun annisa Pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2