
...Sesuatu yang baik selalu datang disaat terbaik, Persis waktunya, Tidak datang lebih cepat, pun tidak lebih lambat. Itulah mengapa Rasa sabar itu harus disertai Keyakinan...
...Tere Liye...
...π...
Keduanya kini tengah melaksanakan dua raka'at berjamaah, dengan Emran sebagai imam dan Annisa menjadi makmum.
Sungguh indah hijrah cinta yang di lakukan keduanya. Emran yang begitu mendamba nyatanya tidak serta Merta memaksa, sementara Annisa yang merupakan pengalaman pertamanya juga tidak lantas terlena.
Sungguh indah kedua insan tersebut memulai malam panjang dengan cara yang begitu istimewa.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokathu"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokathu"
Ucap Emran mengakhiri sholatnya, yang di ikuti oleh Annisa dengan khusyuk nya.
Setelah menyelesaikan Sholatnya, Emran pun berbalik menghadap Annisa.
Terlihat oleh pandangan mata Annisa, dimana ketampanan sang suami bertambah begitu sempurna tatkala Emran mengenakan kemeja Koko Kurta dan sarung yang melilit di pinggangnya.
Emran pun tersenyum simpul melihat Annisa yang sangat cantik dengan balutan mukena putih, menjadi makmum dalam sholat dan hidupnya.
Hening.
"Mas ?"
Panggil Annisa dengan suara lembut.
"Em !"
"Indah sekali bacaanmu mas"
Mendengar penuturan Annisa , sejenak Emran pun terkekeh.
"Apa maksudnya, kenapa aku tidak pernah sholat sementara aku begitu fasih dalam bacaan Al Qur'an?"
Mendengar ucapan yang benar adanya , Annisa pun hanya tersenyum malu, sejujurnya hal itu lah yang ingin Annisa tanyakan, namun dirinya tidak sampai hati jika harus membuat sang suami berkecil hati.
"Sebelum aku jauh dengan Allah, Aku pernah sangat dekat"
"Tapi mulai malam ini, aku akan memulai semuanya dengan penuh kebaikan bersama mu Annisa Ku"
Ucap Emran dengan begitu lembut, dan tatapan lekat menatap Annisa.
Emran pun meraih Tubuh Annisa agar semakin dekat dengan nya. Hingga jarak diantara keduanya hanya bersisa beberapa inc saja.
Emran pun meletakkan tanyanya di pundak dan puncak kepala Annisa. Membacakan sebuah doa yang akan mengawali malam panjang keduanya.
"Apa kau siap ?"
Tanya Emran dengan lembut. Dan Annisa pun menjawab dengan anggukan kepala.
Emran pun melepaskan Mukena yang di kenakan Annisa, menyisakan tubuh Annisa yang berbalut pakaian minim yang sebelumnya dia kenakan.
Hal itu cukup membuat jantung Emran berpacu lebih cepat dari sebelumnya.
"Bisakah mas Emran menungguku sebentar, Aku akan ke kamar mandi"
Lirih Annisa dengan begitu gugup. Sementara itu Emran mengangguk kan kepala dengan senyum yang merekah di wajah tampannya.
Emran sangat paham jika Annisa begitu gugup, diapun yang jauh lebih berpengalaman tidak lantas mempermasalahkan hal itu, Emran memilih memberi kesempatan pada Annisa untuk menenangkan hati dan jiwanya, hingga dia datang dengan suka rela.
Emran menatap lekat Tubuh dan punggung Annisa yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Beberapa saat menunggu, Emran memilih menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur, sementara didalam kamar mandi Annisa tengah menenangkan hatinya.
__ADS_1
Selain itu nyatanya Annisa juga tengah menambah riasan di wajahnya, dan tak lupa pula menambahkan parfum di beberapa bagian sensitif yang mungkin saja akan Emran sentuh nantinya.
Ceklek.
Tatapan Emran menatap lekat pada pintu kamar mandi yang seketika terbuka, disusul kemunculan Annisa dari balik pintu, Berjalan dengan begitu Anggun dan terlihat begitu mempesona.
Pemandangan yang begitu memanjakan mata Emran, mata yang telah sekian lama gersang akan cinta.
Emran pun bangkit dari duduknya, menyambut kedatangan Annisa yang berjalan dengan sangat pelan ke arahnya.
Terlihat dari mata Emran, Annisa masih begitu gugup dan hanya menundukkan wajahnya.
Hening.
Kini keduanya telah berada dalam satu titik dimana Emran tengah berhadapan dengan Annisa, sosok wanita halal yang kedua baginya.
"Jangan Gugup, Aku akan melakukanya dengan hati-hati "
Mendengar ucapan Emran, pun Annisa mendongakkan wajahnya, menatap lekat wajah sang suami. Nyatanya Emran begitu pengertian dan tidak menuntut berlebihan.
"Aku dengar malam seperti ini akan sangat sakit" Lirih Annisa dengan begitu malu bertanya.
"Ya . Kau benar, rasanya akan sangat sakit untukmu"
Ucap Emran dengan tatapan lekat. Sementara Annisa yang mendengar hal itu hanya dapat menautkan kedua alisnya. Jujur selain gugup dia juga sangat takut.
"Tapi kau tahu dari mana ?"
"Aku membacanya di internet tadi siang tadi "
Mendengar penuturan Annisa , Jujur ingin rasanya Emran melepas tawa nya, namun Emran tak sampai hati melihat rasa malu di wajah Annisa.
"Tapi kau tidak perlu khawatir, Karena setelah rasa sakit itu, kau akan merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa " bisik Emran tepat di telinga Annisa.
Sungguh ucapan Emran bukan menenangkan , namun justru mampu membuat Annisa bergidik, seketika bulu kuduknya pun berdiri menahan geli.
***
Lembut sentuhan yang di berikan Emran pada Annisa, hingga seketika Annisa merasa dirinya melambung di udara.
Emran begitu lembut memperlakukannya, hingga dia telah berada di tempat per adu an yang begitu hangat.
Untuk yang kedua kalinya Emran mengucapkan doa, mengusap lembut puncak kepala Annisa dan meniupnya lembut.
Emran memulai dari puncak kepala, memberikan kecupan manis, sangat manis hingga Emran semakin menurunkan bibirnya hingga tepat berada di atas bibirnya.
Menyesap, melu mat, dan menikmati kelembutan bibir yang tidak pernah terjamah oleh bibir manapun sebelumnya, Emran merasa begitu beruntung mendapatkan sosok annisa sebagai pendamping hidupnya.
Annisa merasa Emran begitu manis, kecupan lembut dan tanpa menuntut, terasa begitu menyenangkan, hingga tanpa di sadari Annisa membalas nya dengan melingkarkan pergelangan tangannya di tengkuk Emran, membalas ciuman Emran dengan begitu nikmat, menikmati setiap pagutan lembut dari Emran. Hingga menimbulkan suara decakan yang sangat indah.
Melihat reaksi Annisa , Emran pun tersenyum bahagia, nyatanya tidak hanya dirinya saja , namun juga Annisa begitu menikmati nya.
Emran pun melepaskan tautan nya, kembali dia menyusuri setiap jengkal mahakarya indah di depan matanya, menciptakan tanda kepemilikan disana.
Hingga pada saat wajahnya tepat berada di celekuk dada Annisa , begitu besar dan terasa tepat di genggamannya, Sungguh satu bagian itu membuat Emran merasa terkejut dengan ukuranya yang sangat sempurna.
Selain itu aroma Vanila dari tubuh Annisa begitu membangkitkan gelora jiwa Emran yang telah lama sirna, hingga kini telah kembali begitu saja, dan meminta hak nya pada sosok wanita halal di hadapannya.
Tubuh Annisa pun menggelinjang ketika Emran telah menyusupkan tangannya di balik punggung, untuk melepaskan pengait penutup benda kenyal tersebut.
"Auhhh, Mas " de sah Annisa menahan sentuhan Emran, sementara Emran tersenyum bahagia.
Setelah berhasil melepaskan nya, Emran lantas memberikan usapan dan sentuhan lembut di dua benda tersebut, mere mas dan menyentuh pu*ing itu untuk memberikan rangsa*An pada Annisa.
Kembali menye sap dan menikmati dua buah benda yang mulai menjadi favorit nya sejak malam ini, dan pasti akan menjadi yang paling dia rindukan di malam-malam mendatang.
Annisa semakin bergetar menahan sesuatu yang begitu besar dalam dirinya, tanpa terasa bagian bawahnya telah begitu basah.
__ADS_1
Emran pun menyusup kan satu tangannya di balik lingerie tipis yang di kenakan Annisa, menyentuh pengaman disana dan melepaskannya pelan.
Annisa pun membulatkan kedua matanya mendapati Emran telah berhasil melepaskan segitiga pengamannya dengan begitu mudah.
Hingga saat tangan nakal itu menyentuh bagian sensitif itu. Benar merasa bagian itu telah cukup basah, terlebih setelah Emran berhasil menyentuh nya dengan lembut.
Bukan tanpa alasan Emran melakukan pemanasan seperti itu, selain karena hal itu merupakan sunah, juga karena pada saat bagian itu basah, makan akan sedikit mengurangi rasa sakitnya ketika sebuah meriam tumpul menembus lembah kesunyian itu.
"Aku akan memulainya, maafkan aku sayang jika ini akan terasa sedikit sakit "
Mendengar hal itu Annisa hanya menganggukkan kepala.
Hingga pada saat Emran telah berada tepat di atas mahakarya yang begitu sempurna di hadapanya. Dengan lembut Emran mulai menancapkan Meriam tumpul tersebut.
"Aauchhh "
"Auuuuh, Sakit sekali mas !" lirih Annisa ketika milik Emran baru masuk ΒΎ bagian saja.
"Aku tahu sayang, Apa kau ingin berhenti , Aku tidak akan memaksamu" lirih Emran dengan deru nafas yang sudah begitu berat.
"Ti tidak mass, La lakukan lah, Aku sudah siap memberikan semua nya"
"Maafkan aku sayang"
"Pelan-pelan saja mas"
Ucap Annisa penuh permohonan, dan Emran pun menjawab dengan anggukan kepala.
Hingga pada saat separuh meriam tersebut tertanam di tempatnya. Annisa terlihat begitu kesakitan. Menggelinjang tidak karuan, Menahan kesakitan dan kenikmatan yang dia rasakan.
Ukuran meriam yang begitu besar dan lembah sempit yang baru pertama terjamah, membuat Annisa menggelinjang, selain nikmat juga karena lagi lagi Annisa begitu merasa sakit.
Hingga lelehan air mata menetes begitu saja di sudut mata Annisa, jujur saat itu Emran merasa tidak tega untuk melanjutkan aksinya, namun kepalang tanggung dia yang telah begitu menginginkan perg ulatan panas itu , hingga akal sehatnya memaksa meminta lebih pada wanitanya.
Slepp.
Seluruh meriam tumpul ,senjata kebesaran itu telah tertanam sempurna hingga menyentuh bagian terdalam Annisa.
"Auuchh, Mas !"
Pekik Annisa dengan meremas punggung Emran , hingga menimbulkan luka kecil yang terasa perih, namun Emran begitu menikmatinya.
Dan mulailah Emran memberikan gerakan tak terduga pada lembah sunyi tersebut.
"Mas "
"Em "
"Sakit sekali "
Cup.
Bukan mengindahkan ucapan Annisa, Emran justru memberikan kecupan di bibir ranum tersebut.
Menghentakkan meriam tumpul itu dengan gerakan dan irama yang begitu nikmat. Keduanya begitu larut dalam kenikmatan dunia. Hingga malam seolah berhenti.
Annisa pun mulai terbuai dan menikmati penyatuan yang baru pertama dia rasakan. Nyatanya Emran benar dia akan merasakan kenikmatan setelah sakit yang dia rasakan.
***
Sampai disini.
Harapan Author, Para reader semua tidak bosan untuk menantikan kelanjutan cerita dari HIJRAH CINTA ANNISA.
Dan Jangan pernah berhenti untuk memberikan Suport terbaik untuk Author. πβΊοΈ.
Jangan Pernah Lupa untuk meninggalkan Jejak Komentar Terbaik Kalian ππ I love you More My Readers.
__ADS_1
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€